Sosial

Ujang, yang Dipelihara Oleh Negara

Mei 02, 2015

Nyaris sebulan lalu, terik matahari tak menyurutkan putaran dua pasang roda motor. Bang Agus dan saya dengan motor matic (yang keberatan muatan), Bang Bisot dan Ami dengan Tiger, mengunjungi kediaman Ujang, salah satu siswa SD Alam Anak Sholeh (SDAAS) . Bermodal nekat, dengan alamat yang begitu umum, yaitu “perkampungan pemulung”

Kami tak langsung berhasil menemukan kediaman Ujang, bang Agus meminta Hendrik, salah satu siswa SDAAS juga untuk mengarahkan kami. Hendrik, tanpa alas kaki, menggas motor 2 tak, mengomandoi perjalanan ke tempat Ujang.

Ujang, yang Dipelihara Oleh Negara
Ujang dan hasil "ngampung"nya
Sebuah perkampungan pemulung, yang terselip di sampiran komplek ruko-ruko mewah Harapan Indah, Bekasi. Iya, Bekasi, tidak jauh dari pusat kota. Kalau dikomplek perumahan mewah, halamannya dihias tanaman-tanaman, maka di kampung Tanggul 2, desa Pusaka Rakyat tersebut beranda rumah-rumahnya dihias oleh tumpukan karung hasil memulung.

IMG_20150405_150618

Ujang. Usianya 13 tahun, masih tercatat sebagai siswa kelas 4 SD. Sudah 6 bulan ia tidak berangkat ke sekolah. Sejak ayahnya sakit, langkahnya ke sekolah menyimpang ke arah lain, bukan dengan seragam, tapi mengenakan baju bebas, tanpa alas, menenteng karung, mendorong gerombak. Menggunakan istilah “ngampung”, mungkin kosa kata khas Bekasi, yang artinya berkeliling kampung, untuk memulung.

Begitu kami sampai di kediaman Ujang, kami bertemu dengan ibu Ujang yang sedang menggendong bayi dan bapak Ujang, namun Ujang sedang “ngampung”. Di lingkungan rumah Ujang pun saya mengenali beberapa siswa SDAAS; Maulana, Dede, Isal, dan beberapa lainnya. Mereka ternyata masih terbilang saudara Ujang, dan tinggal di sekitar kampung itu juga. Warga sana, kebanyakan adalah pendatang dari Muara Gembong Bekasi, yang merasa daerah asalnya secara demografi tidak memberikan keuntungan bagi mereka. Sehingga mereka pindah ke bekasi, dan menjadi pemulung.

IMG_20150405_144646
Ujang
Bang Agus menyampaikan maksud kedatangan kami, yaitu hendak mengkonfirmasi sebab ujang tidak masuk sekolah dan bernegosiasi agar Ujang sekolah lagi. Banyak yang kami bicarakan di teras rumah Ujang. Lebih tepatnya Ibu Ujang yang lebih banyak bicara, semacam curhat. Bapak Ujang sungguhan sakit, sudah 6 bulan, kaki kirinya infeksi sehingga tidak bisa bekerja memululng lagi.
Ujang dan teman-teman
Ujang dan teman-teman
Terkendala biaya, dan belum mengurus dokumen-dokumen untuk jamkesda, membuat Bapak Ujang di rumah saja, tanpa perawatan medis.

Pada saat itu ada pertanyaan yang bodoh sekali yang saya tanyakan,

“Loh, memang gak pakai BPJS?”

“BPJS? Enggaklah, neng itu kan bayar tiap bulan. Duit darimana kita”

Astaga, bodoh sekali saya. Pakai nanya segala tentang BPJS, wong buat makan saja kembang-kempis, bagaimana mungkin memikirkan juga untuk iuran BPJS per bulannya? Diaz! Lain kali lebih mikir ya sebelum nanya!

Peran kepala keluarga digantikan Ujang. Sisi lain Ujang, yang dikenal “nakal” di sekolah, Ujang adalah anak yang bertanggung jawab terhadap keluarganya. Ujang harus memulung sepanjang hari, dari pagi, lalu siang ia kembali ke rumah untuk istirahat, makan siang. Selanjutnya kembali memulung hingga sore. Pilihan yang sulit, ah, salah, bahkan tidak ada pilihan. Orang tua Ujang sebenarnya ingin agar Ujang tetap sekolah. Mereka sebenarnya sadar, hanya dengan pendidikan yang dapat memutus kemiskinan mereka, jika Ujang
mendapatkan pendidikan terbaik, maka kesempatan meraih masa depan yang lebih baik sungguh tidak lagi menjadi utopis. Tapi tak ada pilihan lain, Ujang anak tertua, Bapaknya sakit, Ibunya sibuk mengasuh cucu, anak dari (alamarhumah) Kakak Ujang, yang meninggal sebulan lalu. Ayah dari bayi itu, Kakak ipar Ujang, mengalami depresi, hingga beliau dipecat dari pabrik cotton buds, tempatnya bekerja semasa istrinya masih hidup. Sekarang, setiap harinya Kakak ipar Ujang memulung besi dan jarang pulang ke rumah, ya, depresi yang dialaminya menyerempet pada gangguan jiwa, begitu kurang lebih yang disampaikan oleh Ibu Ujang.

Ujang menggadaikan waktunya untuk bersekolah, demi memulung. Hasil pulungan yang menggunung di gerobak Ujang, jika konversi ke dalam rupiah hanya sebesar enam puluh ribu rupiah seminggu. Saya ulang, ENAM PULUH RIBU RUPIAH untuk SEMINGGU. Betapa kecilnya nilai itu jika dibandingkan dengan kesempatan belajar yang hilang selama berbulan-bulan. Sebenarnya, SD Alam Anak Sholeh adalah sekolah gratis milik bang Agus, yang diperuntukkan oleh anak-anak dhuafa. Ujang hanya perlu pergi ke sekolah setiap hari, tanpa membayar, bahkan untuk seragam pun sudah disediakaan. Namun ternyata sekolah gratis belum jadi jawaban bagi kasus Ujang ini. Jika Ujang sekolah, siapa yang pergi memulung? Jika tidak ada yang memulung, siapa yang membiayai hidup kedua orang tua ujang, adiknya, dan keponakannya yang masih bayi itu?

Usai bernegosiasi, disepakatilah sebuah jawaban agar Ujang bisa melanjutkan sekolah, namun dapur keluarga Ujang tetap mengebul.

Bang Agus, atas nama Sekolah Raya akan mensubsidi keluarga Ujang sebesar 100 ribu per minggu. Dengan syarat, Ujang kembali melanjutkan sekolah dan tidak memulung lagi di jam sekolah. Subsidi yang akan di berikan per minggu itu, adalah solusi sementara sampai Bapak Ujang sembuh dan dapat memulung lagi. Orang tua Ujang setuju atas tawaran itu. Mulai Senin besoknya Ujang sudah bisa sekolah lagi.

Cikgu Bisot narsis barang Ujang dkk
Cikgu Bisot narsis barang Ujang dkk
Menjelang sore, Ujang pun pulang ke rumah. Ia tampak malu-malu menghampiri kami. Mungkin malu karna sudah lama tidak sekolah. Begitu sampai dan meletakkan gerobaknya, ia seperti mengumpat di rumah tetangganya. Dengan sedikit dibujuk oleh ibunya, akhirnya Ujang mau menghampiri kami, dan berkumpul bersama teman-teman lain yang ada di teras rumahnya.

Ujang adalah salah satu potret anak yang teranjritkan oleh jaman. Teranjritkan? Maaf, saya tidak menemukan istilah lain yang bisa mewakili keadaan Ujang. Apa itu teranjritkan? Melihat, mendengar sendiri bagaimana kisah Ujang, membuat saya berkali-kali membatin, “Anjritt.. anjrittt...” Ya, jadi Ujang telah teranjritkan oleh jaman! Terlebih Ami, mahasiswa Fakultas MIPA UI, yang baru saja saya jebloskan di Sekolah Raya. Bertemu Ujang dan keluarga membuat Ami ternganga-nganga, dari awal kami datang sampai pamit pulang. Ya, Mungkin syok.

Selepas pamit dari rumah Ujang, kami kembali ke homestay Sekolah Raya, di tengah perjalanan ban motor bang Agus bocor. Kami berhenti untuk menambal ban. Duduk di bangku blok depan rumah orang, Ami masih saja dengan ekspresi kagetnya.

“Mi, aku kasih tau ke kamu ya. Kalau kamu mau jadi relawan di Sekolah Raya kamu gak boleh punya hati yang terlalu lembut. Nanti kamu capek, bakal nangis terus. Ujang baru salah satu contoh aja mi. Masih banyak Ujang-Ujang yang lain yang akan kamu temui disini.” Saya bilang begitu sama Ami, pas dia bilang kalau ini pertama kalinya dia berkesempatan mengenal dan mendengar sendiri kisah seperti kisah Ujang.

Kami kembali membahas tentang Ujang sambil menunggu ban motor selesai di tambal. Saya dan Bang Agus? Justru tertawa. Miris. Lain sekali dengan Ami yang masih tidak bisa menyembunyikan ekspresi syoknya bercampur kasihan. Bukan, saya dan Bang Agus bukan tega, atau gak punya hati karna menertawakan kisah Ujang. Melainkan, kadang-kadang sesuatu yang sangat menyedihkan,dan terlalu miris itu terasa konyol sekali. Bagaimana bisa? Sebegitu dramatisnya. Saya pun sudah tak sanggup menangis, kehilangan air mata, makanya malah ketawa. Ujang, tidak sekolah karna menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Bapaknya sakit. Kakak perempuan Ujang, meninggal sebulan lalu, karna sakit meningitis, tidak tertolong dengan pengobatan seadanya. Sehingga Ibu Ujang yang seharusnya bisa bekerja juga, tersita waktunya untuk mengurus cucu yang masih bayi. Kakak Ipar Ujang? Depresi mendekati stress sepeninggalan istrinya, dipecat dari tempatnya bekerja dan sekarang hanya memulung besi. Kemiskinan bisa menjadi akar penyakit, akar kebodohan, dan akar kemiskinan yang baru. Namun, disaat yang sama, kemiskinan bisa menjadi kecambah bagi harapan-harapan baru, mimpi-mimpi baru, kesempatan-kesempatan baru untuk hidup yang lebih baik.

Ujang selalu punya kesempatan. Esoknya, Ujang sudah benar-benar kembali sekolah. Beberapa hari yang lalu bahkan, saat memperingati #WorldWidePinholeDay di sekitar Harapan Indah, saya bertemu dengan Ujang yang sedang hunting foto. Ujang sudah kembali bermain dan belajar dengan membawa kenakalan khas anak-anak. Kendati mensubsidi keluarga Ujang per minggu hanyalah solusi sementara, namun, itulah jalan satu-satunya agar Ujang bisa sekolah lagi. Sekarang keadaan keluarga Ujang memang sulit, tapi jika Ujang berhenti sekolah di tingkat kelas empat SD, bisa jadi esok-esok keadan mereka akan lebih sulit lagi. Membantu Ujang menemukan minat dan bakatnya, lalu mengarahkannya, lalu melepasnya dalam keadaan mampu berkarya mandiri adalah menjadi tantangan tersendiri, bagi guru dan orang tuanya, atau bagi siapapun. Siapapun, yang peduli.

Sepanjang silahturahmi kami dengan Ujang dan keluarganya, Bang Bisot live tweet dan teman-teman relawan yang lain pun bantu meramaikan twitter dengan hastag #BantuUjangSekolah

Saya ikut-ikutan rusuh dong di tweet. Salah satu bunyi tweet saya begini:

ngerusuh di twitter
ngerusuh di twitter


“Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”, iya dipelihara, maka tetap miskin.

Saya masih (sedikit) ingat, waktu SD diminta menghapal sederet pasal UUD 1945 oleh guru saya. Ada salah satu pasal yang menyinggung soal fakir miskin dan anak-anak terlantar. Namun untuk kapasitas otak saya yang tak mampu menghimpun banyak informasi, tentu saja saya lupa bunyi pasal utuhnya, saya hanya mampu mengutip sedikit isinya. Nomer pasal dan ayatnya? Ya, baru ingat lagi setelah googling, hahhaha.

“Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara” Pasal 34 ayat (1) UUD 1945.

Jadi, sebenarnya Ujang dan keluarganya dipelihara oleh negara, ya? Entah klausul isi UUD tsb yang salah, atau saya yang terlalu pandir dalam menafsirkan. Dipelihara, suatu usaha untuk mempertahankan keadaan yang sudah ada, begitu awalnya menafsiran saya. Iya, Ujang dan keluarga dipelihara, makanya tetap miskin. Kemiskinannya dipelihara oleh negara. Lalu saya iseng cari di KKBI online;

Memelihara artinya: menjaga dan merawat dengan baik.

Baiklah. Klausul bunyi UUDnya sudah baik ternyata, hahahha. Saya yang salah tafsir.

Melalui tulisan ini, sungguh saya gak bermaksud untuk “menjual kisah” Ujang, menonjolkan kemiskinannya, membuat pembaca ikut-ikutan sedih. Bukan, bukan itu. Saya cuma pengen yang baca tulisan ini
mikir, ikutan mikirin. Kemungkinan sekali banyak Ujang-ujang lain yang tersamarkan. Dan ada disekitar kita, dekat sekali dengan kita. Sulit rasanya untuk menutup mata terhadap kondisi mereka. Mereka, anak-anak yang teranjritkan oleh jaman. Anak-anak yang dipelihara oleh negara. Kendati saya pun tak ada gunanya sama sekali, hahahah. Nah, oleh karena ketidakberdayaan dan ketidakkompatibelan otak saya (namun begitu, hati saya tidak bisa bohong, saya peduli tentang ini), barangkali ada pemikir, dokter, pendidik, psikolog, psikiater, pemerhati anak, aktivis sosial, yang sedang baca tulisan ini.. dan mana tau ada yang punya ide cemerlang serta daya upaya untuk membantu kondisi mereka, membuat mereka mandiri, memutus rantai susah turun temurun, mencetak generasi-generasi brilian yang siap melesat menyongsong Indonesia menjadi yang terdepan (Yaz, yaz, stop! Hahahha jangan lanjutkan).

Baiklah, saya tutup tulisan ini dengan ucapan......

Selamat Me-............ (isi sendiri) Hari Pendidikan Nasional, teman-teman..

(Catatan Kaki: kalau ada seniman yang mau bikin lagu, puisi, cerpen, bahkan novel tentang Ujang, boleh banget loh, kali aja ada yang terinspirasi sama Ujang dan mau menyadarkan khalayak umum tentang betapa banyaknya Ujang-Ujang yang lain)

Depok, Mei 2015 (tepatnya di R*ch**s* Factory, Kelapa Dua)

Artikel Lainnya

1 komentar

  1. Reblogged this on Biang SOToy ngemeng and commented:
    Selamat Hari Pendidikan Nasional :)

    BalasHapus