Spora Manusia: Lebih dari Sekedar Kemampuan Bertahan

April 17, 2016


 

Pada kondisi yang tidak menguntungkan, bakteri memproduksi endospora sebagai pertahanan. Masa aktifnya spora adalah masa tidur bakteri pada kondisi lingkungan yang ekstrim, seperti suhu, tekanan, dan faktor lainnya. Ketika kondisi lingkungan kembali menguntungkan, maka bakteri tumbuh normal kembali. Proses pembentukan endospora (sporalisasi) membutuhkan waktu selama 15 jam, mulai dari pembetukan filamen aksial, septum asimetris, perkembangan protoplas, pertumbuhan korteks, pembungkus sampai pematangan spora yang mempunyai karakteristik resistansi dan dormansi.

Kalau makhluk sesederhana bakteri pun dibekali kemampuan bertahan dari dalam dirinya sendiri,  saya pun selalu percaya bahwa manusia juga punya jiwa kedua yang mirip peran spora. Manusia, selalu punya intuisi untuk mampu bertahan dalam kondisi lingkungan yang ekstrim. Kemampuan bertahan manusia, sederhananya dijelaskan dalam teori dasar mengenai ciri-ciri makhluk hidup yang kita kenyang mendengarnya di masa SD, yaitu beradaptasi dengan lingkungan. Teori evolusi memaksa kita menelan kenyataan bahwa yang paling tahan pada perubahan lingkungan dan yang dibekali fungsi morfologi paling canggih adalah pemenang zaman. Namun sisi ilmiah itu hanyalah batasan-batasan fisik
Spora manusia yang saya maksud dalam tulisan ini adalah hipotesa yang jauh dari jangkauan materialisme. Sistem pertahanan tubuh manusia, terhadap faktor fisika, kimia, biologi, telah khatam dijelaskan di bidang ilmiah. Di luar suhu, tekanan, cahaya, dll, yang mengancam pertahanan tubuh manusia, faktor lingkungan manusia jauh lebih kompleks dari batasan-batasan fisik

Kondisi sosial, ekonomi, dan banyak faktor lain yang memengaruhi kondisi psikologi manusia. Sebelum jauh-jauh meminjam istilah psikologi yang cenderung ilmiah, saya akan menggantinya (barangkali adalah penggantian yang tidak setara) dengan istilah ghaib, bernama “jiwa”

Jiwa. Pertahanan jiwa manusia, tak terhindarkan adalah sebuah urgensi bagi manusia untuk menghadapi kondisi lingkungan yang ekstrim. Saya bukan mahasiswi atau peneliti yang mempelajari khusus mengenai kerumitan psikologi manusia, saya hanyalah awam yang berusaha memunculkan ide mengenai spora pada manusia, yang mungkin saja ada. Jadi, jangan harapkan tulisan ini akan menjadi tulisan yang dalam. Istilah lain mengenai kemampuan bertahan manusia mungkin sudah ada dalam teori-teori psikologi, yang saya tentu saja buta tentang itu. Namun saya mencoba meminjam analogi spora pada bakteri dan merepresentasikannya ada sungguhan pada manusia.

Bagaimana jiwa manusia bertahan dalam menghadapi kondisi ekstrim? Berbeda dengan bakteri, yang kondisi ekstrimnya bisa saja diprediksi dengan gejala-gejala berangsur, kondisi ekstrim yang mempengaruhi lingkungan jiwa manusia, bisa saja di luar ekspektasi, di luar dugaan. Unpredictable. Kita menyebutnya takdir? Cobaan? Ujian? Atau bentuk komunikasi lain antara Tuhan dan manusia.

Bagaimana manusia menyiapkan diri atas sesuatu yang datangnya tiba-tiba? Kalau bukan karena kita memiliki bekal alami dalam jiwa kita, mirip peran spora pada bakteri. Sebelum kondisi ekstrim mematikan jiwa manusia –meski fisik terus tumbuh & metabolisme tubuh masih setia melakukan siklusnya, tapi apa artinya hidup dengan jiwa yang mati? 
Jiwa yang sudah hilang harap, berhenti tumbuh- maka spora manusia berperan pada masa transisi dari sebuah jiwa yang kritis menuju jiwa baru, yang lebih dari sekedar sembuh normal. Kematangan spora manusia memiliki karakter lebih dari sekedar kemampuan resistensi dalam masa dormansi jiwa. Kematangan spora manusia tidak pasif menunggu kondisi kembali normal. Tapi sebaliknya, spora manusia aktif membuat kondisi ekstrim menjadi kembali kondusif bagi pertumbuhan sebuah jiwa yang kritis. 

Jika ulat memiliki satu kali fase perkembangan ekstrim dalam dirinya dan membuatnya mengalami evolusi pertama sekaligus terakhir sebagai kupu-kupu, maka fase ekstrim yang dialami jiwa manusia bisa datang berkali-kali. Dari banyak kesempatan ekstrim itu, manusia memiliki kesempatan untuk berkali-kali  memperindah jiwanya. Sekali lagi, kesempatan berkali-kali. Setelah melewati segala gelombang, onak, badai kehidupan yang ekstrim. 
Hanya saja, pembentukan spora manusia dari fase awal hingga kematangannya, tidak seragam atas semua jiwa. Jika pada bakteri pembentukan spora itu berlaku selama 15 jam, terhitung dari kejadian kondisi ekstrim, maka pembentukan spora manusia bukannya seperti projek ghaib pembangunan 1000 candi dalam semalam. Instan, adalah satu-satunya berbendaharaan yang mustahil pada pertumbuhan jiwa manusia. Maka pembentukan spora manusia sampai pada kematangannya adalah proses pemupukkan yang berlangsung menahun, sejak kondisi normal atau kondisif atau kondisi yang optimal bagi pertumbuhan jiwa. 

Sederhananya kita memupuk jiwa kita sendiri, menciptakan pertumbuhan yang paling optimal bagi spora –sesuatu yang ghaib-, yang pada gilirannya spora yang –sudah diusahakan- matang tadi akan otomatis aktif dan menguntungkan kita pada kondisi ekstrim. Lebih dari sekedar fungsi resistensi atas dormansi jiwa, tapi aktif mentrasisi jiwa yang kritis menuju jiwa yang lebih dari sekedar sembuh. Menuju metamorfosis jiwa, dari jiwa level ulat menuju jiwa level kupu-kupu. Yang indah, mengepak-mengepak. Metamorfosis ini tentu bukan metamorfosis fisik yang mudah terlihat. Proses pengayaan jiwa adalah ghaib yang luput dari pengamatan indera. Dan kadang-kadang keluputan tsb membuat kita lengah dalam menghargai dan mensyukuri tiap-tiap prosesnya.

Komponen-komponen spora manusia yang paling kental adalah  iman -atau secara harfiah adalah rasa percaya-, optimisme, kemauan untuk bertahan, dan sugesti-sugesti dari dalam diri sendiri.

Berbeda dengan spora pada bakteri yang pembentukannya bergantung dengan faktor di dalam dirinya sendiri, maka spora manusia bisa dipengaruhi oleh jiwa-jiwa lain di luar dirinya. Dukungan-dukungan atau pengaruh-pengaruh positif yang diantarkan dari jiwa-jiwa lain menuju jiwa kita ibarat nutrisi bagi sporalisasi.
Durasi dormansi jiwa, dan lamanya transisi dari jiwa yang kritis menuju jiwa yang lebih dari sekedar sembuh, barangkali amat bergantung dengan penerimaan kita. Sekali lagi, penerimaan kita.

Perlu satu halaman lagi untuk menjabarkan tentang penerimaan, tapi saya sudah kepalang ingin menyelesaikan tulisan ini.
Kamu sudah percaya kalau kita ini sebenarnya juga punya spora? –kemampuan & bakat untuk lebih dari sekedar bertahan.


Depok, 16-17 April 2015
-diazsetia yang tepat sebulan telah vakum nulis

(baca juga artikel saya tentang pensil dan ide: Ide dan Kreativitas dalam Lintasan Zaman)
 

Artikel lainnya:

0 komentar

Subscribe