Kosong

Mei 20, 2016



Apa kamu mendamba tiada lagi dimiliki hampa?
Dan semua adalah mampat?
Semesta tiada punya tenggat
Udara-udara pengap
Rindu-rindu menjadi pegap
Ruang menghablur, menabur sesak yang menduka

Padahal ada jarak diantara jemari sang daun.
Tempat angin membagi dinginnya musim, tempat tumpah inginnya air menjadi alir.
Seperti dingin kita pada kekosongan  masing-masing. Seperti ingin kita pada kegenapan masing-masing.
Atau kamu telah lupa?
Bahwa ada penyampaian kasih paling hampa dari mentari kepada bumi.. perjalanan menantang  ribuan mil jarak bernama radiasi.

Apa jadinya jika kita ada di dunia yang serba mampat?
Sedang gunung-gunung menyimpan rongga senyap untuk para nabi penyelamat.
Juga rongga di jiwamu yang menyimpan seribu perlawanan terhadap hampa.. apakah begitu menyiksa?
Ada banyak kosong diantara huruf-huruf ini.. yang banyak diisi jenak agar kata-kata menjadi punya dinamika bunyi.
Serupa carut-carut kosong pada tubir tebing-tebing batu, buat berpijak si pemburu langit.

Atau lihat kegagapan tarian awan.. bukankah ia lakon pesta paling kosong? Bagaimana kamu bisa memeluk segumpal energi yg nihil bentuk?
Bahkan aurora adalah kemewahan warna paling hampa yang selalu membuat takjub penduduk kutub,
apakah warna-warni cahaya punya isi?
Apa kamu pernah mencuri cahaya ke dalam toples dan membawanya pulang sebagai hiasan ruang tamu? Seperti kamu menawan kupu-kupu dari kebun tetangga?        
Dan bahkan sebelum hidup barunya kupu-kupu adalah janin ulat yang tabah dalam kekosongan.
Seperti ketabahan kita yang menanggung kosongnya bahasa dan rasa dalam rahim ibu.

Kita terlalu banyak di kelabui oleh ketiadaan rupa dan warna, sebanyak kedunguan ombak yang tiada menyerah dalam menggapai dekapan pantai.

Semesta pernah begitu sederhana dalam kemampatannya. Lalu Tuhan merumitkan tempat kita dengan rongga-rongga maha lirih.            
Mensyukuri kelahiran semesta adalah kultus untuk merayakan penciptaan satu demi satu liris hampa.
Bukan untuk sengaja diisi, tapi biarkan saja,
sampai tiba takdir lain menuju kemampatannya lagi.

Menuju selesainya semesta kita.

(Jakarta, Mei 2016. Ditulis hampir sebulan)

Artikel lainnya:

1 komentar

  1. Karena sejatinya kekosongan itu berisi, berisi sesuatu yang disebut hampa, hanya karena ia enggan diterjemahkan dan dibendakan :D

    BalasHapus

Subscribe