[Book Review] Islam Kiri: Melawan Kapitalisme Modal (Bag. 3)

September 10, 2017

eko prasetyo

Sejarah Gerakan & Perlawanan Modal

Sarekat Islam (SI) adalah bukti historis bahwa islam dapat menjadi landasan dalam perlawanan modal. SI adalah gerakan islam yang begitu mengakar dan mendapat banyak dukungan, karena mempertemukan pendekatan, integrasionis (menyatu dengan perjuangan bangsa) dan sistemik (mendekati masalah masyarakat secara menyeluruh). 

SI kuat dan kukuh melawan kolonialisme, juga mengartikulasikan kepentingan mayoritas rakyat. Para pemuka SI tidak hanya pandai berbicara dan menulis, tetapi juga lihai dalam mengejewantahakn ide dan taktik dan bentuk aksi. 

Semaoen daah contoh pimpinan SI yang begitu sistemik, ia tidak hanya menentang kolonialisme tetapi juga melakukan kritik keras terhadap budaya Jawa yang melakukan tata tentrem. H. Misbach, tokoh yang berpaendapat bahwa mengaku setia namun belum bertingkah laku sesuai ajaran islam berarti khianat. 

Baginya, salah jika melawan aktivitas misionaris kristen tanpa melawan kapitalis dan pemerintah (zalim). Ia adalah sosok yang meletakan islam di jantung perlawanan, sehingga bahaya dipenjara, dibunuh, dibuang  menurutnya dalah bagian dari keimanan. 

Dan Mas Tirto Adhisoerjo yang disebut penasehat Idenburg sebagai tokoh ”durhaka namun pandai”. Ia cakap mengelola media “Medan Prijaji” dan “Sarekat Prijaji”, yang menjadi media yang mengguncang pemerintah kolonial dan membuat SI menjadi organisasi yang dianggap berbahaya. Dengan menggunakan istilah “perlawanan” SI telah memberikan pemaknaan atas Islam. 

Islam telah menjadi kesadaran kritis rakyat atas kolonialisme. Ironi sejarah kemudian memberikan catatan tebal tentang bagaimana kemalangan menimpa gerakan Islam, dengan tuduhan hendak mendirikan negara Islam, maka gerakan Islam menjadi tersangka utama dalam gerakan kebangsaan. Sehingga menjadi alasan legal bagi aparat negara untuk melakuan represi. 

Pada pemerintahan Orba bahkan sampai reformasi, seringkali gerakan Islam kurang memiliki konsep sosial yang layak untuk meraup dukungan mayoritas. Gerakan Islam yang gagap membaca sistem kerja modal Internasional yang menindas, akhirnya mengalami kelumpuhan sistematis baik dalam merumuskan konsep sosial maupun dalam berhadapan dengan tantangan globalisasi modal.


Kelumpuhan Gerakan Islam diantara Nasionalisme, Komunisme, dan Militerisme

Kemerdekaan telah mendorong lahirnya Masyumi, partai islam yang lebih memiliki karakter ketimbang partai-partai islam lainnya. Namun kiprahnya masih terbatas karena sikap keagamaan lebih  menonjol daripada sikap politik realistis dan konsisten. Ini yang membuat isu-isu yang diangkat tentang kerakyatan tidak berlangsung lama terlebih Masyumi mendapat saingan yang sangat kuat, yaitu PKI (Partai Komunis Indonesia). PKI memiliki pandangan egaliter dan nafsu besar untuk melakukan revolusi secara terang-terangan terhadap elite lama. PKI dibentuk sejak pra-kemerdekaan karena dua kelompok SI-Merah dan SI-Putih tidak bisa disatukan. Dengan menghidupkan pokok-pokok ajaran Marxis, PKI mengambil sikap permusuhan keras terhadap Belanda, dan terus menerus melakukan perlawanan dari akhir 1926 sampai awal 1927, yang berakibat dibuangnya para pemimpinnya ke tanah-tanah asing. Pada pertumbuhan selanjutnya PKI selalu muncul dalam setiap kekuasaan, dengan slogan untuk melakukan pemogokan serta perlawanan yang tuntas terhadap kapitalisme sembari menentang keras pemerintah. Namun ketidaksiapan PKI menyebabkan gagalnya revolusi di Madiun tahun 1948.

Meskipun Prof. W. F. Wertheim mengatakan bahwa pemberontakan PKI di Madiun tsb adalah efek dari perang dingin karena pergantian residen, sehingga mungkin disebabkan oleh provokasi oleh kelompok anti-komunis. PKI kembali mengulang kegagalan revolusi pada tahun 1965. Ben Anderson menyebutkan bahwa kegagalan PKI kali ini adalah akibat dari sikap kontradiktif PKI. Namun efek dari kegagalan kedua ini berakibat fatal, yakni pelumpuhan PKI dan organisasi underbrow PKI, dan paham komunisme. Beberapa pendapat mengatakan bahwa peristiwa itu merupakan kudeta Soeharto, banyak pula bukti yang menyatakan keterlibatan Amerika dan Inggris dalam pembunuhan jutaan simpatisan PKI, maupun yang dituduh PKI, mereka dijatuhi hukuman mati ataupun penyiksaan tanpa diadili. Ini merupakan catatan kelam genosida terbesar di Indonesia.

Menarik melihat sejarah PKI yang meskipun dilabeli “pemberontak” dan “anti-agama”, namun pada kepemimpinan Aidit, PKI menarik berkali lipat anggota, dari 8.000 pada 1952 anggota menjadi 3 juta orang pada tahun 1964. Mengapa pertumbuhan PKI sangat pesat?

Pertama, PKI melancarkan strategi yang radikal dan agresif yang dapat menarik pengikut dan simpatisan. Misalnya, dengan mengangkat tema “revolusi agraria” berupa land reform yang memenuhi kebutuhan riil rakyat petani yang miskin tanah. Land reform dilakukan secara radikal, yaitu dengan melakukan penyitaan tanah dan pembagian tanah. Dengan merangkul kaum buruh dan tani, PKI mengawali sebuah gerakan politik yang berangkat dari kebutuhan riil rakyat miskin. PKI juga mendorong sebuah penghancuran terhadap penguasaan monopolistik yang selama ini dipunyai oleh para tuan tanah maupun para penguasa pabrik.

Kedua, taktik dan strategi PKI beruabah-ubah dengan memperhitungkan situasi. Misalkan saat berhadapan dengan kolonial, taktik mogok dan bersenjata dipakai, sedangkan saat berhadapan dengan kekuasaan Soekarno maka sotempuh taktik pembentukan front kesatuan. Menurut Kuntowijoyo, kendala dalam radikalisasi PKI terdapat beberapa penyebab. Pertama, ajaran PKI yang mendasarkan pada dogmatisme sejarah. Kedua, PKI yang mendasarkan pada integrasi nasional mendapat reaksi keras dari parokialisme pedesaan. Ketiga, adanya kesalahan kultural atau aliran dalam PKI. Partai Komunis di negara lain berhasil karena tidak menghadapi gerakan keagaman yang terorganisir secara formal, sedangkan PKI mendapatkan perlawanan efektif dari kekuatan ini. Marxisme adalah ajaran yang memiliki daya pikat yang panjang, dikarenakan oleh beberapa sebab. Pertama, Marxisme adalah teori yang monostik memegang kunci penjelasan mengenai segala sesuatu yang penting dalam organisasi dan masyakarat sekaligus halyang mungkin terjadi di masyarakat. Kedua, dalam sekalian bentuknya yang terselubung, dalam seluruh teori-teorinya, terkandung suatu ekspresi harapan, harapan inilah  yang mengambil bentuk, penyusunan konsep masyarakat masa depan.

Alasan ketiga adalah mereka percaya kebebasan, sehingga banyak orang yang terpikat pada Marxisme karena gagasan kebebasannya. Sebab terakhir adalah, dalam beberapa hal Marxisme menyimpan kebenaran; Marxisme memberikan beberapa peristiwa dan fakta sosial yang bicara tentang hakekat masyarakat Industri. Daya pikat tersebutlah yang kemudian diturunkan dalam dalil-dalil gerakan.

Kekuatan lain yang tampil hingga saat ini adalah Nasionalisme, yang memiliki akar sejarah pada pembentukan PNI. PNI berusaha menerjemahkan rasa nasionalisme dan kebangsaan yang berkembang saat itu, dengan menggantikan secara total, gerakan yang berorientasi lokal, etnik, dan agama. Penjabaran PNI kurang radikal jika dibandingkan dengan PKI dan SI. Kebijakan sosial dan ekonominya hanya untuk melindungi kepentingan elite yang menjadi anggotanya. Itulah sebabnya PNI sama sekali tak menyinggung sektor perburuhan, hak-hak kaum tani atau land reform. Para pimpinan PNI ditangkap bukan karena pemberontakan sebagaimana yang dilakukan PKI, namun karena tuduhan akan melakukan pemberontakan. Hatta menilai bahwa pemerintah hanya sekedar memperlemah PNI, bukan menghancurkan. Sedangkan Syahrir menilai bahwa kegagalan PNI disebabkan oleh para pimpinannya yang beroikir borjuis dan feodal.

Nasionalisme semula memang sebuah reaksi perlawanan yang diikat oleh etnitas, kedaerahan dan agama. Orientasi yang muncul dari proyek nasionalisme adalah sifat anti-kolonialisme yang menonjol, malahan basis dari gerakan nasionalis adalah kolonialisme. Selanjutnya asionalisme mengambil peran progresif, yang bukan hanya menghancurkan konsep feodalisme dan imperialisme, tetapi juga merobohkan peran digdaya agama. Nasionalisme memperkenalkan kembali semangat kebangsaan yang berwatak sekular, mengunggulkan kembali apa yang disebut jati diri bangsa.

Nasionalisme menjadi agama baru yang menggantikan  perlawanan yang berbasis Marxis dan Islam. Pada awalnya nasionalisme adalah kekuatan ideologi yang diusung oleh kelas menengah berpenidikan. Kesadaran konservatif pada kelas berpendidikan ini ternyata tidak menangkap distorsi  yang  muncul pada sistem kapitalisme yang terus tumbuh dan menggerogoti. Keterbatasan kesadaran dan kesulitan struktural inilah yang menyebabkan kekuasaan politik yang dipegang tidak mampu menggerakkan secara dinamik masyarakat menuju pasda penciptaan kemakmuran. Masyarat terjerembab dalam kesadaran politik primordial yang ujung-ujungnya terjadi proses demoralisasi pada gagasan nasionalisme sendiri.

Di Indonesia nasionalisme lahir sebagai gerakan untuk menentang dan mengakhiri suatu pemerintahan dan kekuasaan kolonial. Yang terjadi dengan karakter seperti itu adalah adanya bangsa yang merdeka mendahului suatu negara yang berdaulat. Efek inilah yang kemudian muncul, negara meskipun telah merdeka tetapi mewarisi watak kolonialisme, dari kebijakan ekonomi hingga kemiliteran. Negara lewat Angkatan Darat, mendefinsikan ‘komunisme atau PKI dan ‘fanatisme keagamaan yang sempit’ (gerakan islam) sebagai kekuatan musuh. Padahal sesungguhnya kedua kekuatan tersebut menjadi ancaman yang mengusik ‘kekuasaan’ Angkatan Darat. Misalnya, PKI yang memiliki pandangan politik radikal yakni mempercayai jalan parlementer dan meyakini bahwa pusat revolusi dunia ada di kawasan Asia dan Afrika, tentu ini mengusik kemapanan Angkatan Darat. Demikian pula dengan Gerakan Islam yang memandang pertauatanerat antara bentuk negara dengan Islam sebagai ajaran. Untuk kedua kekuatan itu militer telah melakukan langkah-langkah sadis yang hingga kini dikenal sebagai pelanggaran HAM berat. Melalui ‘musuh’ tentara itulah telah ditetapkan ideologi total war atau perang semesta, dimana musuh negara bukan berasal dari luar, tetapi dari tubuh negara sendiri. Pada PKI terjadi pembantaian jutaan nyawa tanpa diadili, dan untuk Gerakan Islam terjadi hal yang sama. Dengan menyatakan bahwa dua kekuatan militer itu adalah ancaman bagi stabilitas negara maka militer diberikan kekuaaan untuk melakukan kekejaman yang menghina martabat kemanusiaan.

Gerakan Islam mengalami kelumpuhan saat berhadapan dengan kaum komunis, militer dan kalangan nasionalis. Terdapat krisis akut dalam tubuh gerakan islam sehingga kalah dihadapkan pada ketiga kekuatan tsb. Pertama, krisis keyakinan yang merata pada semua komunitas. Gerakan Islam gagal dihadapan komunisme karena tidak mampu membuat bahasa wahyu menjadi bahasa aksi, sementara komunisme banyak merebut simpati karena mampu membuat kalimat tentang keadilan dan pemerataan sebagai bahasa aksi yang sederhana dan mudah dipahami awam. Kedua, kecenderuangan Gerakan Islam  untuk membina loyalitas massa dengan cara pendekatan normatif. Maka ketika dihadapkan oleh gerakan nasionalis yang memanfaatkan idoim sekuler gerakan islam tidak mampu memotivasi pengikutnya untuk keluar dari krisis identitas sebagai bahasa yang merdeka. Konsep kebangsaan kurang mampu dikaitkan dengan sistem sosio-kultural umat. Kecenderungan normatif ini tak lepas dari kontradiksi fundamental antara kepercayaan sebagai kaum muslim dengan kenyataan sebagai kaum muslim dengan kenyataan pluralitas. Ketiga, yang kentara akibat kedua hal diatas adalah pragmatisme. Pragmatisme muncul sebagai keinginan untuk menjaga kestabilan sistem dimana posisi dan peran gerakan Islam masih dipertahankan meskipun tidak dominan. Contoh sikap pragmatis ini ditunjukan melalui persekutuan antara gerakan Islam dengan militer pada pasca Orde Baru maupun reformasi. Pragmatisme itu pula yang menyebabkan gerakan Islam tidur pulas ketika menyaksikan kekejaman gerak modal.

Untuk itu semua diperlukan sebiah pendekatan baru  bagi kajian-kajian Islam diaman bukan sekedar melihat ‘cara berpikir’ umat melainkan ‘sistem produksi’ yang berpengaruh pada ‘cara bertindak’ umat. Ini mendorong Gerakan Islam tidak berada dalam pola pikir ‘apa yang seharusnya dilakukan umat’ sehingga terjebak untuk hanya ‘melihat apa yang ingin dilihat’ tapi mampu untuk ‘memperhatikan sebanyak mungkin pengaruh struktural yang relevan’. Untuk itu pola keagamaan dalam pandangan islam Kiri, semestisnya sedekat mungkin dengan punya hubungan erat dengan praksis sosial-ekonomi masyarakat sehari-hari; sehingga makna wahyu, sebagaimana dinyatakan oleh pendekatan transformatif, harus menemukan tempatnya dalam proses sosial. Dalam menyelidiki mengapa umat Islam selalu tertinggal dalam berbagai bidang jika hanya melihat pengaruh doktrin dan tidak (mau) melihat pengaruh yang sangat besar dari imperialistme dan kolonialisme maka yang terjadi adalah simplifikasi, dan ini mesti dihindari. Pemikiran-pemikiran keagamaan yang berangkat dari kesadaran untuk melakukan kontrol sosial serta watak alternatif memang banyak berguna bagi rangsangan ilmiah dan pada kenyataannya ‘kesadaran struktural’ ini bisa diuji secara empiris. Pandangan yang dapat dijadikan dasar dalam praktek Islam Kiri.

Tulisan-tulisan yang berkaitan:

Artikel lainnya:

0 komentar

Subscribe