Hikmah Dipecatnya Sang Pedang Allah

Juli 28, 2016


Sejarah mencatat pasukan muslimin pernah memiliki panglima perang yang tak terkalahkan. Seorang Guru Besar Studi Islam dan Bahasa Arab Universitas Edinburg, menulis:“Jenderal Arab Muslim paling terkenal, Pedang Islam, sahabat Rasulullah, Khalid bin Walid. Arsitek agung penaklukan Islam pertama di Abad ke-7.”

 Lebih dari seratus peperangan dikomandoi olehnya, dan tak satu pun berakhir dengan kekalahan. Bahkan peperangan-peperangan tersebut tidak meninggalkan satu pun bekas luka ditubuhnya. Adalah Khalid bin Walid ra., putra dari salah satu orang Quraisy yang paling berkuasa, Walid bin Mughirah, yang berasal dari suku Bani Makhzum. Namun siapa yang menyangka, pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab ra., Khalid dipecat dari jabatan kemiliterannya. Sebuah keputusan yang menimbulkan banyak spekulasi. Namun peristiwa dipecatnya Khalid menjadi fragmen sejarah yang kaya akan hikmah sehingga patut disimak. 


Masa Kecil dan Debut Kemiliteran Khalid

Khalid memliliki hubungan kekeluargaan yang sangat erat dengan Umar bin Khatab ra., ia adalah sepupu Umar.  Sedangkan bibi Khalid, Maimunah, adalah istri dari Rasulullah SAW. Diceritakan keluarga Khalid adalah keluarga berkecukupan, sehingga Khalid kecil tidak perlu menghabiskan waktunya untuk berdagang. Ia lahir 7 tahun sebelum masa hijrah dan menghabiskan masa kecilnya dengan mengikuti kegemarannya, yaitu latihan tinju dan gulat. Ia juga belajar memanah, berkuda, dan memainkan pedang. Manifestasi dari masa ‘inkubasi’ tersebut lah yang membawa Khalid ke dalam pasukan perang yang melawan kaum muslimin. Sebelum keislamannya, Khalid merupakan aset bagi pasukan Quraisy.

Kejeniusan Khalid dalam seni perang sudah terbukti sejak perang Uhud. Saat pasukan kaum muslimin silau dengan harta rampasan perang dan tak mengindahkan perintah Rasulullah untuk tetap berjaga di pos masing-masing, walaupun tanda-tanda kemenangan mereka sangat dekat. Saat pasukan kaum muslimin yang berjaga di Tanah Genting (nama suatu bukit di arena perang Uhud), mereka terpecah-belah dan berlarian mengincar harta-harta yang melekat di tubuh mayat-mayat kaum lawan, pos pertahanan kosong, Khalid membaca peluang kemenangan disana. Khalid mengomandoi penyerangan lewat pos Tanah Genting, taktik ini yang sukses membalik kemenangan kaum muslimin. Kekalahan dalam Perang Uhud merupakan pukulan bagi pasukan kaum muslimin, dan Khalid lah panglima yang ada dibalik kemenangan kaum Quraisy saat itu. Ia memang terkenal sebagai panglima yang menyerang lawan dari sisi kelemahan dan kelengahan  lawan. Pada suatu peperangan di Asfan, Khalid hendak menyerang saat Rasulullah dan pasukannya sedang melaksanakan solat dzuhur. Kejadian itu pula yang menjadi asbabun nuzul surat An-Nisa ayat 101-102 tentang tata cara solat saat berlangsung peperangan.

Hidayah keislaman Khalid datang pada masa perjanjian Hudaibiyyah (628 M). Pada saat itu Walid bin Walid (saudara Khalid) mengirimkan surat kepada Khalid yang isinya ajakan untuk masuk islam. Surat tersebutlah yang menjadi jalan bagi cahaya-cahaya iman islam untuk masuk ke dalam rongga hati Khalid. Meski ditentang oleh pembesar Quraisy, Abu Sufyan, namun tak menggentarkan Khalid untuk masuk islam. Pada bulan Mei, di tahun yang sama, Khalid menuju Madinah dan bersama Amr bin Ash dan Ustman bin Talha menemui Rasulullah untuk masuk islam.

Kepindahan Khalid ke dalam islam, membawa angin segar bagi pasukan muslimin. Kecerdasannya dalam mengolah siasat perang selalu berbuah kemenangan bagi pasukan yang dipimpinnya.


Penaklukan-penaklukan Islam dalam Pimpinan Khalid

Posisi kepanglimaan Khalid dalam pasukan muslimin pertama kali ia peroleh pada saat perang Mut’ah. Rasulullah mulanya menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin pasukan, namun ia berpesan, bila Zaid gugur maka Ja’far bin Abi Thalib yang menggantikannya, dan bila Ja’far gugur maka Abdullah bin Rawahah akan menggantikannya. Bila ketiga panglima perang tersebut gugur maka panglima perang selanjutnya dipilih oleh pasukan muslimin. Ketika nama yang ditunjuk Rasulullah tsb akhirnya menjadi syuhada di medan perang Mut’ah. Pada saat itu, Khalid, sang pemuda yang penuh keberanian, yang dipilih kaum muslimin untuk melanjutkan memimpin perang. Khalid mengatur strategi dalam pertempuran yang dapat dibilang tidak imbang tersebut, 3000 pasukan muslimin versus 100.000 gabungan pasukan Romawi Bizantium dan Ghassanid Arab. Khalid mengatur pasukannya menjadi beberapa bagian, dan pagi hari menjelang waktu pertempuran, satu per satu pasukan Khalid bergerak maju. Khalid berhasil mengecoh pasukan lawan yang mengira pasukan mulimin yang bergerak maju pada pagi hari itu adalah pasukan tambahan dalam jumlah besar. Pasukan lawan pun gentar, sepanjang hari tidak terjadi pertempuran. Khalid pun membawa pasukannya berbalik dan pulang, namun pasukan lawan tidak mengejar. Selepas perang Mut’ah, Khalid bin al-Walid, diberi gelar oleh Nabi SAW Saifu-Llah al-Maslul (Pedang Allah yang terhunus). Nabi pun mendoakannya, agar senantiasa diberikan kemenangan dalam setiap peperangan.

Kiprah Khalid pada saat kekhalifahan Abu Bakar dimulai dengan pertempuran Riddah, yaitu pertempuran dengan suku-suku Arab yang memberontak dan menolak kekuasaan di Madinah. Suku Tay dan Jalida yang awalnnya masuk ke dalam suku pemberontak akhirnya mengakui Khalifah, dan bergabung dengan pasukan muslim untuk melawan pemberontak yang mengaku nabi, yaitu Tulaiha. Ada sebuah tindakan Khalid yang sempat menyulut kontroversi, yaitu peristiwa pembunuhan Malik Nuwairah. Malik merupakan pemberontak yang tidak mengakui kekhalifahan, namun pada saat penyerangan, Malik menyerah dan mengaku Islam. Meski begitu Khalid dikisahkan tetap membunuh Malik, karena alasan dendam di masa lalu. Umar menentang sikap Khalid, menganggap pedang Khalid yang terlalu terburu-buru dalam menebas kepala. Namun saat menyampaikan pendapatnya kepada Khalifah Abu Bakar, Abu Bakar tidak menentang sikap Khalid, dan berkata, “Ah Umar! Dia sudah membuat pertimbangan tapi salah. Jangan mengatakan yang bukan-bukan tentang Khalid.”   

Selanjutnya dalam pertempuran Yamamah,  Khalid memperoleh kemenangan dalam melwan nabi palus bernama Musailimah yang berasal dari Bani Hanifah. Setelah menaklukkan pemberontak-pemberontak yang mengancam islam, Khalid kemudian dikirim untuk menaklukan Kekaisaran Persia. Khalid memenangkan empat pertempuran berturut-turut, Pertempuran Chains, Pertempuran Sungai, Pertempuran Walaja, dan Pertempuran Ullais, Pertempuran Muzayyah, Pertempuran Saniyy, dan Pertempuran Zumail dalam rentang waktu satu tahun (633 M). Peperangan tersebut berimbas pada perluasan islam di hampir semua Mesopotamia rendah, (wilayah utara Efrat). Selanjutnya pasukan muslimin di bawah pimpinan Khalid menuju pada pembebasan Irak pada pertempuran Firaz (perbataan Irak dan Syam). Setelah pasukan muslimin menghadapi gabungan pasukan Romawi, Persia, dan Kristen Arab. Setelah memperoleh kemenangan, pasukan muslimin bergerak menuju Romawi Bizantium untuk membebaskan Syam. Khalid bin Walid mengirimkan pasukan bantuan untuk menyerang Levant (Romawi Suriah), yang saat itu pasukan muslimin yang dipimpin Abu Ubaidah kekurangan pasukan untuk menghadapi musuh dalam jumlah besar. Pasukan Khalid harus sampai Suriah dalam waktu yang cepat, sehingga dipilihlah jalur Gurun Suriah yang tidak umum dilalui. Sepanjang jalur tersebut tidak ada air, Khalid mensiasatinya dengan cara membuat unta-unta yang dibawa pasukannya angat kehausan, sehingga minum banyak sebelum perjalanan. Disaat jalur kering, unta-unta yang kantung airnya sudah terisi penuh tersebut disembelih, dan airnya sebagai sumber minum anggota pasukannya. 

Setelah sampai di Suriah, Khalid memenangkan pertempuran Qarteen dan Pertempuran Hawarin, kedua wilayah tersebut berhasil ditaklukan. Pasukan Khalid kemudian bergabung dengan pasukan Abu Ubaidah menyerang Bosra, dengan Khalid sebagai pemegang komando tertinggi. Setelah benteng Bosra menyerah, Khalid memerintahkan semua pasukan untuk bergabung dengannya di Ajnadayn, di mana mereka berjuang dalam pertempuran menentukan melawan Bizantium tanggal 30 Juli 634. Sejarawan modern menganggap pertempuran ini adalah pertempuran paling menentukan dalam mengakhiri kekuasaan Bizantium di Suriah. Khalid hendak menaklukan benteng Bizantium di Damaskus. Selama pengepungan Damaskus, pasukan muslimin mendapat kabar bahwa Khalifah Abu Bakar meninggal dunia dan digantikan oleh Umar bin Khattab.

Dipecatnya Khalid

Khalid bin Walid kemudian dipecat sebagai panglima perang pasukan muslimin oleh Umar bin Khattab.  Ada dua versi riwayat mengenai pemecatan Khalid yang pertama ini. 
Sebuah riwayat mengatakan bahwa utusan Umar menyampaikan surat pemecatan langsung kepada Khalid, dan berisi juga penunjukkan Abu Ubaidah sebagai panglima tertinggi menggantikan Khalid. Pada malam diterimanya surat tersebut Khalid menunggu sampai pagi dan menyampaikannya kepada Abu Ubaidah. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Ubaidah-lah yang mendapat surat pengangkatan dan pemberhentian Khalid selama pengepungan, tetapi ia menunda pengumuman sampai kota itu ditaklukkan. Saat itu sedang terjadi perang Yarmuk, Khalid maih mengatur strategi dan belum mengetahui dirinya sudah diturunkan dari jabatan panglima tertinggi. Setelahe perang Yarmuk usai dan kemenangan di pihak pasukan muslimin, barulah Abu Ubaidah menyampaikannya kepada Khalid.

“Mengapa Anda tidak menyampaikan keputusan itu, begitu sampai kepada Anda?” tanya Khalid kepada Abu ‘Ubaidah. “Saya tidak ingin mengganggu kosentrasi Anda dalam memimpin serangan. Lagi pula, kita bersaudara (sesama Muslim). Apa salahnya, jika saudara dipimpin oleh saudaranya sendiri?” 
Setelah itu, meski sudah sebagai prajurit biasa, Khalid diminta Abu Ubaidah untuk tetap mengomandoi penaklukan, dan diangkat sebagai penasihat perang. Ia kembali membawa kemenangan bagi kaum muslimin dengan berhasilnya strategi penaklukan benteng. Dengan segala prestasinya itu, membuat kawan dan lawan menaruh hormat setinggi-tingginya kepada Khalid. Inilah yang Ibn Qais memberikan sanjungan yang begitu tinggi kepada Khalid. Merasa tersanjung dengan pujiannya, Khalid pun memberikan hadiah kepadanya. Ada yang mengatakan, 500 Dinar, ada yang mengatakan 5000 Dinar, dan 10,000 Dinar. 

Usai penaklukan benteng Damaskus, Umar memecat Khalid untuk kedua kalinya sebagai prajurit perang. Umar meminta Khalid kembali ke Madinah. Khalid melepaskan meninggalkan pasukan muslimin, melepaskan kiprah kemiliterannya sebagai prajurit, dan kembali menuju madinah, patuh akan perintah Khalifah.

   

Alasan Dipecatnya Khalid bin Walid

Banyak versi riwayat mengenai alasan pemecatan Khalid dari kemiliteran. Ada pendapat yang mengatakan bahwa hubungan yang kurang baik antara Umar dan Khalid yang membuat Umar memecat Khalid. Diceritakan, sewaktu kecil Umar dan Khalid yang merupakan sepupu pernah bermain gulat, dan Khalid membuat Umar cedera, kaki kanan Umar patah. Sejak itu, Umar memendam perasaan yang tidak suka terhadap Khalid. Ditambah dengan peristiwa kontroversial pembunuhan Malik, salah seorang pemberontak. Khalid membunuh Malik yang sudah menyerah, alasannya karna ia masih menyimpan dendam kepada Malik sejak sebelum masuk islam. Ada pula yang meriwayatkan bahwa pernah terjadi perbedaan pendapat antara Umar dan Khalid, terkait otonomi daerah kepemimpinan. Khalid yang saat itu menjabat sebagai gubernur, merasa memiliki kewenangan sendiri mengenai pembagian harta rampasan perang tanpa perlu meminta izin Khalifah. Namun Umar berpendapat semua keputusan-keputusan harus dengan persetujuan Khalifah, yakni sentralisasi. Perbedaan pendapat ini juga yang disebut-sebut sebagai salah satu alasan Umar memecat Khalid. Semasa kekhalifan Abu Bakar, ada riwayat yang menyebutkan bahwa Umar sudah menyarankan Abu Bakar untuk memecat Khalid, karena alasan-alasan tersebut. Namun Abu Bakar menolak. Tindakan Khalid yang menghadiahi penyair dengan harta rampasan perang dan penggunaan bahan yang mengandung khamr untuk mandi pada saat berada di daerah Amid, Armenia juga disebut-sebut sebagai alasan Umar memecat Khalid.
Pasca dipecatnya Khalid, terdapat juga beberapa riwayat mengenai sikap Khalid terhadap Umar. Ada yang mengatakan bahwa Khalid tidak terima dengan keputusan Umar, hingga sampai akhir hayatnya ia masih kecewa terhadap Umar. Namun lebih banyak riwayat yang mengatakan bahwa Khalid dengan lapang dada menerima keputusan Umar.
Saya mencoba menyulam benang-benang sejarah, dengan tidak menutup berbagai pendapat mengenai peristiwa dipecatnya Khalid. Alasan dendam dan hubungan yang kurang harmonis antara Umar dan Khalid menjadi spekulasi yang saya gugurkan. Pun, alasan karena ketidaksetujuan Umar atas tindakan Khalid membunuh Malik, meskipun Abu Bakar mendukung Khalid. Rasanya wajar terdapat perbedaan-perbedaan cara pandang dalam mengambil keputusan, termasuk perbedaan mengenai cara otonomi atau sentralisasi dalam kepemimpinan. Umar adalah sahabat dekat Rasulullah, yang merupakan cermin ajaran Rasulullah secara langsung. Rasulullah tidak pernah mengajarkan dendam, dan soal perbedaan pendapat memang sudah ada sejak Rasulullah hidup.
Saya memilih setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa alasan sebenarnya Umar memecat Khalid adalah untuk memurnikan aqidah umat, menyelamatkan Khalid dari rasa sombong, dan menghindari umat dari fitnah kekultusan. Umar berkata: “Saya tidak memecat Khalid bin Walid karena benci atau pengkhianatan tetapi karena semua orang sudah terpesona, saya khawatir orang hanya percaya kepadanya dan hanya akan berkorban untuknya. Maka saya ingin mereka tahu bahwa Allah Maha Pencipta dan supaya mereka tidak menjadi sasaran fitnah.”
Rasulullah pernah mengatakan bahwa kebenaran terletak di lidah Umar, hingga ai dijuluki al-faruq (benar). Umar memang dikenal sebagai khalifah yang berani dan tegas dalam mengambil kebijakan. Namun Umar perlu mencari alasan untuk memecat Khalid, salah satunya dengan menyalahkan Khalid karna menggunakan bahan yang mengandung khamr sebagai pembersih badan Khalid. Padahal itu dilakuan Khalid dalam kondisi terdesak karena tidak ada bahan pembersih lain, islam memberikan toleransi, zat yang haram bisa menjadi halal. Juga tentang pemberian hadiah kepada penyair, dari hasil rampasan perang. Hasil rampasan perang memang dapat dibagikan kepada, dan Khalid pun meniru Rasulullah yang juga pernah memberikan hadiah Burdah (surban hijau) kepada penyair bernama Ka’ab bin Zuhairi. Kedua alasan tersebut menjadi tameng Umar dalam memecat Khalid, karena keputusan pemecatan yang tanpa alasan kesalahan Khalid akan banyak dipertanyakan orang-orang. Pada saat itu Khalid berada di puncak karir, semua orang memujinya, dan menganggap setiap peperangan yang dipimpim Khalid pasti akan memperoleh kemenangan. Umar sadar bahwa keadaan ini tidak bisa dibiarkan. Umar berpikir jauh ke depan mengenai kemungkinan-kemungkinan pengkultusan Khalid. Umar ingin mengembalikan kemurnian aqidah umat muslimin, bahwa kemenangan kaum muslimin atas izin Allah, bukan karena Khalid yang menjadi panglima. Siapa pun panglima yang memimpin pasukuan muslimin, insya Allah dimenangkan oleh Allah jika dikehendakiNYA. Sebagai saudara sepupu, Umar secara pribadi pasti mencintai Khalid. Keputusan memecat Khalid dari karir kemiliterannya jugademi menyelamatkan Khalid dari rasa sombong. Jika semua orang memuji Khalid dan mengelu-elukannya, bukankah sangat mungkin Khalid menjadi panglima yang dijangkiti rasa sombong? Padahal Allah berfirman bahwa tidak adakan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat rasa sombong.
Untuk mencegah kekhawatiran-khawatirannya sungguhan terjadi, Umar membuat keputusan untuk memecat Khalid. Pertama kali Khalid dipecat sebagai panglima perang, padahal saat itu sedang berlangsung penaklukan besar-besaran menghadapi pasukan Romawi. Kedudukannya digantikan oleh Abu Ubaidah. Namun Abu Ubaidah tetap memberikan wewengan komando terhadap Khalid lewat pengangkatan sebagai penasihat perang. Meski jabatan panglima sudah tidak melekat pada Khalid yang melanjutkan perang sebagai prajurit biasa, namun penghormatan Abu Ubaidah terhadapnya tidaklah berkurang. Hal ini terjadi karena jam terbang Khalid di medan perang yang telah menempanya dengan banyak pengalaman dalam seni berperang. Kemenangan tetap berpihak pada kaum muslimin yang dipimpin Abu Ubaidah dengan bantuan Khalid sebagai “arsitek” seni perangnya.
Saat prajurit-prajurit lain mempertanyakan sikap Khalid yang masih saja mau ikut berperang padahal sudah dipecat sebagai panglima (hal ini terkait harga dirinya atas sikap Umar yang telah memecatnya), Khalid menjawab, “Saya berjihad karena mengharap ridho Rabbnya Umar , bukan karena Umar.” Suatu kali Khalid pernah menyampaikan bahwa berada di medan perang lebih ia sukai dibanding berada dalam rumahnya. Sungguh potret ksatria sejati! Tetap membela islam meski tanpa jabatan.
Pemecatan Khalid yang kedua kali sebagai prajurit, terjadi di Qinrisin. Usai pemeriksaan harta yang diberikan kepada penyair. Khalid terbukti tidak bersalah karena ia sudah menjalankan pembagian harta rampasan perang tersebut sesuai prosedur. Khalid dipanggil kembali ke Madinah oleh Khalifah Umar, sesampainya di Madinah, ia mengklarifikasi kembali tentang alasan pemecatannya, seperti yang ditulis dalam sebuah riwayat berikut ini:
 “Wahai, Amirul Mukminin. Apakah benar saya dipecat?”, tanya Khalid.
“Ya! Anda saya pecat!”, jawab Umar tegas.
“Baiklah, ya Amirul Mukminin. Saya dengar dan saya taat pada anda. Tapi bolehkah saya tahu alasannya? Apa kesalahan saya sehingga harus dipecat?”, tanya Khalid lagi penasaran.
“Anda sama sekali tidak berbuat kesalahan, sedikit pun!”, jawab Umar.
“Atau mungkin saya kurang ahli dalam hal peperangan?”, tanya Khalid lagi.
“Tidak! Saat ini, anda adalah panglima perang terbaik yang pernah kami miliki!”, jawab Umar.
Khalid bin Walid terdiam. Ia tampak bingung dan linglung. Melihat ini, Umar bin Khaththab tersenyum.
“Dengarlah, wahai Khalid!”, ujar Umar.
“Anda adalah seorang jenderal terbaik dan panglima perang terhebat. Banyak sekali pujian yang ditujukan pada anda, entah itu dari pasukan anda sendiri maupun dari kaum muslimin”, lanjut Umar.
“Ingatlah, hai Khalid! Anda itu manusia biasa. Terlalu banyak pujian bisa menimbulkan rasa sombong dalam diri anda. Bukankah Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong?”, sambung Umar bertanya.
Khalid bin Walid tak menjawab. Ia diam seribu bahasa.
“Karena itu maafkan saya, wahai saudaraku! Agar anda tidak terjerumus ke dalam neraka, maka anda saya pecat!”, ujar Umar lagi.
Lagi-lagi Khalid bin Walid terdiam.
“Supaya anda tahu. Jangankan di hadapan Allah yang menguasai semesta, di hadapan Umar saja anda tidak bisa apa-apa”, jelas Umar dengan bijak.
Seketika itu juga Khalid bin Walid berdiri dan langsung memeluk khalifah Umar bin Khaththab. Ia menangis tersedu.
“Terima kasih, ya Umar! Engkau memang benar-benar saudaraku!”, ujar Khalid di sela-sela tangisannya.

Belum genap empat tahun Khalid meninggalkan arena medan perang, ia meninggal dunia dalam usia 52 tahun di Himsh. Pada saat-saat terakhir hidupnya ia pernah mengungkapkan, Aku telah mengikuti perang ini dan perang ini bersama pasukan, dan tidak ada satu jengkalpun dari bagian tubuhku kecuali padanya terdapat bekas pukulan pedang atau lemparan panah atau tikaman tombak dan sekarang aku mati di atas ranjangku terjelembab sebagaimana matinya seekor unta. Janganlah mata ini terpejam seperti mata para pengecut.”
Menjelang ajalnya, Khalid menulis wasiat yang isinya adalah pengangkatan Umar sebagai waasi (ahli waris) nya. Kepercayaan Khalid kepada Umar itu jelas sudah menjadi bukti kuat bahwa hubungan Khalid dan Umar baik-baik saja dan tidak ada dendam mengenai peristiwa pemecatannya. Pada saat kematian Khalid, Umar berkata: Kepergian Khalid telah meninggalkan kekosongan yang tak dapat diisi dalam Islam”.

Ragam Hikmah, Sebuah Refleksi

Hikmah kisah dipecatnya panglima Islam tak terkalahkan, Khalid bin Walid dapat kita refleksikan dalam konteks kekininan. Saya mencatat sedikitnya ke dalam empat hal.
Pertama, kita sadar bahwa rasanya sulit sekali mendapati sosok pemimpin seperti Umar, yang berani mengambil keputusan memecat bawahannya (panglima perang) di titik puncak karir dan disaat ia sedang dibutuhkan. Demi mencegah kekhawatiran-kekhawatiran terhadap pengkultusan sosok Khalid. Pada jaman ini, masih adakah pemimpin yang memikirkan tentang kemurnian aqidah masyarakatnya dan berani memecat bawahannya demi menyelamatkan banyak orang dari fitnah pengkultusan? Pertanyaan yang sulit kita jawab. Menyinggung isu pengkultusan, saya mempertanyakan, apakah kita pernah ada dalam posisi ‘prajurit-prajurit’ Khalid yang begitu mengelu-elukan sosok ‘Khalid’? ‘Khalid’ yang aya maksud adalah dalam arti umum, yaitu sosok pemimpin kita, misalnya atasan kerja, gubernur, pemimpin-pemimpin pemerintahan, dll. Jangan-jangan kita sudah lengah, dengan menanggap mereka sebagai penentu kemenangan karir kita, dan kemenangan-kemenagan hidup kita, melupakan Dzat Hakiki sesungguhnya sebagai ‘arsitek’ semua takdir. Indikator paling mudah untuk menyadari kelengahan kita adalah, ketika semua hal kita tidak kembalikan kepada ridha Allah, melainkan kita kembali ridho sosok manusia yang sedang diamanati sebagai pemimpin kita. Inilah yang akan mengantar kita pada keadaan yang berbahaya, ketika semua hal kita lakukan demi ridho makhluk, demi mengejar kemenangan-kemenangan kosong, bukan demi ridho Perancang Segala Takdir.
Kedua, kita memiliki siklus hidup, mengaitkannya dengan kimia, saya ibaratkan sebagai kurva netralisasi. Awalnya kita melaju, sampai pada titik tertinggi, dan satu detik setelah keseimbangan reaksi tercapai kita akan terjun ke titik paling rendah, yang menandakan titik akhir. Jika ketika kita sedang berada di titik paling tinggi, misalnya dalam posisi karir terbaik, harta melimpah, dan kepopuleran yang memuncak, demi mencapai keseimbangan lagi ada dua cara. Pertama, menunggu ‘dijatuhkan’ dengan caraNYA, atau kedua dengan cara ‘turun’ sendiri dan melepas ‘atribut-atribut’ yang melenakan kita demi menyelamatkan diri sendiri dari sifat sombong. Pertanyaannya adalah, cukup siapkah kita jika yang terjadi adalah cara pertama yang mungkin saja secara tiba-tiba? Dan cukup lapang dada kah kita jika memilih cara kedua? Sebagai manusia yang memiliki kontrak terbatas atas karir, harta, kepopuleran, dll, naif sekali jika kita menganggap segalanya meski kita miliki selamanya.
Ketiga, kisah kematian Khalid mengingatkan kita kembali soal kematian yang merupakan hak prerogatif Allah SWT. Kita semua punya impian mengenai cara‘mati’ kita nanti. Semua menginginkan mati di tempat terbaik dengan cara terbaik. Tapi manusia sekelas Khalid saja, sang pembela islam yang menelurkan banyak prestasi berupa kemenangan-kemenangan islam, tidak bisa mengelak terhadap takdir kematiaannya di tempat tidur. Meski sebagai ksatria yang banyak menghabiskan waktunya di medan perang, ia begitu merindukan mati sebagai syahid di tengah-tengah peperangan.
Keempat, saya berpikir, jangan-jangan kemenangan-kemenangan Khalid yang ia dapatkan di medan perang dan kepopulerannya merupakan ujian dari Allah SWT. Dan dengan kelapangannya dan kepatuhannya menerima keputusan Khalifah atas pemecatannya, sampai di akhir hayatnya, Khalid telah lulus ujian. Sudahkah kita bertanya pada diri sendiri, jangan-jangan kemenangan-kemenangan yang kita raih di dunia ini juga merupakan ujian? Semoga kelak kita semua lulus dalam ujian berbalut ‘kemenangan-kemenangan’. Karena mengenali ujian dalam bentuk kemenangan lebih sulit ketimbang mengenali ujian dalam bentuk kekalahan.
                                
Allahu ‘alam bishawwab.


Depok, 17 Januari 2016
-diazsetia

(baca juga artikel saya tentang pensil dan ide: Ide dan Kreativitas dalam Lintasan Zaman)

Artikel lainnya:

2 komentar

  1. Nice share, keren nih tulisan Yaz! lanjtkan hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah lama nih gak nulis om.. sibuk nyiapin pernikahan.. pernikahan orang tapi. hahahahhiksss

      Hapus

Subscribe