Wewangian Mimpi

Juli 31, 2014

Dua lubang pembau menjaring buyar yang tak terbingkai..
Frasa-frasamu tentang wewangian mimpi sekerejap disesap ngengat..
Tinggalah jasadnya berbaring di bising kota..
Tak terciumkah?
Muak makin menyeruak tegap, menginjak ruh yang gegap..
Bau busuknya berebut sujud di punggung hidung..
Kalaulah paru mampu berfusi kala ter-oklusi, sudah tentu ku kaitkan kunci di
kedua lubang ini..
Namun tak begitu 'kan?
Senyawa diatomik pun kerap tersirat, walau digunduli bau busuk yang lebih sarat...
Masih inginkah engkau membagi tengarai hikmah berbungkus kesturi?
Terseok-seok tungkai menindih jalan berbelok, tertatih menguntit landai yang diimpit curam-karam..
Lalu? Lihatlah! Setelahnya, bangkai bersungut-sungut menyepul kulit, daging, beserta tulang si pecundang..
Ah, bahkan kau terlalu pengecut untuk mengaku kalah!
"Kemenangan yang tertunda" kau menyanggah.
Aku meludah setampah, Bah! Jijik yang menggelitik!
Kau tentu tak paham rasanya jadi seorang dungu yang selalu 'ditunda', setelah hambar terseok-seok tungkai menindih jalan!
Kau katakan lagi, "Mimpi adalah istana yang tidak melulu berpilar pada kepercayaan, hanya soal keberanian membangun, itu saja! Terlepas dari kemungkinan runtuhnya."
Masih berani kau berkata menipu, setelah perih tertatih-tatih menguntit landai!
Muak! Muak! Aku muak berpura-pura tegak! Biar saja mimpi tetap terserak, aku lelah, aku sesak!
Terakhir, katamu "Tuhan tak pernah menciptakan kita untuk diam dan menyerah!"

~Aku, Kamu dalam sekeping hati
(Sekeping hati sering terbagi atas dua tindak yang tak sinergi, yang satu
menguatkan, yang lainnya melemahkan)
Tapos, 29 Ramadhan 1432H

(Pindahan dari sini)

Artikel lainnya:

0 komentar

Subscribe