Refleksi

Catatan Untuk (Mantan) Sahabat

Maret 09, 2015

(Catatan: postingan ini udah 4 bulan lalu bertengger di draft blog, lupa posting wkwkwk)


Semangatin gw pelis... gw lg merana bgt. kuliah lagi susah-susahnya, temen ga punya, duit ga punya, pacar ga punya. gw harus apa? harus gimana? kenapa? kapan? dimana? berapa? siapa?




Sms dari (mantan) sahabat 2 bulan lalu, bikin setengah kesian, setengah gak tega, setengah sedih juga, setengah pengen ngakak. Lucu aja. Maaf saya baru menyempatkan diri untuk memenuhi permintaanmu: membuat tulisan yang mungkin bisa menyemangati kamu. Semoga gak terlalu basi-basi banget ya.

Beberapa orang terdekat saya memang bilang saya punya bakat dalam memotivasi orang, semoga anggapan itu benar, dan semoga tulisan bisa sedikit saja membuka pikiranmu. Sekarang anggap saja saya ada di hadapanmu, berkoar-koar penuh semangat, dengan tatapan yang menyala-nyala menuju matamu, berusaha menularkan semangat, memegang pundakmu, anggap saya benar-benar hadir. Mari kita mulai.

My dear, jangan mengeluh seperti seolah-olah kamu gak punya Tuhan. Ini bukan pertama kalinya kamu mengeluh begitu ke saya, tapi selalu pengen ketawa baca keluhan seperti itu. Sadarkah? Kamu mengeluh begitu ringan, seolah-olah gak punya Tuhan.

Kuliah berantakan? Kamu bisa mulai untuk memperbaikinya. Saya rasa kampus se-kece tempatmu kuliah memang wajar memberikan tekanan dan target-target yang lebih ketat. Kamu bukan mahasiswa baru, bahkan sudah hampir di penghujung semester. Harusnya sudah biasa dengan ke-hectic-an kampus. Sebentar lagi lulus, ayo semangat.

Temen ga punya? Baiklah, tapi kamu masih punya Tuhan kan?

Duit ga punya? Saya baru aja baca buku judulnya: Saga no cabai Bachan. Salah satu tokohnya bilang gini, miskin ada 2 jenis: miskin muram atau miskin ceria. Tulisan ini gak akan bikin mendadak kaya. Kalau pun kamu merasa miskin, belajarlah jadi miskin ceria. Saya tau semua di dunia ini membutuhkan uang, tapi plis jangan jadikan uang sebagai standar kebahagiaan. Jangan jadikan gak punya uang sebagai alasan untuk menjadi terpuruk. Sedikit saya cerita tentang buku yang baru saya baca itu. Seorang anak yang diasuh dengan neneknya, mereka hidup miskin, tapi miskin ceria. Mereka ceria dengan hidupnya, makan jauh dari kata layak tapi tak pernah mempersoalkan itu, keajaiban-keajaiban sering hadir di hidup mereka mungkin imbas dari rasa syukur mereka. Buku tersebut dari kisah nyata loh. Kamu selalu bisa bersenang-bersenang meski tanpa uang. Melihat langit, menonton anak kecil main layangan, makan bekal di pinggir empang, dan banyak lagi.

Pacar ga punya? Sama saya juga. Jadi saya gak bisa menasehati banyak-banyak soal ini ya hahahahha. Saya cuma bisa kasih kamu satu kalimat tentang ini,


Salah satu cara terbaik untuk mendapatkan cinta adalah dengan memberikannya.


Memberi saja dulu. Memberi cinta kepada siapa pun yang kamu bisa, orang-orang di sekitarmu. Jangan pikirkan dulu soal apa yang akan kamu dapatkan. Memberi saja, percaya saja.

Ada yang bilang, 20 tahun dari sekarang kamu akan menyesal terhadap hal-hal yang belum kamu lakukan, bukan terhadap hal-hal yang telah kamu lakukan. Jadi daripada fokus pada keterpurukan hidup, lebih baik fokus lakukan apa saja yang ingin namun belum kamu lakukan, hingga kelak 20 tahun kemudian tak ada apapun yang kamu sesali karna belum dilakukan.



Saya punya satu kesimpulan, bahwa sebenarnya kita gak perlu menjadi orang yang benar-benar beruntung, kita hanya perlu menjadi orang yang selalu merasa beruntung.



Apapun yang terjadi, berusalah menemukan keberuntunganmu disana, atau minimal berpura-pura lah menjadi beruntung.

Soal kuliah, saya cuma mau pesan jangan terlalu rajin belajar, nanti malah jadi kebiasaan, hahhahah. Santai aja, jangan terlalu serius menjalani hidup. Tapi seriuslah dalam usaha menemukan keberuntungan-keberuntunganmu. Tapi seriuslah dalam usaha berbahagia tanpa alasan apapun.




Salam hangat sehangat matahari di waktu dhuha, dari (mantan) sahabatmu: Jangan mengeluh seperti seolah-olah kamu gak punya Tuhan! okeeeeeyyyyy :)


(Tambahan: kenapa gw manggilnya (mantan) sahabat? Karna ini orang susah bet di temuin, sombong bet, hahahha padahal rumah deket, gw samper ke kampusnya pun masih kagak nemuin gw... hahhah)

Artikel Lainnya

0 komentar