2014 as an archive. Klik New Folder: 2015

Januari 02, 2015

Tulisan ini adalah intermezo mengenai hidup saya, dengan parameter waktu sebagai satuan baku maupun waktu sebagai bagian dari relativitas. 2014 adalah satuan baku yang sudah selesai, momentum yang sudah lewat, kemudian mengkristal, lalu bisa kita sebut kenangan. 2015 adalah momentum baru yang sedang berjalan di hadapan saya.

Kristal 2014 saya adalah hidup yang penuh warna. Warna yang saya maksud bukanlah komponen fisik, melainkan sebuah kontemplasi dari.... Penafsiran rasa diluar sensor panca indera. Rasa. Manis. Pahit. Hambar. Bahagia. Melayang. Jatuh. Kecewa. Dikecewakan. Mengecewakan. Kejutan. Percaya. Dipercayai. Mempercayai, maupun kehilangan juga menghilangkan rasa percaya seperti pegas yang direnggangkan sampai titik amplitudonya. Optimis. Pesimis. Bangkit. Melesat. Ambisi. Pasrah. Penuh hasrat. Lelah. Merasa Lengkap. Merasa Timpang. Semua berotasi mengisi siklus setahun kemarin.

Tentu kita tidak bisa hidup dengan melupakan sejarah. 2014 adalah sejarah beresidu hikmah, pelajaran yang saya gak akan dapet di ruang kelas dengan kurikulum manapun. Berita baik, berita buruk... Saya harus bijak menganggap semuanya sebagai keberuntungan. Nasib sial pun punya residu hikmah, yang ketika kita berhasil menemukannya maka semua akan membalik perspektif, beruntunglah orang-orang yang selalu berhasil menemukan hikmah dalam nasib yang seolah sial. Dan proses itulah yang selalu saya usahakan di 2014 kemarin, proses menemukan hikmah dari segala penafsiran rasa diluar sensor panca indera. Mungkin orang-orang melihat saya sebagai orang yang tenang, bebas dari masalah berarti, hidup di kehidupan yang begitu datar, berjalan di jalur yang lurus-lurus aja tanpa tantangan. No. Big no. Semua ketenangan yang saya tunjukkan adalah hasil pertarungan saya dengan diri sendiri. Pada perjalanan akhir taun 2013 menempuh laut Bangka, saya menemukan konsep buih:
"Saya pikir manusia bisa mencontek buih dalam beberapa soal. Kita tidak pernah tau apa yang terjadi pada buih ketika diempas kapal. Apakah menari atau meronta, bernyanyi atau merintih. Tetapi tarian atau rontaannya -yang kita lihat sebagai eksistensinya-, beserta nyanyian atau rintihannya -yang kita kenali sebagai ricik suaranya-, selalu berhasil menimbulkan ketenangan, berhasil melahirkan inspirasi baru. Manusia, seharusnya begitu, kehadiran dan kemunculan kita seharusnya terefleksi menjadi imbas positif, tidak peduli apa yang sebenarnya yang sedang terjadi pada diri kita."
Saya hanya mulai mencoba mengimplementasikan konsep buih tsb di 2014. Mungkin hanya beberapa teman terdekat saya yang tau betapa galaunya saya dalam mengarungi 2014 lalu, hahahha. Tapi ingat kata orang bijak, "Jangan salahkan galau, sesungguhnya galau adalah sumber inspirasi..."

Banyak orang yang menganggap saya adalah orang yang datar, dapet kabar baik datar... Dapet kabar buruk datar. Sebenarnya bukan datar, saya senang kok kalau ada kabar baik, dan sedih juga kalau dapat kabar buruk. Perlu bukti apalagi ya agar-agar orang percaya kalau saya adalah makhluk berperasaan? Saya mampu merasakan senang, sedih, bahkan hambar. Hanya karna saya tidak mengapresiasikan rasa senang dan rasa sedih saya seperti yang umum orang-orang lakukan (contoh: jijingkrakan, lompat-lompat, update status kalau lagi seneng, dan gugulingan mewek, galau di timeline kalau lagi sedih), bukan berarti saya gak punya perasaan kan? Saya punya cara sendiri dalam menikmati kesenangan maupun kesedihan. Toh jarak antara kesenangan dan kesedihan kadang lebih tipis dari selembar kertas. Hidup ini cair, mudah berubah. Alasan yang membuat kita senang hari ini bisa jadi kelak akan jadi hal yang sangat kita sesali nanti. Alasan yang membuat kita sedih hari ini mungkin adalah hal yang akan sangat kita syukuri di kemudian hari. Who knows. Hidup ini terlalu misterius untuk terburu-buru tenggelam dalam euforia senang maupun sedih. Itulah yang membuat saya berekspresi seadanya, senang seadanya, sedih seadanya. Saya selalu berusaha untuk tidak berlebih-lebihan, yang justru membuat orang lain berpikir.. Saya orang yang datar.. Baiklah saya terima kesimpulan orang-orang dengan lapang dada, hahahha.

2014 adalah sejarah. Saya banyak menemui teman-teman baru, saya banyak menyentuh keberagaman baru. Dari mulai teman-teman kampus, jujur  awalnya saya sempat pesimis, apa mungkin saya bisa menemukan teman-teman yang 'sejiwa' di fakultas ekonomi? Saya takut gak bisa baur di fakultas yg kental dengan stereotip anak-anak borju, hedonis, kaum modern, klimis, dll. Gak banget. Memang ada beberapa yg benar dari stereotip tersebut, tapi ketakutan saya berlebihan, pada akhirnya saya bisa menemukan dan baur dengan teman-teman yg lumayan 'sejiwa' bahkan jauh dari steorotip tsb. Teman-teman nongkrong yang asik, yang mengenalkan seorang diaz dengan dunia gaul, hahahha. Diaz yang dulu cuma tau wedang jahe, sekarang udah hapal list tempat-tempat kuliner dan nongkrong yang asik.

Saya juga banyak bertemu dengan teman-teman baru dari beragam komunitas, organisasi, atau apalah. Manusia-manusia yang punya visi, misi, hasrat, hobi, ketertarikan, pemikiran, bahkan mimpi yang hampir serupa dengan saya. Seperti not balok seirama membentuk partitur lagu, keterhubungan yg harmonis. Dikelilingi dengan mereka membuat saya merasa bukan satu-satunya makhluk aneh, saya seperti menemukan 'dunia' di dalam dunia. (Note: Kalau agak ngaco mohon abaikan, hahahhah).
Dari awal 2014, saya mulai menyentuh sebuah gerbang ketidakwarasan: volunteerisme. Sebuah paham  yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yg sudah ada di dalamnya. Saya tau saya masih dalam proses belajar, dan mungkin pembelajaran saya masih amat panjang. Dalam keadaan sadar, saya pun tau, sekali saya memutuskan untuk masuk ke dalamnya, saya akan selamanya disana. Seperti lumpur hidup, sekali saja satu kaki kamu masuk, masuk terjunlah, energi dari paham tsb akan membuatmu tersedot selama-lamanya, dan hampir mustahil kembali ke dunia yang waras, hahhahha. Selamat datang, Diaz!

2014 adalah sejarah. Banyak orang-orang di tahun lalu yang akan terlibat kembali di 2015 saya. Namun juga ada beberapa orang yang harus saya relakan untuk tetap jadi sejarah, berhenti di 2014. Mengkristal. Thats life! Kita gak bisa begitu egois untuk membawa semua orang ke dalam kapal kehidupan kita. Ada bagian-bagian yang harus kita relakan untuk tetap tertinggal. Dan di 2015 ini saya pun gak tau akan ketemu siapa, dan seberapa besar pengaruhnya terhadap hidup saya nanti.

Di dunia kerja, ehm saya merasa diterima oleh teman-teman kerja. Saya sebagai 'si bungsu' yg selalu dibercandain, dinasihatin, semua cair seperti keluarga sendiri. Dan itulah yg membuat saya nyaman, menjadi hiburan tersendiri di tengah jenuhnya terhadap pekerjaan, hahahah. Dan di 2015 ini akan banyak sekali 'tantangan' pekerjaan.... Argghhh... Face it like a man!

Dan soal.... Cinta... Hemmm *SKIP AJA YAK* hahahha, satu kesimpulan yg saya dapat di setahun kemarin... Cinta itu... membebaskan! Tamat.
Menjelang libur akhir tahun, saya jg mendapat nasihat dari pimpinan kerja saya... tentang jodoh. Ini bukan sekali saya mendapat nasihat, masukan, arahan tentang jodoh dari teman-teman kantor. Saya sangat apresiasi terhadap kepedulian mereka terhadap saya, jadi terharu hahahha.
"Kamu harus targetin yaz, harus diikhtiarkan yaz.. gak bisa nunggu aja.. Sebagai pimpinan kamu, saya mau yang terbaik buat kamu..." (dan masih panjang lagi) asikkk so sweet banget, kan? Saking antipatinya saya sama sebuah komitmen, saking terlihat begitu cueknya saya soal jodoh, sampai mengundang simpati dan kepedulian macem itu, hahhaha.
Memang saya gak pernah menargetkan apapun soal pasangan hidup. Selama ini begitu legowo dengan prinsip saya, "Jodoh pasti bertemu, kalau jodoh gak kemana...". Tapi kalau dipikir-pikir, gak ada salahnya juga sih menargetkan, mengikhtiarkan. Love when you're ready, not when you're lonely. Semoga saya siap untuk jatuh cinta di 2015, *harapan ini akan terdengar agak miris: semoga jg menemukan objek untuk dicintai* *emot sayap malaikat*

Di tahun 2014 lalu, saya banyak mengalami keajaiban hanya karna satu kata: "IYA". Pernah nonton film "Yesman"? Tentang seorang yang hidupnya banyak berubah hanya karna ia menjawab semua pertanyaan/ajakan dengan "YES" (iya), tanpa banyak pertimbangan bahkan tanpa mempertimbangkan. Semoga saya gak berlebihan, tapi dalam beberapa kasus saya merasa hidup saya seperti "Yesman" itu. Ternyata satu "IYA", bisa menelurkan banyak kesempatan. Saya banyak bertemu dengan kesempatan-kesempatan yang sebenarnya sudah menahun saya incar, tapi seringkali ketika kesempatan itu datang tepat di depan muka saya, kok saya malah mempertanyakan balik, apa saya bisa? Apa saya cukup siap? Di 2015 ini saya berdoa, semoga jika saya dihadapkan dengan kesempatan besar, dibarengi juga dengan kesiapan yang sama besarnya. Aamiin.

Oiya, ada satu lagi kesimpulan yg saya dapat di 2014: tentang konsep teman. Teman itu... Seberapapun kamu pergi darinya, betapapun kamu jauh meninggalkannya karna kesibukkanmu atau karna kesenanganmu yg lain, tapi begitu kamu berbalik, kamu akan menemukan temanmu di tempat yang sama ketika kamu meninggalkannya, titik saat kamu pergi darinya. Temanmu gak pernah kemana-mana, dan gak akan merumitkanmu dengan konsep pertemanan yang banyak menuntut. Silahkan kembali kapanpun kamu perlu. Jadi teman memang harus banyak belajar ikhlas. Di tahun ini, saya mau jadi teman baik bagi semua orang, dengan konsep pertemanan seperti itu, teman sebagai tempat kembali, jauh dari tuntutan. Ingat nasihat orang bijak, "Pacar/gebetan itu sementara... Tapi teman dan pasangan hidup itu selamanya..."

Saya yakin di 2015 ini saya akan banyak menemukan pilihan-pilihan, banyak pertimbangan-pertimbangan, pertentangan-pertentangan (terutama pertentangan dengan diri sendiri). Dan di usia kepala 2 begini, sekali kita salah memilih sesuatu yg mungkin terlihat sepele sekarang, bisa jadi begitu besar pengaruhnya 20 tahun nanti. Aihhhh,,, jadi orang (yang pura-pura) dewasa rumit yahh. Saya juga merasa gak punya banyak waktu untuk main-main lagi di tahun ini. Bukan berarti menolak mentah-mentah semua tawaran 'main' yah. Tapi disitulah tantangannya, bagaimana mengelola waktu, gak banyak main-main dan mulai merintis sesuatu yg serius, tapi gak kehilangan masa muda juga dengan menutup diri dari pergaulan.

Di tahun 2014 bisa dibilang saya cuti naik gunung, hahha. Gak banyak melakukan perjalanan, sekedar kemping ceria di Natrabu, dateng kempros PAWASKA di curug nangka, beberapa kali liburan di puncak, nyari wangsit sebentar di Tegal Alun-nya Papandayan. Dan terakhir ke Banjarnegara, itu pun bukan wisata bencana.. Tapi beneran kerja kemanusiaan (pencitraan sih ini :p). Kemarin sebelum 2014 berakhir, saya dapet chat dari beberapa orang yg minta diculik.

"Mba diaz, tahun 2015 ada rencanya ke Papandayan gak?"

"Yaz, kapan bisa nganter gw ke Sindoro-Sumbing?"

Baiklah, beberapa rencananya perjalanan yg perlu saya pertimbangkan. Dan satu lagi, Slamet! Setahun aja gak semedi di Slamet, rasanya ada yg kurang. Slamet, semoga kamu udah baik ya di 2015, saya kangen tubuh kamu. *beranjak gila, wkwkwkwk*

Terakhir,,,,kayaknya saya butuh libur seminggu lagi deh. Untuk revitalisasi hidup,3 menyusup rencana-rencana untuk memperbaiki hidup saya. Hemmm... Saya akan mulai 2015 ini dengan 3R:
1. Re-define. Mendefinisikan ulang apa tujuan hidup saya dan mau apa. Apa yg bener-bener jadi mimpi saya, apa yang sebenarnya cuma 'laper mata' aja
2. Re-combine. Mengkombinasikan ulang rencana-rencana spesifik untuk mencapai tujuan tsb.
3. Re-try. Mencoba lagi... Dan lagi... Gak semua target 2014 saya tercapai, saya akan mencoba perjudian baru di tahun ini.

Semoga saya bisa lebih bijak lagi dalam mengelola waktu, dan semoga bisa mengelola setiap rasa kecewa menjadi alasan untuk lebih melesat jauh... Seperti bintang jatuh yang menyaingi kecepatan cahaya... Aamiin..
Kesimpulannya, saya gak bisa bohong untuk mengakui, saya bahagia di 2014. Dan berharap di 2015 menemukan beragam alasan untuk bisa lebih bahagia dan membagi-bagikannya...
Terima kasih dan maaf untuk semua orang yang terlibat di 2014 saya.

Selamat tinggal masa lalu (2014)
Selamat datang masa depan (2015)

~Hibernasi hari ke-2

Artikel lainnya:

2 komentar

  1. Halooo kak salman,,, jadi gw diterima sbg anggota blogfam gak nehhh??? Hahahahah

    BalasHapus

Subscribe