Lalu, Kapan Kita Kemana?

Mei 07, 2014

Sudah terlalu rindu,
Kepada senja yang menganga
menghadap ke penjuru jurang
Kepada matahari pertama
yang mengusik tidur si petualang

Sudah tak bisa lagi menunggumu,
di lorong-lorong rencana
Ingin segera mengintip batas-batas kota,
batas-batas budaya
dari balik jendela kereta kita
Menuju tempat-tempat yang barangkali asing
Membersamai manusia-manusia yang juga asing

Bawa aku kembali pada pucuk-pucuk dunia
Menuju penerimaan si belantara
yang terlalu perkasa
untuk makhluk sekerdil kita
Sudah tidak bisa lagi menahan
Langkah demi langkah menuju awan
Mendekati kilap langit yang perawan

seolah bunga-bunga cantigi
ikut memanggil jiwa yang telah lama menggigil
oleh rindu yang tak kenal musim
Pinus, eboni, dan akar-akar jati
barangkali ikut mengutuki waktu: musuh bagi kelana kita

Lalu, kapan kita kemana?
Kapan kita bersama siapa?
Ke pintu rimba mana lagi?
Mandalawangi, atau Kalimati?
Atau kau mau Rajawali?
Plawangan sembalun?
Sangga Buana, lagi?
Ke tempat pertapaan dewa Arjuna,
atau dipan dewi Rengganis?
Sudah, jangan janji-janji manis
Sebab jika masih harus menunggu,
aku tak bisa lagi
Bulan baru keburu jadi purnama
Rindu keburu kepalang parah

Bawa aku pulang, Rindu, bersamamu, segera!*

*)sepenggal lirik lagu Float - Pulang

#Latepost #lebih dari sebulan lalu saat lagi semangat-semangatnya merenung

#Tema: kerinduan terhadap suatu perjalanan

Artikel lainnya:

0 komentar

Subscribe