Sejarah Saya di 2015, Menuju Teka-teki di 2016

Januari 03, 2016



Kalau 2014 adalah tahun yang penuh warna bagi saya (tentang catatan 2014: disini ) adalah tahun yang cooling down. Gak banyak drama terjadi di 2015 saya. Tetap ada drama sih, tapi sedikit-sedikit. Hahahah. Gak banyak warna, bukan semerta-merta jadi tahun yang datar. 2015 itu seru. Pada bulan-bulan awal 2015 saya banyak habiskan dengan jalan-jalan, jarang di rumah, sok sibuk. Banyak hal yang harus saya lupakan pasca tahun sebelumnya, saya harus menyembuhkan diri saya sendiri, saya harus membuat diri saya lebih berbahagia. Maka proses pencarian kebahagiaan itulah yang sangat saya tekuni dengan mengikuti beragam kegiatan, ngayap kesana kemari, dibalik embel-embel 'pencarian kitab suci', eh pencarian jati diri maksudnya, hhahahha. Menjelang pertengahan tahun, saya menyadari bahwa.. menjadi tua itu menyebalkan! Banyak yang harus saya lakukan, misi-misi hidup saya, saya sadar akan waktu yang terus berlari (udah bukan berjalan lagi), sementara saya mulai merangkak pun belum. 2015, tahun yang membuat saya tersadar penuh, bahwa saya sudah tua, dan saya gak mungkin lagi ngaku-ngaku muda. Kesadaran itulah yang membuat saya semakin banyak merenung dan berpikir taktis mengenai rencana-rencana saya selanjutnya.

Jadi, 2015 itu tahun perenungan. Disamping merenungkan tentang hidup saya sendiri, banyak hal yang saya kritisi tentang hidup orang lain, tentang kehidupan secara global. Entah kenapa banyak pertanyaan-pertanyaan iseng yang sering melingkar di kepala saya. Kenapa begini? Kenapa begitu? Mengamati, mengkritisi, merenung, lalu berpikir ulang: bagaimana yang seharusnya? Pertanyaan-pertanyaan yang kadang tidak terlalu penting juga. Saya seolah harus membelah kepala, antara mikirin hidup saya sendiri dan sok-sok mikirin kehidupan bermasyarakat secara global, (percaya gak saya mikirin orang-orang, mikirin budaya masyarakat, mikirin sistem pendidikan, mikirin mau jadi apa negara Indonesia dan agama Islam selanjutnya, mikirin apa yang selama ini saya lakukan sudah benar, atau jangan-jangan saya salah rel? Jangan terlalu percaya sama saya, ya! hahahah.). Sayangnya semuanya masih sampai pada tahap mikirin, belum sampai pada aksi taktis. Di bulan-bulan terakhir, saya berkesempatan mengikuti diskusi yang disebut "Ngantrop" (Ngomongin Antropologi), sebuah diskusi terbatas bagi (saya harus akui ini) orang-orang keren, yang punya pemikiran-pemikiran keren, aneh namun sering bener. Membicarakan hidup, kehidupan, hakikat, filsafat, sosial, pengayaan jiwa, dan banyak lagi. Seru, namun sayangnya diskusi Ngantrop ini dimulai dari tengah malam sampai pagi, hahah saya kurang bisa menyesuaikan waktu. Tahun ini semoga saya bisa lebih bergabung dalam Ngantrop-ngantrop lainnya.

Kalau di 2014 saya banyak bertemu teman-teman  dan jejaring baru, dari mulai teman kuliah, teman organisasi di tahun 2015 seperti seperti ada tahap 'penyaringan' terhadap orang-orang di sekitar saya. Saya menjadi manusia yang jauh lebih selektif dalam memilih teman, kok pilih-pilih teman sih, yaz?Bukan bermaksud membatasai pertemanan, kalau sekedar kenal semua orang boleh kenal saya. Saya open terhadap kenalan-kenalan beru. Tapi untuk dekat dan menjadi teman saya benar-benar mempertimbangkan. Apa dia tulus? Saya mengkerucutnya lingkaran pertemanan saya, dengan mekanisme 'penyaringan' tadi. Alhasil, tidak banyak orang-orang baru yang terlibat dalam 2015. Orang-orang lama yang lulus penyaringan dan beberapa orang-orang baru. Dengan lingkaran pergaulan yang terbatas tsb, menjadikan kualitas pertemanan saya naik level dari sebelumnya. Misal yang tadinya saya anggap teman biasa jadi saya anggap keluarga. Menyenangkan juga dikelilingi orang-orang terbatas yang peduli dengan kita, bukan dengan kerumunan orang yang kita pun masih sangsi akan ketulusannya.

2015 adalah fase bagi saya untuk menumbuhkan rasa percaya kembali. Awal 2015 dibuka dengan krisis rasa percaya terhadap orang lain. Orang-orang yang saya percaya sedikit sekali. Padahal di tahun sebelumnya saya begitu terbuka dengan mudah percaya dengan orang bahkan dengan orang yang baru dikenal. Namun semua berbalik, 2015 saya skeptis terhadap semua bentuk hubungan, hubungan pertemanan atau lebih dari itu. Antara suudzan dan waspada. Krisis itulah yang akhirnya menjadi katalis dalam fase 'penyaringan'. Begitulah kepercayaan, sekali dihancurkan maka sulit sekali menumbuhkannya lagi. Namun saya sadar keadaan tsb berbahaya bagi saya, keadaan yang akan mematikan jiwa saya sendiri. Saya harus belajar percaya lagi. Dan itu menjadi target di 2015 untuk percaya kepada orang lain dengan porsi yang paling pas. Tidak mudah percaya, namun tidak juga skeptis. Logika. Hati. dan Akal, Intuisi, perlu keseimbangan dari elemen-elemen tersebut. Dan di akhir 2015 saya pikir target tersebut telah tuntas.

Di semester 2 tahun 2015 banyak saya habiskan di kota sendiri, sampai saya tervonis 'buronan' oleh orang-orang sekitar saya. Apanya yang buronan? Saya disini. Saya masih memantau keadaan teman-teman saya, meski terlihat tak acuh. Saya tetap tau keadaan teman-teman saya, meski saya tidak terlihat hadir. Buronan adalah yang label yang harus saya telan dengan lapang dada, sebenarnya ini erat kaitannya dengan point 'menjadi tua itu menyebalkan', ada banyak hal di hidup saya yang harus saya benahi.

Seperti dugaan saya, banyak sekali pilihan-pilihan berseliweran di 2015, saya banyak memilih dan memutar otak untuk memutuskan. Semoga di tahun ini pun, ketika saya memilih sesuatu, saya bisa mendapat dukungan dari orang-orang terdekat saya, dan orang-orang bisa menghargai pilihan-pilihan saya meski bersebrangan dengan banyak orang, meski dianggap kurang normal. Hahhaha.

Beberapa peristiwa yang saya ingat di 2015:

Kehilangan
Kehilangan 2 anggota keluarga besar, dalam kurun waktu gak sampai seminggu. (catatan tentang Bulan Kehilangan: disini )

Gendut
Mungkin saya terlalu bahagia untuk kurus, hahhha. Berat badan diatas 65kg, mendekati 70kg. Padahal makan udah sedikit, hiks. Tapi saya bersyukur karna biar bagaimana pun saya pernah kurus! Target 2016: berat badan di bawah 63kg, bisa gak ya?

Tripografi
  • Maret 2015: Main-main ke halaman belakang, Cirebon, jalan-jalan dan kulineran di sekitar Cirebon (catatan tentang arsitek Halaman Belakang: disini )
  • Mei 2015: Gunung Pangrango. Belum sempat saya rampungkan tulisan mengenai pengalaman saya menanjak Pangrango. Di 2016 semoga bisa rampung ya catatannya, hahha.
  • Juli 2015: Main-main Ke Sekolah Pindul, Goa Pindul, mantai ke beberapa pantai di Gunung Kidul dan kulineran (catatan tentang Sekolah Pindul dan Sekitarnya: disini )
  • Libur lebaran 2015: Touring ke Jurassic World, Sukabumi. Pelabuhan Ratu, Untung Genteng, Mantai, dan ke klenteng. Menjadi perjalanan terjauh saya via motor sepanjang hidup saya. Mudah-mudahan di tahun ini juga catatan perjalanannya bisa rampung (emang lo sibuk banget, yaz! hahahha.

Bisnis
Tambah berani coba-coba, gambling. Setiap hari mikir bisa jual apa, hahhaha. Saya punya keinginan kuat untuk belajar bisnis di 2015 kemarin, tentu saja masih bersambung di 2016. Mudah-mudahan di 2016 udah ada bisnis yang kongkret, dan gak sekedar nekat tapi juga cerdas. Saya harus terus belajar soal ini! hahah.

Pekerjaan
*tambah (sok) sibuk* *SKIP*

Cinta
*SKIP*

Kuliah
Skip dalam arti harfiah, meleset sekali target saya untuk serius kuliah di 2015 kemarin. Saya masih penasaran, kenapa ya saya gak bisa jadiin kuliah jadi prioritas? Gak pernah bisa serius? Saya banyak bolos, dan masih suka nunggak bayaran. hahaha.

 

Konklusi:

2015 adalah tahun saya banyak bersyukur dan mulai mikir soal prioritas (saya tau ini terlambat untuk manusia setua saya, hahah). Dan masih sama, ternyata saya masih bahagia di 2015 kemarin.

Saya siap lebih bahagia lagi di tahun ini, siap atas semua pilihan-pilihan yang akan berseliweran nanti. Harapan saya, semoga tahun ini lebih cerdas dalam menentukan prioritas, bisa melanjutkan pelajaran tentang ikhlas, dan semoga saya bisa serius dalam proses mewujudkan target-target tahun ini. Berproses aja dulu, kan ada yang Yang Maha Bijak soal hasil. Semoga senantiasa dibimbing oleh Pemilik Hidup.

Terima kasih dan maaf untuk semua orang yang terlibat di 2015 saya, :D

Ada teka-teki apa di 2016?

Artikel lainnya:

2 komentar

  1. Semangat kak. Semoga tahun ini lebih cerdas dalam menentukan prioritas, bisa melanjutkan pelajaran tentang ikhlas... Amiin. Semoga cepat prosesnya hehehe

    BalasHapus

Subscribe