Book Review: Saat Sepakbola Lebih Luas dari Lapangan Bola

November 04, 2016

Buku berwarna merah menyolok itu sebenarnya tak terencana untuk saya punyai. Dengan jumlah halamannya yang hanya berhenti di bilangan ke-258, membuat buku itu nampak seperti buku populis biasa, yang seolah renyah dan ringan dibaca. Bahkan dengan warna sebegitu menyoloknya, mungkin orang akan mengira ini adalah novel remaja. Apalagi ditambah ilustrasi cover adalah gambar sureal yang menampilkan seorang sedang menendang televisi. Visual tersebut seakan mengecoh saya untuk meyakini bahwa itu adalah buku fiksi. Padahal buku terbitan Indie Book Corner yang diberi judul Simulakra Sepakbola itu bergenre non-fiksi.

Lalu apa yang menarik dari buku tentang sepakbola bola hingga kemudian berada dalam genggaman orang yang sama sekali buta tentang sepakbola?
Semua bermula dari kenekatan saya menghadiri diskusi buku yang kebetulan tak jauh dari pusat kota tempat saya tinggal, (dan berakhir dengan membeli buku itu). Berangkat dari kekaguman saya terhadap tulisan-tulisan Zen RS di media-media daring, membawa rasa penasaran saya tiba di klimaksnya: datang sungguhan ke diskusi buku Zen. Saya tak terlalu pedulikan buku apa yang akan didiskusikan di acara itu, kepentingan saya saat itu ya ‘menonton’ Zen. Apalagi setelah sempat mencari tau sedikit tentang Simulakra Sepakbola, yang ternyata dalah kumpulan esai tentang dunia sepakbola. Saya tak lantas mengurungkan niat untuk hadir di diskusi itu, sambil berdoa semoga sedikit banyak saya mengerti apa yang sedang dibahas.
Dalam Simulakra Sepakbola, Zen membuka ceritanya tentang keintiman dia dengan sepakbola semasa kecil. Membaca esai pertama itu lantas membuat ingatan saya melesat mundur pada masa-masa saat di dekat rumah masih ada dua atau tiga lapangan sepakbola. Sekarang? Tentu saja disubtitusi oleh kavling-kavling, seolah menjadi penanda bahwa bisnis properti sudah lebih luhung dari tradisi sepakbola kampung.Doa saya terkabul, dalam diskusi yang bertempat di Kedai Ekspresi Depok, ternyata sepakbola menjadi bermilyar kali lebih luas dari lapangan sepakbola. Dari luas yang berlipatganda tersebut merupakan celah bagi saya – yang buta untuk sepakbola- untuk benar hadir dan memakmai apa yang sedang dibahas.
Buku itu terbagi menjadi empat bab: JejakDunia SimulasiKoloni Bola, dan terakhir Narasi Kaki-kaki. Masing-masing bab berisi beberapa esai. Jejak, adalah bab tentang keintiman Zen dengan sepakbola, dimulai dari masa kecil saat dia mendalami sepakbola sebagai pemain. Hingga masa dewasa –jika bukan tua-, saat dia mendalami sepakbola sebagai supporter. Sebagaimana  yang dikatakan Zen saat diskusi bukunya, “Pengalaman paling ultima sebagai penikmat sepakbola adalah saat menjadi supporter bola yang melihat langsung pertandingan di tribun.”
Dalam bab kedua, tentang Dunia Simulasi, menjadi penanda jenjang berikutnya bagi Zen terhadap sepakbola: bermain bola dengan cara menulis sepakbola. Salah satu esai disana adalah judul yang sama dengan judul buku tersebut: Simulakra Sepakbola. Dunia simulasi, mengejewantahkan intrik lain dari sepakbola, yang jujur baru saya  baca dalam buku ini. Perkawinan yang rukun antara sepakbola dan filsafat menjadi primadona dalam bab tersebut. Zen, banyak mengeluarkan dalil-dalil dari penulis sepakbola dunia, juga filsuf dunia. Dengan bobot analisa Zen yang kuat tentu saja, yang selalu menjadi seperti ciri khas tulisan-tulisannya.
Jika membaca Simulakra Sepakbola saya ibaratkan sebagai perjalanan dengan sebuah kendaraan, maka saya mengibaratkan bab pertama sebagai jalan-jalan desa, yang sejuk dan lancar. Seperti itulah proses membaca bab pertama yang saya alami. Sementara bab kedua saya ibaratkan sebagai jalan raya menuju kota, masih lancar, meski kadang harus berhenti dan menunggu giliran untuk melaju.
Dan di bab ketigalah, perjalanan yang macet karna sudah tiba di pusat kota. Saya macet, karna memang awam terhadap istilah-istilah sepakbola. Bab ketiga menawarkan esai-esai tentang yang mengoneksikan antara sejarah, filsafat, dan sepakbola. Hanya satu esai di bab dua yang saya lancar membacanya, yaitu tentang sebuah tim kesebelasan yang diibaratkan diisi oleh para bapak bangsa ini: betapa jenius! Istilah-istilah dalam sepakbola, nama-nama klub, nama-nama pemain sepakbola menjadi titik-titik kemacetan bagi saya. Dan membuat saya sejenak berhenti untuk 'menelan' perbendaharaan itu. Tentu kemacetan semacam ini takkan terjadi jika dibaca oleh seorang sepakbolamania.
Bab keempat tentang Narasi Kaki-kaki, kurang lebih berisi esai-esai tentang ‘keajaiban-keajaiban’ yang ditimbulkan oleh kaki. Disini mengandung klimaks –jika bicara sepakbola secara taktis. Sekaligus pada beberapa esai menjadi penetrasi untuk kembali ke ‘bumi’ setelah jauh bicara tentang sepakbola yang berjarak ribuan mil dari negara kita.
Kumpulan esai tersebut sebenarnya sebagian besar sudah terbit di beragam media, namun diperbarui kembali agar lebih relevan dengan masa kini. Pembaruan tersebut menjadi penting mengingat karir kepenulisan Zen sudah memasuki tahun ke-12. Beberapa esai merupakan esai baru yang belum pernah terbit. Membaca Simulakra Sepakbola artinya membaca semesta pikiran Zen yang kompleks dan dalam. Sulit memungkiri bahwa Zen adalah penulis yang benar-benar menyelam dalam samudera maha multi-elemen bernama sepakbola. Bacaan-bacaan Zen amat kaya, ini terlihat dari beragam rujukan dari penulis-penulis kelas dunia yang memperkaya esai-esainya.
Simulakra Sepakbola, buku dengan warna merah yang menyolok itu, akhirnya meruntuhkan semua impresi mengenai kerenyahan dan keringanan sebuah bacaan. Banyak memang yang menulis tentang sepakbola, tapi saya kira tak banyak yang bisa membuat sepakbola tak lagi sebatas lapangan bola dan tribbun. Dalam Simulakra Sepakbola, dari sisi sejarah (baik dunia maupun lokal), sosial, filsafat, bahkan teknik tari pun bisa saling akur dan terkait betul dengan.. sepakbola! Yang paling berkesan, dari buku itu saya belajar, bahwa ada banyak aspek sosial yang sayang untuk dilewatkan jika bicara soal Sepakbola. Dan dalam kumpulan esai itu Zen memang membawa pesan kepada kita untuk mulai meninggalkan realitas semu.
Jika pornografi mulai dianggap lebih sensual dibandingkan seks, maka bisakah tayangan sepakbola kini dianggap lebih sporty dari sepakbola itu sendiri?


Bunyi di bagian cover belakang buku itu membuat saya tergelitik juga untuk mempertanyakan, mungkin jugakah pertarungan politik kini lebih dramatik dibanding politik itu sendiri?



(baca juga artikel saya tentang pensil dan ide: Ide dan Kreativitas dalam Lintasan Zaman)

Artikel lainnya:

0 komentar

Subscribe