Apa Kabar Alvian? Sudah Beli Seragam?

Februari 13, 2016


Suatu petang di stasiun Kalibata saya tak sengaja bertemu dengan seorang anak laki-laki dengan perawakan kurus tinggi.
"Kakak.. kakak.. mau beli bross aku ga?"
Ia duduk disamping saya saat menunggu kereta ke arah Bogor. Awalnya, saya sungguh tidak antusias. Saya pikir ia sama dengan anak-anak penjual tissue, yang suka meratap dan memaksa membeli. Tapi saya tetap tersenyum, mungkin palsu.
"Kamu jualan bross?"
"Iya, Kak.  Ini pertama kalinya aku jualan bross loh."
Tanpa saya minta, Alvian cerita mengenai alasan ia berdagang di hari itu. Melihat antusias ia bercerita membuat saya tertarik menggali lebih dalam tentang anak ini. Tak ada nada paksaan dari penawarannya.
Alvian Ramadhan, atau Alfian Ramadhan? Ah, saya tidak tahu ejaan namanya. Alvian, ia siswa kelas delapan salah satu sekolah negeri di Jakarta. Ia tinggal bersama neneknya di Pasar Minggu. Membawa sekantung kresek hitam kecil berisi beberapa bross yang juga disaat yang sama didagangkan neneknya di stasiun Pasar Minggu, Alvian menuju stasiun Kalibata untuk berjualan.
"Kenapa kamu jualannya di sini? Rumah kamu kan di Pasar Minggu."
"Aku memang suka kesini kak kalau lagi kangen sama almarhumah ibu. Ibu aku dulu jualan gorengan disini."
Kelekatan yang kuat terhadap serangkai kenangan sering membawa manusia kembali ke tempat yang sama, berkali-kali. Terbayarkah rindu ketika menapak jejak yang sama, meski si pembuat kenangan sudah tiada? Tidak, manusia hanya sanggup mengenang, bukan mengulang. Dan mengenang bukanlah membayar rindu, hanya kian menumpuk rindu.

Pertemuan singkat kami, harus selesai karena kereta tujuan Bogor sudah melintas di mata saya. Sambil menuju pintu kereta dengan terburu-buru, saya pamit dan pesan ke dia,
"Aku duluan ya, keretanya udah dateng. Kamu besok masuk sekolah aja, jangan ga pulang."
Cuma itu tanggapan saya setelah sebelumnya ia bilang bahwa sebelum bisa mengumpulkan uang dua ratus ribu di hari itu, ia tidak akan pulang. Alvian Ramadhan, atau Alfian Ramdhan? Ah, saya tidak tahu ejaan namanya. Alvian, ia siswa kelas delapan salah satu sekolah negeri di Jakarta. Ia berjualan bross di stasiun Kalibata untuk bisa membeli dua jenis keperluan sekolahnya yang mendesak. Salah satunya adalah seragam pramuka. 
Alvian bilang, setiap hari selasa dan kamis ia sudah tidak pernah masuk sekolah karena tidak punya seragam pramuka. Ia membutuhkan uang sekitar dua ratus ribu, dan dari pagi hingga sepetang ini ia berjualan baru terkumpul uang sebanyak tiga puluh lima ribu, itu sudah termasuk bross yang saya beli. Lima belas ribu, bukan harga yang murah untuk sebuah bross yang cepat sekali rusaknya kalau sudah saya pakai. Namun dengan lima belas ribu itulah yang menjadi pancingan untuk membuka banyak celoteh dari Alvian.

Kalau saja hari itu Alvian bertemu dengan fans fanatik seorang caleg atau aktivis parpol atau orang-orang berkepentingan lainnya, mereka-mereka yang lagi senang-senangnya membangun citra diri, mungkin esoknya hidup Alvian berubah. Foto Alvian dan ceritanya akan cepat sekali tersebar di media yang serba digital ini. Path, Facebook, Twitter, BBM dll, dengan singkat akan membuat Alvian jadi artis medsos karbitan dengan kisahnya yang pilu itu. Lalu orang ramai-ramai mendukungnya, re-share berita tentangnya, membuat tagar #SeragamUntukAlvian atau #KoinUntukAlvian. Mungkin dengan bumbu mengutuk pemerintah pusat, dan sebagian lagi mengutuk pemerintah daerah. Lalu esok-esoknya rumah Alvian sudah banjir dengan seragam sekolah yang tidak hanya seragam pramuka saja, mungkin ditambah fasilitas sekolah lainnya. Atau bisa saja seorang saudagar kaya datang untuk memberikan Alvian beasiswa hingga lulus kuliah, ia datang sambil membawa awak media, agar beritanya langsung naik cetak atau tayang. Imajinasi saya semakin jauh, esok-esoknya lagi bisa jadi Alvian diundang ke beberapa talkshow, baik yang genre serius atau yang cuma haha-hihi. Mudah sekali menjadikan kepiluan Alvian sebagai panggung untuk berpentas.

Tapi sayang sekali, Alvian hanya bertemu dengan saya. Orang yang saat ini tidak sedang mencari panggung, tidak atau belum ya? Alvian hanya bertemu saya, yang cuma beli salah satu bross-nya, itu pun yang harganya paling murah, bukan langsung memberikan sumbangan sekian ratus ribu kepadanya agar besok langsung bisa membeli seragam.

Sayang sekali, Alvian cuma bertemu saya, yang cuma bisa bilang,
"Kamu tetep sekolah aja, gapapa gak pakai seragam pramuka juga." 
Dan bukannya langsung share tentang cerita lengkap Alvian di semua medsos agar besoknya segerombolan orang berbondong-bondong mencari Alvian, dan mengubah nasib Alvian.
Lagi-lagi sayang, Alvian cuma bertemu saya, yang langsung menyebarkan cerita tentang Alvian ini hanya kepada orang-orang terdekat saya.
Alvian cuma bertemu saya, yang cuma bisa mengkritisi dalam hati,
"Kenapa pakai seragam pramuka aturannya menjadi dua kali seminggu? Biar anak-anak memiliki jiwa nasionalis bak perebut kemerdekaan bangsa dari penjajah kolonial? Apanya yang nasionalis, kalau kewajiban memakai seragam pramuka justru membenturkan mereka-mereka untuk pergi ke sekolah, karena tak punya seragam? Sisi mananya yang bisa membentuk mereka menjadi nasionalis sejati, jika pergi ke sekolah tanpa seragam saja tak bernyali? Pernahkah pihak-pihak pembuat aturan mengantisipasi murid-murid yang tak memiliki potensi untuk membeli seragam?"
Alvian, yang malang. Entah apa rencana Tuhan yang cuma mempertemukan kamu dengan saya, bukan dengan orang-orang tenar dan berkepentingan. Kamu cuma bertemu saya, yang seharusnya menjadi rahim bagi hero-hero lain yang akan segera menolong kamu, tapi saya malah hanya (sok) berpikir tentang sekolah kamu,
"Seberapa keras doktrin aturan di sekolah kamu, sampai-sampai ada muridnya yang tidak berani pergi ke sekolah berhari-hari karena tak punya seragam?"

Alvian, cuma bertemu saya yang cuma tanya nama lengkap dan sekolahnya, dengan khayalan suatu saat bisa sempat mampir ke sekolah Alvian, lalu melihat dan mengkroscek langsung keadaan Alvian. Benarkah semua yang diceritakannya? Mata sok-tau saya menangkap ciri-ciri downsyndrome di sosok Alvian, atau mungkin gejala yang lebih ringan dari downsyndrome. Cara bicara Alvian jauh lebih kekanak-kanakan dari usia ia sebenarnya. Tapi, apa Alvian membual? Sungguh, saya melihat kental sekali binar-binar kejujuran dan kepolosan di mata Alvian saat bercerita.

Alvian, hanya bertemu saya, yang tak berapa lama setelah pamit darinya, saya baru terpikir soal Kartu Jakarta Pintar (KJP). Kenapa Alvian gak punya KJP? Tidak terdaftar resmikah orang tuanya sebagai warga Jakarta? Kurang sosialisasi kah? Atau mungkinkah KJP yang fenomenal itu jadi ladang bisnis baru bagi sebagian orang yang "terlampau cerdas"? Ada mafia KJP? Atau.. mungkin salah menyasar target? Ah, banyak sekali persepsi yang timbul. Dan untuk menjadi adil, memang perlu investigasi.

Alvian.. Alvian, cuma ketemu seorang saya. Seorang yang cuma bisa menjawab pertanyaan dengan pertanyaan baru yang kadang lebih buntu.

Hampir sebulan lewat setelah pertemuan saya dengan Alvian. Petang tadi, saya kembali naik KRL. Saat melewati stasiun Kalibata, dari balik jendela kereta yang saya tumpangi, buncahlah lagi tanya,
"Apa kabar Alvian? Sudah beli seragam?"
Alvian sedang tidak disana. Tidak ada jawaban, pun jawaban dalam bentuk pertanyaan.
Hanya irama yang ditimbulkan roda dengan rel kereta, bising seperti biasa. Dan hanya segerombolan manusia modern di sekitar pandangan saya, yang sedang terdistraksi ke dalam layar beberapa inchi di genggamannya. Mungkin sedang memantau medsos.


- Depok, 13 Februari dini hari
(diazsetia, yang hobi sekali menjawab pertanyaan dengan pertanyaan baru)

Artikel lainnya:

1 komentar

Subscribe