Catatan Perjalanan

Kenangan Yang Tertinggal di Sekolah Pindul dan Sekitarnya

September 18, 2015

Bermain di Sekolah Pindul 

“Ada yang tahu surat itu apa? Hayo, ada yang tahu?” seru Kak Novi, disambut bisik-bisik bingung oleh adik-adik di Sekolah Pindul, yang terletak di kawasan wirawisata Gua Pindul, Gunung Kidul, DIY.

 “Amplop, Kak!” Fitri, gadis cilik dengan rambut sebahu, memberanikan menjawab. Sontak, disambut tawa oleh teman-teman dan Kakak-kakak

 “Iya, memang mengirim surat itu pakai amplop. Tapi surat itu bukan amplop artinya, ya. Siapa lagi yang tahu surat itu apa?”

 “Surat itu suatu kabar yang penting, Kak!” setengah berteriak, Rafli, menjawab sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Rafli, anak laki-laki dengan bulu mata yang lentik itu memang aktif sekali.




“Iya, surat memang bisa berisi suatu kabar yang penting.. “ Kalimat Kak Novi masih panjang, ia meneruskan menjelaskan sedikit teori ringan tentang surat-menyurat. Tergerus jaman digital, memang berimbas pada minimnya pengetahuan anak-anak mengenai dunia filateli. Teori-teori dasar mengenai teknik berkomunikasi lewat surat barangkali mudah dilupakan begitu saja oleh anak-anak, jika tidak langsung pada praktek. Siang itu, kami, yang menyebut diri sebagai relawan 1 Juta Buku untuk Anak-anak Indonesia (SAJUBU), membantu mengingatkan lagi adik-adik mengenai surat.
Sebenarnya siang itu gerimis sedang menyerbu Sekolah Pindul, namun sama sekali tak menyurutkan semangat dan antusias adik-adik untuk bermain sambil belajar bersama kami. Sekitar 40 anak usia TK sampai SD berkumpul di sebuah saung lesehan yang cukup besar . Suara riuh adik-adik yang penuh dengan rasa keingintahuan seakan berlomba dengan desibel-desibel yang dihasilkan gerimis.
“Kak, kak, aku nulis apa lagi? Aku certain apa lagi nih?”
“Kak, kak, aku udah selesai nih!”
Sengaja kami membagi adik-adik menjadi beberapa kelompok kecil, dibuat melingkar, dan setiap kelompok di dampingi oleh beberapa kakak-kakak SAJUBU. Sementara relawan Sekolah Pindul yang pada hari-hari biasa mengajar disana, untuk kali ini mereka  mengamati kami di dari bangku belakang.
 Setelah sesi menulis surat selesai, Kak Oci maju mempimpin senam ceria. Adik-adik semakin antusias, dan ketika kami menantang mereka untuk maju ke depan, dan memimpin gerakan senam, tak disangka hampir setengahnya mangangkat tangan, tanda bersedia. Bagi mereka yang berani maju ke depan, diberikan hadiah berupa buku.
Senang rasanya bisa bertemu dan bermain-main dengan mereka, adik-adik yang pemberani, penuh antusias. Mereka adalah anak-anak yang tinggal di sekitar wirawisata Gua Pindul, yang memang rutin datang ke Sekolah Pindul. Sekolah Pindul merupakan sekolah non-formal berbasis wisata yang didirikan oleh salah satu putra terbaik bangsa, Mas Yudan Hermawan yang sekaligus menjabat sebagai ketua karang taruna desa Bejiharjo, Gunung Kidul.
Sekolah  yang terletak di dalam wirawisata Gua Pindul itu, terdiri atas beberapa bangunan semi permanen, seperti saung-saung kayu, bernuansa menyatu dengan alam, letaknya pun di tengah-tengah wahana bermain. Beberapa hari dalam seminggu, anak-anak berkumpul untuk diajarkan pelajaran sekolah tambahan dan keterampilan oleh kakak-kakak relawan. Ketika kami berkunjung, tercatat tiga orang relawan yang selalu rutin mengajar. Berdirinya Sekolah Pindul memiliki maksud agar di dalam wirawisata Gua Pindul juga terdapat unsur pendidikan, pelatihan keterampilan, dan kesenian. Tidak hanya anak-anak, warga sekitar wirawisata Gua Pindul yang sudah berusia dewasa pun diajarkan bermain gamelan di Sekolah Pindul. Setiap akhir pekan diadakan pertunjukan gamelan disana untuk dapat dinikmati oleh wisatawan. Mas Yudan pun merencanakan pembangunan pojok baca di Sekolah Pindul, dan beberapa pojok-pojok baca yang tersebar di area wirawisata Gua Pindul. Harapannya, dengan adanya pojok-pojok baca, dari mulai anak-anak dan warga setempat yang belajar di Sekolah Pindul, sampai wisatawan-wisatawan Gua Pindul pun bisa mendapat pesan tentang pembudayaan minat baca.
Tak pernah ada kata jenuh dan bosan setiap saya bermain dengan anak-anak, namun perjalanan keluar kota yang hanya mengandalkan libur di akhir pekan terpaksa membuat kebersamaan kami di Sekolah Pindul menjadi amat singkat. Meski binar-binar antusias masih sangat kentara di mata anak-anak disana, menjelang sore kami harus menutup pertemuan dengan mereka di hari Sabtu itu.

Tadarus Keliling: Budaya Malam Minggu
Malamnya, kami diundang Mas Yudan, untuk menghadiri acara rutin mingguan Omah Pasinoan, sebuah rumah baca di gunung kidul juga. Acara yang bertajuk “Tadarus Keliling” atau Tarling, berlangsung setiap malam minggu, dan tempatnya pun bergilir secara bergantian di rumah peserta. Pekan itu, kebetulan Mas Yudan lah yang menjadi tuan rumah Tarling. Lepas isya kami berkumpul di ruang tamu rumah Mas Yudan, peserta tarling sekitar 30an orang, kebanyakan mereka adalah remaja tanggung yang merupakan anggota karang taruna desa setempat. 
Makan malam usai Tarling, di selasar rumah Mas Yudan

Apa yang dilakukan kebanyakan remaja tanggung yang tinggal di jantung kota setiap malam minggu? Saya terenyuh, menyelami harmoni kehidupan di desa selalu membuat saya iri. “Tadarus Keliling” merupakan budaya yang menjadi cermin betapa orang-orang yang tinggal disana setia dalam nilai-nilai kesahajaan.
Ayat-ayat Alquran estafet dibacakan orang per orang. Setelah itu, kami, yang membawa nama SAJUBU, diberi kesempatan oleh Mas Yudan untuk menyampaikan beberapa pesan mengenai minat baca. Dari kesimpulan saya, remaja-remaja tanggung disana sebenarnya cukup memiliki antusias minat terhadap membaca, hanya saja memang buku-buku bacaan Omah Pasionan masih terus perlu di update.
Acara tarling dilanjut makan malam bersama, seperti layaknya malam keakraban, suasana begitu baur. Saya kaku sekali bahasa Jawa, danmustahil meleburkan diri dalam basa-basi bahasa Jawa, jadi saya ngobrol-ngobrol santai dengan mereka cuek saja pakai bahasa Indonesia (yang kurang baik dan benar). 

Menuntaskan Sisa Liburan
Esoknya, pagi-pagi sekali kami menuntaskan sisa liburan dengan diawali pengalaman cave tubing di Gua Pindul. Catatan perjalanan menyusuri Gua Pindul sudah pernah saya tulis disini. Saya yang agak rusuh, sedikit membuat pemandu wisata nyaris putus asa karna nirmaknanya pertanyaan-pertanyaan saya.
“Mas, ini sungainya di kuras berapa kali sebulan?”
“Mas, yang bersihin dinding gua-nya siapa?”
“Dulu yang bikin stalagtit dan stalagnit gini gimana sih, Mas? Keren banget deh  bisa kayak gini.”
“Mas, yang niupin ban pelampungnya siapa? Niupnya gimana? Hebat banget ini bisa niup ban segede gini.”
Yang pada akhirnya pemandu itu berkata, “Mbaknya, pernah bunuh orang ga? Kalau ada pisau, kulitin aja deh saya Mba, daripada Mbaknya nanya-nanya yang kayak gitu mulu, mendingan bunuh saya aja sekalian, Mba..”
Semua itu tentunya sambil sambil nyengir ya, alias bercanda.
Masih tersisa sedikit kesempatan untuk tur pantai. Menjelang siang, Mas Yudan lah yang langsung memandu kami menuju beberapa pantai di Gunung Kidul. Perjalanan ke pantai cukup memakan waktu, sekitar 1-1,5 jam dari desa Bejiharjo. Kami pun hanya sempat menjajaki dua dari ribuan pantai yang berjajar disana, Pantai Krakal dan Indrayanti. Teman-teman SAJUBU ini narsisnya nomer wahid. Melihat kami foto setiap detik, membuat Mas Yudan geleng-geleng heran. Maaf Mas Yudan, kadang-kadang emang orang kota lebih ndeso dari orang desa, hahahah. Pemandangan pantai ga perlu lah dijelaskan lagi, yang perlu dijelaskan adalah.. durasi kami ke pantai sungguhlah singkat. 
Narsis nomer wahid
Lepas tengah hari dan makan siang, kami sudah harus menuju Lempuyangan, mengejar kereta pulang. Dan saya, jomblo yang selalu sendiri, kala itu pun mendapat jadwal kereta pulang paling berbeda. Teman-teman lain pulang setengah empat sore, kereta saya jam lima sore. Antara kesian dan kepalang terpaksa, Mas Alex (relawan SAJUBU bidang sistem informasi), dan Kak Zul (senior saya di sekolah dulu), mereka yang memang domisilinya di Jogja, menemani saya menunggu di warung kopi sebrang stasiun setelah teman-teman lain sudah anteng duduk di kursi kereta.
 
Begitulah, sedikit kenangan saya yang tertinggal di Sekolah Pindul dan sekitarnya. Sekaligus menjadi pengalaman saya pertama kali mendarat di Yogyakarta, meski bukan di kotanya.

(lagi-lagi catatan yang lama tersimpan sebagai draft dan baru rampung)



Artikel Lainnya

2 komentar

  1. Keren mbak petualangannya. Desa memang seru.

    Monggo mampir ke kangrudi.com

    BalasHapus
  2. upss,, baru baca...............
    terimakasih kakak kakak SAJUBU,, kedatanganmu masih kami nantikan walaupun MEREPOTKAN,, hehhe
    woo iya saya belum sempat memenuhi janji untuk gantian merepotkan ketika ke Jakarta>>>

    dan terimaksih paketan ke-2 sudah saya terima...

    BalasHapus