Bukan Curhat

Kopi Tubruk yang Sudah Tidak Relevan dengan Zaman

Agustus 27, 2016

Tadinya mau dikasih judul “Tantangan Wanita di Zaman Milenea.” Tapi itu terlalu serius, saya belum bisa diajak serius, hahahha. Seumur hidup, saya baru sadar semalam kalau ada level diatas Tomboy, yaitu “Jiplak Cowok.” Dan nampaknya sebagian orang menganggap gaya saya itu ya jiplak cowok.Beberapa hal yang memang sering orang kritisi tentang gaya saya. Bukan seorang dua orang. Bukan saya gak pernah mencoba untuk bertransformasi, tapi akhirnya semesta membawa saya kembali ke komponen-komponen yang dianggap jiplak cowok itu. Ini bukan semacam pembelaan, hanya sedikit pencitraan cerita tentang ikhtiar saya mengikuti tantangan zaman.

1.    Sendal Gunung Holic

Setelah puluhan tahun menyimpan pertanyaan kenapa wanita suka pakai sepatu tinggi meski sangat menyiksa, beberapa tahun belakangan saya akhirnya tau fungsi dari sepatu tinggi tersebut. Kaitannya dengan topografi Indonesia dan sistem drainase yang buruk,  mengakibatkan banyaknya genangan (sekaligus mungkin kenangan) disaat hujan, dari situlah ilham perihal fungsi high-heels atau wedges muncul di benak saya. Apalagi kalau bukan: untuk menghindari becekan. Asyik ternyata berjalan diantara kenangan, eh genangan, sambil lenggak lenggok pakai heels ataupun wedges. Dengan tinggi heels 3-4 cm sudah bisa menganggulangi resiko terpapar becekan level ringan. Musim hujan menjadi alasan satu-satunya saya untuk pakai heels. Tapi itu dulu, saya memang sempat mengoleksi beberapa sepatu tinggi (yang gak tinggi-tinggi amat juga sebenernya), dan saya pakai di musim becek. Setelah menuai banyak protes dari teman-teman saya yang sedang berjalan bersisian dengan saya, saya pun sadar, meski heels/wedges sangat bermanfaat di musim hujan, namun ada perasaan teman-teman sepermainan saya yang perlu saya jaga.
“Yas, kok lo nambah tinggi sih?”
“Yas, ini perasaan gw aja atau emang elu sekarang lebih tinggi. Atau gwnya yang makin pendek?”
“Ya ampun yas, sekarang kok lo jadi pakai wedges? Yah makin keliatan pendek aja deh gw.”
“Lu tuh udah tinggi, Yas. Udah gak usah pake sepatu tinggi lagi. Nih gw baru deh pake heels biar keliatan lebih tinggi.”
Protes-protes semacam itulah yang terlontar untuk saya dengan heels atau wedges. Padahal kalau saja mereka tau bahwa bagi saya tidak ada hubungan manis antara tinggi badan dan penggunaan heels/wedges. Kalau saja mereka tau bahwa intensitas saya menggunakan heels/wedges itu berbanding lurus dengan intensitas air hujan. Sebenarnya dari sisi tinggi badan saya juga gak bisa dibilang tinggi-tinggi amat. Tinggi standar banget lah, 165cm. Teman-teman saya itu menganggap saya tinggi karena mereka bukan model. Andai saya disandingkan dan berjalan bersisian dengan model-model catwalk, saya haqqul yakin bahwa saya yang akan keliatan paling pendek.
Semenjak semakin sering menuai protes-protes tersebut, akhirnya saya memuseumkan sepatu-sepatu tinggi saya (yang jumlahnya mungkin hanya 2 atau 3). Dan ketok palu untuk tidak pernah beli sepatu tinggi lagi. Biarlah, untuk urusan santai saya pun kembali kepada sesuatu yang membuat saya nyaman sejak usia remaja: Sendal Gunung. Sedangkan untuk urusan formal atau semi formal saya kembali kepada flat shoes. Kalau masih ada yang heran kenapa saya kemana-mana sering pakai sendal gunung yang tidak menunjukan identitas kewanitaan, silahkan coba dulu pergi pakai sendal gunung. Percayalah, tidak ada yang bisa memberimu kenyamanan melebihi kenyamanan yang diberikan oleh sendal gunung. Dan sendal gunung tidak akan melukaimu, seperti luka yang ditorehkan oleh heels atau wedges barumu.

2.    Tas Gemblok

Meski sekarang saya kemana-mana nyaris selalu pakai tas gemblok model cowok, tapi bukan berarti saya gak pernah punya tas ala-ala wanita. Saya pun pernah mentransformasi diri untuk setia pada tas selempang atau tas pundak yang wanita banget. Dan apa yang terjadi? Pertama, pundak saya jadi sering encok, diikuti dengan gejala cepat lelah. Kemudian berimbas pada masalah finansial: sering jebolnya tas ala-ala wanita, membuat saya langganan beli tas. Jebol, beli lagi. Jebol, beli lagi. Lama-lama kok jadi gak efektif, efisien, dan ramah lingkungan? Niat hati mau bertranformasi jadi wanita ala-ala, tapi malah menyiksa punggung dan kantong. Tipikal saya memang senang membawa banyak barang kalau keman-mana. Isi tas saya gak cuma tissue, make up, dompet, yang seharusnya muat di tas ala-ala wanita. Tapi saya hobi bawa laptop kemana-mana, buku catatan juga, dan buku bacaan. Kadang-kadang bawa baju ganti buat jaga-jaga kalau kemaleman pulang dan harus nginap. Kadang-kadang bawa sleeping bag, buat jaga-jaga tempat nginap yang saya tumpangi itu gak ada kasur lebih. Dengan pertimbanga bahwa saya ini harus memiliki mobilitas tinggi, aktif, enerjik, gak bisa bawa kendaraan, kemana-mana naik angkutan umum, maka minimal tas gemblok model cowok yang paling cocok sama saya. Maksimal daypack kapasitas 45L. Saya pun pernah kemana-mana bawa daypack 45L, sebelum akhirnya itu daypack jebol juga. Hahahha. Kebayang kan gimana rempongnya saat saya mencoba bertransformasi pakai tas ala-ala wanita? Laptop saya paksain masuk ke tas bahu, dan printilan-printilan lainnya yang gak muat saya masukin ke goodiebag, kadang sampai 2-3 tentengan tambahan. Sedihnya, saya ini ceroboh. Jadi bukan sekali tuh tas tentengan saya ketinggalan di tempat makan. Hahahha. Jadi, sudah mah bikin encok pundak,, cepet jebol, ditambah sering ketinggalan tas tentengan, gak praktis dan dinamis pula, saya rasa gak perlu ada alasan tambahan lagi untuk segera meninggalkan tas ala-ala wanita.

3.    Moody

Kalau boleh membela diri, sebenarnya saya bukan tidak peduli pada penampilan. Tapi untuk beranjak agar saya peduli pada penampilan itu butuh mood extra. Kalau lagi mood, ya saya jadi super peduli sama penampilan. Mau makan bakso aja, kalau moodnya dapet mah bisa dandan kayak orang mau kondangan. Badak, lipstik, eyeliner, eyeshadow. Rapih jali. Tapi sebaliknya, biar pun kondangan, kalau lagi gak mood rapih, ya jadinya cuma cuci muka pake H2O. Hahahah. Pernah liat Asmirandah waktu acting jadi wanita berjilbab? Ya, kurang lebih kayak gitu deh saya kalau rapih mah. Saya mikir sih tampilan saya kalau cakep-cakep banget kayak Asmirandah, apa nanti gak bahaya karena banyak yang naksir? Kepada hadirin dipersilahkan berdiri, dan muntah! Hahahah. Ya,biarin lah, jelek-jelek gini kan saya ciptaan Tuhan, daripada situ cakep karena editan :p

Sebeneranya gaya penampilan saya itu terinspirasi dari bukunya Dee. Filosofi Kopi. Inget tentang kopi tubruk?  Pas baca filosofi kopi tubruk, kok seideologi banget sama saya. Kopi yang selalu acak-acakan, gak pernah peduli sama penampilannya. Sederhana, tapi memikat. Dan perlu kenal lebih dalam untuk terpukau sama lugunya pesona kopi tubruk. Tapi apadaya, mungkin saya salah kaprah. Maksud hati biar keliatan sederhana. Boro-boro memikat, malah kayak jiplak cowok. Menjadi kopi tubruk mungkin sudah tidak relevan dengan zaman. Saya mungkin harus bertransformasi menjadi kopi Vietnam Drip, yang meski pun sederhana tapi gak acak-acakan banget. Atau kopi aeropress yang kalem. Atau mungkin kopi overpour V60 yang meski agak ribet, tapi bening.
Semoga tulisan ini menemukan penikmatnya, yaitu tak lain tak bukan adalah wanita-wanita yang juga dianggap jiplak cowok. Semoga kita bisa saling menguatkan. Tuhan bersama orang-orang malang. Malang karena sulit bertransformasi mengikuti kerelevanan jaman milenea.
Selamat menjajal menjadi kopi Vietnam Drip, Aeropress, ataupun overpour V60, Diaz!


-ditulis sambil menunggu
Mesjid Raya Bogor, 27 Agustus 2016

(baca juga artikel saya tentang pensil dan ide: Ide dan Kreativitas dalam Lintasan Zaman)

Artikel Lainnya

2 komentar

  1. Yang nomor 1 dan 2 sudah move on, tinggal yang nomor 3 nih :D
    kapan ngopi? ;p

    BalasHapus
    Balasan
    1. tar ribet kalo banyak yang naksir bang hahahahah. yuk nubruk :)

      Hapus