(Masih) #Kopi

Januari 18, 2015

(dalam rangkaian ide iseng #BlogChallenge, membalas tulisan ini)

Bagaimana kamu akan berbagi jika kamu tidak memiliki?

Pun dalam kepapaan, saat kosmos yang tak lagi bisa menyediakan apa-apa, selain trilogi: Aku-Kamu-Kopi.

Kita.

Waktu menguap.

Dimensi hilang.

Krisis Makna.

Devaluasi.

Bangkrut.

Kelu.

Musnahkan semua puisi. Aku takkan lagi menjadikan kata sebagai mata uang dari rasa yang kita beli.

Tapi mari menukar satu keheningan dengan drama baru, yang barangkali akan sama heningnya. Kita bukan lagi sedang bertransaksi, kita akan mulai bersinergi: berproses menemukan simpul maknawi. Terlalu prematurkah ini? Lupakan tentang analisa seberapa tepat kita memulai ini. Lupakan semua teori, filosofi, apalagi ambisi.

images

Kita telah terlanjur disini dan memulainya dari sebuah cangkir yang penuh dengan uap kafein, atau... uap kenangan?

Jadi, mari merasakan pahit-getir dalam satu sesapan nafas yang sama.

Kenapa kita tak pernah jera pada yang pahit? Kenapa perlombaan menemukan satu molekul manis dari ribuan pahit ini tak pernah selesai?

Dan inilah yang lagi-lagi membuat kita gila. Kopi adalah seni menemukan satu molekul manis dalam ribuan pahit. Dan ketika proses menemukan itu tak selesai, kita akan mengawali sebuah perjudian baru di cangkir selanjutnya. Rahasia langit macam ini yang akhirnya membuat kita tak jera mengulang, mempertahankan... tak jera... mengenang.

Kopi melatih intuisi kita soal saling menyisakan. Seberapa banyak yang akan kamu sisakan dicangkirmu? Masing-masing kita yang akan lebih tau seberapa banyak yang harus dihabiskan, dan seberapa banyak kita perlu menyisakan... Mungkin inilah hubungan nonmolekular antara kopi dan kenangan.

Kopi begitu pun kenangan.... betapa pun besarnya keinginan kita untuk menghabiskan, kita harus tabah untuk saling menyisakan.

Dan ketika kata-kata hanya akan membuat kita saling terbunuh, lebih baik mengawetkan sunyi. Lupakan soal terjemahan, kesimpulan adalah soal kesendirian masing-masing, begitukah maksudmu?

Kali ini aku percaya, penafsiran yang berbeda takkan membuat kita binasa, toh masih ada kopi yang akan menyetarakan kita. Diantara trilogi: Aku-Kamu-Kopi, hanyalah sebuah segitiga imaji. Tak ada yang saling memiliki. Tak ada yang butuh cinta.

Bagaimana kamu akan berbagi jika kamu tidak memiliki?

Dan meski tidak memiliki, kita masih bisa berbagi kehangatan kopi. Siapa lagi yang masih butuh cinta? Sementara cinta sudah tersubtitusi juga oleh kehangatan kopi yang sama . Ah, ya! Bahkan kopi sudah merupakan bagian dari kita. Sebab waktu menguap, dimensi hilang. Kita menjadi entitas yang bebas. Melayang. Menyusun udara kita sendiri.

Selamat malam, selamat menghabiskan sekaligus menyisakan kenangan :)

Artikel lainnya:

6 komentar

  1. Solid, mengalir.... lamjutkan :)

    bersiap utk next turn

    BalasHapus
  2. Reblogged this on in bisot eyes and commented:
    asik berenang dalam imaji :)

    BalasHapus
  3. Ayo bang bisot bikin next turn-nya.. older first, gw wkwkwk mau kopi kek mau susu kek tar gw bales tulisan lu bang.. cuma dgn cara kek gini gw jadi semangat nulis wkwkwkwk

    BalasHapus
  4. Aseeek2 Jos, pengen bales #BlogChallange, sip, gue akan bikin beberapa hari ini, ditunggu ya :D

    BalasHapus
  5. ok, tunggu yak, sedang mengendapkan biar lebih jernih *halah* hahaha

    BalasHapus
  6. Sippp kasalman,,,,jgn lupa mention gw ama bang bisot klo udh jd yakkk.., denda loh klo ampe gak bikin wkwkwkwk

    BalasHapus

Subscribe