Inspirasi

Jomblo Intelektual Itu Bernama Gie

Januari 10, 2016


Jomblo Intelektual Itu Bernama Gie
Barangkali saya harus belajar jatuh cinta dengan kesepian. -SHG 
Banyak sudah tulisan yang mengulas tentang sosok Soe Hok Gie, dari sisi pergerakan, pemikiran, bahkan sajak-sajaknya. Jika memandang Gie sebagai seorang aktivis, kritikus, kolumnis, arsitek gerakan-gerakan masif, sejarawan, moralis, dan dosen, kita akan melihat sosok manusia yang  men’dewa’. Padahal Gie juga anak manusia yang penuh dengan tragedi cinta. Saya mencoba menuliskan Gie sebagai sosok yang lebih mem’bumi’ lewat paparan mengenai kisah cintanya. Gie mati muda, dan sampai kematiannya dalam istilah sekarang Gie bisa disebut “jomblo”, namun Gie bukanlah pribadi yang miskin cinta. Mengingat tak banyak buku-buku yang menceritakan khusus tentang kehidupan cinta  Gie, saya Sedikit sekali mengambil referensi, hanya dua buku yang saya jadikan pegangan dalam tulisan ini, yaitu Catatan Seorang Demonstran yang merupakan catatan harian Gie, dan buku “Sekali Lagi, Buku, Pesta, dan Cinta di alam bangsanya” yang merupakan kumpulan tulisan dari saksi-saksi hidup Gie.

Amor Platonicus
“Cinta murni lebih baik masuk keranjang sampah. Tak ada. Sesuatu yang dihayal-hayalkan." Entah bisikan mana yang membuat anak usia 14 tahun begitu sinis menulis tentang cinta. Meski dalam kurun 2 tahun kemudian, Gie menjadi ragu soal kesimpulan prematurnya itu. Ia sedikit menurunkan kadar kesinisannya soal cinta. Ia menulis dalam catatan hariannya: "Bagiku cinta bukan perkawinan. Kurang lebih 1-2 tahun yang lalu aku yakin bahwa cinta = nafsu. Tapi aku sangsi akan kebenaran itu. Aku kira ada yang disebut cinta yang suci. Tapi itu akan cemar bila kawin. Aku pun telah merasa jatuh simpati dengan orang-orang tertentu, dan aku yakin itu bukan nafsu.”

Kalimat-kalimat tadi secara sederhana cukup menjadi bukti bahwa Gie remaja adalah penganut "amor platonicus". Cinta platonik. Plato memandang cinta sebagai sesuatu yang amat ideal, murni, sempurna, sangat afektif, tidak dikotori oleh pamrih, hasrat seksual, bebas dari kemelekatan untuk memiliki, tanpa pretensi. Cinta platonik lebih dekat dengan perasaan saling mengasihi tanpa tendensi.

Tragedi Cinta
“Is it a crime to being an idealist?”
Sebuah pertanyaan frustasi Gie pada dirinya sendiri, menandakan dimulainya tragedi cinta Gie dengan Maria, yang saya berkesimpulan ia adalah pacar terakhir Gie. Setelah setahun sebelumnya, menjalin hubungan dengan Rina, yang terbentur oleh perbedaan “bangsa dan agama”. Yang dimaksud “bangsa” tentu saja suku. Rina disebutkan memiliki keluarga yang broken home, belum lagi ia terintervensi oleh tuntutan dari keluarga dekatnya yang kebanyakan memilih untuk “tidak menikah”. Tragedi dengan sebab yang tidak jauh berbeda terulang lagi saat ia menjalin hubungan dengan Maria. Hanya lebih pelik, karna perasaan-perasaan mereka sudah kepalang dalam.

“Soe baik tapi tidak untuk keluarga kita.” Kata orang tua Maria. Bukan lagi soal bangsa dan agama, tapi penolakan timbul karna Gie adalah seorang idealis. Mereka menyukai Gie, karna ia berani dan berkepribadian, tapi disaat yang sama mereka pun ‘menolak’ Gie menjadi bagian dari mereka. Gie menganalogikannya nasibnya dengan nasib prajurit-prajurit yang juga di prasangkai oleh banyak orang. Gie menulis, “mereka dipuja-puja, diciumi di jalan sebagai tentara pembebas. Tapi kalau ada putrinya yang ingin kawin dengan tentara, nanti dahulu. Perasaan inilah yang ada pada saya sekarang. Soal ini telah lama saya sadari. Tetapi pada waktu itu datang sebagai kenyataan, rasanya pedih sekali.”

Rasanya pedih sekali.
Pada fase tersebut tentu saja Gie sudah melunturkan paham amor planoticus-nya. Ia sudah punya tekad untuk serius terhadap wanitanya, membawa hubungan mereka ke pernikahan. Namun ternyata “pedih sekali” lah perasaan yang harus ditelan Gie, setelah dua kali penolakan oleh pihak keluarga wanita-wanitanya.

Gie menawarkan dua pilihan kepada Maria, yang pertama adalah “bertarung ke dalam”, Maria harus tegas dalam memperjuangkan hubungan mereka di keluarganya. Pilihan kedua adalah, jika Maria tidak terlalu cukup berani memilih pilihan pertama, maka selesailah mereka. Bukan dalam waktu yang terbilang singkat “kekacauan” hubungan mereka mereda. Mereka tetap berada dalam lingkaran pergaulan yang sama. Sebelum sampai benar-benar merelakan Maria, Gie beberapa kali bicara dengan Maria, tentang kemungkinan-kemungkinan hubungan mereka. Namun sulit, Maria tetap dengan keciutannya dalam melawan keluarga sendiri, Gie tetap pada jalannya menjadi seorang idealis.
 “Sayang sekali kami tak bisa terus, karna soal-soal perbedaan gaya hidup. Semua unsur-unsur bertemu, tetapi dia tidak bisa mengikuti saya.”

Lebih sulit bagi Gie untuk melupakan hubungannya pada Maria, ketimbang pada Rina dulu. Hubungan dengan Rina dimulai dengan hubungan persahabatan yang kental. Meski Gie sadar ketika menjalin hubungan dengan Maria, Rina masih menyayanginya. Guilty feeling nya terhadap Rina sering muncul semasa ia menjalin hubungan dengan Maria. Namun keadaan berbalik, ketika Gie selesai dari Maria, justru Maria yang mencemburui Rina. Lepas putus dari Rina dan Maria, Gie memang konsisten menjadi teman dekat Rina, tapi ini sebatas hubungan persahabatan. Rina masih mencintai Gie, dan merasa paling memahami Gie mengingat perkenalan mereka yang lebih lama dan lebih lekat. Namun Gie masih menyimpan Maria sebagai bagian dari hidupnya, seperti yang ia tulis:
“Saya akan selalu terbuka oleh dia. Karna she was part of my life.”

Maria sempat menyarankan Gie untuk kembali kepada Rina. Jelas ini tidak akan menjadi keputusan Gie. Seberapa pun sayangnya Rina terhadap Gie, namun benturan “kesukuuan dan agama” menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.  Yang kedua dan yang lebih krusial adalah, posisi Maria dalam hidup Gie yang tidak tergantikan oleh siapapun.
“Menipu bukanlah pekerjaan yang mudah. Walaupun saya tidak menahan diri untuk tidak khusus berbicara pada Maria, hati saya tetap merasa gelisah.”

Wanita-wanita Lain
Gie banyak bercerita dengan Yanti dan Ani mengenai “kekacauan-kekacauannya” dengan Maria dan Rina. Sebuah dialog antara Yanti dan Gie menggambarkan betapa kuatnya Gie dalam memilih “jalannya” meski harus kehilangan cinta.
Yanti: “Kamu cuma cinta diri kamu dan karier kamu.”
Gie: “Saya tak punya karier.”
Yanti: “Kamu seorang humanis yang nyerempet-nyerempet bahaya dan setiap waktu bisa dipenjara”
Gie: “Saya menolak mengubah diri saya karna pacar. Apakah saya harus melupakan semua karna cinta?”

Setiap manusia memiliki kecenderungan. Kecenderungan Gie terhadap aktifitas ‘perjuangannya’ lebih besar daripada kecenderungannya terhadap cinta. Jika orang dan keluarga wanitanya tidak menerima ia sebagai “seorang humanis yang nyerempet-nyerempet bahaya”, maka selesailah. Meski berkali-kali, penolakan-penolakan tersebut harus menjadi jalan sunyi yang ia pilih.

Kita memang harus berkembang ke arah yang lebih baik. Hidup ini dinamis. Namun ketika perubahan-perubahan yang dituntut orang-orang justru mematikan jati diri kita sebenarnya, kita perlu berpikir ulang soal perubahan itu. Jika berubah berarti menjadi orang baru yang sama sekali lain, yang jauh meleset dari prinsip-prinsip hidup yang menahun kita jaga, saya pun akan memilih untuk tetap menjadi diri sendiri. Meski ditolak. Buat apa diterima, tetapi kita harus rela menjadi orang lain?

Suatu kali Ani pernah bertanya “What is love?”, Gie menjawab “Unsur-unsurnya antara lain adalah persahabatan yang murni dan baik, kekaguman, sedikit kultus dan akhirnya perasaan amat terlindungi.”

Pernah disebut-sebut nama lain, yaitu Rachma. Teman perjuangan Gie juga yang terganggu kejiwaannya karna kondisi keluarga yang broken home. Gie menaruh simpati yang besar terhadap Rachma, sering Gie menjenguk Rachma di rumah sakit, baik bersama teman-teman lain maupun ia sendiri. Disaat kondisi Rachma semakin membaik, dan hendak dipulangkan kembali ke rumahnya, Rachma mengakui bahwa pada mulanya ia kagum pada Gie (yang disebut sebagai hero worship), namun Rachma sadar, hal tersebut tidak dapat ia lanjutkan.

Cinta “Permen Karet”
Setelah lulus menjadi sarjana Jurusan Sejarah, FSUI, Gie masih mengabdi di lingkungan kampus sebagai asisten dosen. Kala itu Maria sudah beberapa kali memiliki hubungan dengan laki-laki lain. Gie mengenal Sunarti, yang tak lain adalah mahasiswi didiknya. Gadis rock n roll nan humoris ini mencuri perhatiannya. Mereka dipertemukan dalam kondisi yang sama-sama broken heart. Dalam kesamaan keadaan emosional itulah yang membuat hubungan Sunarti dan Gie cepat erat. Saat bertemu dengan Sunarti, Gie berusia 26 tahun dan Sunarti berusia 19 tahun.
Tidak ada penjelasan secara gamblang dari catatan hariannya mengenai kejelasan hubungan Gie dan Sunarti. Hubungan yang awalnya adalah hubungan mahasiswi dengan dosen, semakin intens berlanjut pada hubungan persahabatan yang akrab. Rasa simpati Gie terhadap Sunarti, mudah sekali terbaca dalam beberapa catatan hariannya, misalnya:
“Ngobrol dengan Sunarti enak juga. Kita keluyuran enam jam dari FS ke rumahnya lalu ke Clara, Maria, Rachma dan pulang. Tertawa-tawa dan ia “sangat lucu”......Mungkin Sunarti perlu perhatian yang ia tak dapati dari keluarganya yang kacau balau dan juga dari Badil yang diharap-harapkannya.”
Pada akhirnya hubungan mereka menjelma cinta “permen karet”, sebagaimana yang ditulis Sunarti (nama samaran dari Kartini Sjahrir), 40 tahun kemudian. Sunarti menulis 10 surat terbuka untuk Gie, dalam surat itu dengan blak-blakan ia sampaikan tentang hubungan pribadinya dengan Gie. Diawali dengan rasa simpati Sunarti terhadap Gie yang ‘kacau’ karena Maria.
“Saya sedih melihat betapa patah hatinya kamu Gie, karena itu dengan senang hati saya bersedia menjadi “permen karet” kamu. Dengerin kamu curhat sepanjang jalan. Saya menyayangi kamu.”
Dalam surat terbuka lainnya, Sunarti menulis:
“Bersama kamu, saya merasa hidup ini lucu dan rileks. Kalau kamu tanya apakah saya keberatan punya pacar kayak kamu, jawabannya adalah “tidak”. Juga saya tidak keberatan kita pura-pura pacaran, kan seru juga. Saya selalu merasa ya Gie, kamu itu seperti jangkar hidup saya. Rasanya tenang, meskipun kamu sering “kacau” kalau lagi ngomongin ‘dia’ (Maria-pen), yang kamu taksir.”           
Sunarti berasal dari dunia yang amat berbeda dengan Gie, belum lagi sifat-sifat mereka yang juga bertabrakan. Tapi diungkapkan Sunarti, kecocokan mereka muncul karna perbedaan-perbedaan itu. Sunarti mahasiswi yang sudah 2 kali tidak naik tingkat, mengaku pemalas, dan tidak cemerlang dalam akademik, apalagi soal gerakan-gerakan organisasi kampus, ia hanya ‘mengekori’ Gie, tidak benar-benar serius memahami soal itu.

Suatu kali Gie memang pernah menyimpulkan bahwa, “Pacaran adalah pengalaman menyegarkan walaupun resiko emosionalnya besar.” Ditambah dengan kepahitan-kepahitan yang masih lekat padanya soal Maria, saya pikir itu yang membuat Gie bertahan dengan Sunarti hanya sampai batas ‘cinta permen karet.’ Sunarti, gadis keturunan Batak yang berasal dari lingkup keluarga konservatif, sebenarnya ia dapat lebih berani dalam melawan keluarganya jika tidak menyetujui hubungannya dengan Gie karna alasan kesukuaan. Tapi kali ini Gie lah yang tidak cukup berani untuk mengambil kembali ‘resiko emosional’. Keadaan yang begitu bertolak belakang ketika ia masih menjalin hubungan dengan Maria. Pada beberapa waktu, Sunarti sempat pulang ke Rumbai, namun hubungan mereka tetap berlanjut lewat surat-menyurat. Sayangnya belum ada buku yang berisi kumpulan surat-menyurat Gie dengan siapa pun.
Sampai suatu kali, pada bulan-bulan yang mendekati kematian Gie, Sunarti sempat merasa lelah soal hubungan ‘permen karet’ itu, seperti yang ia tulis dalam surat terbukanya:
“Tetapi, adilkah kamu kepada saya Gie? Selalu kamu katakan bahwa diantara kita tidak ada apa-apa, seraya kamu genggam tanganku erat-erat atau kamu peluk saya. Kamu katakan bahwa hubungan kita hanyalah sebatas “permen karet” yang dikunyah-kunyah kemudian dibuang. Atau kita berdua, seperti berulang kali kamu bilang, hanyalah manusia-manusia yang kesepian yang butuh ‘santapan rohani’. Bahasa badanmu dan tatapan matamu bukanlah lagi gambaran seseorang yang sekadar mencari “pemen karet”. Di mata itulah saya menemukan pelabuhan cinta. Hanya saya dan kamu, betapa pun kamu mencoba mengingkari, yang merasakan getaran itu. Sore itu di daerah Matraman, ketika kamu mengantar saya membeli roti, akhirnya kamu sampaikan, betapa kamu menyayangi saya. Meskipun hujan turun rintik-rintik, badan dan rambut saya setengah basah, perasaan saya hangat dan senang sekali.”

Hubungan jenis ‘permen karet’ mungkin bukan jenis hubungan seutuhnya mutualisme. Rasanya apa yang disampaikan Sunarti tidak berlebihan dan bukan bentuk manifestasi GR semata. Karena pada hari-hari terakhir hidupnya, Gie sempat menuliskan bahwa ia ingin membuat acara intim dengan Sunarti. Sebelum pergi ke Semeru, Gie menemui Sunarti untuk mengajaknya ikut ke Semeru, namun orang tua Sunarti tidak mengijinkan. Dan itulah yang menjadi pertemuan terakhir mereka. Gie meninggal satu hari sebelum ulang tahunnya ke-27 tahun.


Betapa terpukulnya Sunarti atas kepergian Gie, dunia seperti runtuh, ia kehilangan laki-laki yang disebut-sebut sebagai salah satu “arsitek” hidupnya itu. Beberapa tahun kemudian, Sunarti menikah dengan Sjahrir, teman perjuangan Gie. Di awal sekali, sebelum menjalani hubungan “permen karet” dengan Sunarti, Gie yang memang menjodohkan Sjahrir dengan Sunarti. Sunarti tumbuh menjadi tokoh politik di negeri ini, dunia yang dulu amat asing baginya. Namun semenjak mengenal Gie, ia mengaku lebih literer, juga soal kuliahnya, karena Gie sering mententir (mengajari-pen) ia dan teman-teman lain yang ‘sulit lulus’. Berita kelulusan Sunarti menjadi sarjana saja sudah cukup menghebohkan kampus, apalagi ternyata beberapa tahun kemudian Sunarti diterima kuliah di Cornell University, kampus idaman Gie. Ia melanjutkan program studi sampai mendapat gelar Doktoral, dan kembali ke UI sebagai dosen. Dosen yang juga begitu luwes kepada mahasiswa-mahasiswanya, meniru gaya Gie semasa menjadi asisten dosen dulu. Sunarti menutup surat terbukanya dengan ucapan terima kasih kepada Gie.
“Meskipun kita berada di dunia yang berbeda, terimalah ucapkan terima kasih saya Hok-gie manis, karena kamu itulah yang menabur benih-benih yang baik bagi saya, untuk menjadi manusia bebas seutuhnya. Ciil (Sjahrir-pen) melanjutkan etappe ke-2 dan telah mengembangkannya dengan indah dan penuh cinta.”                  
Hubungan Gie dan Sunarti memang sebatas cinta “permen karet”, namun permen karet yang ditinggalkan Gie terhadap Sunarti rupanya adalah permen karet abadi, yang manisnya tak habis-habis sampai ia dikenang sebagai etappe pertama dalam hidup Sunarti. Cinta “permen karet” yang dipilih Gie mungkin saja merupakan praktek dari bentuk cinta platonik yang dulu sempat ia yakini, mengasihi tanpa tendensi.
Mengulik tentang cinta Gie dari mulai remaja sampai akhir hayatnya, dari kepercayaannya terhadap cinta platonik, sampai keberanianya mengambil resiko emosional bersama Rina, lalu Maria, lalu beberapa wanita lain yang sebenarnya menaruh simpati pada Gie namun memilih ‘mundur’. Dan penolakan-penolakan yang selalu terulang dari keluarga wanitanya, hingga membuatnya ‘jera’ untuk mengambil ‘resiko emosional’ lagi dengan Sunarti, gadis terakhir di hidupnya, yang hanya ia jadikan sebagai “permen karet”, saya simpulkan bahwa cinta Gie dimulai dengan cinta platonik lalu kembali lagi pada cinta platonik.  
Meski banyak klasifikasi mengenai jenis-jenis jomblo, namun belum ada baku soal itu. Jika sampai akhir hayatnya Gie bisa disebut jomblo, maka ijinkan saya menyematkan status pada Gie sebagai Jomblo Intelektual. Saya membayangkan jika Gie hidup di masa sekarang, mungkin posisi sosial jomblo tidak akan termarjinalkan. Jika menjadi jomblo adalah sebuah pilihan, maka sepertinya kita perlu mengkerucutkan lagi pilihan kejombloan itu, jenis jomblo yang seperti apakah?
Dan adakah hidup yang lebih baik ketimbang kehadiran kita mampu membuat lingkungan dan orang-orang terdekat kita menjadi berkembang lebih baik? –meskipun jomblo.

Artikel Lainnya

4 komentar

  1. Keren yaz, elo bahasnya penuh perasaan, penghayatan dari sisi perempuannya dong lebih dieksplore hehehe :)

    Lanjutken :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. duh.. sulit om kalo dari sisi perempuan mah.. gw aja masih belajar jadi perempuan, wkwkwk

      Hapus
  2. wih, ga nyangka banget ini diaz yg nulis. keren yaz (2). Hm, sebenernya curcol lwt tokoh Gie kali yah? *kabooorrr

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku kan copas tips n trik nulis yg ka prit kasih tau di geshos.. hihi. Curcol lewat tokoh Gie? Hemmm bisa jadi kak hahaha

      Hapus