Catatan Perjalanan

Bandung #1: Terlalu Bingar

Mei 19, 2015

Saya sampai di Bandung setelah empat jam perjalanan dari Depok. Minggu malam, di pintu keluar tol Pasteur memang luar biasa ngantri. Bagi saya, Bandung terlalu bingar. Mall, Hotel, gedung perkantoran, seperti berebut eksistensi di tiap inchi kota ini. Sebelum travel yang saya tumpangi berhenti di Balubur Town Square (Baltos), beberapa menit sempat berhenti di lampu merah. Saya tengok ke kanan: sebuah tempat yang tidak asing karna pernah santer diberitakan di TV: Taman Jomblo! Jiwa kekanak-kanak saya seakan berteriak aagar saya turun, lalu foto narsis disitu, kemudian update lokasi di medsos. Tapi jelas konyol kalau saya lakukan itu malam-malam begitu, saya menahan diri. Taman Jomblo, semacam habitat yang cocok bagi saya barangkali, karna.. saya jomblo! (Seharusnya tak perlu dipertegas begini yaa hahaha).

"Pak, di depan itu ITB?"

"Iya, neng"

"ooowwhh, untuk S1 atau S2-nya?"

"Hemm.. kayaknya S1-nya deh.."

Saya pikir berat juga ujian jadi mahasiswi ITB. Kuliah, tapi depan kampusnya adalah mall: Baltos! Persis! Seberapa hebat mahasiswi disana tahan SALE? fyuuuhhh.

Turun dari travel, saya mampir dulu ke Baltos. Harus membeli sepatu karna dari Depok saya cuma pakai sendal gunung, hahaha. Gak mungkin seminggu untuk acara formal, tapi saya pakai sendal gunung! Malam itu sepatu (perempuan) adalah barang pokok bagi saya. Kaget juga, begitu masuk sebagian toko sudah tutup. Ternyata memang jam tujuh malam Baltos sudah tutup, karna pengunjungnya relatif sedikit. Beruntung masih ada beberapa toko sepatu (SALE) yang masih buka, kalau sudah tutup semua saya malas mikir mau nyolong sepatu dimana?

Dari sana saya naik taksi ke Braga, turun persis di depan jalan Braga. Ada warung bakso tulang rusuk yang katanya terkenal se-Braga. Lagi-lagi ini membuat saya galau. Bakso tulang rusuk. Terbesit sebuah tanya: SAYA TULANG RUSUKNYA SIAPA?? (abaikan). Malam-malam makan bakso bukan hal yang buruk juga. Yang bikin buruk itu, makannya sendirian.... huft!

Bingar. Dari depan jalan Braga saya liat plang Fave Hotel, tapi begitu menyusuri jalan itu perasaan udah jauh tapi kok gak nemu juga tuh Fave. Ternyata memang sudah kelewat, saya balik arah ke Braga City Walk. Nanya ke securitynya.

"Kalau Fave Hotel-nya dimana ya, Mas?"

"Oh, ibu aja (nunjuk pintu masuk Braga City Walk), lurus terus nanti langsung ketemu lobby Fave Hotel"


APAAAAA?? Jadi saya akan seminggu menginap di sebuah hotel yang letaknya di dalam mall??
Saya gak suka ke mall, kalau ada penyakitnya mungkin saya penderita mallphobia, lalu tiba-tiba harus berinteraksi dengan mall setiap hari. Malas membayangkan bagaimana seminggu ke depan saya akan terjebak dalam kebingaran Braga, kebingaran Bandung.

Macetnya perjalanan membuat tubuh saya lelah, saya juga macetphobia. Saya langsung istirahat setelah menghabiskan bakso ulang rusuk yang saya bungkus. Definisi istirahat bagi saya adalah.. baca buku sampai tertidur.

Baru saya rasakan bahwa kesendirian benar-benar mencekam, sama sekali gak enak. Apakah seminggu ke depan nanti adalah pil-pil kesepian yang harus rutin saya telan?

Malam itu, curhat ke beberapa teman via chat. Isinya kurang lebih sama: "Bandung terlalu bingar,."

Saya bukan gak suka jalan-jalan atau eksplor kota, tapi... saya hanya merasa kurang bisa bersenyawa dengan kebingaran.

Braga, 17 Mei 2105
(mungkin foto menyusul)

Artikel Lainnya

2 komentar