Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara: Belajar Memeram Ide dari SGA

November 12, 2016

“KETIKA jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Fakta-fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan. Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, namun kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri. Buku sastra bisa dibredel, tetapi kebenaran dan kesusastraan menyatu bersama udara, tak tergugat dan tak tertahankan.“ kutipan esai Seno Gumira Ajidarma (SGA) berjudul Kehidupan Sastra di Dalam Pikiran," yang pertama kali dipublikasikan oleh Harian Kompas, Minggu, 3 Januari 1993.
Cover Edisi Pertama tahun 1997
Apakah memang sebegitu heroiknya pekerjaan seorang penulis atau sastrawan? Fakta-fakta dan kebenaran menjadi elemen-eleman suci yang harus mesti dibawa oleh para penulis dalam tiap inchi tulisan-tulisannya? Misi ‘membawa kebenaran’ barangkali akan mengekskalasi seorang penulis menjadi satu tingkat dibawah rabi, ulama, dan pendeta. Atau minimal eksistensialnya bisa disetarakan dengan Gatot Kaca, Superman, Spiderman, Utraman, dan man-man yang lain dalam satuan tugas sebagai super hero.
SGA seakan mengalami proses ‘pemeraman ide’ selama rentang waktu enam tahun. Dihitung sejak esai "Kehidupan Sastra di Dalam Pikiran" terbit tahun 1993 sampai tahun 1999, tahun saat ia menulis esai untuk mengkiritisi idenya sendiri dalam esai terdahulu. Lewat esai “Fiksi, Jurnalisme, Sejarah: Sebuah Koreksi Diri (1)” ia mengakui bahwa adanya kepercayaan yang berlebihan bahwa sastra mampu menggenggam kebenaran. Ia mematahkan paragraf di esai terdahulunya, terkhusus pada kalimat-kalimat dalam paragraf yang saya kutip diawal tulisan ini.
SGA kembali berpikir soal definisi dan batasan-batasan kebeneran itu sendiri. Kebenaran yang begitu terdengar amat suci ditelinga kita, kebenaran yang membuat orang berbuat apa saja untuk memperjuangkannya.
Ia menulis:
“Kebenaran ternyata tidak pernah bisa digiring. Dalam usaha mencapai pengertian itu, saya hampir selalu sampai kepada kondisi ketercakra-walaan manusia: saya tidak akan pernah mampu menengok seberang cakrawala itu, sedangkan apa yang saya ketahui antara diri saya sampai di batas cakrawala itu, seberapa ilmiah pun, hanyalah merupakan pengetahuan manusiawi — dan saya tak pernah tahu pasti seberapa jauh sudut pandang manusiawi ini sahih, meskipun untuk secuil saja dari kebenaran itu.”
Dalam esai tersebut SGA juga menekankan bahwa kebenaran semestinya diberi tanda kurung. Mengingat ketercakrawalaan kita yang memang terbatas.
Sebagai salah satu founding father harian Jakarta-Jakarta (JJ) yang hidup di iklim Orba, menjadi wartawan yang berusaha mendetail adegan penembakan oleh militer di pemakaman Santa Cruz pada insiden Dili (1991), barangkali dianggap sebagai bentuk jurnalisme yang radikal. Sehingga SGA yang menuliskan ‘berita detail’ tersebut harus membayar keradikalan tulisannya itu dengan di non-job kan selama berbulan-bulan. Sementara dua orang peliput lainnya yang satu tim dengan SGA di demosi dan dipindah tugaskan ke media lain. Dalam masa non-job itu SGA berpikir kreatif tentang bagaimana fakta-fakta tetap bisa disajikan meski mengalami kebuntuan lewat jalur jurnalisme. Maka lahirnya secara sporadis cerpen-cerpen SGA yang menyelundupkan fakta-fakta ke dalam fiksi: satu-satunya cara untuk menyelamatkan kebebasannya. Meski begitu mirip dengan fakta dan aktualitas suatu peristiwa di tempat tertentu, siapa yang bisa menggugat karya fiksi?

Dalam salah satu esainya pula, SGA ‘menyindir’ dengan halus cerpen-cerpen populis yang hanya sebagai ‘bedak-bedak hiasan’. Lulabi yang berada jauh di pelupuk mata dan meninggalkan problematika sosial yang ada di depan mata sendiri. Esai-esai SGA tersebut saya baca dalam buku kumpulan esai berjudul “Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara”. Buku tersebut diterbitkan pertama kali tahun 1997 oleh Yayasan Bentang Pustaka. Dengan perbaruan cover dan pembaruan kata pengantar, edisi kedua buku tersebut dicetak tahun 2005, esai-esai yang diterbitkan masih sama dengan edisi pertama. Rentang waktu yang cukup lama untuk memastikan sebuah buku provokatif untuk menyastra harus tetap hadir dari masa ke masa, generasi ke generasi, dari satu iklim politik ke iklim politik lainnya. Buku tersebut memang menjadi jawaban tentang bagaimana sebuah karya sastra bisa dilahirkan dari insiden dan proses kreatif. SGA menguliti satu demi satu penciptaan beberapa cerpen, sambil diselingi dengan memoar dan karir kewartawannya. Ada satu esai lagi yang lumayan menarik perhatian saya, yaitu esai yang berisi manuskrip pidato SGA saat menerima penghargaan dari Anugerah SEA Write Award. Bukan kata-kata semanis nektar yang ia sampaikan, melaikan sebuah potret gamblang tentang penilaiannya tentang 'pola' baca di negaranya -Indonesia.
“Saya tidak pernah yakin, dan tidak pernah terlalu percaya, bahwa tulisan saya dibaca orang. Saya berasal dari sebuah negeri yang resminya sudah bebas buta huruf, namun yang bisa dipastikan masyarakatnya sebagian besar belum membaca secara benar — yakni membaca untuk memberi makna dan meningkatkan nilai kehidupannya. Masyarakat kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk mengetahui harga-harga, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepak bola, membaca karena ingin tahu berapa persen discount obral di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca subtitle opera sabun di televisi untuk mendapatkan sekadar hiburan. Sementara itu, bagi lingkaran eksklusif kaum intelektual di negeri kami, apa yang disebut puisi, cerita pendek atau novel, barangkali hanya dianggap mainan remaja saja. Dalam masyarakat semacam itu, apakah seorang penulis masih ada gunanya? Apalagi seorang penulis dengan gagasan-gagasan kecil seperti saya.”
Apakah seorang penulis masih ada gunanya? Kepala saya terbentur oleh pertanyaan itu.

Kemudian menyusul pertanyaan-pertanyaan lainnya yang ikut membentur kepala saya.
Semua orang memang mudah sekali menyampaikan ide-idenya tentang sebuah peristiwa, gejolak, polemik sosial, dan tentang solusi-solusi teoritis, praksis maupun poiesis. Tetapi berapa banyak penulis yang akhirnya berlapang dada untuk ‘memeram’ kembali ide-idenya itu? Berapa banyak penulis menyampaikan antitesis terhadap tulisannya sendiri? Dan kembali menyintesis ide-idenya dalam kematangan pikiran – tentu saja setelah melalui proses ‘pemeraman’?  Atau mungkin kita akhirnya hanya mampu tercenung saat menyaksikan bahwa lebih banyak penulis yang akhirnya begitu ngoyo dalam ketercakrawalaannya sendiri. Tanpa membuka diri untuk melihat ketercakrawalaan manusia-manusia lain, kenyataan-kenyataan lain, yang saya rasa masih amat begitu luas.
Dalam iklim kebebasan pers sekarang, memang tidak ada lagi upaya ‘pembungkaman’ yang dibombardir oleh pemerintah. Jikapun ada, bentuk pembungkaman tersebut adalah pemblokiran-pemblokiran situs yang dinilai ‘menyesatkan’. Saya memberi tanda kutip pada kata menyesatkan, ini karena perangkat pemerintah pun masih dalam kungkungan ketercakrawalaannya.
Atau lebih frontal lagi, saya harus katakan bahwa, kini ‘pembungkaman-pembungkaman’ itu lebih banyak dilakukan oleh nurani penulisnya sendiri.
Seperti yang ditulis SGA dalam esainya yang lain, “Dengan begitu, yang tersisa dari seorang penulis hanyalah kejujuran dan kebebasan. Kejujuran adalah moralitasnya, sedangkan kebebasan adalah kondisi yang mutlak diperlukannya agar bisa bertanggung jawab kepada sejarah.”
Sekali lagi, yang tersisa dari seorang penulis adalah kejujuran dan kebebasan. Kebebasan seorang penulis memang mudah dinilai dari setiap tulisan-tulisannya. Tetapi kejujuran seorang penulis? Hanya dirinya dan Tuhan lah yang tahu secara pasti.
Buku ini membuat saya gamblang berkesimpulan bahwa, jika ada pekerjaan yang paling berpotensi menyebarkan bualan-bualan, mungkin itu adalah pekerjaan seorang penulis.
Ketika kita dibungkam oleh nurani sendiri, mungkin saatnya melakukan perlawanan terhadap ketidakjujuran itu sendiri. Seperti SGA yang melakukan perlawanan terhadap atasan kerja yang menon-job-kannya dengan cara menyelundupkan fakta-fakta lewat fiksi.
Atau belakangan, di tengah masyarakat yang sudah membaca (tetapi belum benar-benar membaca), apa memang lebih menyenangkan untuk menyelundupkan fiksi-fiksi ke dalam tulisan yang berbalut penyingkapan fakta? Dalam era media yang hobi plintar-plintir ini (media pada akhirnya kembali pada ideologinya masing-masing), sastra masih mungkin untuk menjadi jalan keluar atas kebebasan... kebebasan melawan ketidakjujuran diri sendiri –tentu saja. Dan ‘pemeraman ide’ ala SGA, saya kira bisa menjadi solusi bagi penulis (atau bagi semua orang yang masih dibekali akal) dalam dahsyatnya iklim sosial yang amat reaksioner ini.

Seperti yang disampaikan SGA dalam esainya, “Jangan terlalu percaya saya kepada saya.”
Saya pun ingin menghimbau hal serupa, “Jangan terlalu percaya kepada tulisan ini.”



Depok, 12 November 2016
diazsetia, dengan tubrukan ide-ide di kepalanya yang menunggu untuk dilahirkan

(baca juga artikel saya tentang pensil dan ide: Ide dan Kreativitas dalam Lintasan Zaman)

Artikel lainnya:

3 komentar

  1. Membaca itu memberi makanan kepada jiwa. Sayangnya, membaca itu terlalu rumit saat pikiran sedang dibebani kangker atau berbagai penyakit pikiran yang menyerap semua makna hingga tak bersisa, lanjutkan yaz, apa perlu gue dumelin? :D

    BalasHapus
  2. dumelin bang dumelin... hahhaha. padahal bagi kita, iya, kita. membaca cuma perlu didoping sama kopi ya bang hahah

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Subscribe