Inspirasi

Desa Unggulan Tempo: Ketika Membangun Indonesia, Dimulai dari Membangun Desa

November 22, 2016

Tari Rampak Gendang
Tarian Rampak Gendang membuka acara malam Penganugerahan Desa Unggulan Pilihan Tempo 2016, pada 15 Nopember lalu. Sepasang MC yang memandu acara mengenakan pakaian adat dari dua wilayah berbeda, pakaian adat Bali dan pakaian adat Bugis. Dekorasi panggung berhasil menonjolkan nuansa etnik, dengan bambu-bambu di kedua sisi panggung, jerami, dan peralatan panen. Siapa yang tak langsung membayangkan desa begitu melihat panggung seperti itu?

Sayangnya, acara yang semestinya sudah dimulai pukul enam petang itu baru dimulai menjelang jam delapan malam. Sebelum para undangan memasuki ruang Binakarna, Hotel Bidakara, Pancoran, kelompok-kelompok perbincangan kecil tersebar di depan pintu masuk aula. Mereka-mereka adalah perwakilan desa, perwakilan kabupaten, dan perwakilan gubernur. Selain itu beberapa menteri dan stakeholder, dan para pimpinan Tempo juga hadir. Batik menjadi tema dress code pada malam itu.
Bpk. Anwar Sanusi, selaku Sektretaris Jenderal Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi menyampaikan laporannya tentang Pemilihan Desa Unggulan. Desa sebagai objek pembangunan sebagiamana tertuang dalam amanat Undang-undang Desa (UU No. 6 tahun 2014), diharapkan setiap desa dapat membuat program mandiri untuk mewujudkan pembangunan ekonomi desa. Pemilihan desa unggulan bertujuan untuk membanguan entitas yang inspiratif. Desa-desa unggulan tidak hanya menjadi role model, tetapi juga diharapkan dapat menjadi mentor bagi desa-desa lain. Ada 74.754 desa Indonesia dan desa unggulan dipilih sebanyak 7 nominasi.

Pemilihan Desa Unggulan Tempo 2016 merupakan kerjasama antara TEMPO Media Group dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) dengan dukungan banyak pihak. Sementara malam Penganugerahan Desa Unggulan Pilihan Tempo 2016 diselenggarakan oleh Koran Tempo. Saat memberikan opening speech, Bpk. Toriq Hadid yang merupakan Dirut Pemasaran Tempo menyampaikan bahwa pentingnya desa diperhatikan. Jika  mengingat pada krisis moneter tahun 1997 silam, desalah yang berperan sebagai katup pengaman perekonomian. Ia menyampaikan pula apresiasi terhadap pemerintahan sekarang yang begitu mendukung pembangunan desa. Setidaknya ada 3 terobosan untuk desa, yaitu informasi, permodalan, dan peningkatan skill warga desa. Diperlukan kerjasama yang baik antara perangkat desa dan stakeholder untuk dapat mewujudkan program kerja nyata. Pemilihan Desa Unggulan yang nominasinya sudah didapatkan sehjak Agustus 2016, diharapkan dapat memberikan multiplayer effect yang ditularkan oleh desa-desa pilihan kepada desa-desa lain di seluruh Indonesia.
Program 1 Village 1 Product dikampanyekan oleh Bpk. Eko Putro Sanjoyo, Mendes PDTT. Total dana desa sebanyak 46,9 triliun yang dikucurkan pemerintah pada tahun 2016, diharapkan digunakan untuk sektor kewirausahaan tiap-tiap desa. Dengan program 1 Village 1 Product, memungkinkan masuknya pengusahan kecil dan pengusaha menengah ke dalam perekonomian desa. Desa sebagai basis produksi dan bisa mengakses pasar yang lebih luas. Dana desa di tahun depan akan ditingkatkan, dengan harapan kedepannya desa-desa dapat menggulirkan program-program untuk mencapai kemandirian ekonomi. Desa-desa perlu untuk menentukan fokus desanya, sesuai keunikan desa. Kemudian setelah menentukan fokus, selanjutnya adalah mewujudkan skala ekonomi yang cukup untuk terintegrasi. Pemilihan desa unggulan dapat membangkitkan semangat optimisme. Jika setiap desa dapat mewujudkan kemandirian ekonomi, maka desa-desa merupakan kekuatan yang mendukung pembangunan negara.

"Bagaimana Membangun Desa untuk Masa Depan Indonesia?" menjadi tema diskusi panel sebelum puncak acara, yaitu penganugerahan desa unggulan. Dimoderatori oleh salah satu pimpinan Tempo, dengan panelis Menteri Desa PDTT, Menteri Pertanian, Menteri Koperasi dan UKM  dan Dirut BRI sebagai stakeholder pembangunan desa. Ada yang menarik dalam diskusi panel tersebut, ketika Tempo yang biasanya mengkritisi pemerintahan dalam berita-beritanya, kini duduk bersama dengan beberapa menteri yang mewakili pemerintah. Dalam diskusi panel tsb, masing-masing menteri mepaparkan program kementeriannya yang sudah digulirkan untuk mendukung pembangunan desa. Menteri Pertanian, Bpk. Amran Sulaiman, dengan program perluasan sawah di daerah-daerah perbatasan, sesuai mandat presiden, “membangun Indonesia dari pinggiran.” Menteri Koperasi dan UKM, Bpk. Anak Agung Gede Ngurah, yang program-programnya mendukung sarana prasana pertanian untuk mencapai skala produksi yang besar. Sedangkan BRI mengambil bagian sebagai BUMN yang pro terhadap pembangunan desa dengan beberapa program misalnya program kredit desa dengan suku bunga kecil dan penyebaran agen-agen BRIlink.

Liuk-liuk perpaduan budaya Betawi dan Melayu dalam gerakan tari Selendang Mayang, menjadi penyegar mata di tengah acara formal pada malam itu. Kemudian, video tentang latar belakang dan proses seleksi Desa Unggulan Tempo ditayangkan.

Penilaian desa unggulan tidak berdasarkan urutan (rangking), tetapi berdasarkan kriteria unik setiap desa. Dalam proses seleksi, TEMPO Media Group mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan mengundang berbagai narasumber untuk menetapkan kriteria desa unggulan dan mendapatkan rekomendasi desa-desa untuk dipertimbangkan. FGD tersebut menyimpulkan lima kriteria desa unggulandesa yang memiliki program terobosan tahunan yang berkelanjutan, program terobosan berdampak pada kesejahteraan desa, program terobosan menginspirasi desa di sekitarnya, tingkat keterlibatan masyarakat dalam program terobosan, dan, kriteria terakhir tidak ada kepala desa yang tersangkut dalam proses hukum.

Terdapat 14 desa yang masuk dalam nominasi desa unggulan dan terbagi dalam 7 ketegori. Kategori pertama adalah Desa Penjaga Lingkungan, nominasinya adalah desa Jabiren (Kalteng) dan desa Enggros (Papua). Desa Blang Kreng (Aceh) dan desa Panggungharjo (DIY) masuk dalam nominasi Desa Sadar Pendidikan. Kategori Desa Melek Teknologi diisi oleh nominator dua desa di Jateng yaitu desa Dermaji dan desa Ponggok. Nominasi Desa Peduli Sehat adalah desa Lalang (Sumsel) dan desa Pata’ Padang (Sulsel). Desa Mengwi (Bali) dan Gemaharjo (Jatim). desa Majasari (Jabar) menjadi nominasi Desa Pemberdayaan Ekonomi. Dua desa yang masuk nominasi kategori Desa Keterbukaan Anggaran adalah desa Nita (NTT) dan desa Majasari (Jabar). Desa Kanonang Dua (Sulsel) dan desa Kelle (NTT) sebagai nominasi kategori terakhir, yaitu desa Muda & Inovatif.
Desa Unggulan menerima penghargaan
Tujuh desa terpilih untuk masing-masing nominasi menerima penghargaan yang diserahkan oleh Mendes PDTT. Desa-desa yang masuk nomimasi juga dipanggil keatas panggung untuk menerima apresiasi. Selain kepala desa sebagai perwakilan desa ungulan, perwakilan kabupaten dan perwakilan provinsi dari masing-masing desa unggulan maupun desa yang masuk ke dalam nominasi desa unggulan juga menerima plakat penghargaan dan apresiasi.

Program-program desa unggulan terpilih memang tidak dibahas dalam malam penganugerahan pada malam itu. Porsi yang disajikan lebih banyak pada diskusi panel. Tetapi Majalah Tempo edisi khusus tanggal 16 Nopember 2016 merinci secara dalam tentang desa-desa unggulan tersebut.
Tujuh  desa  unggulan terpilih adalah desa Jabiren sebagai Desa Penjaga Lingkungan, desa Blang Krueng sebagai Desa Sadar Pendidikan, desa Dermaji sebagai Desa Melek Teknologi, desa Mengwi sebagai Desa Pemberdayaan Ekonomi, desa Lalang Sembawa sebagai desa Sadar Kesehatan, desa Kanonang Dua sebagai Desa Muda & Inovatif, dan desa Nita sebagai Desa Transparsi Anggaran.

Media berperan besar dalam memviralkan inspirasi dari desa-desa unggulan tersebut. Dana desa yang kian tahun kian besar, telah semestinya menjadi tantangan tersendiri bagi perangkat desa. Dengan bertambah besarnya amanah dana desa, semakin besar pula kesempatan percepatan pembangunan desa mandiri, namun tak bisa nafikan, terdapat peluang yang sama besar untuk penyelewangan dana desa tersebut. Disini, pemerintah juga perlu hadir untuk memastikan dana desa terputar untuk pembangunan desa. Mengutip istilah dari Bpk. Eko Putro Sanjaya, “di dalam desa yang sehat, terdapat negara yang kuat.” Melihat betapa besarnya efek domino akibat keberhasilan pembangunan desa, memang, sudah semestinya, membangun Indonesia, dimulai dari membangun desa.

Artikel Lainnya

0 komentar