Refleksi

Evolusi Sistem Pendidikan #2

November 15, 2015

(tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya: Evolusi Sistem Pendidikan #1)

Pilar II: Kesetaraan yang Tidak Bisa Dipaksakan

Seperti bahasa pada pilar kesatu, dalam praktek pendidikan sehari –hari di lembaga pendidikan formal, ada juga hal-hal yang terlalu dipaksakan untuk setara. Contohnya: penggunaan seragam. Mengubah sistem pendidikan menuju evolusi dapat dicoba dengan penghapusan penggunaan seragam sekolah, salah satunya. 

Ide kedua ini agak nyeleneh, dan sebelum disimak lebih jauh, saya yakin akan banyak yang protes. Seragam melambangkan kesetaraan antara si miskin dan si kaya. Penggunaan seragam ke sekolah apakah efektif untuk melatih rasa toleransi siswa, atau justru sebaliknya?


Evolusi Sistem Pendidikan
Si Kaya dan Si Miskin pergi sekolah dengan menggunakan seragam yang sama. Apakah si kaya tau tentang keadaan sebenarnya si miskin? Bagaiamana keluarganya, rumahnya, dan kehidupannya, dsbg? Kesenjangan yang ditutupi dengan kesetaraan yang dipaksakan (dalam hal ini dengan seragam), membuat si Kaya tidak terlatih untuk peka terhadap keadaan sebenarnya si Miskin. Ia menganggap mereka setara, kemiskinan si miskin telah disamarkan dengan seragam sekolah, begitu pun dengan kekayaan si Kaya. Mereka lebur dan berdampingan di kelas yang sama. Tanpa diberi kesempatan untuk mengenal tentang perbedaan. Lalu, kapan mereka akan belajar toleransi, jika tidak diberi kesempatan melihat kesenjangan yang nyata?

Toleransi adalah ketrampilan olah rasa, bukan ilmu eksakta. Siklus naluriahnya semestinya: belajar mengenal perbedaan -> melihat kesenjangan yang nyata -> menumbukan rasa toleransi.
Setelah tumbuh rasa toleransi, selanjutnya adalah timbul aksi-aksi nyata untuk menghargai dan menghormati perbedaan. Membumikan diri untuk lebur secara sadar untuk mengimbangi perbedaan-perbedaan tersebut. 

Pemakaian seragam sekolah bisa saja sebagai bentuk toleransi yang dipaksakan, kesetaraan yang disetting sejak awal, seolah memotong siklus naluriah yang harus dilewati manusia, dalam hal ini dikhususkan pada siswa-siswa sebagai objek pendidikan. Siswa-siswa kehilangan proses belajar mengenal perbedaan dan dan melihat kesenjangan yang nyata, untuk sampai pada tahap penumbuhan rasa toleransi secara naluriah. 

Toleransi yang ditwarkan dengan penggunaan seragam sekolah bisa dikatakan semu. Siswa dipaksa “merasa”, tanpa benar-benar diberi kesempatan untuk “mengolah rasa” sendiri.

Contoh gamblangnya, jika di sebuah sekolah tidak ada kewajiban memakai seragam, dan si kaya dan si miskin bebas memakai pakaian sehari-hari. Si kaya bebas memakai beragam koleksi pakaiannya secara bergantian, merk-merk mahal, pakaian-pakaian yang menunjukkan strata sosialnya. Sedangkan si miskin, dengan pakaian lusuhnya, yang bahkan dengan koleksi terbatas, otomatis kan pergi ke sekolah dengan pakaian itu-itu saja, pakaian apa adanya yang mungkin saja sobek-sobek, dsbg. Kemudian, di dalam kelas si kaya duduk di sebelah si miskin. Si kaya akan mulai mengenali perbedaan dari perbedaan baju yang mereka pakai. Si Kaya akan bertanya-tanya dalam pikirannya tenytang bagaimana keadaan si miskin di rumah, bagaimana rumahnya, keluarganya, kenapa sampai pergi sekolah dengan baju sobek-sobek? Selanjutnya, kesenjangan yang nyata diantara mereka dapat dilihat dengan jelas oleh si Kaya. Si kaya akan belajar lebur dalam perbedaan-perbedaan mereka, berusaha menghormati dan menghargai keterbatasan si miskin. Si kaya akan mulai berpikir bagaimana besok ia akan berpakaian agar tidak menyinggung si miskin dengan pakaiannya yang selalu bagus. Sudah mulai timbul toleransi dalam diri si kaya, yang ia dapatkan dari proses naluriah, proses pembelajaran dan pengalaman langsung. Bukan dari kesetaraan yang dipaksakan ada oleh seragam. Esoknya, si kaya akan lebih memilah lagi pakaian yang akan dipakainya ke sekolah, demi menghargai si miskin. Si kaya akan tampil ke sekolah dengan pakaian yang lebuih sederhana, yang hampir setara dengan pakaian si miskin. Pada tahap ini, saat si kaya telah membumi demi lebur dalam perbedaan, ia telah utuh belajar tentang toleransi.

Lalu, bagaimana dengan yang dipelajari si miskin? Si miskin juga mendapatkan siklus alamiahnya. Ketika mendapati si kaya mengubah penampilannya demi menghargai ia, si miskin juga akan memberikan penghargaan bagi si kaya. Si miskin yang awalnya minder, defensif, dan menarik diri, karna pakaian yang dipakainya tidak sebagus yang dipakai si kaya, maka ia akan menemukan kembali rasa percaya dirinya. 

Menemukan bahwa perbedaan memang ada, namun dengan sikap toleransi dan saling menghargai maka perbedaan-perbedaan tsb akan lebur, dan menemukan kesejajarannya masing-masing, bukan karna kesejajaran yang dipaksakan.

Banyak manusia-manusia dewasa (bahkan tua), yang belum mengenal toleransi. Kekayaan-kekayaan mereka sengaja dipamerkan, dipertontonkan, tanpa mempertimbangkan sesiapa disebelah mereka, tanpa memperdulikan perasaan orang-orang disekitar mereka. Barangkali, manusia-manusia seperti mereka dalah manusia-manusia yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengenali perbedaan dan melihat langsung kesenjangan. Toleransi menjadi hal yang kabur. Bukan sebuah hasil dari proses pembelajaran secara langsung.

Selamanya, kesetaraan bukan hal yang seharusnya dipaksakan. Kesetaraan bahkan merupakan hal yang musykil untuk dicapai. Kita hidup dalam dimensi yang kental akan keberagaman dan perbedaan-perbedaan, sehingga meleburkan diri dalam perbedaan-perbedaan adalah hal yang paling niscaya. Bukan dengan memaksakan setara, tapi dengan sikap menghargai perbedaan, kita akan dengan bijak mensejajarkan diri dalam batasan-batasan yang seharusnya.
Tidak mengenakan seragam ke sekolah merupakan salah satu langkah praktis dalam mengajari siswa tentang toleransi, yang akan ia dapat dari hasil pengalamannya sendiri.



Saya melihat banyak kegagalan bertoleransi dan bertenggang rasa dalam media sosial. Percaya? Lihat saja,  di akun medsosnya banyak orang yang mengunggah foto-foto perkembangan anak, kehangatan keluarga, kemesraan bersama pasangan, dll. Pernahkah terpikir tentang pasangan-pasangan yang bertahun-tahun belum dikarunia anak? Atau tentang orang-orang yang baru saja kehilangan anggota keluarganya?

Orang-orang sebatang kara? Orang-orang baru saja kehilangan pasangan? Barangkali mereka adalah teman-teman kita yang bertebaran di media sosial. Melihat apa yang kita bagikan di beranda. Rasa toleransi dan tenggang rasa mudah tiada, jika tujuan medsos memang untuk pamer. Kita lalai, jika hanya menganggap toleransi dan tenggang rasa hanya aplikatif pada strata sosial dan ekonomi, lebih luas dari itu, toleransi dan tenggang rasa terhadap pengalaman-pengalaman orang lain, perasaan-perasaan majemuk orang lain, yang sama pentingnya untuk jaga. Sebab, kita masih menjadi manusia.

Kegagalan pendidikan tentang toleransi pada manusia-manusia dewasa (bahkan tua), bisa saja karna kegalalan dalam memperlihatkan perbedaan-perbedaan. Akibat kesetaraan yang dipaksakan diawal dan memotong proses belajar secara alamiah.

Perbedaan biar saja tetap ada. Tetap terbuka dan terlihat dengan jelas dan dapat dikenali bahkan oleh anak-anak. Biarkan anak-anak mengolah rasanya sendiri. Berlatih merasa, berlatih menghormati dan bertoleransi dari hasil terhadap pengalaman perasaannya.
Kesenjangan biar saja menjadi kesenjangan. Menutupi kesenjangan sama artinya dengan menutup kesempatan banyak manusia untuk belajar mengenali dan menghargai perbedaan.

Daripada terus mengkampanyekan tentang toleransi, lebih baik memberikan pengalaman langsung tentang siklus naluriah menuju pengalaman bertoleransi.

Jadi, masihkah beranggapan menggunakan seragam sekolah itu baik untuk menumbuhkan rasa toleransi?
Jangan terlalu banyak berpikir sampai kita lupa merasa, betapa "merasa" merupakan hal yang penting untuk selalu kita latih.

(NB: Saya tidak akan mengajak debat, boleh saja tidak setuju)
Sumber foto dari: http://tiraskita.com
bersambung ke: Evolusi Sistem Pendidikan #3

Artikel Lainnya

0 komentar