Dan, Betapa Semakin Tidak Menariknya Dunia Hari Ini

Oktober 10, 2016


Hari-hari belakangan, jagad timeline medsos saya lagi tegang karna discuss people. Ajaibnya, gak cuma netizen abal-abal yang merasa wajib berkomentar, merasa wajib menentukan sikap, mendukung atau menghujat. Pro atau kontra. Saya pun dibuat takjub sama tanggapan-tanggapan para cendikia, yang malah menambah muatan isu tersebut menjadi isu nasional. Antara bingung tapi miris. Demi isu tersebut, bahkan di kelas para cendikia pun masih discuss people? Yang semestinya di level mereka sudah jauh melampaui level discuss people. Dan, ini menambah bukti betapa semakin tidak menariknya dunia hari ini.

Loh yaz, berarti elu liberal banget dong? Gak ada ghirahnya sama sekali pas ngeliat Islam dihina?

Pembaca yang budiman...

Di dunia yang kepalang kompleks ini, sulit sekali niat tunggal kita yang terpenuhi kita tanpa berimbas pada apapun. Semua saling terhubung dan ada efeknya. Marah, itu naluriah. Tapi ketika kemarahan saya justru akan menguntungkan pihak-pihak yang sedang berkepentingan, yasudah. Cukuplah marah saya sampai di tenggorokan. Menjelaskan betapa indahnya gunung kepada orang buta itu gak akan nyambung, kayak nyeritain syahdunya nada-nada sebuah lagu ke orang yang tuli. Secapek apapun sengotot apapun, tapi maksudnya gak akan sampai. Apalagi ini harus menjelaskan kepada orang-orang yang gak mengerti tentang betapa terlampau suci dan sakralnya ayat-ayat kitab suci untuk jadi bahan celetukan, -terlepas dari apapun tafsirnya-. Orang-orang yang gak pernah mengimani betapa menggigilnya Nabi Muhammad waktu peristiwa turunnya wahyu pertama, sampai 3x meminta Khadijah r.a. untuk menyelimutinya. Sudah tidak akan relevan, selain berimbas pada naiknya rating people yang sedang jadi bahan discuss. Sudahlah. Betapa sudah tidak menarik, dunia ini sudah begitu basi oleh kepentingan-kepentingan pribadi, oknum, kelompok, sudah bukan kepentingan universal lagi.

Pembaca yang budiman. Jika ada orang yang berperan sebagai dalang yang memang sengaja ingin adanya perpecahan karna isu ini, maka hari ini dia berhasil. Lihat akhirnya malah orang-orang Islam sendiri yang terpecah, dua kubu yang bersebrangan pendapat saling menyerang. Cuma karna discuss peoplePeople  who takes benefit at event from your convenience creativeless ideas. Teradu domba, dan sedihnya, gak sadar.

Eleanor Roosevelt yang hidup ratusan tahun lalu dengan briliantnya menyimpulkan konsep ini: 

"Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds discuss people."

Jadi daripada gontok-gontokan sama saudara sendiri karena ngeributin people  who takes benefit at event from your convenience creativeless ideas, mari membicarakan ide-ide saja untuk membuat dunia ini kembali menarik.

Eleanor Roosevelt? First Lady Amerika? Antek mbahyudi dong? Terus harus percaya sama kata-katanya orang Amerika?

Setidaknya sih, ide-ide Eleanor Roosevelt untuk kemajuan wanita, penegakan HAM dan perdamaian dunia masih jadi rujukan dan terus menginspirasi hingga hari ini. Lagipula, Eleanor Roosevelt gak pernah berantem di medsos sama saudaranya sendiri cuma karena discuss people  who takes benefit at event from her convenience creativeless ideas.




Discuss people is so yesterday...

Depok, 10 Oktober 2016
(saya menulis ini di zaman dengan fenomena persahabatan dan hubungan pertemanan dinilai dari pandangam politik dan ideologi. Di zaman dengan fenomena berbeda pendapat artinya perang, meskipun seagama, lebih-lebih kalau berbeda agama.)


(baca juga artikel saya tentang pensil dan ide: Ide dan Kreativitas dalam Lintasan Zaman)

Artikel lainnya:

0 komentar

Subscribe