Refleksi

Meniru Ketabahan Bulan

Maret 12, 2016

Meniru Ketabahan Bulan
Rabu, hari ke-9 bulan ke-3 dalam masehi ke-2016
Sebuah pagi yang dimulai dengan menjawab dua chat yang berisi pertanyaan tentang gerhana.

Chat 1: “Kamu liat gerhana gak?”
Menjawab dengan otak kiri: “Kan gerhananya gak sampai sini. Cuma sebagian aja.”

Chat 2: “Solat Gerhana? Atau kemana?”
Menjawab dengan otak kanan: “Gw ngelahirin, Lin. Biar anak gw nanti punya kekuatan super kayak Pierre Roland.”
Gerhana matahari tadi sudah lewat, beberapa menit saja, dalam hitungan ribuan purnama katanya akan menyapa kembali Indonesia. Katanya.
***
Dewa Ra Sang penjaga matahari dalam perjalanan melintasi langit, bertarung dengan Apep, Dewa Ular. Dalam pertarungan itu langit nampak gelap, matahari terhalang sinarnya. Setidaknya begitulah mitologi Mesir Kuno tentang peristiwa yang dalam keilmuan disebut gerhana matahari. Di Jepang, orang-orang menutup sumur mereka. Saat terjadinya gerhana matahari dipercaya sedang ada wabah dan penyakit yang sedang disebar ke bumi. Kalau mitos di Indonesia ada raksasa Batara Kala yang menelan matahari akibat dendamnya dengan dewa Matahari, dan dengan memukul kentongan dipercaya dapat membuat Batara Kala memuntahkan kembali matahari yang ditelannya. Lain juga di China, naga dianggap sebagai pelaku yang menelan matahari. Dan prajurit-prajurit China menyalakan petasan ke arah matahari agar naga memuntahkan matahari kembali. Sementara di India, Rahu dan Ketu adalah dua sosok setan yang menelan matahari. Sol, dewi matahari menurut kepercayaan Norse Kuno, ketika terjadi gerhana berjarak sangat dekat dengan Skoll, serigala yang selalu mengejar Sol untuk memakannya. Mungkin saja bangsa Batammaliba adalah satu-satunya bangsa yang melihat gerhana matahari sebagai sesuatu yang positif. Ketika terjadi gerhana matahari artinya sedang terjadi perjuangan antara matahari dan bulan untuk menghentikan pertempuran.
Seminggu lalu kita juga sudah dikenyangkan dengan beragam informasi mengenai Gerhana Matahari Total (GMT). Media-media seolah membentuk kita menjadi astronom dadakan lewat berjejalan pengetahuan umum mengenai GMT. Dari mulai proses terjadinya gerhana, sampai bahaya laten melihat gerhana secara langsung. 

Beberapa sejarah kembali tersentuh, termasuk soal paranoai yang dibentuk oleh pemerintahan orde baru. Generasi 90-an kembali diingatkan dengan sosok Pierre Roland, yang pernah berjaya di masanya. Sementara dalam agama Islam gerhana matahari adalah bukti kuasa Allah yang tepat menjadi momentum untuk bermuhasabah, solat gerhana pun menjadi prosesi khusus. Gema takbir yang sampai ke langit, menyentuh sisi emosional umat Muslim yang mengingatkan pada ‘rasa’ lebaran. Belum cukup hanya itu, pemerintah pada era ini lebih menyanangkan isu “Wisata Gerhana”, paradoks dengan paranoia GMT 33 tahun silam.
Cukup sudah ramai-ramai berita tentang harmonisasi gerak semesta yang hanya terjadi tiap 18 tahun 11 hari itu, kali ini menumpu di beberapa wilayah di Indonesia. Anggota ke-52 dari 73 anggota pada Siklus Saros ke-130 ini  terjadi bertetapan pula dengan hari raya Nyepi pada tanggalan Masehi, 9 Maret 2016 hari libur nasional. Maka semakin viral-lah euforia GMT 2016. Kita pun tak bisa luput dari pertontonan debat antara: perayaan gerhana atau penghayatan gerhana?
Cukup sudah cerita mengenai lautan manusia di Planetarium, cerita antrian dari jam 2 dini hari sampai cerita tentang tatapan lesu orang-orang yang sudah jauh-jauh datang tapi tak berhasil berebut untuk masuk kesana. Cukup sudah cerita mengenai kekecewaan orang-orang yang ‘menonton’ GMT di Palembang, karena awan mendung yang lewat sana menjelma inhibitor yang menghanyutkan jauh-jauh ekspektasi mereka.
Cukup sudah unggahan-unggahan dan ulasan-ulasan mengenai detik-detik GMT hingga habisnya yang melayang-layang di media informasi online. Cukup sudah. Kita sudah kenyang.
Namun diantara beragam anasir yang membentuk ujud rekam kisah GMT 2016, perhatian saya tertarik pada selera humor orang Indonesia. Beberapa meme comic berotasi di beranda media sosial, yang paling menarik perhatian saya adalah meme comic yang caption-nya:

“Kesian, ya, Bulan dan Matahari. Udah mah ketemunya nunggu lama banget, sekalinya ketemu Cuma sebentar terus misah lagi.”

Disamping geli sendiri setelah baca itu, dalam sepersekian detik saya menerjemahkan lebih jauh dalam semesta pikiran saya.
Bener juga, ya?
Betapa tabahnya Bulan yang menunggu 18 tahun lewat 11 hari demi satu kejadian dalam Siklus Saros, demi dapat disinari secara sempurna oleh Matahari, yang kita kenali sebagai gerhana matahari total.
Sinar matahari sebut saja sebagai jodoh bulan. Bulan bekerja terus-menerus, konsisten, berotasi sekaligus berevolusi pada bumi. Bulan yang tak pernah mangkir, bahkan rehat pun, bulan yang tak pernah khianat. Bulan yang setia, terus-menerus berada dalam kodrat dan fitrahnya, dalam tugasnya: menjadi satu-satunya satelit alami bagi bumi.
Kalau benar sinaran mentari adalah jodoh bulan, semestinya kita malu pada ketabahan bulan. Ketabahan bulan bukanlah ketabahan yang diam, ketabahan bulan adalah gerak harmonis menahun, tanpa berhenti, tanpa mundur. Tanpa krisis percaya. Kepasrahan bulan bukanlah kepasrahan pada keadaannya yang nun jauh terpisah dari matahari, 149.680.000 km. Kepasrahan bulan adalah kepasrahan pada nasib sembari ia terus-menerus tunduk pada fitrahnya. Bulan tak memusykilkan sinar matahari sebagai dongeng belaka. Sinaran matahari adalah keniscayaan, meski harus ditukar dengan puluhan tahun ketabahan bulan.
Kalau benar sinaran mentari adalah jodoh bulan, semestinya kita malu pada ketabahan bulan. Manusia punya kodrat dan fitrahnya, punya tugas pula. Tapi apa kita sanggup menunggu sebanyak bulan lakukan? Tabah selama 18 tahun lewat 11 hari, demi sebuah nasib yang tak habis-habisnya kita percaya. Jangankan belasan tahun, berjalan bulan, berjalan tahun, coba ingat sebanyak apa kita mengeluh? Sebanyak apa kita menyerah? Sebanyak apa kita berhenti percaya?
Seringnya sih kita, kuliah lama lulus aja, lalu  menyerah. Mencoba bisnis sekali dua kali, belum untung, lalu menyerah. Pacaran bertahun-tahun tapi gagal menikah, lalu menyerah, trauma menahun, men-dasawarsa. Dan lain-lain dalam proses pewujudan impian, setahun dua tahun, belum sampai, lalu menyerah. Sementara bulan bergerak konsisten selama 18 tahun 11 hari, belum juga ada hasilnya, sinar mentari belum juga menimpa dia. Sampai di hitungan 18 tahun 12 hari, baru mewujud. Melihat kenyataan-kenyataan itu, rasanya ada disparitas yang terlampau jauh antara ketabahan kita dengan ketabahan bulan.
Mungkin saja sinar matahari adalah jodoh bulan. Mungkin saja kita seharusnya meniru bulan. Jodoh yang saya maksud bukanlah jodoh dalam pengertian sempit. Jodoh, bukan hanya satu jiwa yang bertemu jiwa lain, lalu menjadi satu inti. Jodoh bisa saja satu orang yang menemukan sekumpulan orang yang sejiwa juga. Jodoh pun bisa jadi adalah nasib baik yang selama ini kita percaya. Jodoh kita selain pasangan, bisa diartikan seluas rezeki, sahabat-sahabat, komunal, nasib baik, jalan hidup, tujuan hidup, sampai akhir hidup. Bedanya dibanding bulan, manusia lebih bisa luwes.

Kita bisa mundur dulu kalau jengah dalam langkah kita. Menyusun langkah-langkah lain yang lebih mantap, setelah mundur satu-dua langkah. Sedang bulan, tidak bisa melakukan gerak lain di luar rotasi dan revolusi. Manusia bahkan boleh istirahat, sejenak mengumpulkan lagi makna, lalu kembali melanjutkan ketabahan. Sedang bulan jika berhenti berotasi dan berevolusi, artinya kiamat.

Manusia juga bisa saja mengatur ulang lintasannya untuk sampai tujuan, manusia boleh merevisi berkali-kali. Berkali-kali. Sedang bulan tidak bisa merevisi orbitnya. Manusia memilih sendiri tujuannya (yang seharusnya sejalan dengan tugas manusia yang diamanatkan oleh-NYA), manusia bebas menyusun sendiri jalan menuju ke sana. Tujuan dan rencana, dan berjalan menurut jalur yang sudah diyakini. Tapi sebatas itu, manusia bukan mendikte takdir. Sebab di tengah-tengah, bisa saja oleh DIA, ditunjukkan jalan pintas, jalan alternatif, jalan yang lebih terjal, jalan yang lebih jauh, jalan yang lebih mudah, dan lainnya yang berbeda dari rencana manusia. 

Jalan yang semestinya terasa lebih indah, setelah kita mampu mengkhatami segala hikmah. Tak hanya jalan, pun oleh-NYA kita disampaikan pada tujuan yang berbeda dari tujuan yang kita rencanakan. Akhir yang mungkin membuat kita berdenyar tak menyangka. Dan lagi-lagi semestinya tempat kita sampai nanti lebih indah dari rencana, jika kita telah selesai mengkhatami segala hikmah.
Pertanyaannya, apa kita mau setabah bulan yang akhirnya sempurna disinari mentari setelah melakukan gerakan selama 18 tahun 11 hari? Atau sebentar-sebentar mengutuk, mengeluh. Mundur selamanya, bukan mundur satu-dua langkah saja. Berhenti selamanya. Bukan sejenak dua jenak.
Kalau benar sinaran mentari adalah jodoh bulan, tak ada ruginya jika kita mulai meniru ketabahan bulan.
Kalau benar sinaran mentari adalah jodoh bulan, dan kita meniru bulan. Mungkin saja ketakutan-ketakutan, kekhawatiran-kekhawatiran yang begitu saja kita telan tanpa tabah menghadapinya bagai mitos-mitos tentang raksasa atau setan atau naga yang memakan dewa matahari. Semua yang melunturkan rasa percaya kita, barangkali cuma mitos. Kuno.
Gerhana matahari akan kembali dan menyapa Makassar dan Papua di 2023, kemudian 2042 di Jambi. Pada tahun 2049, gerhana matahari diperkirakan akan lewat Jakarta. Nanti, kalau di 2049 saya masih hidup dan tinggal di sekitar Jakarta, saya tidak bisa lagi mengelak untuk tidak melihat gerhana matahari. Dan di periode gerhana setelah ini, apa nanti saya masih mengingat Pierre Roland? –jika saya masih diberi hidup.

Depok, 12 Maret 2016
-diazsetia, yang seharusnya menulis ini dua hari lalu

Artikel Lainnya

0 komentar