Belajar Sabar, Tekun, dan Berbagi di Kelas Membuat Lilin Plastisin (Rumbel ICHI)

Mei 03, 2015

Lagi-lagi ini sedikit basi, hahahah. Ini cerita tentang pengalaman saya dua minggu lalu.

Saya (akhirnya) berkunjung juga ke Rumbel ICHI (Indocharity) yang terletak di Jalan Bina Warga, tak jauh dari stasiun Kalibata. Akhirnya? Iya, bukan rahasia lagi kalau saya ini suka umbar-umbar janji, hahhaha. Dua tahun lalu, saya pertama kali bertemu sama Kak Ken di Kota Tua, kala itu saya ikut merusuhi mendampingi museum tour adik-adik Rumbel ICHI (atas jebakan Kak Like tentunya). Nah, sedikit berbincang dengan Kak Ken tentang ICHI, dari situ saya berjanji akan mengunjungi Rumbel ICHI. Sekali waktu, janji yang begitu mengambang, hahahaha. Saya akan mengunjungi Rumbel ICHI, statusnya pasti, tapi... entah kapan! Hahahah. Dua tahun berjalan, konspirasi langit akhirnya membawa langkah saya pada sebuah bangunan yang sederhana, tidak luas, dengan jendela yang dibiarkan terbuka, pintu kayu. Bangunan itu sehari-harinya dijadikan tempat PAUD. Dan setiap hari Minggu, diambil alih oleh Kakak-kakak relawan ICHI, menjadi rumah belajar anak-anak usia TK sampai SD, sebut saja menjadi Rumbel ICHI. Rumah belajar gratis, untuk anak-anak di sekitar daerah situ.

Belajar Sabar, Tekun, dan Berbagi di Kelas Membuat Lilin Plastisin (Rumbel ICHI)

Tulisan di pintu Rumbel ICHI

Saya datang dengan Kak Ken jam 9.00, beberapa relawan ICHI dan anak-anak sudah hadir disana. Ya, walau masih beberapa anak, tapi aura kehebohan yang beberapa itu.. sungguh-sungguh tak dibisa disembunyikan. Heboh. Petjah. Riuh, tanpa gemuruh. Begitu saya dan Kak Ken menapaki Rumbel, langsung disambut oleh teriakan-teriakan,

“Kak Ken... Kak Ken..” lalu beberapa anak menubruk Kak Ken dengan pelukan.

Antara so sweet, dan heboh yang kelewatan, hahahha. Cie, Kak Ken banyak banget sih anaknya, Bapaknya mana woy? Hahaha.

Yup, secara kilat saya pun saya cepat membaur dengan mereka Bahkan ada anak yang langsung ngentel-ngentelin saya (duh, bahasa Indonesia saya memang payah, maafkan!). Intan, namanya, anaknya lumayan manja. Dan saya pun baru tau dari Kak Like, bahwa memberikan afeksi dalam porsi berlebihan justru tidak baik bagi anak-anak. Ketika anak meminta afeksi, silahkan berikan, sedikit saja, sebentar saja, kemudian lepaskan lagi. Jadi, kalau ada anak yang minta pangku, minta gendong, minta peluk, sedikit aja sekenanya, lalu lepaskan lagi. Jangan terus-menerus. Baiklah, itu jadi pelajaran pertama saya di hari itu. Terima kasih, Kak Like.

Lalu, mau ngapain kita hari ini? Sekitar 30an anak sudah berkumpul dan kami akan membuat lilin plastisin (dough). Kak Lina, menjadi instruktur untuk kelas pada hari itu. Mula-mula anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok per tingkat usia, masing-masing kelompok didampingi oleh 1-2 kakak relawan. Saya kebagian mendampingi Intan, Wulan, dan Dinda, yang masih duduk di bangku kelas 4 SD.

Belajar Sabar, Tekun, dan Berbagi di Kelas Membuat Lilin Plastisin (Rumbel ICHI) 
Saya (kiri) - Dinda (tengah) - Wulan (kanan)

Kelas hari itu menganut konsep, learning by doing. Praktekaja dulu, nanti boleh sambil nanya kalau ada kesulitan. Jadi, Kak Lina tak berlama-lama memberi pengarahan dan langsung membagikan alat dan bahan yang dibutuhkan ke masing-masing kelompok.

Bahan-bahan yang diperlukan antara lain:

  • 3 jenis tepung yang berbeda (terigu, kanji, dan... ehmm.. sagu? Atau tapioka ya? Langsung PM Kak Lina aja sist! Hahah)

  • Lem Fox, atau merek apapun

  • Air

  • Pewarna makanan

Alat-alatnya:
  • Piring kertas, atau piring apapun
  • Sendok
Ya, namanya anak-anak pas dikasih bahan dan alat-alat itu langsung gak sabar pengen buat. Penasaran, dipegang-pegang, diraba-raba, diuyel-uyel tepungnya. Sabar, Nak! Sabar.

Tiga jenis tepung yang berbeda tersebut dicampur jadi satu ke dalam piring kertas. Masing-masing anak membuat adonan lilin plastisinnya di piringnya masing-masing. Perbandingan tepung-tepung tersebut adalah 1:1, harus pas, rata, adil. Lalu, ditambahkan satu sendok lem pada tepung yang sudah tercampur. Nah, dimulai lah pembelajaran yang sesungguhnya! Pembelajaran tentang sabar, tekun, dan menjaga semangat. Saat mencampurkan lem (jika terlalu kental, lemnya bisa dicampur dulu dengan air), dan mulai memuleni dengan tepungnya sampai kalis, itu.. tidaklah mudah! Sulit membentuk adonan utuh, partikel-pertikel tepung lagi-lagi buyar dan tak mau menyatu dengan lem. Itulah yang membuat anak-anak yang saya dampingi menampilkan ekspresi sebal, terlebih Intan. Duh, ya, saya ini kan orangnya juga gak sabaran, lah saat itu harus sabar mengayomi anak-anak dan menjaga semangat mereka, menginisiasi mereka untuk sabar juga. Huft, sungguh paradoks.

“Kakak, aku capek. Duh, ini susah banget sih, aku gak bisa-bisa!” Intan, setengah mengutuk, setengah merajuk.

“Sabar dong sayang, semangat.. Ayo, lanjutin lagi. Tuh temen-temennya juga masih nyoba lagi, Kok. Sabar, memang gak langsung jadi. Harus pelan-pelan lagi mencampurnya. Pasti bisa, kok! Ayo, kita coba lagi, yuk!” ceritanya saya lagu bujuk Intan yang saat itu sudah menempelkan dagunya di atas meja, mengabaikan piring kertasnya. Sementara Dinda, masih melanjutkan prakaryanya, pelan-pelan dia coba terus mempersatukan tepung dan lem itu. Sesekali saya contohkan, saya bantu, namun tetap iya sendiri yang melanjutkan. Kesan pertama saya terhadap Dinda, dia adalah anak yang pendiam, kalem, anteng, nurut, mirip-mirip saya lah! Duh, Dinda manis sekali sih kamu! Lalu, Wulan, tidak sependiam Dinda, namun juga tidak se-emosianal Intan. Dinda dan Wulan akhirnya berhasil membuat adonan kalis, menyatu, tidak banyak sih, hanya sebulatan kecil saja. Tak apalah, itu sudah kece! Namun Intan menyerah dengan tepung dan lemnya, malah dia berkreasi sendiri, menambahkan air dan pewarna makanan, mencampurnya dengan semena-mena sekali. Menjadi prakarya yang abstrak, hahhaha. Duh, Intan, maafkan Kakak gagal menjadi pendamping yang baik bagimu.

Intan yang pakai kaos hitam, lagi serius Intan yang pakai kaos hitam, lagi serius

Setelah adonan kalis, lalu diatambahkan dengan pewarna makanan. Butuh usaha yang tidak instan juga untuk menyatukan warna dengan adonan lilin plastisin. Huft, pantas saja untuk menyatukan perasaan kita pun juga tidak bisa instan! (gak nyambung).

Sebenarnya satu kelompok hanya mendapatkan satu warna saja, namun dalam prakteknya kelompok yang saya bimbing pinjam-pinjam warna di toko sebelah, eh di kelompok sebelah
maksudnya. Aturannya sih, satu kelompok hanya punya lilin plastisin dengan warna tertentu, nanti bertukarnya, bertukar lilin plastisin dengan kelompok lain jika sudah selesai semuanya. Tapi dasarnya saya pun memang hobi menyimpang dari aturan, maka saya pun sedikit kesulitan mengontrol anak-anak agar berada di koridor aturan yang sudah dibuat, hahahah. Jadi, malah saya pasrah membiarkan mereka berkreasi sendiri, meminja pewarna dari kelompok-kelompok lain, mencampur-campurkan warna, sampai mencipta warna baru. Alhasil, jadilah lima lilin plastisin dengan warna berbeda-beda: ping, hijau, coklat tua, coklat muda, dan ungu. Sebenarnya kelompok yang saya bimbing mendapat jatah warna hijau, jadi normalnya ya lilin plastisinnya warna hijau semua, hahhaah.

Setelah masing-masing anak selesai membuat lilin plastisin, masuklah ke sesi berikutnya. Kak Lina menyebutnya sebagai ‘sesi bertetangga’. Yup, masing-masing anak dipersilahkan untuk barter lilin plastisin dengan anggota kelompok lain dengan warna yang berbeda. Lah, kelompok yang saya dampingi sudah nyolong start bertetangga sejak minta-minta pewarna warna lain dari kelompok sebelah. Pada sesi ini anak-anak sebenarnya sedang diajarkan ‘berbagi’, merka kan gak akan maksimal kalau membuat kreasi lilin plastisin hanya dengan satu warna saja. Misalnya untuk membuat bunga, membutuhkan warna ping, hijau, dan coklat. Anak-anak diajarkan bernegosiasi pada temannya, untuk mendapatkan warna yang mereka butuhkan/inginkan dengan barter dengan secuil lilin plastisin yang mereka punya. Nyatanya, ada anak-anak yang mempertahankan lilin plastisin buatannya untuk ia sendiri. Tidak mau barter, tidak mau bertetangga dan saling membagi. Berbagi itu memang tidak semerta-merta menjadi kemampuan dasar manusia, harus dikenalkan, diajarkan, dicontohkan. Anak yang tidak mau ‘bertetangga’, hanya bisa menghasilkan kreasi lilin plastisinnya dalam satu warna saja. Monoton sekali kan jika tidak bersinergi dengan yang lain? Sementara anak-anak yang ‘bertetangga’ bisa membuat kreasi dengan berbagai macam warna.

Setelah sesi barter selasai, anak-anak dibiarkan berkreasi dengan imajinasinya, membentuk lilin plastisin menjadi apa saja yang ia suka. Ada yang membuat bunga, es krim, menulis namanya sendiri, dan lainnya. Waktu belajar di Rumbel ICHI hanya sampai jam 12.00 siang saja. Setelah semua anak memiliki karya lilin plastisinnya masing-masing, mereka diminta duduk melingkar dalam satu lingkaran yang besar. Dua buah meja diletakkan di tengahnya, untuk menaruh karya anak-anak.

Meja pameran Meja pameran

Sebelum Kak Lina sungguhan menjelaskan mengenai filosofi membuat lilin plastisin, anak-anak diminta partisipasinya untuk bercerita pengalaman mereka hari ini. Beberapa anak yang berani bercerita diberi apresiasi meletakkan karyanya terlebih dahulu di “meja pameran”. Menyusul karya dari anak-anak lain. Setelah semua karya didokumentasikan, anak-anak bisa kembali membawa karyanya tersebut. Jadi, makna dari belajar membuat lilin plastisin ternyata banyak sekali, selain melatih otak kanan untuk berkreasi, juga melatih hati dan jiwa (yaz, bahasa lu kagak ada korelasinya! Hahahah). Belajar sabar, belajar tekun, belajar kerja keras, belajar tidak mudah menyerah, dan belajar berbagi. Bukan cuma anak-anak aja yang belajar, tapi pendamping-pendampingnya juga.. belajar ngasuh! Hahahah. Kamu punya adik, anak, adik-adikan, atau anak-anakan yang pengen kamu kenalin dengan kosakata sabar, ketekunan, kerja keras, pantang menyerah, dan lain-lainnya? Praktek belajar membuat lilin plastisin ini bisa dicoba

Usai kelas dibubarkan, dan anak-anak pulang ke rumahnya masing-masing, kami, Kakak-Kakak pendamping, dikumpulkan. Rupanya, Rumbel ICHI selalu mengadakan evaluasi usai selesai kelas. Semacam sharing kecil, Kak Fenty yang berbagi ilmu tentang cara mengajar membaca beserta tips-tipsnya. Materi tersebut baru saja ia dapatkan dari suatu pelatihan. Kak Irti, yang juga buah jebakan dari Kak Like, hahahha, lebih banyak lagi memberi masukan, saran, ide untuk Rumbel ICHI. Kece memang Kak Irti, pengalaman mengajar di sekolah Internasional selama 7 tahun, membuatnya begitu mahir mengayomi anak-anak. Padahal ia gak pernah dapat pendidkan formal di bidang pendidikan anak. Ternyata teknik menangani anak-anak yang baik dan benar bisa disimpulkan dengan terjun langsung, teman-teman. Kak Irti pun memulainya dari nol, ah, kece deh! Beberapa relawan Rumbel ICHI yang saya temuai kemarin ada yang berasal dari backround psikologi dan pendidikan. Dan mereka kece semua! Kecuali Kak Ken, hahaha (maaf Kak Ken, saya hanya berusaha jujur dalam tulisan-tulisan saya).

Rumbel ICHI memang tidak fokus terhadap pendidikan akademik, tetapi lebih membidik terhadap pembentukan karakter anak-anak. Kamu tertarik terjebak ke dalamnya juga? Monggo, silahkan mampir. Rumbel ICHI buka kesempatan untuk member get member, kok! Jadi terbuka buat siapa saja. Datang saja ke Rumbel ICHI tiap hari Minggu jam 9.00 pagi, ya! Oiya, beberapa minggu lagi ICHI mau ngadain event “Kumpul Bocah” loh, nih klik disini untuk informasinya.

(Kak Ken, aku dibayar berapa nih udah promosiin Rumbel ICHI sebegininya? Hahahah)

Depok, Mei 2015 (yang niat awalnya mau menyelamatkan IP, malah menulis ini, Huft.)

Artikel lainnya:

0 komentar

Subscribe