[Book Review] Islam Kiri: Melawan Kapitalisme Modal (Bag. 1)

September 10, 2017

Dalam paradigma transformatif , gelombang kemiskinan struktural disebabkan oleh ketidakadilan sistem dan struktur ekonomi, politik dan budaya. Keadilan menjadi prinsip fundamental dari paradigma ini. Fokus kerjanya adalah selain mencari akar teologi, metodologi, dan aksi yang memungkinkan terjadinya transformasi sosial. Pemihakan terhadap kaum miskin dan tertindas (dhu’afa) tidak hanya diilhami oleh Al-Qur'an, tetapi juga hasil analisis kritis terhadap struktur yang ada. Islam bagi kelompok ini dipahami sebagai agama pembebasan bagi yang tertindas, serta mentransformasikan sistem eksploitasi menjadi sistem yang adil. Dan inilah yang mendasari gerakan konsep islam kiri untuk mengambil posisinya dalam menghadapi problem sosial yang dihadapi umat saat ini.

eko prasetyo

"Islam Kiri" adalah ideologi yang pertama kali diperkenalkan oleh Hassan Hanafi, namun banyak yang menganggap islam kiri sebagai pandangan yang utopis. Dalam buku setebal 416 lembar berjudul “Islam Kiri: Melawan  Kapitalisme Modal dari Wacana Menuju Gerakan”, Eko Prasetyo bukan hanya mencoba mengangkat kembali ideologi Islam Kiri, tapi juga berusaha mengartikulasikan konsep tersebut sebagai sebuah katalisator untuk perubahan sosial. Eko Prasetyo dikenal sebagai penulis buku-buku perlawanan, yang baginya (seperti dikutip pada wawancara indoprogress.com), “Menulis bukan tamasya pemikiran tapi pernyataan sikap yang jelas, terang, dan karenanya, berusaha meraih pengikut”.

Menurutnya, tulisan itu harus mirip dengan dengan sebuah risalah kitab suci: provokatif, menghujat yang kafir dan meminta tindakan. Itulah yang menyebabkan buku-bukunya tak banyak membahas teori rumit, tetapi langsung pada sikap perlawanan dan yang dibutuhkan adalah upaya untuk meyakinkan dan mempengaruhi sikap pembaca. Buku ini adalah produk dari kegelisahannya mengenai kesadaran teologis yang belum menyentuh kaum lemah.

Dalam konsep Islam Kiri, keadilan adalah prinsip utama. Dan pada hakikatnya, Islam mengecam keras perilaku murtafi (hidup mewah dan berlebihan). Buku ini diterbitkan oleh Resist Book pada tahun 2003, kala itu polarisasi antara islam fundamentalis dan sekuler belum setajam hari ini. Sehingga untuk konteks sekarang, paparan tentang kebijakan dan data-data perlu di kroscek kembali. Eko memaparkan pemikiran-pemikirannya yang lahir dari “akademi jalanan”; hasil kontemplasi, hasil diskusi dengan orang-orang di lingkungan pergerakan, dan hasil mencerna buku-buku bacaannya. 

Dalam buku yang mirip kumpulan esai bersambung ini, Eko menunjukkan kelihaiannya merunut fakta-fakta sejarah. Serta ketajamannya dalam 'membaca' dan menganalisa kondisi sosial pada saat buku ini ditulis. Ia seakan ingin menyampaikan bahwa menjadi kiri adalah salah satu cara dalam berislam. Dan konsep Islam Kiri tidak semestinya berhenti pada wacana tetapi sangat mungkin untuk berakhir pada gerakan untuk perubahan sosial. Ketertarikan Eko untuk mengupas konsep islam kiri lahir dari kerinduannya pada sosok H. Agus Salim, Moh. Natsir, Hamka, H. Misbach, ulama-ulama yang selalu bersentuhan dengan persoalan sosial yang riil.

Perpaduan antara kutipan ayat Al Quran & Hadist, pemikiran para pelaku revolusi, sajak-sajak, 'sabda' filsuf, dan dalil dari para pemikir dunia, membuat buku ini tidak kering dari kobaran semangat revolusi. Dibahas juga mengenai konsep-konsep ekonomi kapitalis, neo liberal dari beberapa tokoh dan sedikit menyinggung tentang 'Das Kapital' Karl Max. Hampir setiap bab dalam buku ini menampilkan rangkuman berupa tabel, jadi bagi yang punya short-time memories tabel-tabel tersebut sangat membantu dalam mengingat kembali 'daging-daging'-nya.

Eko menghadirkan konsep kiri bukan dengan pendekatan Marxis. Tetapi lebih kepada pendekatan teologi Islam: yakni konsep dasar & pokok-pokok ajaran Islam. Membaca buku ini seperti sedang berada dalam helikopter yang mengitari dunia, karena tak hanya konflik “penindasan” di Indonesia yang dihadirkan, tapi juga konflik-konflik skala dunia. Dalam konteks International, saya mencatat beberapa poin penting dalam buku ini, misalnya mengenai khittah masuknya Islam ke Mekkah sebagai agama perlawanan, kehancuran negeri-negeri muslim karena ketergantungan modal asing, sejarah revolusi di beberapa negara, dan kebijakan-kebikan organisasi dunia yang turut melanggengkan gerak negara pemodal. Sedangkan pada konteks Indonesia, buku ini menjabarkan runut jebakan kapitalis di Indonesia sejak zaman pra kemerdekaan sampai pasca reformasi, sejarah gerakan di Indonesia dalam perlawanan modal, kelumpuhan gerakan Islam dihadapan komunisme, nasionalisme dan militerisme. Terakhir sebagai bab penutup adalah tentang rumusan yang mungkin dilakukan gerakan islam kiri untuk menuju perubahan sosial.

Buku ini memang tidak menjawab secara utuh mengenai tindakan taktis dan agenda revolusi yang lebih ‘memijak’. Bahkan buku ini menuai kritik karena dianggap ide Eko Prasetyo terlalu mengawang dalam mengonsep gagasan Islam Kiri. Maka, kritikan-kritikan tersebut membuat Eko menerbitkan buku lanjutan, berjudul ”Islam Kiri: Sebuah Revolusi Sosial”. 

Pada tulisan penutup, Eko mengkiritik sikap kaum muda saat ini yang kebanyakan mengambil jalan tengah antara dua polarisasi islam fundamental dan sekuler. Jalan tengah yang dimaksud adalah sikap pluralis yang menyamakan semua agama. Sikap pluralis tersebut yang akhirnya membuat gerakan perlawanan kehilangan nafas Islam. Landasan agama yang tidak dijadikan sumbu perlawanan, membuat beberapa gerakan atau organisasi gagal melakukan revolusi, seperti yang terjadi pada partai komunis dan nasionalis. Atau sebaliknya, kaum fundamentalis yang tidak memandang kemiskinan pada perspektif transformatif, malah dengan perspektif konservatif (kemiskinan adalah nasib, dan ujian yang harus dilalui dengan sabar), maupun dalam perspektif revilvalis (kemiskinan terjadi karena tidak ditegakannya sistem negara Islam), membuat gerakan islam kehilangan ruhnya dalam menyentuh persoalan-persoalan sosial yang riil, dan gagal menjadi jawaban atas persoalan penindasan umat. Pada kondisi ini maka Islam telah menjadi agama yang tidak pada khittah-nya seperti sejarah kedatangan Islam, yaitu sebagai agama perlawanan bagi kaum tertindas. Padahal agama memiliki pengaruh kuat seperti apa yang dikatakan oleh Louis Dupre bahwa agama telah mampu mengingat pemeluknya pada komitmen terhadap sesuatu yang transenden seperti halnya kepada realitas lainnya.

Pasca Soeharto, pembangunan eksploitatif terus dan revolusi pasif (tanpa partisipasi aktif rakyat) terus digulirkan. Kasus-kasus intimidasi petani dan tidak diberikan ganti rugi demi lahan perkebunan negara dan pergusuran Kedung Ombo yang “meminggirkan” penduduk lokal, telah menjadi bukti bahwa negara menjelma artikulasi yang mewakili dan melindungi kepentingan modal. Negara terjebak pada final logic, seperti teori dari Ignas Kleden, yaitu logika yang semata-mata mengandalkan tercapainya tujuan akhir tanpa peduli dengan biaya sosial yang dikeluarkan (termasuk kekerasan). Pada pendekatan tsb, negara gagal menjalankan fungsi-fungsi pokoknya. Meskipun contoh-contoh penindasan yang diapaparkan Eko telah sangat berjarak dengan konflik-konflik hari ini (out of date), namun gagasan tentang Islam Kiri merupakan gagasan yang timeless dan masih amat relevan. Sebab konflik-konflik sosial hari ini masih berkutik pada penindasan rakyat kecil (petani, buruh, nelayan, dll) demi kepentingan kapitalistik dan final logic masih saja membuat pemerintah mabuk dengan model kerja “pembangunan”. Contohnya, "pengerukan" pegunungan Kendeng yang cacat hukum demi pembangunan pabrik semen, kriminalisasi petani di beberapa daerah, kriminalisasi aktivis lingkungan. Bahkan beberapa kali pasal karet dalam UU ITE diplintir untuk melaporkan orang-orang yang mengkritik pemerintah. Dan banyak lagi bentuk penindasan lainnya yang semakin menodai demokrasi dan prinsip keadilan. Gagasan Islam Kiri masih sangat segar untuk dikaji kembali, mengingat bahwa gerakan-gerakan Islam saat ini yang masih banyak yang tumpul dan tutup mata terhadap konflik penindasan, dan masih berputar-putar pada urusan normatif semata. Konsep Islam Kiri hendak mentransformasikan kesalihan ritual para pemeluk islam, menuju bentuk baru: kesalihan sosial. 

Dan memang, menjadi “kiri” pun merupakan cara ber-Islam, Buku ini dapat menjadi pegangan yang cukup untuk memprovokasi bahwa humanisme, egaliterisme, dan keadilan sosial perlu diperjuangkan atas dasar  manifestasi keislaman kita. 

Pada tulisan selanjutnya saya mencatat penjabaran penting dalam buku ini dan membaginya ke dalam beberapa bagian. 

Artikel lainnya:

0 komentar

Subscribe