Refleksi

Membaca itu Rumit, Percayalah...

Oktober 09, 2016



Hasil gambar untuk membaca blogspot

Suatu kali kedekatakan saya dengan Tuhan pernah dipertanyakan.

“Yaz, lu gak deket sama Tuhan yak?”

Antara bingung dan kayak disamber geledek. Bagaimana mungkin seseorang teman yang cuma sekedar kenal bisa menyimpulkan gitu hanya karena...

“Hah? Kenapa bisa bilang gitu... ?” 

“Iya, biasanya orang yang gak deket sama Tuhan itu suka baca-baca buku filsafat.” Sambil menunjuk buku yang saya baca, beberapa detik sebelumnya memang ia berbasa-basi menanyakan buku apa yang sedang saya baca. Dan karena saya lagi malas menjelaskan isi buku itu, memang saya jawab singkat ‘kayak semacam filsafat gitu deh.’

“Ohiya? Gitu, ya? Oh, kalau emang gw  gak deket sama Tuhan, itu bukan diliat dari buku yang gw baca sih kayaknya.”

Seketika itu pun buku yang tadinya lagi nikmat-nikmatnya saya baca bagai terkontaminasi ceceran muntah. Bikin gak nafsu. Langsung saya tutup buku yang sejak tadi saya baca sambil ngumpet-ngumpet, dan kembali menyimak dosen.

Kedekatan saya sama Tuhan menjadi ranah yang sangat personal. Sangat. Jika pun iya, saya gak dekat sama Tuhan rasanya kok gak adil kalau penilaiannya dari buku yang saya baca.Sebagai wanita yang secara naluriah memiliki potensi baper yang lebih tinggi, adalah wajar jika kebaperan tersebut saya bawa-bawa ke rumah. Setelah curhat dan dapat pencerahan dari teman yang cukup senior (senior disini adalah bentuk euphemisme dari tua), kebaperan itu pun perlahan luruh. Sebuah konstruksi berpikir jadi melengkapi kepala saya, yang awalnya hanya berupa puing-puing gagasan berlumur emosi.

Jadi begini, Malih....

Konsepnya, bacaan itu makanan bagi otak, bagi jiwa juga. Terus kalau saya makan, emang makanan yang masuk ke mulut semuanya 100% dicerna tubuh? Ya, enggaklah. Kalau diinget-inget saya punya dan saya baca buku-buku bergenre kultus terhadap Ali bin Abi Thalib r.a, dan buku-buku warisan pemuja Orba. Apa semerta-merta membuat saya putar perspektif saya? Mendadak percaya 100% sama isi bukunya? Ya, enggaklah. Buku itu makanan, gak semua makanan harus terserap sempurna. Persis proses pencernaan di dalam tubuh, ada enzim yang fungsinya memilah mana informasi yang boleh masuk, dan mana informasi yang cuma lewat aja. Enzim disini mungkin adalah nalar kritis. Membaca itu bukan proses sederhana. Baca gitu aja lalu percaya, dan membuat saya mendadak pinter dan menguasai tema yang baru saja saya baca? Apa interpretasi setiap orang setelah membaca buku yang sama mesti melulu sama? Lagi-lagi, enggak. Bebas. Sesuai kapasitas dan kapabilitas enzim pencernaan masing-masing. Darimana orang tahu kalau bacaan bertema filsafat hanya untuk orang yang jauh dari Tuhan? Generalisir yang kelewatan. Padahal penulis buku yang lagi saya baca itu doyan ngaji dan udah hafal al-Quran dari kecil.

Toh, kecenderungan minat setiap orang terhadap jenis buku juga beda-beda. Bacaan-bacaan saya selama ini memang gak berstruktur, gak mengerucutkan ke satu genre terntentu. Cenderung barbar, baca yang ada dan yang pengen dibaca. Buku itu jendela. Tempat melihat seluas-luasnya dunia diluar diri dan lingkungan kita yang terbatas. Saya mungkin masih pada tahap membuka jendela seluas-luasnya. Dan masih ketinggalan satu langkah ketimbang pembaca yang sudah memilih satu tema bacaan sebagai fokusnya.

Jadi, merupakan sebuah kesempitan pikiran yang sangat-sangat ketat jika menilai saya dari apa yang saya baca. Pada akhirnya saya sadar, proses membaca itu lebih rumit daripada menulis. Semua orang bisa menulis apa aja yang dia mau, mau fakta mau hoax. Gampang banget menulis kalau memang niatnya cuma sekedar menulis. Tinggal balik lagi ke hati nurani sendiri (kalau punya).

Tapi membaca? Membaca itu mikir banget. Mikir maksud tulisannya apa? Mikir maksud penulisnya apa? Mikir tulisannya valid apa enggak? Mikir bagian mana dari tulisan itu yang masih relevan dengan zaman? Mikir dan cari tau latar belakang penulisanya. Mikir beragam kontelasi saat buku itu ditulis. Mikir sikap saya harus gimana setelah baca? Mikirin intepretasi dan refleksi (bukan pijat). Bahkan mikirin intepretasi orang-orang terhadap buku yang sama. Dan bukan sekali dua kali juga otak saya keseleo mikirnya.

Membaca itu rumit, percayalah.... Hampir sama rumitnya dengan menebak pikiran kamu. Iya, kamu.

Hari-hari belakangan saya melihat betapa banyak orang yang membaca. Tapi melupakan proses utuh dari membaca itu sendiri. Memangnya apaan sih proses utuh membaca? Ya.. mikir!


Depok, 9 Oktober 2016
catatan kaki: sebenernya pengen nulis serius tentang tema ini, tapi apa daya karena lama gak nulis, ya anggaplah tulisan ini sebagai pemanasan. Mudah-mudahan versi seriusnya cepat selesai digarap, hahahha.

(baca juga artikel saya tentang pensil dan ide: Ide dan Kreativitas dalam Lintasan Zaman)

Artikel Lainnya

2 komentar

  1. Yah.... membaca saja sulit.... eh rumit, apa iya lebih mudah menulis kak?

    BalasHapus
  2. Dari kacamata gue, membaca itu rumit. Bila ada yang lebih rumit lagi namanya menulis/mengetik :)

    BalasHapus