Beberapa Bait untuk Undangan Pernikahan (Teman)

Februari 17, 2017

Beberapa bait (yang mungkin) puisi yang saya rampungkan demi memenuhi permintaan seorang teman AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) untuk dicetak di undangan pernikahannya pada akhir Januari lalu.

Versi Asli dari saya:

Jika cinta adalah kata kerja,

maka pernikahan adalah mekanisme

bagi dua jiwa yang berkerja berdampingan

untuk mengeja teka-teki waktu



Jika cinta adalah perjalanan,

maka pernikahan adalah titik diam

sebagai satu-satunya mula

yang tanpa akhiran



Faris-Devita,

akan memulainya dari ujung Januari

dalam penandaan kalender yang masih basah

oleh aroma daun lontar

pada sebuah pagi di Kanigaran,

saat lampion-lampion imaji tentang doa,

tentang harapan ,

terlepas dari semesta kebendaan

menuju Arsy-Nya: tempat yang ikut pula getar dan goncang

akibat seuntai kalimat sakral yang melontar



Faris-Devita,

Dua kepala yang akan meresmi janji

untuk luruh dan tumbuh menjadi satu cita-cita



Bukan karna kesamaan yang seluruh,

Tapi karna pada lembah-lembah perbedaan itu

ada silang-saling peran

Dalam pekerjaan mengeja teka-teki waktu

Dalam perjalanan dari satu-satunya mula



yang tanpa akhiran.


Versi Cetak di undangan (setelah sedikit di revisi oleh si teman AKAP itu), mengisi sisi yang lazimnya diisi oleh doa pernikahan:



Sejujurnya, dalam proses mencipta bait-bait tersebut saya merasa begitu sok tau dalam mendefinisikan pernikahan. Pfftt.

Artikel lainnya:

0 komentar

Subscribe