Chairil Muda, Ikon Kemerdekaan Jiwa

Agustus 17, 2016


"Sekali berarti, sudah itu mati" kata Chairil dalam puisi Diponegoro. Kalau saja Chairil masih hidup dan menyaksikan keabadiannya, mungkin ia akan merevisi salah satu bait tersebut menjadi "Sekali berarti, sudah itu abadi."

Chairil masih jadi ikon pembaruan sastra Indonesia, meski sudah puluhan tahun setelah hari kematiannya, 28 April, yang sempat digaungkan sebagai hari sastra menuai banyak penolakan. Puisi-puisi Chairil bukanlah diyakini sebagai masa lampau, melainkan sebagai masa depan bagi para pencipta yang bermimpi dapat menembus masanya seperti yang Chairil lakukan. Chairil dikenal bukan saja lewat karya-karya bernada heroik, romantik, pesimistis, dan liar, Chairil dikenal sebagai penggambaran utuh dari sosok seniman. Bohemian, kekurangan uang, kurang tidur, penyakitan, tidak memiliki pekerjaan tetap menggenapi stereotip seorang penyair pada masa itu.

Karya-karya Chairil yang terlempar jauh dari jamannya, mampu memangkas batas geografis dan liar menggoda puluhan sastrawan untuk mengulasnya. Chairil sudah bukan lagi sekali berarti, sudah itu mati. Tapi ia melampaui ekspektasi dirinya sendiri, sekali berarti, sudah itu abadi. Kekekalan nama Chairil yang mati muda di usia yang belum genap 27 tahun, barangkali menjadi bukti bahwa kitalah generasi yang susah move on. Generasi yang sukar mencipta, betah menjadi ekor. Generasi yang terlalu aktif dalam mengkultuskan nama tokoh-tokoh besar, sampai lupa percaya diri. Kenyataan hari ini, puisi-puisi tak lebih berharga daripadi quote galau selebgram atau kultwit nyinyir selebtwit. Secara konteks, karya Chairil sudah tidak relevan dengan zaman bukan? Aan Mansyur menjadi nama penyair yang paling mutakhir muncul di telinga khalayak karena puisi-puisi indivudualisnya, bukan karena puisi-puisi perjuangan.

Saya mengagumi Chairil yang telah berhasil membuktikan mantra "aku ingin hidup seribu tahun lagi" dengan hidup di buku-buku ajaran dan masih saja dikenal di generasi-generasi setelahnya. Saya pun menaruh hormat kepada sosok ini, karena kepercayaannya terhadap diri sendiri. Ialah salah satu yang merdeka dalam menentukan jalan hidupnya. Siapa yang pernah mendatangi ayah dari gadis yang dicintainya hanya dengan membawa setumpuk kertas-kertas puisi? Kepercayaan Chairil terhadap puisi-puisinya bahkan membuatnya berani melamar gadis dengan modal.. puisi! Sangat utopis kemungkinan si Bapak gadis itu menerima lamaran Chairil. Dan, benar, Chairil memang ditolak. Namun penolakan-penolakan orang-orang terhadap mimpinya itu tak banyak mempengaruhi tekad Chairil.  Penyair yang tak sampai memiliki 100 karya itu tetap setia terhadap apa yang ia yakini benar: hidup dengan hanya mengandalkan puisi! Padahal teman-teman penyairnya yang lain sudah hidup layak dengan selingkuh menjadi jurnalis surat kabar. Chairil muda masih setia dengan kedua tangan memegang buku-buku puisi sebagai referensi karyanya, dengan mata merah, dengan pipi tirus, badan kurus, kurang makan, kurang tidur.

Hidup melajang dengan kesetiaan dan idealisme terhadap mimpi dan prinsip barangkali menjadi nilai yang nyaris sempurna. Tetapi hidup berkeluarga sambil teguh mempertahankan idealisme barangkali adalah sikap yang mendekati egois. Perceraiannya dengan Hapsah Wiriaredja di usia pernikahan yang amat muda adalah hal yang patut disayangkan. Apalagi ada desas-desus yang mengatakan bahwa perceraian mereka dipicu oleh ketidaksamaan prinsip.
Chairil yang masih bohemian dengan karakter khas seniman lainnya yang sulit diterima Hapsah sebagai istri yang realistis -bahwa hidup butuh makan, bukan puisi. Sampai pada perceraiannya, puisi-puisi Chairil belum dibukukan dan dijual komersil, penghasilannya hanya dari honor puisi yang terbit di surat kabar atau majalah. Konon di ujung pernikahannya Chairil sudah berusaha menyakinkan Hapsah bahwa sebentar lagi buku puisinya akan terbit, dan dengan begitu mereka bisa hidup layak. Namun lagi-lagi Chairil menjadi satu-satunya orang yang percaya terhadap mimpinya sendiri. Bahkan demi mempercayai mimpinya ia harus berpisah dengan istri dan anak semata wayangnya, Eva kecil, yang masih berusia satu tahun.

Saya menarik sebuah kesimpulan bahwa betapa mahalnya harga rasa percaya terhadap mimpi kita sendiri. Kalau saja Hapsah mau memberi tenggat waktu sedikit saja kepada Chairil untuk membuktikan kepercayaanya itu, mungkin perceraian meraka tidak akan terjadi. Karena selang beberapa waktu saja dari perceraian dan kematian Chairil, buku kumpulan puisi pertamanya sungguhan terbit. Bahkan dicetak puluhan kali sampai hari ini. Chairil sudah abadi dalam buku-buku puisinya. Bagi saya Chairil bukan sekedar ikon sastra, ia adalah ikon kemerdekaan terhadap jiwa. Sebelumnya, saya pernah merefleksikan buku karya Mochtar Lubis yang begitu membalik perspektif saya terhadap kebebasan dalam tulisan Jalan Tak Ada Ujung: Mempertanyakan Arti Kebebasan. Jiwa Chairil yang begitu bebas untuk percaya sepenuhnya terhadap apa yang ia yakini benar, terhadap mimpinya. Meski hanya dirinya sendiri yang pecaya, di tengah kesinisan orang-orang terhadap mimpinya. Kemerdekaan jiwa ini akhirnya membuat alam bawah sadar Chairil untuk terus loyal terhadap puisi. Penyematan sebagai Bapak Puisi Nasional rasanya tidak berlebihan bagi Chairil. Meski pengkultusan dirinya sebagai masterpiece penyair memang sudah tidak lagi relevan dengan zaman. Tapi untuk sekedar mengapresiasi Chairil sebagai ikon kemerdekaan jiwa yang begitu setia percaya terhadap pilihan hidupnya, rasanya masih relevan.

Pengalaman pribadi akhirnya membuat saya berkesimpulan bahwa saat-saat yang paling menyedihkan itu bukan ketika kita kehilangan rasa percaya diri, tetapi saat kita begitu percaya terhadap mimpi-mimpi kita namun tak ada satupun orang lagi yang percaya. Sekalipun orang-orang terdekat. Persis seperti yang menimpa Chairil, bahkan Hapsah pun, seorang yang ia sanding untuk hidup bersama, menyangsikan mimpinya. Saya pikir ini adalah ujian yang paling berat. Bagaimana tetap setia terhadap mimpi-mimpi yang kita percaya, di saat tidak ada satu pun yang bersedia untuk percaya. Mungkin tidak akan pernah ada pesawat buatan dalam negeri jika kala itu Bu Ainun menyangsikan mimpi-mimpi Pak Habibie.

Kadang-kadang hidup sesederhana memilih untuk percaya.. atau tinggalkan?
Sulit memang untuk memilih percaya di saat satu persatu orang-orang terdekatmu meninggalkanmu karena kesangsiannya terhadap mimpi-mimpi yang kamu yakini sebentar lagi terwujud.

Chairil, terima kasih untuk kisah hidup yang menjadi inspirasi bagi saya, bahwa sekali memutuskan untuk percaya terhadap mimpi, kita harus setia selamanya. Atau tinggalkan sama sekali.

Semoga bukan sebuah dosa bagi saya yang sedikit memelesetkan salah satu quote keren Bung Karno, menjadi:
"Bangsa Manusia yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa individu, tidak dapat berdiri sebagai bangsa manusia yang merdeka."

Bagaimana mungkin kita bicara jauh soal kemerdekaan, padahal jiwa kita sendiri tidak merdeka?



Depok,
17 Agustus 2016
-diaz yang sedang berada dalam jurang antara kepercayaan dan ketidakpercayaan


(baca juga artikel saya tentang pensil dan ide: Ide dan Kreativitas dalam Lintasan Zaman)

Artikel lainnya:

2 komentar

  1. review yang keren yaz, saya gak banyak tahu tentang Chairil Anwar selain penulis sajak Karawang - Bekasi. Yah mungkin karena saya lebih suka syair-syair Aan Mansyur :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Om, banyak orang yang ngira Chairil itu keren dan perlente banyak duit kek seniman2 pada jamannya. padahal sisi lain kehidupannya penuh penolakan.

      Hapus

Subscribe