Larut dalam Asyiknya Seminar Menulis Itu Asyik

Maret 14, 2016

Mula-mula peserta diberikan selembar kertas berisi wawancara tertulis mengenai kendala-kendala menulis, harapan-harapan yang diinginkan mengenai kemampuan menulis, dan minat jenis tulisan yang ingin diperdalam. Selembar kertas itu harus sudah dikembalikan kepada petugas registrasi seminar. Tak kurang dari lima puluh peserta sudah duduk tenang di kursi masing-masing, terlihat tak sabar untuk segera larut dalam rangkaian acara seminar.

Foto bersama
Seminar mengenai teknik dasar menulis bertajuk “Menulis itu Asyik”, telah terselenggara pada Sabtu, 12 Maret 2016. Seminar tersebut sekaligus merupakan debut Tempo Institute di tahun 2016 ini. “Kami tidak menjamin sepulang dari seminar ini, langsung bisa menulis. Tapi anggaplah seminar ini sebagai provokasi, awal dalam pembelajaran menulis.” Kurang lebih kalimat pembuka itu yang disampaikan Mardiyah Chamim, selaku Direktur Eksekutif Tempo Institute. Di awal acara, Bu Mardiyah melakukan perkenalan peserta dengan cara yang berbeda, yaitu masing-masing peserta diminta menulis sebanyak satu paragraf yang isinya perkenalan diri tanpa menyebutkan identitas nama. Dan ketika beliau berhasil membongkar identitas si penulis, maka cara menulisnya sudah benar. Kami cepat mengerti tentang makna praktek interaktif tersebut, bahwa “cara kita menulis itu harus berdasarkan tujuan menulis.”

Atmosfer antusiasme begitu kental terasa. Seminar yang dimulai pukul 13.00 siang itu, dihadiri oleh beragam profesi, diantaranya dokter, praktisi ekonomi, jurnalis, blogger, dan civitas academy lainnya. Peserta pun tak hanya berasal dari wilayah Jabodetabek saja, beberapa peserta datang dari kota lain seperti Bandung dan Surabaya. Amarzan Loebis selaku redaktur senior Tempo, menjadi pemateri pertama yang menyampaikan tentang “Menulis itu Asyik”. Beliau memulai seminar dengan melempar pertanyaan kepada peserta, “Mengapa menurut Anda menulis itu Asyik?”. Setelah beberapa peserta menjawab, Pak Amarzan pun menyampaikan pendapatnya sendiri, “Kalau menurut saya, mengapa menulis itu asyik? Karena tidak menulis  itu tidak asyik.” Sesederhana itu ternyata jawaban dari seorang yang sudah berkiprah sebagai jurnalis sejak usia belasan tahun.

Pak Amazar menyampaikan beberapa pertanyaan yang harus dijawab jika ingin menulis, yaitu: Mengapa menulis? Menulis apa? Dan bagaimana? Selain itu, beliau pun memberikan tips-tips menulis dasar sebagai pegangan bagi penulis pemula.

Kemudian materi kedua tentang “Menulis Populer” dilanjutkan oleh Bu Mardiyah, yang sebenarnya menggantikan pemateri Wahyu Muryadi (Pimred Tempo Channel) yang berhalangan hadir. Beliau memukau peserta seminar dengan kisah “Sputnik yang Merubah Peradaban” sebagai pembuka materi. Lalu berlanjut dengan paparan mengenai contoh-contoh tulisan populer dari penulis-penulis legendaris. Paparan yang disampaikan beliau sungguh memberikan gambaran bahwa betapa materi-materi sains yang begitu ilmiah sangat memiliki peluang untuk dapat di’bumi’kan dengan sederhana. “Menulis pada awalnya adalah gagasan, langkah selanjutnya adalah menentukan angle. Dan kita mesti setia pada angle yang sudah dipilih.” Begitulah yang disampaikan Bu Mardiyah mengenai langkah-langkah menulis populer.

Putri Adityo menjadi pemateri terakhir yang berbagi pengalamannya sebagai jurnalis muda. Beliau pun menyampaikan tentang bagaimana sederhananya menulis sehingga menjadi mudah untuk pembiasaan dan cara sistematis untuk mengolah ide. Mbak Putri pun menghimbau agar peserta  mulai mengubah kebiasaan menulis sehari-hari, seperti chatting, sms, dll menjadi sesuai dengan pedoman EYD.

Meski ketiga pemateri sudah selesai menyampaikan paparan inti, namun seminar belumlah usai. Selanjutnya kelas dipecah menjadi 3 kelompok, peserta diberi kebebasan memilih pemateri untuk berdiskusi lebih lanjut dan rinci. Dalam diskusi tersebut masing-masing peserta semakin larut dalam asyiknya seminar. Diskusi bebas tersebut barangkali adalah klimaks. Bagaimana tidak? Peserta mendapat kesempatan belajar langsung dan bertanya apapun mengenai menulis kepada para pakar menulis. Tips-tips, taktis, dan paduan praktis, jurus-jurus dan rumus-rumus meracik tulisan yang mungkin tak terjelaskan di buku mana pun terkuak dalam diskusi itu.

Sudah hampir pukul 17.00 sore, wajah-wajah antusias peserta masih juga kentara. Setelah pembagian sertifikat, foto bersama pemateri, peserta, dan panitia pun menjadi serangkai acara penutup. Tempo Institute masih akan terus membuka rangkaian kelas menulis, diantaranya Klinik Menulis Opini, Klinik Menulis Feature, Kursus Jurnalistik Intensif, Klinik Menulis Laporan Efektif, Kelas Jurnalistik Untuk Praktisi Humas, dan Kelas Menulis Fiksi. Tertarik juga untuk larut dalam asyiknya pelatihan-pelatihan tsb? Info tentang pelatihan menulis Tempo Institute dapat dilihat di www.tempo-institute.org

Sumber foto: https://www.facebook.com/tempoinstitute/photos/a.998137543579035.1073741826.998137450245711/1054293344630121/?type=3&theater

Depok, 14 Maret 2016
-diazsetia, yang menjadi salah satu peserta seminar lewat jalur 'beasiswa' dari Indonesiana

Artikel lainnya:

2 komentar

  1. Salam kenal, Mbak Diaz.
    Aku juga ikut seminar Tempo hari Sabtu, tapi kita blom sempet kenalan nih.

    Acaranya seru jadi kerasa sebentar ya.
    Semoga kita bisa ketemu lagi di acara2 lainnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mbak Melisa :D Salam kenal juga.


      iyaya, semoga bisa ketemu lagi di acara2 lain, Mbak. Hihi

      Hapus

Subscribe