2016 yang Selesai Menjadi Jejak, 2017 yang Mulai Menjadi Detak

Januari 08, 2017



Jejak 2016 dimulai dengan kenekatan sekaligus kekhawatiran tentang sebuah toko ATK, print dan fotocopy dekat rumah yang dirilis dengan persiapan super kilat di menjelang akhir 2015. Berjalan setahun, mekanisme rezeki mengalir ke sana, lumayan cukup untuk nambah-nambahin beli lauk makan. 2017 adalah tugas untuk mencari dan merealisasikan wasilah diluar pekerjaan rutin.

Dan yang saya tandai di awal 2016 adalah awal saya  memulai belajar menulis. Jika tahun-tahun sebelumnya tulisan-tulisan saya cenderung tanpa progress, cenderung pakai prinsip 'barbarian'. 2016 saya banyak target dalam belajar menulis, ada proses-proses belajar yang ingin saya kejar. Ini menjadikan saya lebih banyak bertanya, berkonsultasi dan sok akrab dengan 'penulis-penulis' yang sudah saya klaim sepihak menjadi guru menulis saya. Saya semakin menemukan gaya saya. Di akhir tahun, saya semakin tahu apa tujuan saya menulis. Dan kenyataan tersebut membuat saya sadar bahwa saya akan semakin menjadi alien, tanpa perlu lagi mengalienasi diri. Tapi ini menjadi alien di jalan yang sunyi sudah menjadi pilihan saya. Yang sedikit saya sesali adalah inkonsistensi saya dalam menulis. Beberapa kali saya mendapat kesempatan 'belajar gratis' alias beasiswa di Tempo Institute, anak Tempo Inti Media Group yang fokusnya mendidik jurnalis. Ya, setidaknya saya jurnalis buat web pribadi saya. Pada penjelang akhir November, saya 'diminta' menjadi pemateri tentang menulis di salah satu gathering sub program alumnus sekolah dulu, meski waktu itu saya mengganti pemateri yang beberapa hari sebelumnya mendadak tidak bisa hadir. Pengalaman belajar yang luar biasa buat saya bukan karna saya sebagai pemateri, karena sungguh saya sebenernya gak pede (siapa sih saya? Sotoy amat ngasih tau anak orang soal nulis hahah), tapi saya belajar banyak sekali dari 2 pemateri selain saya yang sudah sungguhan menjadi penulis. Menyimak mereka sharing pengalamannya, seperti ada tali tak tembus cahaya yang bergerak dan seakan-seakan menjadi magnet bagi saya untuk cepat-cepat mengikuti mereka yang "sungguhan", bukan menjadikan menulis sebagai "selingkuhan". Ya, sharing kemarin itu saya anggap resonan bagi jiwa saya untuk "lebih niat" dalam menulis, hahahah.

Beruntung juga di tahun kemarin, saya bisa bertemu dengan orang-orang super inspiratif dan keren dalam definisi saya (diluar dengan orang-orang di sekitar saya yang memang banyak yang keren, cuma sayanya aja yang keren kurang "n" hahahah). Misalnya Rosa Dahlia, yang menghibahkan hidupnya untuk mendidik anak-anak di pedalaman Papua, Aan Mansyur si pemberi "nyawa" dalam AADC2, Pidi Baiq si Ayah bagi anak-anak muda super kreatif The Panas Dalam, Muhammad Rois Rinaldi alias Pujangga Banten yang namanya harum di kancah literasi ASEAN, dan Adi Sudrajat, penggagas dan "pejuang literasi" di rumah baca yang dikelolanya "Rumah Baca 0254". Terkhusus untuk dua nama yang saya sebutkan terakhir saya memang berniat menuliskan tentang mereka masing-masing di entri khusus, tapi ya belum kepegang (halahh, alasan aja wkkwkw). Mereka-mereka yang keren dalam definisi saya, pada akhirnya bukan karena kaya dan popularitasnya.. tapi mereka yang punya prinsip yang berbeda bahkan cenderung melawan arus normal, dan mereka dengan penuh kepercayaannya menjalani apa yang menjadi prinsip mereka tersebut. Bertemu orang-orang itu, berkesempatan bertanya (meski ada yang sangat sebentar), lagi-lagi menjadi resonan bagi jiwa saya. Dunia menjadi tidak "sesunyi" yang saya bayangkan sebelumnya.

Perjalanan-perjalanan di 2017 penuh dengan warna tipe perjalanan. Ada yang ala-ala turis, ala-ala backpacker, ikut-ikut trip travel organizer, sampai perjalanan-perjalanan iseng yang saya pun gak tau tujuannya ngapain selain ngerecokin orang. Dasar memang jiwa bolang, gatel sekali nahan gak kemana-kemana, maka ngerecokin orang menjadi pilihan tatkala budget liburan nihil tapi pengen jalan, hahah. Catatan perjalanan saya di 2017 berawal dari longweekend di Februari, saya ke Bandung, ngerecokin artis Bandung. Kemudian di longweekend bulan Mei saya  ke Jurassic World level 2 (Ciletuh, Sukabumi), tempat bertemunya pantai, gunung, air terjun dalam sebuah pengalaman wisata geologi. Kemudian di September menapaki Surabaya untuk pertama kalinya dalam hidup saya, sekedar menikmati malam  yang jatuh disana. Di akhir November, saya kembali ke Bandung, tapi ke sisi lain Bandung, kali itu pengalaman pertama saya ikut trip dari travel organizer, bersama anak-anak KFB (Komunitas Fotografi Bekasi) dan orang-orang koplak lain. Di bulan-bulan terakhir justru saya maraton melakukan perjalanan. Misalnya ke Cilegon, ngerecokin orang-orang Cilegon dan Serang, menengok local wisdom disana. Kemudian, episode perjalanan yang kejar tayang di Jogja, dari mulai mengulang cave tubing di Goa Pindul, duduk bayar 20 ribu di saung  pantai "hidden paradise" yang lagi sepi, nangkring malam-malam di angkringan, hampir khilap di Malioboro, dan nyeruput kopi joss di warung pinggir stasiun Lempuyangan. Saya mengulangi perjalanan iseng seperti waktu ke Cilegon di minggu sebelumnya, tapi kali itu ke sisi lain Bandung, mengintip local wisdom sana, dan menemukan rumus terbaik menikmati perjalanan Bandung-Jakarta, yaitu dengan Argo Parahyangan keberangkatan 05.00, seat 10A-11D. Hampir semua perjalanan itu spontan. Beberapa perjalanan pun bersama orang yang sama.

Di 2017 itu orang-orang di sekitar saya ya orang-orang dari tahun-tahun sebelumnya. Meskipun kenalan-kenalan baru ya banyak, tapi kalau orang-orang terdekat ya itu-itu lagi. Menjelang akhir tahun saya dipercaya oleh eks ibu suri SAJUBU untuk mulai menggantikannya, dan dengan bernegosiasi terlebih dulu saya pun menerima gusuran tanggung jawab itu. Amanat ini dibilang berat sih iya, tapi untuk dibawa santai ya bisa-bisa aja. Lagi-lagi sempet mempertanyakan diri sendiri, "apa saya mampu?"

Kemudian banyak lagi gelombang-gelombang hidup dari multi dimensi yang kian "membentuk" saya, tapi sifatnya begitu personal jadi gak bisa saya buka di ruang publik ini.

Terima kasih untuk semua yang ikut membuat saya berjejak di 2016 kemarin, dan inilah 2017 yang sudah mulai menjadi detak sejak dua minggu kemarin.

Artikel lainnya:

2 komentar

Subscribe