Menonton Kejujuran Pernikahan ala Desa

Maret 16, 2016

 
Prosesi akad nikah seharusnya sudah dimulai sejak beberapa menit lalu, namun kami masih menunggu kedatangan Pak Penghulu. Saya dan beberapa teman dekat lainnya menemani pengantin wanita di kamar pengantin. Kokom, si pengantin wanita, sudah rapih dengan riasan wajah dengan berbalut gaun pengantin berwarna putih. Mendapat berita pernikahan Kokom, beberapa hari sebelum hari H sempat membuat saya agak kaget. Saya mengenal Kokom sejak 3 tahun lalu, sejak itu saya tau bahwa Kokom memang sudah menjalin hubungan dengan seorang lelaki, yang sekarang menjadi pengantin prianya.

“Kom, sekolahnya gimana?” saya tak menemukan pertanyaan apapun lagi, karena sudah habis berbasa-basi ketika saya baru datang tadi. Dan lagi memang pertanyaan itu yang sejak awal bergelayut di kepala saya. Saya mungkin bukan orang yang cukup peka atau tau caranya bertanya dengan cara yang sopan, padahal persis disamping saya adalah ibunda Kokom.

“Dilanjut lagi tahun depan, Yaz.”
“Ohhh..”

Ingatan saya terlempar jauh menuju bulan-bulan akhir di tahun 2013. Saya yang saat itu belum seseksi sekarang (kalau istilah “gendut” terasa terlalu kejam), masih tinggal di Jakarta dan satu tempat kos dengan Kokom. Saya ingat malam-malam saat saya selalu lebih betah berada di kamar Kokom, dibanding di kamar sendiri. Adegan-adegan yang selalu berulang adalah saat Kokom membolak-balikan buku LKS diatas sebuah meja lipat. Ia terlihat amat serius memecahkan latihan-latihan di dalamnya. Saya yang bukan termasuk dalam golongan manusia cemerlang secara akademik, namun saat itu Tuhan sedang mengamatkan lakon kepada saya sebagai seorang pembimbing belajar di sebuah bimbingan belajar, membuat hati saya pun tergerak untuk membantu Kokom belajar.
“Diaz, mau ajarin Kokom lagi?”

Malam sebenarnya sudah kepalang matang, melihat Kokom masih antusias dengan LKSnya itu membuat saya urung untuk segera istirahat. Begitulah malam-malam yang sering berulang. Usai mengajar di bimbel, saya masih harus memperkerjakan otak kanan saya lagi. Proses yang sebenarnya begitu saya nikmati, proses menemukan cara untuk menjelaskan ilmu eksakta yang rumit secara sederhana dan cepat dimengerti.

Suatu kali Kokom pernah mengeluh tentang harga ongkos angkutan umum yang mahal, semenjak kenaikan BBM. Kendala itu yang membuatnya menjadi tidak lagi rutin pergi belajar Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang memfasilitasi kejar paket. Dari jadwal belajar setiap hari, ia hanya datang beberapa kali saja seminggu. Kokom bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu rumah sakit di Jakarta. Tahun 2013 lalu itu ia masih belajar untuk mengejar kesetaraan paket B sepulang bekerja. Sekarang Kokom, yang usianya di bawah saya setahun, sudah lulus kejar paket B dan tahun depan baru merencanakan untuk melanjutkan kejar paket C.
Saya kembali ke dunia nyata saya, kepada Kokom yang ada di hadapan saya.
“Mba Ummi mana, Kom?” tanya saya. Mba Ummi adalah bibi kandung Kokom yang saya sudah anggap sebagai kakak sendiri. Sebelum menikah, Mba Ummi lah yang menjadi teman kos sekamar Kokom.

“Mba Ummi di lagi rumahnya. Tuh di belakang.” Rumah Mba Ummi memang letaknya persis di belakang rumah Kokom. Yang ada dalam benak saya saat itu adalah kesimpulan tentang Mba Ummi yang mungkin sedang bersiap-siap untuk acara Kokom ini, misal sedang dandan atau pakai kebaya.

Akad pun dimulai. Penghulu sudah datang, pengantin pria dan wanita, orang tua dan wali meraka dan para saksi duduk secara lesehan diatas pelaminan yang sudah diberi alas karpet. Kedua mata saya memicing, menangkap sesuatu yang saya anggap aneh. Orang tua laki-laki pengantin wanita dan wali pengantin pria tidak memakai pakaian tradisional. Mereka mengenakan pakaian santai, kemeja yang tidak terlalu rapih juga. Dandanan sehari-hari, seperti bukan dalam acara sakral pernikahan. Selain pengantin wanita, cuma ibu dari pengantin wanita, penerima tamu, dan yang berjaga di stand makanan yang didandani. Saat prosesi akad berlangsung, tak sadar bahwa wanita yang berdiri disamping saya adalah Mba Ummi.  Ia pun sama, tidak sadar bahwa disampingnya adalah saya. Kami saling sapa dan seperti tak sabar untuk menumpahkan ribuan pertanyaan ketika menyadari kehadiran masing-masing. Lagi-lagi saya kaget dengan penampilan Mba Ummi, ia hanya memakai pakaian sehari-hari untuk di rumah. Bukan kemeja, bukan kebaya, hanya kaos dan celana kain. Benar-benar pakaian rumah. Sadar bahwa kami tak bisa langsung menumpahkan rindu dan rasa penasaran terhadap hidup masing-masing setelah hampir 2 tahun tidak ketemu, kami pun kembali menumpahkan diri ke acara akad yang masih berlangsung. Masing-masing kami menahan diri dengan memberikan isyarat bahwa setelah ini kami akan banyak ngobrol.Tak hanya Mba Ummi, tapi keluarga besar Kokom yang lainnya pun hanya mengenakan pakaian santai, hanya beberapa yang rapih seperti kondangan sungguhan. Selesai akad, dilanjut dengan beberapa prosesi adat khas Serang. Salah satunya adalah prosesi acara “buka gerbang” yang pertama kali saya saksikan ini. Kemudian berlanjut ke acara resepsi.

Saya berkesempatan melihat suasana dapur di belakang rumah Kokom. Sekitar sepuluh orang yang mungkin adalah tetangga dekat Kokom, tak henti-hentinya mengolah makanan. Bahkan bapak Kokom pun sesekali saya liat ikut di dapur. Makanan yang dimasak tidak langsung dalam jumlah banyak, tapi sedikit-sedikit. Ada orang yang bertugas untuk mengontrol stok makanan pada stand dan menginformasikannya ke dapur. Jika sudah kritis stoknya, buru-buru diolah kembali dari proses awal. Bahkan untuk memenuhi lagi stok ayam goreng, saya melihat sendiri bagaimana proses dari ayam itu ditangkap, kemudian disembelih, direbus, dicabut bulu-bulunya, dipotong-potong, hingga diberi bumbu dan dimasak. Tentangga-tetangga dekat Kokom tsb pun terus menerus di dapur, tanpa hendak ‘tampil’ di pelaminan dengan dandanan glamor.

Saya yang jarang menghadiri undangan pernikahan di tempat yang masih bisa disebut ‘desa’ atau ‘kampung’ seperti kemarin itu pun akhirnya menyimpulkan satu garis lurus. Ada satu nilai kuat dalam kebudayaan disana, yaitu: kejujuran dalam menampilkan keadaan sebenarnya. Tidak manipulatif. Tidak ada lomba berbusana bagus dari keluarga kedua mempelai, tidak ada lomba berbusana paling glamor diantara para tetangga. Kesederhanaan dalam pernikahan sama sekali tidak melunturkan kesakralannya. Mungkin yang lumrah di desa adalah pernikahan sederhana seperti itu, keluarga dan tetangga yang tidak merasa memiliki tuntutan untuk menampilkan dandanan terbaik. “Menonton” pernikahan ya bisa dilakukan dengan baju-baju biasa saja. Jangan bandingkan dengan pernikahan di kota-kota, di gedung-gedung pernikahan. Tempat berlakunya hukum “penampilan adalah segala-galanya”. Dari mulai keluarga kedua mempelai, pengiring pengantin, sampai tamu undangan. Pelaminan seolah menjadi panggung tempat semua orang yang terlibat menjadi lakon utama yang harus memperhatikan setiap detail yang dipakainya, meski hanya untuk ditunjukkan beberapa jam saja. Semua sah-sah saja, jika memang ada pada jalur kemampuannya. Namun jika harus menunda pernikahan demi menabung demi bertahun-tahun, bahkan sampai pinjam uang di bank demi panggung yang hanya beberapa jam itu, ini yang perlu dikaji lagi. Tiba-tiba saya ingat seorang teman laki-laki yang sudah merasa tak bisa lagi menunda untuk menikahi calon istrinya.
"Yaz, gw mau nikah. Tapi gw gak punya duit sama sekali. Udah banyak utang di bank. Terus gw harus gimana?”

“Jual motor lu.” Saya menjawab asal. Motor miliknya adalah motor sport, yang pikir saya pasti lumayan kalau dijual.
“Terus kalau motor dijual, abis nikah gw kemana-mana naik apaan?”

“Beli motor butut, yang sejuta dua juta. Ada kok.” Lagi-lagi ini saya jawab asal.

“Okeh, misalkan gw jual motor, terus laku 15 juta, emang cukup buat nikah?”

“Cukup. Gak usah ngundang banyak-banyak, 100-200 orang aja.” Jawaban ini pun bukan dengan hitungan yang matang dulu.
“..........................” terlihat mikir.

“Ya, terserah lu. Gw kan cuma kasih saran.”
Setelah saya resapi lagi percakapan lawas tsb, dan menghubung-hubungkan dengan prosesi pernikahan yang baru saya saksikan, rasanya jawaban-jawaban asal saya itu bisa jadi sangat masuk akal.

Saya langsung teringat shirah sahabat nabi, Ali bin Abi Thalib ra. yang menikahi Fatimah Az Zahra ra., hanya bermodal baju perang yang ia jual. Ali ra. pernah memiliki kebimbangan yang sama dilematisnya dengan anak-anak muda abad ini, yaitu antara menikahi Fatimah ra. segera, atau menunggu mapan. Dorongan orang-orang di sekitarnya, dan mengingat kenyataan bahwa sudah banyak laki-laki lain yang lebih dulu melamar Fatimah namun ditolak oleh Nabi Muhammad SAW., akhirnya membuat Ali ra. mantap melamar Fatimah. Beruntungnya, lamaran Ali ra. diterima oleh Nabi Muhammad SAW. Pernikahan tersebut pun berlangsung sederhana. Lebih lengkap mengenai shirah ini pernah saya tulis disini.

Suami Kokom bukanlah seorang sudah mapan secara finansial. Adanya orang-orang desa yang masih teguh pada prinsip bahwa akad dan pesta pernikahan bukannya panggung sehari yang semua sumber daya harus tercurah kesana, seakan menjadi penyeimbang bagi orang-orang kota dengan prinsip sebaliknya. Saya membayangkan jika semua orang menikah menunggu mapan dulu, menunggu mampu untuk menyenggalaran resepsi mewah, menunggu punya mobil dulu, punya rumah dulu, menunggu hutang lunas dulu, (dan saking lamanya menunggu, sampai-sampai calonnya sudah diserobot orang lain), maka mungkin Indonesia akan mirip negara Jepang. Tingkat pernikahan rendah. Tingkat kelahiran rendah. Krisis kuantitas penerus bangsa. Bisa jadi baik, bisa juga tidak.

Orang-orang desa yang kelihatannya memang jauh dari kata mapan secara finansial, tetapi sudah berani memutuskan untuk menikah, kita anggap saja bahwa mental mereka lebih maju selangkah. Ketimbang orang-orang kota yang menunda menikah, bahkan memutuskan untuk tidak menikah. Mental orang-orang desa tsb lebih mapan ketimbang orang-orang kota yang terus mengejar kemapanan finansial. Sampai-sampai meletakkan kemapanan mental di dalam daftar (hampir) terakhir. Dalam tulisan ini saya tidak mau berpanjang-panjang membahas mana yang lebih mesti didahulukan antara kemampuan finansial atau kemampuan mental. Setiap orang berhak punya jawaban masing-masing.

Dan semua jawaban adalah sah. Semua jawaban adalah pilihan.

 

Depok, dini hari 16 Maret 2016

-diazsetia, yang lagi radang

Artikel lainnya:

2 komentar

  1. seru kak kisahnya, sebuah potret umum yang... yah menggambarkan wajah masyarakat kebanyakan

    BalasHapus
  2. Gegara lu asbun tuh Kokom jadi jual motor,... Huft,...

    BalasHapus

Subscribe