Refleksi

Evolusi Sistem Pendidikan #4 (Selesai)

November 19, 2015

(Tulisan sebelumnya: Evolusi Sistem Pendidikan #3

Pilar IV: Kesalihan Sosial sebagai Parameter Berhasilnya Suatu Sistem Pendidikan 

Dapat bekerja di suatu perusahaan ternama dengan jabatan yang baik diukur sebagai keberhasilan lulusan suatu jenjang pendidikan. Selama ini masyarakat kita banyak terjebak pada paradigma tsb. Harapan bahkan nyaris bisa dikatakan sebagai tuntutan orang tua terhadap karir baik anak-anaknya. Definisi membahagiakan orang tua seakan dapat dipatenkan dengan pekerjaan di . Lalu menjadi budak bagi perusahaan-perusahaan besar, sampai melupakan idealism khas mahasiswa dulu: membangun dan membuat perubahan pada kehidupan negerinya.


Evolusi Sitem Pendidikan

Lulusan-lulusan baru setiap tahunannya berlomba-lomba mengejar pekerjaan ditempat-tempat bonafit, dengan gaji dan fasilitas yang menggiurkan. Tidak munafik, kita semua butuh uang. Tapi dengan menganggap output lulusan yang bekerja di perusahaan-perusahaan ternama  sebagai indikator keberhasilan sistem pendidikan maka pendidikan menjadi kehilangan esensinya. 

Mendengar pemaparan tentang pilar keempat ini, saya langsung pesimis dan mengkritisi.

“Loh, ini kan lumrah. Udah terlanjur banyak orang tua yang itung-itungan sama pendidikan anak-anaknya. BEP. Semua hitung BEP. Keluar uang berapa, dan setelah lulus harus dapet berapa. Udah terlanjur kayak gitu.”

“Itulah, yaz. Pendidikan kita ya bisnis. Bener gak pendidikan itu sebagai bisnis? Kalau pendidikan terus dianggap sebagai sebuah sistem bisnis, ya lulusan-lulusannya cuma jadi budak harta, budak jabatan. Kapitalis. Apa itu bisa dibilang berhasil? Sistem Pendidikan dikatakan berhasil kalau outputnya berupa kesalihan sosial, yaz. Tanpa itu, berarti pendidikan sia-sia”
Berbeda dengan kesalihan ritual yang erat kaitannya dengan hubungan makhluk dan Penciptanya, kesalihan sosial ditandai oleh seberapa besar seseorang memiliki kepekaan sosial dan berbuat kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya. Sehingga orang merasa nyaman, damai, dan tentram berinteraksi dan bekerjasama dan bergaul dengannya.
Saling terkait dengan latar belakang pendidikan yang dibahas pada tulisan sebelumnya:
Masyarakat membentuk budaya -> Budaya melahirkan penddikan ->Pendidikan melahirkan budaya baru.
Semestinya, pendidikan melahirkan budaya baru untuk perubahan masyarakat, dan kesalihan sosial adalah adalah produk budaya yang mestinya lahir dari pendidikan. 
Singkatnya:
Kita belajar – kita mengerti – kita menerapkan – kita berubah dan menularkan perubahan-perubahan baik pada lingkungan.
Kesalahan, ketimpangan, kekacauan, kerusakan, dsbg yang ada pada masyarakat ketika belum datang pencerahan pendidikan, akan berganti menemukan penyelesainnya. Ilmu-ilmu praktis, pemahaman-pemahaman baru, paradigm-paradigma baru, pola pikir baru, teknologi-teknologi solutif menjadi jalan keluar dari permasalahan-permasalahan sosial.Tanpa kesalihan sosial, esensi tujuan pendidikan tersebut tidak mungkin tercapai. Justru sebaliknya, jika output pendidikan bukanlah kesalihan sosial, maka budaya baru yang lahir adalah budaya yang memperburuk, bukan memperbaiki.

Mari bandingkan 2 output pendidikan yang berbeda, yang pertama adalah kesalahan sosial, yang kedua adalah kesalihan sosial.

Pendidikan yang melahirkan kesalahan sosial:
Seorang dokter yang cerdas, lulusan terbaik. Ketika keluar dari dunia kampus, ia membuat penelitian dengan penerapan ilmu-ilmu kedokterannya. Ia menciptakan virus. Tersebarlah virus tersebut secara luas, menjadi penyakit masal. Kemudian, ia datang ke masyarakat membawa obat antivirus untuk melawan virus tsb. Sebagai satu-satunya orang memiliki antivirus tersebut, ia pun menjadi andalan. Semua orang membeli antivirus tsb darinya, dan ia mendapat banyak keuntungan dari hasil penjualan tsb. Dia yang menciptakan virus, dia pula yang datang kembali ke masyarakat bak pahlawan dengan menawarkan penyembuhan atas virus tsb. Semakin lama, masyarakat terus tergantung dengan antivirus yang ia ciptakan, dan ia semakin banyak mengeruk untung. Tanpa sadar, masyarakat merasa beruntung dengan kehadiran antivirus tsb, padahal sebenarnya mereka merugi. Ada dalang dibalik penyebaran virus massal tsb, ada oknum yang sengaja mengeruk keuntungan sepihak dengan mengorbankan banyak orang. Kecerdasan yang tidak diimbangi dengan kesalihan sosial dapat disalahgunakan untuk hal-hal yang justru merugikan banyak orang.

Pendidikan yang menjadi kesalihan sosial:
Dengan kapasitas yang sama, seorang dokter lainnya menerapkan ilmu-ilmu kedokterannya untuk mengabdi ke masyarakat. Melakukan penelitian untuk menciptakan obat-obat yang paling efektif menyembuhkan sekaligus dengan teknologi yang paling murah untuk jenis penyakit yang selama ini hanya bisa disembuhkan dengan obat-obatan dan teknologi mahal. Obat-obat tersebut ia tawarkan untuk penyembuhan orang-orang di desa-desa tertinggal, orang-orang dengan keterbatasan kemampuan finansial. Banyak masyarakat yang merasa tertolong. Tanpa mengambil keuntungan pribadi,  namun dokter ini telah menjadi bukti kelahiran suatu budaya baru yang lebih baik akibat dari pandidikan yang berhasil. Kesalihan sosialnya membawa perbaikan di masyarakat, menjadi pemecahan bagi masalah-masalah kesehatan.

Dua analogi yang sangat bertolak belakang. Kesalihan sosial sebagai ouput pendidikan sudah ada buktinya di negara ini, tapi jumlahnya masih sangat sedikit. Sebaliknya, kita sudah lelah membaca berita-berita amoral dari orang-orang yang semestinya menjadi panutan masyarakat. Dengan karir yang baik, bekal akademik cemerlang, dlsb mengapa mereka melakukan hal-hal yang justru merugikan banyak orang? Karena kesalihan sosial tidak dijadikan tujuan utama pendidikan.  Dan disinilah, pendidikan menemui kegagalannya. Selamat tinggal bagi perbaikan-perbaikan, selamat datang kebobrokan-kebobrokan baru. Kaum oportunis, lebih kejamnya menjadikan keterbatasan pengetahuan orang-orang awam sebagai celah memperkaya diri, bukan sebagai celah untuk mengabdikan kesalihan sosialnya.

Penutup:
Banyak orang mempercayai bahwa untuk mengubah sistem pendidikan harus dimulai pada anak-anak. Padahal anak-anak adalah produk pola pendidikan orang tuanya. Kalau pola pendidikannya salah, maka produknya pun salah.
Jadi, membuat perubahan pada sistem pendidikan ya semestinya dimulai dengan merubah mindset para orang tua, bukan anak-anak. Anak-anak tergantung pada pola pendidikan orang tua. Orang tua adalah pendidik. Masa depan negeri ini bukan ada di tangan anak-anak, tapi ditangan para orang tua sebagai pendidik.
Pilar pertama dan kedua memang erat kaitannya dengan pembuat kebijakan. Kita memang tak bisa banyak berbuat untuk mempengaruhi pemerintah untuk mengubah definisi buta huruf dan menghapuskan kewajiban memakai seragam di sekolah, namun kita bisa mulai menerapkan pola inti pemikiran yang sama dengan kedua pilar tsb. Misalnya soal redefinisi buta huruf, kita bisa mulai dengan menghargai keberagaman, menilai orang-orang yang memiliki kemampuan “membaca” di luar aksara sebagai orang yang juga sejajar dengan kita. Tentang seragam sekolah yang tidak semestinya menjadikewajiban, kita bisa mulai dengan penerapan-penerapan toleransi dan tenggang rasa yang naluriah lahir dari pengalaman “merasa”. Dan tentang pilar ketiga dan keempat, inti mendasar bagi pola pendidikan yang paling mungkin diterapkan pada lini keluarga. Esensi. Menyadari bahwa pendidikan bukanlah kebutuhan primer, dan sampai pada kesadaran murni bahwa pendidikan penting untuk perbaikan kehidupan, hingga kesalihan sosial disetujui sebagai parameter berhasilnya suatu sistem pendidikan. 

Pada akhirnya, saya mempertanyakan narasumber mengapa mepaparkan ide-idenya kepada saya? Apa gunanya? Saya tidak terlibat aktif sebagai aktivis pendidikan, saya bukan guru, bahkan saya bukan orang tua, saya bukan orang berpengaruh. Saya mempertanyakan kenapa saya harus tahu tentang pilar-pilar tsb, dan apa yang bisa saya lakukan? Mustahil mengubah sistem pendidikan yang kompleks, saya tidak menjadi bagian dari pembuat kebijakan. Saya hampir pesimis ide-ide tsb dapat diterima menjadi pola pikir umum. Saya bahkan pesimis bisa ikut andil dalam terwujudnya evolusi sistem pendidikan. 

Kepesimisan saya kemudian dipatahkan oleh narasumber dengan kalimat,
“Kenapa pesimis? Lu takut gagal, yaz? Kenapa lagi mesti takut gagal? Toh hidup kita juga pasti gagal, kok. Kenapa takut gagal, kalau kita tau hidup kita akan ada gagalnya? Ya, coba  dulu aja, jalanin mekanismenya. ”

Lalu saya harus apa? Bagaimana? Mulai dari mana? Narasumber berharap saya bisa menyampaikan ide-ide pada forum. Kalau pun saya punya kesempatan untuk bicara pada banyak orang dalam forum pendidikan (walau kesempatan ini hampir mustahil ada), toh, saya tidak akan memutuskan untuk menyampaikan ide-ide ini. Melihat kapasitas dan kapabilitas saya yang bukan sebagai pakar pendidikan. Menuliskannya, barangkali langkah yang paling mungkin bagi saya, selain berharap ada pola pikir-pola pikir yang berubah setelah orang lain membaca ini, tulisan ini pun pengingat bagi diri saya sendiri agar ide-ide tersebut tidak mati sendirian dalam kepala saya. Sambil menunggu bisa dipraktekkan pada keluarga saya nanti. Setelah setuju dengan ide-ide ini, langkah selanjutnya adalah mengubah pola pikir, dan jika sudah berkeluarga minimal mempraktekannya di lingkungan keluarga sendiri.
Semua perubahan besar, harus selalu berawal dari perubahan konsep-konsep inti, bukan?
(Sekali lagi, boleh tidak setuju)
Selesai.
 
(sumber gambar: ayikngalah.wordpress.com)

Artikel Lainnya

0 komentar