Evolusi Sistem Pendidikan #3

November 16, 2015

(tulisan sebelumnya, simak di: Evolusi Sistem Pendidikan #2

Pilar III: Kesadaran Bahwa Pendidikan Bukanlah Kebutuhan Primer 

Saya pernah menulis tentang Ujang (baca: Ujang, yang Dipelihara Oleh Negara), salah satu siswa terampas hak-hak pendidikannya karna harus memulung sepanjang hari demi menafkahi keluarganya. Ujang, salah satu bukti bahwa pendidikan bukanlah kebutuhan primer. Pendidikan bisa masuk ke dalam kategori kebutuhan sekunder, bahkan tersier. Sebelum memenuhi kebutuhan akan pendidikan, setiap orang haruslah memenuhi kebutuhan primer terlebih dahulu.


Evolusi Sistem Pendidikan

Lagi-lagi pendapat ini kan menyulut kontroversi. Bagaimana mungkin pendidikan sebagai kebutuhan yang dapat dikesampingkan. Banyak pandangan yang menyatakan pendidikan adalah yang utama. Bahkan pemerintah, dengan kebijakan-kebijakan dan program-programnya turut mendukung bahwa pendidikan perlu didahulukan. Program-program bantuan pemerintah yang terus digulirkan, dari mulai kebijakan wajib belajar 9 tahun, dana BOS, beasiswa lain-lain seakan memudahkan siapa saja untuk mendapatkan hak pendidikan. Menebas batas-batas strata sosial. Bahwa pendidikan milik semua orang, bahkan ketidakmampuan finansial tidaklah patut menjadi alasan untuk putu dari dunia pendidikan, minimal 9 tahun.

Sungguh betapapun banyaknya kemudahan yang ditawarkan pemerintah dan donatur-donatur pendidikan, mengenyam pendidikan secara prematur tanpa melalui pemenuhan-pemenuhan primer terlebih dahulu, maka pendidikan akan menjadi timpang. Seperti kasus Ujang, sekolah Ujang sudah gratis, Ujang hanya perlu datang. Namun karna kebutuhan primer keluarganya belum terpenuhi maka, usaha-usaha untuk membuat Ujang terus sekolah akan menjadi nihil.

Ada 3 kebutuhan dasar manusia (kebutuhan pokok): Sandang, pangan, papan. 2 lagi tambahan, yaitu: hati dan akal.

Masyarakat membentuk budaya. Budaya melahirkan pendidikan, sedangkan pendidikan melahirkan budaya baru yang dapat memperbaiki kehidupan.
Kesadaran akan perubahan hidup menjadi lebih baik, merupakan indikator kebutuhan primer sudah terpenuhi. Jika kesadaran ini sudah dicapai, pendidikan sudah menjadi sebuah kebutuhan.

Dalam masyarakat kita banyak sekali orang-orang yang sebenarnya mampu secara finansial untuk menyekolahkan anak-anaknya setinggi-tingginya. Kemampuan dari sisi finansial tidak selalu berbanding lurus dengan kesadaran akan kebutuhan pendidikan. Kenyataannya, masih banyak masyarakat jenis ini acuh terhadap pendidikan anak-anaknya. Saya melihat sendiri di lingkungan masyarakat tempat saya tinggal, bagaimana banyak anak-anak putus sekolah bukan karna kedua orang tua mereka tidak mampu. Melainkan, dalam keluarga tsb belum terpenuhinya kebutuhan primer, terutama akal. Konsep-konsep tentang pendidikan yang dapat mengubah kehidupan menjadi lebih baik, belum sampai pada pemikiran orang tua mereka. 

Secara sadar, pendidikan belum menjadi kebutuhan mereka. Kelebihan finansial yang dimilikinya dialokasikan untuk kebutuhan lainnya, diluar pendidikan. Mereka tidak akan khawatir karna kebutuhan akan gaya hidup mereka sedikit demi sedikit terpenuhi, sedangkan kebutuhan pendidikan anak-anak (yang belum mereka sadari sebagai) mereka abaikan. Anak-anak mereka tumbuh menjadi anak-naka yang juga tidak menyadari kebutuhan pendidikan. Pada pergaulan sebayanya, merasa tidak ada yang salah dengan putus sekolah (bukan karna faktor finansial). Anak-anak mereka dibiarkan tumbuh tanpa pendidikan, yang nantinya akan menjadi bumerang. Kebudayaan baru yang lahir dari pendidikan tidak akan muncul, sebagai akibatnya tidak ada paradigma baru, tidak ada perubahan akan kehidupan yang lebih baik. Generasi demi generasi mereka melintasi waktu demi waktu, tanpa perubahan konsep. Budaya lama bertahan. Tidak akan terjadi evolusi dalam kualitas pendidikan, jika tidak dimulai dari  perubahan konsep pada lini keluarga. 

Kondisi tersebut akan terus bertahan, sampai kebutuhan primer mereka, yaitu berupa akal akan kesadaran konsep pendidikan sebagai sebuah kebutuhan untuk melahirkan budaya baru, terpenuhi.

Sebaliknya, keluarga yang hidupnya serba pas-pasan, bila kebutuhan primernya terpenuhi, dan secara sadar mengakui bahwa pendidikan itu penting, maka keluarga tsb dengan segala keterbatasannya, berusaha memenuhi kebutuhan anak-anaknya akan pendidikan. Keluarga jenis kedua ini menganggap telah terpenuhinya kebutuhan primer mereka, termasuk akal. Konsep kesadaran akan perubahan dapat lahir dari budaya baru yang timbul dari akal mereka. Kesadaran utuh akan perubahan kehidupan yang lebih baik hanya akan tercapai dengan pendidikan yang berkualitas. Pada tahan kesadaran pendidikan sebagai sebuah kebutuhan, akan lahir usaha-usaha untuk memperjuangkan hak-hak pendidikan anak-anak mereka. 

Program-program pemerintah tentang sekolah gratis, dan tangan-tangan donatur pendidikan barulah tepat guna pada keluarga jenis ini. Kesadaran akan kebutuhan pendidikan pun akan mendorong keluarga jenis ini untuk mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya.

Dua contoh keluarga yang sangat paradoks.
Saya akan kembali ke kasus Ujang, sebagai contoh ketiga. Ujang bukan tidak bisa sekolah karna orang tuanya tidak mampu membayar sekolahnya. Ujang sudah difasilitasi sekolah gratis, ia hanya perlu datang, dan belajar. Nyatanya, kemudahan fasilitas yang ia peroleh tak semerta-merta membuat Ujang terus dapat sekolah. Kenapa? Sebab, konsep kesadaran tentang pentingnya kebutuhan pendidikan belum sampai pada keluarga Ujang. Walau secara wajar, Ujang mengungkan terus bisa sekolah. Tetapi,  ada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang harus lebih diutamakan Ujang, diatas keinginannya untuk sekolah, yaitu: kebutuhan untuk menafkahi keluarga. Ada kebutuhan-kebutuhan primer berupa pangan yang tidak terpenuhi jika Ujang tidak bekerja (memulung). Fokus pada pemenuhan kebutuhan primer yang masih timpang, jelas belum membuka akal orang tua Ujang tentang kesadaran pentingnya pendidikan. Padahal, Ujang membutuhkan perubahan budaya dalam keluarganya untuk memperbaiki kehidupan mereka. Tanpa sekolah, mustahil, perubahan budaya itu didapatkan. Budaya-budaya lama, yang disebut sebagai kemiskinan kultural, terus bertahan. Tidak ada perubahan, dan mustahil muncul perbaikan.

Analogi sederhana lainnya adalah, misalkan seorang ibu ingin mendidik anaknya tentang menghargai. Dan sang Ayah belum pulang, tidak ada beras untuk makan di hari itu. Tanpa sadar, sang Ibu mengutuk dan mengeluhkan suaminya yang belum pulang, di depan anaknya. Apa pendidikan sang ibu kepada anaknya tentang belajar menghargai ini berhasil? Lagi-lagi retorik. Tentu saja tidak. Sekeras apapun usaha ibu untuk mendidik anaknya tentang menghargai, akan menjadi nihil, jika tidak diimbangi penghargaan ia kepada suaminya. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar. Bukan dari pasal-pasal kebaikan yang didiktekan. Penghargaan yang gagal diberikan ibu kepada suaminya, kembali lagi karna faktor kebutuhan primer yang  masih timpang.

Jadi, jelas sekali bahwa pendidikan bukanlah kebutuhan primer. Tanpa kesadaran bahwa pendidikan bukanlah kebutuhan primer, usaha-usaha pemerintah dan donatur-donatur pendidkan yang memudahkan akses pendidikan akan selalu tidak efektif. Mulanya saya pun sempat mendebat tentang konsep ini.

“Jika pendidikan bukan kebutuhan primer, berarti pendidikan hanya milik orang-orang kaya yang semua kebutuhan primernya terpenuhi?”

Namun antitesis tersebut akan otomatis tumbang dengan kasus pada paragraf awal mengenai orang-orang yang mampu secara finansial namun mengabaikan hak-hak pendidikan anak-anaknya.
Pemenuhan akan pendidikan akan menjadi efektif jika Sandang-Pangan-Papan, kematangan Hati dan Akal, sebagai kebutuhan primer harus utama terpenuhi lebih dulu.

Ada satu konsep lagi sebenarnya sering terlewat, yaitu: mendidik adalah tanggung jawab orang tua, sedangkan mengajar adalah tanggung jawab guru di sekolah. Pembagian dan batasan-batasan ini jelas. 

Dapat dibayangkan betapa sedikitnya porsi nilai-nilai pendidikan yang didapat di sekolah, guru-guru menjalankan sistem, sedangkan murid-murid adalah produk dari sistem. Sistem pengajaran di sekolah berlaku umum. Dan guru memiliki tanggung jawab untuk memberikan pengajaran sesuai dengan yang diterimanya sebagai timbal balik, dalam hal ini adalah gaji. Seberapa pun mahalnya biaya pendidikan, salah besar jika kita menitipkan sepenuhnya mengenai pendidikan anak-anak kita kepada guru. Siapa guru? Guru pun punya tanggung jawab mendidik anak-anaknya di rumah sebagi tanggung jawab utamanya, bukan anak-anak didiknya di sekolah. Sedangkan sistem pendidikan dalam keluarga, lebih customize, menyesuaikan dengan seperti apa orang tua mau mendidik anak-anaknya.  Sayangnya banyak sekali orang tua yang belum menyadari konsep ini. Kebanyakan, masyarakat menengah keatas yang merasa membayar mahal untuk pendidikan anak-anaknya, mereka menitipkan pendidikan anak-anaknya sepenuhnya di tangan guru-guru sekolah. Dan secara otomatis, anak-anak akan kehilangan hak pendidikan dalam keluarga. Guru, adalah orang tua kedua, santer terdengar istilah ini. Apakah benar? Orang tua tetaplah orang tua, seharusnya tidak ada istilah orang tua kedua. Ada peran-peran penting orang tua yang sama sekali tidak bisa digantikan. Guru bukan pengganti orang tua. Tanggung jawab utama guru hanya mengajar.

Lalu, sebagai pertanyaan penutup adalah, seberapa sulit bagi kita untuk memenuhi kebutuhan akan kematangan hati dan akal? Sebelum akhirnya sampai pada kesadaran bahwa perubahan budaya itu perlu untuk perbaikan kehidupan, dan jalan satu-satunya adalah lewat jalur pendidikan.

Pendidikan, bukan sekedar pengajaran.

(NB: Saya tidak akan mengajak debat, boleh saja tidak setuju)

Artikel lainnya:

0 komentar

Subscribe