Refleksi

Yang Tersisa dari Ruang Privat Adalah Toilet

Desember 16, 2016


Pada suatu masa hiduplah sekelompok manusia, dengan desain manusia yang sama seperti desain manusia yang hidup di zaman sebelum-sebelumnya. Dibekali mekanisme tubuh, kompleksivitas otak, sensitivitas nurani, akal, dan pikiran yang sama. Konon hanya satu yang dapat membedakan manusia dari zaman ke zaman: yaitu kebudayaan, baik kebudayaan yang diteruskan dari zaman sebelumnya, kebudayaan yang di improvisasi, maupun kebudayaan baru yang diciptakan. Pada suatu masa itu, setiap orang memiliki komplek pertanahan dengan luas yang sama. Namun pada tanah komplek itu tidak boleh dipagari, hanya dipatok pinggirannya sebagai pembatas kepemilikan.  Setiap pemilik tanah bebas melakukan apapun di dalam tanah terbuka miliknya itu. Komplek pertanahan tersebut berada di area yang sangat lapang, dan tanah setiap orang langsung berhadapan dengan tanah kepunyaan orang lain.

Pada suatu siang Sutono datang ke area tanah miliknya. Komplek pertanahan itu sedang ramai, banyak orang yang sedang mengunjungi tanahnya dan beraktifitas disana. Ada yang datang sendiri, berdua kekasih hati, berdua kekasih orang, berdua bersama mantan pujaan hati, mahmud (mamah muda) dengan balitanya, pahmud (papah muda), marmud (nyamar muda), bahkan ada yang datang sekeluarga besar. Setiap tanah milik satu orang langsung berhadapan dengan tanah milik orang lain, hanya diselingi jalan setapak di keempat sisi tanah sebagai jalan umum.

Sutono datang sendirian, letak tanahnya agak ditengah, otomatis ini membuat apapun yang dilakukan Sutono di tanahnya sendiri bisa dilihat oleh khalayak umum dari berbagai arah sudut. Sutono datang membawa seember air, gayung, sabun dan sound sistem portable. Begitu sampai di tanah miliknya, Sutono langsung mengambil posisi paling tengah. Kemudian ia membuka celananya, lalu jongkok, ia melubangi sebagian kecil tanah. Menempatkan seember kecil air di sebelah kanan tubuhnya. Apa yang dikerjakan Sutono dalam posisi jongkok diatas tanah yang ia lubangi? Tentu saja memenuhi salah satu dari kebutuhan biologisnya yang masuk dalam teori piramida Marslow: beraque. Beberapa orang yang sedang beraktifitas di komplek pertanahan itu awalnya tidak menyadari apa yang dilakukan Sutono. Hingga di tengah hari yang kebetulan semriwing oleh angin, molekul-molekul bau busuk yang merupakan produk sampingan aktifitas yang dilakukan Sutono tercium oleh tetangga dekat tanah Sutono. Mereka protes. Menurut mereka apa yang dilakukan Sutono sangat tidak etis dan berdampak mengganggu ketertiban umum. Apalagi beberapa mahmud, spontan menutup mata balita-balitanya dari polusi pemandangan itu. Beberapa anak rewel dan menangis karna mencium bau busuk tersebut.

“Sut, lo apa-apaan sik? Kok beraque disitu!” Seorang mahmud berteriak dari tanah miliknya.
“Lah? Salah gw apa? Kan tanah-tanah gw! Lo gak suka ya gak usah diliat! Atau beli tanah yang baru, jangan beli yang di deket gw! Beres kan!” Sutono nyaut sambil meneruskan aktifitas biologisnya.

Semakin lama, semakin banyak tetangganya yang protes. Teriak-teriak dari kejauahan, dari komplek tanahnya. Bukannya menghentikan aktifitas biologisnya seperti yang diminta oleh tetangga-tetangga yang teriak-teriak itu, Sutono justru semakin menantang. Setelah cebok, ia bangkit berdiri, produk biologisnya belum ditimbun tanah, celananya belum ditarik keatas. Ia malah menyetel musik keras-keras. Genre musil yang distel Sutono menjadi tidak penting lagi. Karna berikutnya, ia malah joget-joget dengan kemampuan gerak yang parah. Gak ada nyeni-nyeninya. Gak ada indah-indahnya. Sontak, para mahmud dan sebangsanya histeris kacau. Mereka menyembunyikan wajah anak-anak di ketiak mereka, dengan maksud untuk menyelematkan anak-anak polusi pemandangan yang aduhai itu.

Sekali lagi, bukannya insyaf, Sutono justru semakin menantang. Ia kencangkan volume musiknya hingga setara dengan desibel dangdutan di resepsi nikah. Tidak hanya joget-joget di tengah saja, kali ini Sutono kelilingan tanahnya sendiri, semakin berani, sehingga mengitari keliling tanahnya, meski tanpa menabrak batas dengan jalan umum dan tanah tetangganya. Melihat kelakuan Sutono yang makin menjadi, para pahmud pun naik pitam, mereka serentak menyambangi tanah Sutono. Sementara mahmud-mahmud makin dramatis dengan histeria teriak-teriakannya. Dalam sekejap, tanah Sutono sudah berhasil dikepung keempat sisinya oleh para pahmud, om-om, kakek-kakek, berikut seantero laki-laki lainnya. Mereka-mereka yang mengepung Sutono adalah orang-orang yang sedang beraktifitas di komplek pertanahan mereka, dan merasa terganggu dengan apa yang pertontonkan Sutono. Dikepung begitu, Sutono justru makin menantang.

***

Plot cerita tersebut hanya ada di imajinasi saya yang notabene ada di dalam ruang privat saya, sebelum akhirnya saya memutuskan membagi imajinasi saya ke ruang publik lewat tulisan ini. Siapapun yang sungguhan bernama Sutono mudah-mudahan tidak tersinggung, karna tokoh Sutono dalam penggalan cerita tersebut hanya fiktif. Analogi “pada suatu masa” itu adalah potret kehidupan bersosial kita saat ini. Komplek pertanahan adalah sosial media yang langsung beririsan dengan ruang publik: facebook, twitter, path, instagram, blog personal, dll. Apa yang dilakukan Sutono adalah kebebasan yang sama dengan dengan kebebasan yang kita miliki di media sosial.

Apakah Sutono bisa disalahkan dengan apa yang dilakukannya? Beraque dan joget-joget yang dapat merusak mata?

Sutono jelas tidak bisa disalahkan. Toh semua orang disana memiliki hak yang sama. Siapapun yang bermedia sosial bebas membawa ruang privatnya ke ruang publik. Itu hak preogatif, tentu saja. Toh setiap sosial media tidak pernah ada undang-undang tertulis yang merinci apa saja yang boleh dan apa saja yang tidak boleh dilakukan di sosial media. Selama dilakukan di akunnya sendiri, maka bebas membawa urusan keluarga di medsos, bebas pacaran di medsos, bebas selingkuh di medsos, bebas nyari jodoh di medsos, bebas pencitraan di medsos, bebas dakwah di medsos, bebas protes, bebas beropini, bebas nyinyir, bebas nyindir, bebas upload foto historis kehidupan pribadi sejak dalam kandungan hingga ke liang lahat.

Sutono tidak bisa disalahkan karna beraque dan joget-joget, itu adalah hak dasar pribadinya. Yang perlu dikritisi dari kelakuan Sutono adalah.. ketika ia memutuskan untuk membawa ruang privatnya ke ruang publik. Keputusan itu memiliki konsekuensi berupa kesiapan untuk balik dinilai oleh opini publik: dikomentari, dipuji, didukung, diprotes, dinyinyiri, dipacari, dinikahi, misalnya. Nah, apalagi jika aktifitasnya dinilai menganggu ketertiban umum, oh, tentu saja ini sasaran empuk bagi pembela ketertiban umum. Sejak manusia ditugaskan ke bumi, dan mengamini fitrahnya sebagai subjek atas kehidupannya sendiri, sejak itu pula manusia memiliki hak preogatif untuk memakai kompleksivitas otak, sensitivitas nurani, akal, dan pikirannya. Jangan merendah  dengan mengaku gak punya otak. Sebab, hari ini otak mudah sekali dibeli di warung nasi padang.

Maka menjadi lucu ketika ada pengguna medsos yang diprotes, dan kemudian menjawab, “Suka-suka gw! Akun-akun gw!”

Pada mulanya opini pribadi memang hak dasar dan letaknya ada di ruang privat. Namun ketika kita memutuskan membawa ruang privat ke ruang publik, maka otomatis akan ada hak publik yang tidak boleh kita pangkas, yang mesti dihormati. Hak publik untuk “melihat” yang indah-indah yang adem-adem yang kalem-kalem, misalnya. Atau apapun ekspektasi publik. Seperti harapan tetangga-tetangga Sutono ketika datang ke komplek tanahnya, yang ingin bersenang-senang. Ketika Sutono datang mempertontonkan sesuatu yang merusak hidung dan mata, maka habislah ia.

Sebaliknya, ruang privat memiliki kebebasan yang lebih hakiki. Ketika beropini di ruang privat, misalnya lewat obrolan dua arah saja atau dalam diskusi offline yang tertutup, kita lebih mungkin ‘budeg’ tentang hak-hak publik. Alternatif bagi penganut paham, “suka-suka gw” dan tidak siap dengan opini publik, maka silahkan bermain-main di ruang privat saja. Curhat ke teman via chatting misalnya. Dengan dua syarat, pertama harus punya teman, kedua chatting room yang merupakan ruang privat tersebut tidak di screenshoot untuk digiring ke ruang publik.

Sedihnya, sekarang semakin banyak orang yang menyempitkan ruang privatnya sendiri, bahkan sengaja merubuhkannya. Tapi saya yakin, apapun yang digiring seseorang ke ruang publik dalam akun medsos, maka setiap update adalah hasil telaah darikompleksivitas otak, sensitivitas nurani, akal, dan pikirannya. Toh, sebagai manusia yang ditugaskan ke bumi dan mengamini fitrahnya sebagai subjek atas kehidupannya sendiri, kita memang punya pesan-pesan dan misi mulia kehidupan ‘kan? Apa yang disampaikan orang-orang di medsos tentu merupakan bagian dari misi mulia kehidupannya.

Walhasil, kebudayaan macam ini hanya menyisakan toilet sebagai ruang privat. Sebatas toilet, bukan kamar mandi. Sebab kalau kamar mandi memang sudah rubuh sebagai ruang privat sejak artis NM launching video mandinya. Dan kedepan, kita tinggal menunggu saja ketika toilet itu dirubuhkan dan orang-orang mulai berlomba-lomba update dan sharing bentuk dan rupa feses mereka. Mungkin dengan mengemban misi kampanye sadar kesehatan. Dengan caption, “Buk, ibuk, tadi pagi saya makan buah. Pencernaan jadi lancar, ini lagi beraque. Contoh feses yang baik itu kayak gini ya Buk, Ibuk. Yuk, sadar kesehatan, mulai biasakan makan buah. Ajak si kecil juga untuk makan buah, ya.“

Ahirul kalam, saya ingin mengutip pesan dari penulis yang tidak terkenal, “Menulis dan bicara pada hakikatnya mudah. Yang sulit adalah menahan diri untuk tidak menulis dan tidak bicara. Yang sulit adalah menahan diri untuk menulis dan bicara hanya pada kapasitas kita.”

Tabique!

Artikel Lainnya

0 komentar