Travel to Remember: Mengenang yang Tak Dikenal

Agustus 23, 2014

Tanggal 17 Agustus lalu saya memperingati perayaan Dirgahayu Kemerdekaan RI yang cukup unik ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Upacara, lomba, dan mengibarkan bendera merah putih diatas gunung mungkin sudah terlalu mainstream.

Sering lewat jalan MH. Thamrin? Tahu siapa sosok beliau?

Masih ingat mengenai sosok wanita yang menjahit Sang Saka Merah Putih? Ya, Ibu Fatmawati! Dan mengapa hanya beliau satu-satunya istri Ir. Soekarno yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional?

Dan sosok pahlawan nasional lainnya.. Muhammad Natsir, Chairul Saleh, Kusumah Atmaja, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer.. siapa mereka dan bagaimana sepak terjang perjuangannya? Ada yang hafal?

Nama-nama tersebut beberapa pahlawan nasional yang berpusara di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Mungkin berawal dari keprihatinan terhadap kurangnya pengetahuan umum anak muda masa kini terhadap sosok pahlawan nasional yang membuat komunitas @TravellerKaskus memprakarsai sebuah event peringatan HUT RI yang lain dari biasanya: Travel To Remember.

Sebuah event yang bertujuan untuk mengenang dan mengenal pahlawan nasional yang sebenernya bukan nama yang asing bagi telinga kita, tapi begitu ditanya siapa mereka? Saya yakin banyak dari kita yang kehilangan kata. Konsepnya sederhana, jalan-jalan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat sambil napak tilas sosok pahlawan yang berpusara disana.

Mengenal sejarah, mempelajari perjuangan pahlawan nasional mungkin cuma satu langkah awal penumbuhan rasa nasionalisme. Tapi saya pikir event travel to remember tersebut lebih worth it, ketimbang perayaan-perayaan simbolis yang lebih mengedepankan seremonial, ketimbang esensi pemaknaan.

Saya gak akan banyak bicara tentang profil pahlawan-pahlawan tersebut , karna rasanya mudah menemukannya di mbah google atau buku biografi, yang sulit itu mengumpulkan rasa keinginan tahuan untuk membacanya hahhahah.

Saya lebih menitikberatkan ke makna perjalanan... seperti apa yang diinginkan oleh kakak-kakak @TravellerKaskus :p

Dan sebenernya ada tendensi lain dari event Travel To Remember, yaitu bebersih makam pejuang tak dikenal. Siapa pejuang tak dikenal? Dan kenapa pula makamnya kita bersihkan?

Begini, TPU Karet Bivak, Jakpus membebaskan biaya sewa tanah untuk makam pahlawan nasional. Tetapi untuk oprasional kebersihan makam dibebankan kepada pihak keluarga. Penampakan makam pahlawan nasional memang tampak terawat.. bersih.. rapih. Tapi ada komplek pemakaman yang terabaikan, belasan makam dengan nisan bertuliskan “Pejuang Tak Dikenal”.

Pejuang-pejuang jaman kemerdekaan yang gugur namun identitasnya tidak diketahui, disebutlah sebagai “Pejuang Tak Dikenal”. Berhubung identasnya tak diketahui, otomatis tak ada pihak keluarga yang menanggung biaya oprasional perawatan makam. Bisa tebak? Menurut pengakuan (yang disertai bukti) panitia event yang survey seminggu sebelumnya, makam-makam pejuang tak dikenal tersebut tak ubahnya seperti tempat pembuangan sampah. Sampah plastik, kayu, dll menumpuk, terserak. Kalau saja tak ada tanda bendera besi di depan nisannya, maka orang-orang barangkali keliru mengira komplek pemakaman tersebut sebagai tempat pembuangan sampah.

Mengutip kata-kata Kak Like, “Kemerdekaan hanya untuk pahlawan nasional, bukan untuk pahlawan tak dikenal”.

Rencana awal peserta akan bekerja bakti membersihkan makam tersebut, namun karna mager (males gerak), alhasil hasil iuran registrasi peserta (35 ribu/orang) dipakai untuk membayar jasa petugas kebersihan makam. Kami, peserta dan panitia piknik riang di bawah pohon rindang, ngerujak, nge-gorengan, nge-doger, sambil menunggu petugas kebersihan makam selesai dengan tugasnya.

Yang saya bahan perenungan saya adalah.. kalau para pahlawan saja setelah dengan darahnya berjuang hingga gugur dan menjadi yang tak dikenal, kemudian makamnya menjadi terabaikan, gimana dengan saya? Pahlawan bukan, orang penting bukan, dermawan bukan, penggerak bukan, inisiator bukan, aktivis bukan.. apa kabar dengan makam saya bertahun-tahun kemudian?

Mengutip novel sejarah “The Road To The Empire” karya Sinta Yudisia,

“...selalu ada ksatria di setiap waktu. Orang yang berjuang demi nilai-nilai kebaikan tak peduli apa yang dia dapatkan atau apa yang dia korbankan. Namun ketahuilah, ksatria semacam itu tak banyak.”

Mari belajar jadi ksatria di abad 21 ini :)

Sabtu, 23 Agustus 2014 (di warung kopi)

PS: Gambar failed to upload, mungkin menyusul :p

Artikel lainnya:

0 komentar

Subscribe