Antara Tokoh Lam, Reinkarnasi, dan Krisis Tempat Bagi Kebenaran

Januari 03, 2016

Lam
"Saya gak mau menulis yang bertabrakan dengan hati." - Lam
Lam dikenal sebagai wartawan yang vokal terhadap kebenaran. Suatu ketika, ia tugaskan oleh pimpinannya untuk meliput sesuatu dengan syarat, tulisan Lam harus pro terhadap si pemesan tulisan. Lam menolak. Jika ia harus menulis, ia akan menulis sesuai hatinya. Tulisan-tulisan Lam yang dikenal tajam adalah hasil dari proses menghadirkan hati saat menulis.

Lain waktu, Lam menyimpulkan 'ide lain' soal kasus pengeboman di sebuah cafe, yang belum diungkap di harian dan media manapun. Namun saat menyampaikan ide-ide dan praduga-praduganya, Lam ditolak oleh pimpinan kerjanya. Sudah ada press release yang ditulis oleh rekan kerjanya dan disetujui untuk dipublikasikan. Lam kecewa, menganggap tulisan tsb tidak jujur dan kental akan kepentingan-kepentingan. Bagaimana tidak, dalam proses penulisan berita tsb, rekan kerjanya  itu 'didampingi' oleh pihak-pihak pemerintah di dalam ruang kerjanya. Ide-ide yang disampaikan dalam berita tsb sudah tidak murni lagi. Lam geram, dan menyampaikan ketertarikannya untuk mengusut kasus pengeboman tsb dengan sebenar-benarnya. Pimpinan kerjanya tidak setuju, malah ia disodorkan tiket keluar kota untuk melakukan liputan. Sudah dua kali Lam 'dibuang', karna tulisan-tulisannya yang saklek, setiap mau mengusut kasus pemboman, atasannya mengalihkan ia ke tugas luar kota. Tulisan-tulisan Lam dinilai terlalu berbahaya bagi harian tempat ia bekerja, disamping (tentu saja) berbahaya bagi dirinya sendiri. Perdebatan terjadi di ruangan itu, Lam diminta memilih, untuk patuh terhadap perintah pimpinannya untuk melakukan tugas di luar kota, atau mengundurkan diri dari kantor.

Menjadi penulis yang jujur dan mengungkap kebenaran adalah cita-cita Lam sejak lulus dari pondok pesantren. Sebuah pilihan yang sulit dihadapannya: meneruskan cita-cita itu atau kalah? Kalau ia memilih meneruskan cita-citanya tentu ia harus meninggalkan pekerjaannya di kantor, karna ternyata tidak ada tempat bagi orang-orang yang lurus seperti dia. Kalau ia memilih kalah, maka ia patuh pada perintah atasannya untuk melakukan liputan di luar kota, dan melupakan hasratnya untuk mengusut kebenaran kasus pemboman tsb. Bagaimana jika ia kehilangan pekerjaan demi idealisme cita-citanya? Anak istrinya butuh untuk ia nafkahi. Kebimbangan merajai Lam.

"Kamu ingat apa yang kamu bilang sama Bapak waktu kamu melamar aku. Mas? Kamu janji kamu mau berjuang bersama disisa usia kita. Kamu janji untuk "berjuang bersama", Mas. Bukan untuk bahagia. Itu yang membuat Bapak akhirnya nerima lamaran kamu. Aku takut menjadi istri yang membuat suaminya tuli. Tidak mendengar suara hatinya sendiri. Cuma kamu yang bisa ngajarin aku untuk nggak bergantung sama uang. Nggak takut sama dunia." kata-kata yang disampaikan Gendis itu, istri Lam, yang akhirnya membuat Lam yakin untuk mengikuti kata hatinya, dan mengekor pada kebenaran. Lam pun mengundurkan diri dari kantor dan tetap melanjutkan riset tulisannya mengenai kasus pengeboman tsb.

Begitu mudahnya surat pengunduran diri Lam disetujui oleh pimpinan tertinggi di kantor, padahal Lam adalah orang lama yang sudah banyak konstribusi disana. Ternyata kantor Lam pun terlalu berisiko tinggi jika tetap menyimpan wartawan ‘berbahaya’ macam Lam.
Apakah syarat untuk menjadi wartawan yang jujur dan berjalan diatas kebenaran hanyalah kehilangan pekerjaan? Ternyata tidak. Lam harus kehilagan Gendis, istri tercintanya, istri yang membuatnya untuk tidak memilih menjadi tuli. Benar, Lam benar-benar memenuhi janjinya, ia berjuang bersama Gendis hingga sisa usia Gendis, berjuang bersama, bukan untuk bahagia. Rumah Lam diserang oleh oknum yang memiliki kepentingan disaat hanya ada Gendis dan Gilang (anak Lam) yang ada disana, beruntung Gilang masih bisa diselamatkan. Apa pasalnya? Karna draft tulisan Lam tentang kasus pengeboman tsb tersebar, dan dianggap berbahaya bagi pihak-pihak tertentu.
Lam harus menukar kebenaran dengan pekerjaan dan istrinya. Begitulah mahalnyakah harga kebenaran di bumi ini?
Sosok Lam hanyalah fiktif dalam film “3”, yang kemarin sempat ditayangkan di Net TV. Ada pendapat yang mengatakan bahwa film “3” hanya bertahan sebentar di bioskop pada September 2015 lalu, karna dinilai membahayakan pihak-pihak tertentu karna mengungkap ‘desain pemerintahan’ tertentu. Benarkah? Sutradara film ini, Anggy Umbara, mengatakan bahwa film tsb hanya fiktif, dan ia memberikan kebebasan bagi perspektif penonton, apakah akan dikait-kaitkan dengan isu agama atau tidak. Sayangnya, penayangan film yang bergenre drama action dysthophia di Net TV ini menuai kekecewaan karna terlalu banyak sensor pada bagian-bagian dialog yang dianggap ‘dalem’.
Meski fiktif, sosok Lam bisa saja terinspirasi dari tokoh-tokoh wartawan jujur yang nasibnya berakhir di pengasingan atau bahkan meninggal.
 Antara Tokoh Lam, Reinkarnasi, dan Krisis Tempat Bagi Kebenaran

Mari kita mulai dengan sosok Bapak Pers Nasional, Tirto Adjie Soerjo (1918), yang pernah menulis:
“Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka ‘kemajuan’ sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.”

Sepak terjang beliau dalam kebangkitan kaum terdidik Indonesia lewat tulisan-tulisannya membawa ia ke dalam pengasingan, penjara Belanda. Meski di kagumi oleh banyak orang semasa perjuangannya bahkan tokoh-tokoh Belanda pun mengagumi sosoknya, namun akhir hayat Tirto seperti menggenapi kealpaan bangsanya. Murid Tirto menulis bahwa hanya rombongan kecil yang mengantar jenazah Tirto berpulang. Kabar kematiannya luput dari media manapun. Dilupakan. Dan terbuang.

Tengok juga kisah Ki Hajar Dewantara, karna menjadikan media massa sebagai media untuk pencerahan pendidikan masyarakat, beliau lah wartawan pertama yang mendapatkan ranjau pers (undang-undang yang membatasi kebebasan menuliskan pendapat di surat kabar dll). Karna ketajaman tulisan dan pemikirannya dalam mengkritik pemerintahan kolonial dan membangkitkan pergerakan nasional, Ki Hajar Dewantara harus kehilangan kebebebasannya. Beliau dipenjara, bukan hanya itu, beliau pun sering mendapat siksaan di penjara.

Pers sebagai medan perjuangan bangsa, terbebas dari kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok sepertinya berhenti di masa kolonial. Menyusuri jejak perkembangan pers pada periode-periode selanjutnya, pers difungsikan sebagai peran yang sudah di setting oleh pemilik kekuasaan. Pada jaman pemerintahan demokrasi liberal, pers berfungsi sebagai medan perjuangan politik partai-partai. Pada jaman demokrasi terpimpin (Orla), pers di fungsikan sebagai media untuk mengagung-agungkan penguasa. Tidak jauh berbeda dengan masa Orde Baru, pers berfungsi untuk meninabobokan masyarakat dengan berita-berita tentang pembangunan.
Memasuki era reformasi, semangat kebebasan pers begitu kencang digaungkan. Namun apa yang terjadi? Kita akan tercengang dengan fakta-fakta pembunuhan terhadap sosok wartawan yang dianggap terlalu vokal dalam menyampaikan kebenaran, hingga mengusik pihak lain yang memiliki kepentingan. Sejarah kita mencatat nama-nama wartawan yang dibunuh karna berita, pada masa ‘kebebasan pers’. Nama-nama seperti Udin (Harian Bernas Yogyakarta), Ridwan Salamun (Sun TV Maluku), Naimullah (Sinar Pagi), Agus (Asia Pers), Muhammad Jamaluddi (TVRI), Ersa Siregar (RCTI), Herliyanto (Tabloid Delta Pos Sidoarjo), dan Alfred Mirulewan (Tabloid Pelangi) menjadi lilin yang terbakar oleh api kebenaran. Keberanian mereka dalam menulis, menjadikan mereka sebagai almarhum dan almarhumah yang tidak pernah diusut dengan tuntas kasus pembunuhannya. Di era ‘kebebasan pers’ ini, kasus pembunuhan terhadap wartawan justru meningkat. Apakah kita sudah sampai pada era pengulangan sejarah? Seperti pers pada masa kolonial, bahkan lebih parah, wartawan-wartawan yang berani menulis kebenaran bukan hanya akan diasingkan, tapi dibunuh, dan kasusnya ditelantarkan, dibiarkan mengambang. Kebebasan pers beberapa tahun terakhir bahkan menjelma sebagai kebebasan untuk menyetir pihak media.


Lam memang tokoh fiktif, tapi semangat dan idealisme yang melekat padanya seolah merupakan reinkarnasi dari tokoh-tokoh serupa yang pernah sungguhan ada. Dari masa kolonial sampai reformasi.
Mengingat begitu krisisnya tempat bagi kebenaran, lalu manakah yang sebaiknya dipilih?

Diasingkan dalam penjara, mati dibunuh, atau kehilangan istri, anak untuk selama-lamanya?

Atau menulis saja sesuai ‘pesanan’?

.. atau ...bungkam?

Bungkam artinya, tidak pernah memilih menulis sebagai media perjuangan. Bungkam artinya, memaklumi semua kesemrawutan dan ketimpangan-ketimpangan, yang sebenarnya bisa saja dikoreksi.

Semoga kita tidak tuli dalam mendengarkan kata hati sendiri.

Artikel lainnya:

6 komentar

  1. Review dan refleksi yang menarik, saat informasi menjadi komoditas wartawan-wartawan yang idealis seperti tokoh Lam itu memang sepertinya tinggal cerita fiksi yaz. Profesi wartawan yang mulia itu memang termasuk profesi dengan risiko tinggi, saya percaya film ini akan memberi angin segar untuk era kebebasan pers saat ini dan selanjutnya :)

    BalasHapus
  2. sebenarnya ada tiga tokoh utama dlm film itu bang. Alif (pasukan khusus polisi), Lam (wartawan), dan Mim (pengurus pondok) yg bersahabat sejak kecil.Kemudian tumbuh besar dengan idealisme nya masing2. tapi saya lebih tertarik mengupas sosok Lam, om. yg notabene memilih menulis sebagai media perjuangan. menarik.

    BalasHapus
  3. Seperti puisi wiji tukul, aku bukanlah artis pembuat berita, tapi aku selalu kabar buruk buat penguasa...
    Karena kebenaran akan terus hidup, meskipun kau lenyapkan, kebenaran tak kan mati hahahahahaha

    BalasHapus
  4. Wiji Thukul.. dibunuh karna puisinya Kak!

    BalasHapus

Subscribe