Pesan October Pink: Kenali, Sadari, Peduli

Oktober 12, 2016

Breast Cancer Awareness Month
Breast cancer (kanker payudara) sudah menjadi problematika global. Merujuk pada The International Agency for Research on Cancer (IARC) yang merilis data GLOBOCAN 2008, ada sekitar 1.38 juta kasus baru dan 458.000 kematian akibat kanker payudara setiap tahunnya. Khusus di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, kasusnya kian meningkat. Di Indonesia, kanker payudara menduduki peringkat pertama terbanyak setelah kanker rahim, dan pada umumnya ditemukan sudah pada stadium lanjut. Dunia international memperingati bulan Oktober sebagai "Breast Cancer Awareness Month". Sepanjang bulan ini, agenda-agenda yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dini dan kepedulian terhadap survivor marak diselenggarakan oleh berbagai yayasan, komunitas, maupun sebagai bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan. Penggunaan pita pink sebagai lambang kanker payudara dimulai pada tahun 1991 ketika Yayasan Susah G. Komen membagi-bagikan pita pink kepada survivor kanker payudara. Tahun berikutnya, pita pink diadopsi sebagai simbol resmi dari "Breast Cancer Awareness Month".  MakaOctober Pink menjadi sebuah parafrase tentang upaya pengenalan, penyadaran, dan kepedulian terhadap kanker payudara.

Penyebab Kanker Payudara
Kanker payudara umumnya menyerang wanita, namun tidak menutup kemungkinan terdeteksi juga pada lelaki.  Menurut hasil riset dari American Cancer Society (ACS),kemungkinan pria terkena kanker payudara adalah 1 banding 1000.
Beberapa penyebab yang dapat meningkatkan resiko kanker payudara diantaranya: haid terlalu muda atau menopause diatas umur 50 tahun, tidak menikah, tidak menyusui, melahirkan anak petama diatas usia 35 tahun, dan obesitas. Pola hidup juga mempengaruhi resiko terkena kanker payudara seperti pola makan dengan konsumsi lemak berlebihan dan konsumsi alkohol berlebihan. Usia diatas 30 tahun lebih rentan terdiagnosis kanker payudara, meski sekarang sudah  ditemukan kasus pada usia dibawah 20 tahun. Fakta tentang kanker payudara agak bersinggungan dengan ilmu kebidanan, pasalnya terapi hormonal dalam jangka panjang (biasanya untuk meningkatkan kesuburan) justru akan mempertinggi resiko kanker payudara. Begitu pun pula bila mengkonsumsi pil KB, lebih beresiko terkena kanker payudara, kali ini fakta tersebut bertentangan dengan program dari BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional). Pria yang menderita sindrom Klinefelter memiliki kemungkinan 15 hingga 50 persen lebih tinggi untuk terkena kanker payudara. Sindrom Klinefelter adalah kelainan genetik pada lelaki yang diakibatkan oleh kelebihan kromosom X. Riwayat dalam keluarga ada yang menderita kanker payudara juga menjadi penyebab lainnya. Meski penurunannya tidak melulu secara langsung, ibu ke anak misalkan, tetapi seringkali terjadi penurunan lompat ke generasi selanjutnya, ibu ke cucu atau ke generasi selanjutnya.
Tidak menyusui sebagai salah satu faktor resiko kanker payudara semestinya menjadi catatan tersendiri bagi ibu pekerja kantoran. Dalam riset selama 8 tahun, sekelompok peneliti dari University of North Carolina-Chapel Hill menyimpulkan menyusui secara langsung (breast feeding, bukan breast pumping) dapat mengurangi resiko kanker payudara (meski dampaknya tidak mencolok pada masa pre-menopause). Namun ketika hasil riset dibatasi pada wanita dengan riwayat kanker payudara pada keluarganya, penurunan resikonya cukup signifikan, yaitu menurun hingga 59%.

Penyembuhan & Dampaknya
Kanker payudara memiliki peluang untuk sembuh sebanyak 90% dengan catatan bila terdeteksi dini.
Upaya penyembuhan dilakukan dengan cara operasi pengangkatan sel kanker. Jika diperlukan penanganan dilanjutkan dengan kemoterapi dan radiasi. Kemoterapi pasca operasi dilakukan bisa sampai puluhan kali, belum lagi survivor harus mengkonsumsi obat-obatan dalam jangka waktu tertentu pada tahap pemulihan. Biaya yang dikeluarkan untuk penyembuhan kanker payudara (baik mulai tindakan medis maupun obat-obatan), bisa menembus angka lebih dari 1 milyar rupiah.
Meski saat ini Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan melalui Peraturan BPJS Kesehatan No. 1 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan yang menanggung biaya skrining (deteksi dini) untuk kanker serviks dan kanker payudara. Bahkan BPJS Kesehatan menanggung semua biaya kemoterapi. Namun saat ini pelayanan BPJS Kesehatan belum merata. Masih ada rumah sakit terutama tipe C yang belum mau menanggung biaya kemoterapi. Pada tahap pra maupun pasca operasi, jika survivor memakai fasilitas BPJS maka survivor ditangani dengan cara rawat jalan. Setiap selesai pemeriksaan,survivor harus kembali pulang. Ini kadang yang menjadi pertimbangan survivor dengan kemampuan ekonomi terbatas untuk rutin melakukan upaya penyembuhan. Mengingat jauhnya jarak antara rumah dan rumah sakit, tentu akan ada ongkos yang harus dikeluarkan setiap kali kontrol. Perlu menjadi catatan bahwa tidak semua jenis obat pemulihan kanker payudara ditanggung oleh BPJS.
Terdapat dampak yang tidak main-main pasca terapi penyembuhan kanker payudara, terutama bagi wanita. Bukan hanya rambut rontok akibat kemoterapi, tapi juga dampak seperti lymphoedema, Osteoporosis, dan mempengaruhi kesuburan dan kehamilanLymphoedema adalah pembengkakan yang terdapat pada lengan, tangan atau pada area payudara dan menyusahkan penderita kanker. Lymphoedema biasanya terjadi setelah melakukan radioterapi. Dan konsekuensi yang terparah adalah menopause symptoms. Apa artinya?Terapi kanker payudara dapat mempercepat menopause khususnya pada wanita produktif/muda. Belum lagi efek kelelahan dan sulit tidur.Kelelahan setelah melakukan terapi/pengobatan kanker payudara bukan kelelahan tubuh biasa.
Jika seorang wanita hamil terdiagnosa kanker payudara, maka sang ayah harus memilih antara akan menyembuhkan ibu atau menyelamatkan janin. Bagai simalakama. Penyembuhan kanker payudara pada wanita hamil akan membahayakan janin ditubuhnya. Begitu sudah memilih akan menyembuhkan survivor, maka janinnya harus segera diluruhkan. Jika memilih janin, maka survivor tidak akan diberikan penanganan yang massif. Dan sel-sel kanker payudara akan terus menggerogoti tubuhnya. Penanganan medis untuk survivor yang sedang hamil memang harus betul-betul dikonsultasikan kepada dokter sebagai bahan pertimbangan.
Seorang wanita yang belum menikah dan menjadi survivor kanker payudara, memiliki tambahan resiko psikologis dan sosial. Mengapa? Ketika memutuskan untuk menikah, maka 2 tahun setelah pengangkatan kanker, survivor tidak boleh hamil. Belum lagi peluang terkena efek menopause symptoms. Sehingga kemungkinan mendapatkan keturunan  menjadi merosot, kecil sekali. Menurut penuturan seorang dokter sebuah rumah sakit swasta di Jakarta, banyak lelaki yang merupakan pasangan dari survivor -yang belum menikah- akhirnya memilih mundur. Atas pertimbangan resiko-resiko tersebut, lelaki cenderung enggan menikahi survivor kanker payudara. Ini alasan yang sangat rasional, meski pernikahan terkadang tidak melulu membutuhkan rasionalitas. Tak sedikit survivor muda yang belum menikah yang akhirnya memilih mengabdi pada gereja, menjadi biarawati. Memutuskan untuk tidak menikah sama sekali.

SADARI sebagai Deteksi Dini
Beberapa test tanpa bedah untuk mendeteksi awal kanker payudara diantaranya mammografi, ultrasound (USG), dan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Sedangkan biopsy (mengambil jaringan tubuh untuk diperiksa) merupakan test lanjutan.Mammografi disarankan untuk usia diatas 40 tahun, sebab mammografi dapat mempengaruhi bentuk payudara.
SADARI, atau pemerikSAan PayuDAra sendiRI, merupakan suatu metode deteksi dini yang paling mudah dilakukan. Lakukan SADARI secara rutin setiap satu bulan sekali, idealnya 7 – 10 hari setelah menstruasi. Caranya dengan memeriksa payudara di depan kaca, memeriksa payudara dalam posisi berbaring, dan melakukan pemijatan untuk mendeteksi adanya kelainan fisik pada payudara. Silahkan cari langkah-langkahnya yang sudah banyak diunggah di internet. Jika menemukan kondisi tidak biasa secara fisik pada payudara, misalnya benjolan atau kulit parut seperti jeruk, segera lakukan pemeriksaan secara medis. Kanker payudara pada pria semestinya bisa lebih mudah dikenali secara fisik, karena tidak terdapat kelenjar lemak pada payudara pria. Semakin dini kanker payudara diketahui, semakin cepat pula upaya penyembuhan dapat dilakukan. Dengan begitu, maka akan semakin tinggi peluang pulihnya.
Ada sebuah satir eufimisme sebagai pesan awareness kepada wanita, “Perhatikan payudaramu sendiri, seperti lelaki memperhatikan payudaramu.”
Mari kenali, sadari, dan peduli. Pertimbangkan penerapan pola hidup sehat sebagai upaya mencegah kanker payudara.

Jakarta, 12 Oktober 2016

(baca juga artikel saya tentang pensil dan ide: Ide dan Kreativitas dalam Lintasan Zaman)

Artikel lainnya:

0 komentar

Subscribe