Yang Terekam sebagai Silam

Mei 07, 2014

Sejak dulu, aku tau romantis itu..
...semut, daun, dan batang pohon jambu
Aku sudah tau perkara manis
sedari Ibu menyuapiku es krim susu
Aku sudah hapal rasa hangat sejak sore itu
terkala Ibu menyambut kekuyupanku,
"Jangan ulangi main hujan lagi!"

Yang terekam sebagai silam adalah
Seorang ayah yang menggandeng tangan putri kecilnya,
Menyebrang rel kereta,
Naik sampan di kali kota
"aku ingin cepat besar, menjadi putri" bisikku suatu malam
menganggap dongeng adalah jalan pintas
bagi kelamnya realitas

Lewat dua dasawarsa kemudian...
bagiku,
romantis tetap saja semut, daun, dan batang pohon jambu
Tapi sudah tidak lucu lagi memanjat dan bawa buku keatasnya
Betapapun manisnya gula-gula,
Orang dewasa lebih cepat akrab pada yang pahit
: secangkir kopi menemani malam-malam yang sama pahit
Aku masih jadi penyuka hujan
: sekaligus jadi si malang yang menyukai kenang dan mengenang
Tapi barangkali aku sudah terlalu tua
untuk pulang kegirangan saat sengaja kehujanan

Aku tetap ingin jadi anak kecil, meminta ayah menerbangkan lelayang di loteng rumah,
Sebab saat menua, celaka! Aku lebih mudah menerbangkan asa, menjadi binasa!
Ibu,
Aku tetap ingin jadi putrimu yang mungil,
yang kau paksa tidur siang dan habiskan bekal
yang jenaka merencana, "besok main apa?"
bukan manusia yang terus beranjak tua,
dan terus kebingungan "besok akan lari kemana?"
bukan jadi musafir yang lagi-lagi tersesat
lagi-lagi keliru memilih kawan pulang
lagi-lagi keliru menemukan 'rumah'
: tempat yang sebenarnya sama
dimana masa lalu itu tumbuh lebat
dan mengakar hebat

#LatePost #lebih dari sebulan lalu saat lagi semangat-semangatnya merenung

#Tema: Masa Kecil

Artikel lainnya:

0 komentar

Subscribe