Bulan Kehilangan

September 09, 2015

Di akhir Juli, sebagai awal bagi saya kehilangan salah satu rekan kerja terbaik selama hampir 3 tahun, yang bahkan saya anggap seperti adik sendiri. Bukan kehilangan selama-lamanya memang, tapi bagi saya kehilangan tetaplah kehilangan. Meski kami masih dalam satu bumi yang sama, intensitas pertemuan pasti akan sangat berkurang, bahkan mungkin hanya sesekali. Belum lagi jika mengingat konstribusinya dalam tim kerja yang saja juga tergabung didalamnya. “Chemistry” yang lahir dalam hubungan kerja sungguh tidak mudah dilepas begitu saja, apalagi mengingat saya pun harus mulai membangun “chemistry” dengan rekan kerja yang baru.

Lalu, di awal Agustus, saya kehilangan sepupu saya untuk selama-lamanya. Usianya beranjak 9 bulan. Rayyi kecil, masih terekam bagaimana saya melihat langsung kesakitannya. Dari mulai kejang di rumah, sampai masuk ruang perawatan sdi sebuah RS, sampai kritis dan koma di ruang ICU. Saya melewatkan detik-detik terakhir hidup Dek Rayyi kecil.




Bulan Kehilangan

Saat menjenguk di ICU, melihat selang-selang medis berebut andil dalam sistem tubuh Rayyi, tubuh kecil yang sedang koma, sungguh saya gak tega, tapi saya membatin barangkali ini adalah detik-detik terakhir Rayyi. Jam besok ICU  yang hanya berselang 1 jam saya maksimalkan untuk menjenguk Rayyi, sesekai menengoknya dari balik kaca ruang ICU, sesekali keluar pavilion. Sungguh menjadi pemandangan yang sangat nyeri, membayangkan anak sekecil Rayyi harus menanggung kesakitan yang luar biasa. Siang itu nafas Rayyi sudah satu-satu, jam besuk sudah selesai, saya pamit pulang sambil merencakan jam besok sore kembali lagi. Tak lama setelah sampai rumah, saya mendapat kabar bahwa Dek Rayyi sudah tiada.
Rayyi kecil, tak banyak kenangan saya terhadapnya, hanya sesekali melihat dia main, tidur, dan sakit, bahkan saya belum pernah menggendongnya. Tapi, kehilangan tetaplah kehilangan. Mendapat kabar kepergiaan Rayyi, saya belum menangis. Hey, bukankah ini menjadi takdir terbaik bagi Rayyi dan keluarganya? Rayyi kecil, putus sudah penderitaan sakitnya, dan keluarga yang ditinggalkan, khususnya kedua orang tuanya menjadi memiliki tabungan di hari akhir. Kelak Rayyi akan menjemput kedua orang tuanya di pintu surga.
Tapi begitu melihat jenazah Rayyi sampai di rumahnya, saya menangis. Air mata luruh begitu saja. Bukan, bukan kehilangan Rayyi yang membuat saya menangis. Tetapi ketika saya melihat jasad Rayyi yang begitu tenang, seperti tidur nyenyak sekali. Wajah bayi yang begitu bersih, suci, tampan. Rayyi tidur. Tidur panjang. Saya menangis mengingat betapa Allah begitu menyayangi Rayyi, belum juga berbuat dosa, Allah sudah mencukupkan usia Rayyi. Rayyi, kembali saat dia masih suci. Saya menangis, perasaan iri yang begitu hebat menguasai saya, membuat air mata saya luruh terus menerus. Saya iri, betapa Allah begitu menyayangi Rayyi. Sedangkan saya yang kepalang tua, kepalang menimbun dosa, apa saya bisa menyelesaikan masa hidup di dunia ini dalam keadaan suci lagi? Seperti Rayyi? Entah berapa lama lagi saya meneruskan usia, mengembala antara murka dan ridho Allah. Dan entah mana nantinya yang menjadi kecenderungan. Dalam tangisan, diam-diam saya berdoa, semoga Allah menyayangi saya seperti rasa sayang-NYA terhadap Rayyi. Dek Rayyi, kebersamaan kita terlalu sebentar. 

Masih diliputi suasana duka, selang beberapa hari, Uwak saya (kakak perempuan ibu), menamatkan masa hidupnya di dunia. Saya mendapat kabar duka selagi di kantor, kemudian pamit pulang dan menuju rumah duka. Kepergian Uwak Iyok (begitu saya memanggilnya), cukup membuat saya syok. Uwak sakit kanker beberapa bulan terakhir, tubuhnya memang semakin hari semakin kurus. Ketidaksiapan kehilangan Uwak Iyok, yang sudah seperti ibu kedua bagi saya (masa kecil saya sering diasuh dengan beliau), membuat saya mempertanyakan kembali  “kenapa secepat ini, Ya Allah?”
Kehilangan orang yang kita menyimpan kebersamaan dengannya, akan jauh lebih berat. Meski di hari-hari terakhir sebenarnya ‘tanda-tanda’ kepergian beliau sudah tampak. Hanya karna ketidaksiapan kami kehilangan beliau, kami mengabaikan saja ‘tanda-tanda’ itu. Berharap Allah memberikan kesempatan sembuh. Uwak meninggal di hari Jumat, yang katanya hari baik, hari meninggalnya orang-orang sholeh yang disayang Allah. Apalagi yang perlu kami tangisi? Sedang janji Allah tentang membebaskan siksa kubur bagi sesiapa yang meninggal di hari Jumat, bukankah menjadi hadiah yang mewah bagi almarhumah?
Belum lagi, Ocha, anak bungsu almarhumah, sepupu sekaligus teman sepermainan, yang hanya beda usia setahun dengan saya, menyaksikan bahwa kalimat terakhir yang diucapkan ibunya adalah, “Allah”. Bukankah itu tujuan hidup semua orang? Fasih mengucapkan kalimat Allah sebagai penutup hidup?
Meski di hari baik, di akhir yang baik, tapi kehilangan tetap saja menjadi kehilangan. Kepergiaan almarhumah pun begitu cepat prosesnya, hari Kamis, saya sampai Depok lebih cepat dan entah bisikan mana yang membuat saya langsung ke rumah almarhum untuk menjenguk sampai lepas magrib. Dini hari, almarhum drop dan dibawah ke RS, paginya, sudah pergi untuk selama-lamanya. Lagi-lagi saya melewatkan detik-detik terakhir hidup almarhumah. Dalam perjalanan ke rumah duka, saya masih setengah tidak percaya. Begitu sampai, melihat jenazah sudah dikafankan, saya menangis, selewatan memori masa kecil yang banyak saya habiskan dengan almarhum tumpah ruah di benak saya. Betapa beliau adalah orang yang baik semasa hidupnya.  Saya terlambat dalam prosesi memandikan jenazah, tapi saya beruntung, belum terlambat dalam menyolatkan jenazah.
Di mushalla yang sama, dalam jangka waktu yang kurang dari seminggu, saya menyolatkan 2 jenazah dari keluarga dekat saya. Minggu yang begitu mengingatkan pada kesementaraan hidup, pada tujuan hidup yang kadangkala sering kita lewatkan: mati dalam keadaaan baik, di tempat yang baik, meninggalkan kenangan yang baik dan membawa sebaik-baiknya amal.

Akhir Agustus, saya pun kembali kehilangan salah satu rekan kerja dalam satu tim, memang bukan kehilangan yang selama-lamanya. Bertubi-tubi rasa kehilangan di bulan lalu, telah cukup membuat saya mematenkan Agustus sebagai bulan kehilangan.


Kehilangan mengajarkan kita tentang konsep kesementaraan. Manusia datang, singgah sementara, pergi selamanya. Saat bertemu dengan orang-orang baru, sebenarnya kita sekaligus menabung nasib untuk berpisah dengannya. Kehilangan merupakan konstribusi dari waktu yang telah menyelesaikan fungsinya.

(sumber gambar:  http://motivaksi.blogspot.com)

Artikel lainnya:

0 komentar

Subscribe