Kopi #2

Desember 19, 2014

Kau bilang waktu kita hanya bergantung pada secangkir kopi.
Ketika habis, maka habislah. Kamu sengaja membatasi pertemuan ini menjadi sedemikian sempit. Kau bilang, bicaralah hanya pada bagian yang benar-benar ingin dan harus aku sampaikan.

Kamu menunduk, mengamati cangkirmu. Barangkali disana mengambang bangkai kenangan, mengambang segala tanya yang buntu, tentang rindu, tentang ragu. Aku hanya butuh beberapa detik untuk kembali menyadari bahwa cinta adalah sesuatu yang dinamis. Mudah kembali.

Masing-masing dari kita tak berhasil menyembunyikan keinginan untuk membelah kebungkaman. Kita terlihat tak sabar untuk menyobek dinding pembatas dua jiwa, yang sama-sama ingin lebur menjadi satu kepala: dua tubuh yang sepakat pada rencana yg sama.
Tapi kita selalu gagal.
Sesekali mulutmu membuka, seperti hendak merencanakan kata. Tak sampai bicara, kau hanya menggantung huruf-huruf serupa asap ke udara. Hilang. Punah.
Bisakah kita menemukan satu cara untuk berbahasa, menalikan dua kepala tanpa bicara? Kita terlihat asik mengamati isi cangkir masing-masing, seolah berusaha keras menyimpulkan hal yang penting.
Tapi sadarkah? Kita hanya gelisah.
Kita hanya berusaha menenggelamkan kisah ke dasar cangkir. Berwarna apakah kisah kita? Ungu? Biru? Bening? Berharap semua kejamakkan warna itu melenyap dalam kelegaman kopi.
Kita bisa saja saling mengubur, tapi tak pernah bisa menghilangkan pengalaman saat menyentuh warna-warna itu. Ungu. Biru. Bening. Masih ingat, bagaimana rasanya? Berwarna apakah kisah kita?

Kenapa ada wajahmu di ampas milikku? Kenapa muncul aromamu di kafein punyaku?
Kenapa masih selalu ada kamu yang menggandakan diri lagi dalam sebentuk bayang klasik. Satu kamu di depanku sudah cukup mengusik. Kenapa masih harus terputar kejadian-kejadian tak berdimensi di udara? Padahal si pembuat kenangan itu hadir dalam dimensi yang sempurna. Di depanku. Walau beku. Walau rikuh.

Katamu, kopi adalah obat atas segala rasa sakit. Lalu bisakah aku sembuh dengan kopi sementara sakit itu tersebab penyiksaan yang sengaja kita lakukan sendiri?
Katamu, kopi adalah milik orang-orang yang mencintai kedalaman perenungan.
Ya, kita berhasil mendalami perenungan kita masing-masing. Tenggelam dalam penafsiran masing-masing. Tapi bukan itu yang kita butuhkan sebagai jawaban. Kesimpulan tak pernah lahir dari sikap sendiri-sendiri. Kesimpulan lahir dari pendalaman yang menyilang, aku mendalami kepala dan hatimu, kamu mendalami kepala dan hatiku. Sampai kita menemukan jalur tunggal untuk menuju tempat yang sama. Sepakat pada rencana yang sama.

Tapi takkan berhasil pada malam ini. Tak akan ada kesimpulan, kesepakatan, pun rencana.

Sebab kopiku hampir habis, aku tak bisa lagi menemukan alasan untuk bisa lebih lama bersamamu. Seperti pembatasan yang kamu buat diawal: waktu kita bergantung pada secangkir kopi. Mungkin ini yang terakhir. Namun andai pun aku punya satu kesempatan lagi, aku akan memesan kopi berwadah tempayan: agar tak cepat habis. Dengan waktu yg lebih lama, mungkin saja kita berhasil menemukan cara berbahasa, menalikan dua kepala tanpa bicara. Sebab kata-kata bisa saja keliru, bisa saja menipu. Kita harus segera menemukan bahasa yang tak memiliki celah bagi kesalahan makna, bahasa yg mudah menumbuhkan rasa percaya.

Sekarang kopiku sudah benar-benar habis, maka habislah ini.
Sampailah pada bagian kita harus menyelesaikan hari ini, aku masih tak berhasil menyampaikan apa-apa,
selain sebuah kalimat yg aku lukis lewat isyarat mata:

"Secangkir kopi dan bersamamu adalah cara terbaik menikmati hari..."


terbacakah?

Artikel lainnya:

0 komentar

Subscribe