[Book Review] Islam Kiri: Melawan Kapitalisme Modal (Bag. 4 - Habis)

September 10, 2017

Menuju Praktek Perlawanan dan Pembebasan

Sedikitnya ada empat rumusan, yang menurut Eko dapat dijadikan sebagai upaya perlawanan dan pembebasan agar Islam Kiri tidak terjebak sebagai konsep tekstual belaka.

1. Mencetuskan Gerakan Advokasi

Dalam gerakan Islam, bantuan hukum masih dalam pertahatian yang minim. Padahal dalam islam ada perintah untuk selalu bersama-sama dengan kaum dhuafa (kesenjangan natural atau kaum miskin), dan mustadhafah (kesenjangan akibat struktural atau kaum teraniaya). Keadaan yang menimpa kedua golongan ini bukan semata-mata karena salahnya mereka namun juga imbas dari penindasan struktural, seperti misalnya perampasan tanah untuk ‘kepentingan umum’. Berangkat dari persoalan-persoalan ketidakadilan sosial, pelanggaran HAM berat, dan bentuk sistem yang ‘memiskinkan’ lainnya maka kesadaran untuk menumbuhkan kekuatan kritis pada diri gerakan Islam perlu dirintis.
Sebab, pada hakikatnya, ajaran Islam memberikan kepastian perlindungan pada kaum lemah pada lima aspek penting. Pertama, perlindungan terhadap jiwa atau hak hidup. Kedua, perlindungan terhadap keyakinan yang pada hakekatnya ‘tidak ada pemaksaan’ dalam bentuk keyakinan, atau dalam bahasa lain perlindungan atas agama tau sistem sosial dalam masyarakat. Ketiga, perlindungan terhadap akal pikiran. Islam memuliakan pengetahuan dan menentang pelanggaran terhadap akal sehat. Keempat, perlindungan terhadap hak milik, yang dalam hukum islam adalam keharaman mencuri. Ini dapat diterjemahkan bahwa gerakan Islam mestinya memiliki komitmen yang besar untuk membela kaum marginal yang selama ini hak miliknya dikorbankan untuk kepentingan kekuatan yang jauh lebih besar (misalnya tanah, pekerjaan, dan kedaulatan). Kelima, hak berkeluarga atau hak memperoleh keturunan dan mempertahankan nama baik. Kelima dasar inilah yang menjadi dasar gerakan advokasi atau pembelaan yang semestinya menjadi fokus gerakan islam. Kisah pendirian dan kiprak LBH bisa menjadi inspirasi bagi gerakan Islam untuk merintis gerakan advokasi yang lebih tersistem dan terlembaga.


2. Menyemai Pendidikan Kritis Rakyat: dari Kepatuhan Buta Menuju Kesadaran Perlawanan

Dalam paparan ini, Eko Prasetyo banyak mengkritik tentang praktek pendidikan di Indonesia, dari mulai ketidakseriusan pemerintah dengan anggaran pendidikan yang proporsinya kecil, hingga sistem pendidikan yang hanya sebagai komiditi pencetak manusia-manusia ‘penurut’ bukan untuk menumbuhkan kesadaran kritis akibat disusupi ideolgi kapitalistik. Akibat yang paling serius adalah terjadinya proses dehumanisasi pada peserta didik dan lembaga pendidikan melestarikan tatanan yang memang tidak adil. Organisasi Islam yang memiliki sejumlah lembaga pendidikan perlu untuk merintis kesadaran kritis pada anak didiknya dengan membongkar ‘mitos-mitos’ yang selama ini memayungi sistem pendidikannya. Pertama, membongkar habis mitos bahwa kegiatan belajar mengajar terpusat pada guru dan bergantung pada kehadiran anak didik di sekolah, sehingga anak didik tidak lagi tunduk pada standar orang lain pada perkembangan dirinya. Kedua, membongkar mitos bahwa pengalaman tidak penting bagi bahan pengetahuan. Pengalaman yang berpuncak pada pengalaman sosial yang melibatkan kontak serta komunikasi sebenaranya dapat menjadi sumber utama pengajaran. Belajar dari pengalaman merukan metode pendidikan yang akan melatih siswa untuk melihat kaitan timbal-balik antara kehidupan sosial dengan pendidikan. Dalam konteks menyemai pendidikan kritis maka metodologi pendidikan dari monoog harus diganti menjadi dialog. Freire menyatakan pendidikan model bank (banking system) yang meletakkan posisi guru tahu segalanya patut ditinggalkan. Juga terhadap model pendidikan problem solving, perlu ditinggalkan karena masih melanggengkan relasi subjek-objek.

Arah dan tujuan pendidikan kritis, semestinya mengikut apa yang dinyatakan Freire, “Pendidikan yang dituntut oleh situasi kita adalah pendidikan yang menuntut manusia berani membicarakan masalah-masalah lingkungan dan turun tangan dalam lingkungan tersebut; pendidikan yang mampu memperingatkan manusia dari bahaya-bahaya zaman dan memberikan kekuatan untuk menghadapi bahaya-bahaya tersebut; bukan pendidikan yang menjadikan akal kita menyerah patuh pada putusan-putusan orang lain."

Gerakan Islam perlu melestarikan sistem pendidikan kritis ini sebagaimana pernah dicoba oleh Sarekat Islam ketika mendirikan Sekolah Rakyat. Di bawah asuhan Tan Malaka sekolah ini menyebarluaskan nilai-nilai kemerdekaan bahkan ketika mencara sumbangan untuk biaya fasilitas sekolah anak-anak menyanyikan lagu Internationale, yang potongan liriknya.. “negara menindas, hukum berbohong..” Lagu yang  melatih anak-anak didik untuk tidak menjadi alat penindas melainkan menjadi siswa yang kelak akan melawan penindasan. Sebuah sistem yang menurut Tan Malaka, disesuaikan dengan keperluan dan cita-cita rakyat miskin.

3. Menjadikan Media Sebagai Alat Perlawanan

Sejak semula industri media, memang merupakan bentuk perusahaan komersial yang diorgarnisir menurut garis kapitalis. Dalam analisis Alvin Toffler, setiap jenis teknologi media akan melahirkan lingkungan teknologi-teknosfer-yang khas. Teknologi informasi, sebagai bagian dari teknosfer, akan mewarnai infosfer, yakni budaya pertukaran informasi di antara warga masyarakat. Karena manusia adalah makhluk sosial, perubahan sosiofer – yakni norma-norma sosial, perubahan sosiofer akan merubah cara berfikir, cara merasa dan cara berprilaku mereka. Pada konteks inilah teknologi informasi dapat mempengaruhi kita melalui cara: kehadirannya dan isinya.

Karena sifatnya mendunia maka teknologi juga ikut terlibat dalam penyeragaman nilai. Dalam beroperasi pertama-tama, kita diseret perlahan-lahan untuk memandang dunia seperti orang-orang Barat memandangnya. Akibatnya apa yang dianggap penting bagi Barat kita anggap penting pula. Kebangkitan sosial di Cina, Iran, bekas negara-negara Uni Soviet, karena adanya kondisi yang mendorong produksi ideologi subversif dan konstruksi terhadap interpretasi serta aksi perlawanan oleh khalayak. Dan media, menjadi tempat untuk menegaskan kembali gema kepekaan rakyat, berperan aktif sebagai agen perlawanan, terutama ketika citra yang disajikannya berinteraksi dengan kondisi-kondisi lokal yang meresahkan. Tanggung jawab untuk mengungkap kebenaran dengan akurat akan membuat media menjadi kekuatan positif, dan pada hal ini bertemu pada relevansi dari kalimat Clifton Fadiman, “Rumus untuk menciptakan masyarakat yang sempurna selalu sama saja: jadikanlah kebajikan sebagai keharusan.”

Maka dalam bentangan media yang bebas, kita tampaknta harus kembali untuk menguji lagi batas-batas anatara keperluan dan kebutuhan publik; agar tak selamanya media sekedar menjadi kekuatan yang menaklukan potensi manusia, sehingga ia menjadi diri yang datar, orang yang melepaskan diri dari peran-peran revolusioner, seorang konformis; tapi juhgajadi kekuatan kritis yang membangkitkan potensi-potensi manusiawai individu. Dalam konteks inilah gerakan Islam Kiri harus mengambil peran media di wilayah ini.

4. Pengorganisasian Rakyat Miskin

Secara implisit basis massa Gerakan Islam adalah kelompok-kelompok sosial yang dapat dikategorikan sebagai ‘korban pembangunan’, yakni pertama, adalah kaum buruh yang selama i ni terus dieksploitasi tenaganya dengan upah minim. Kedua, kelompok petani yang memiliki lahan sempit yang selalu berkonflik dengan penguasa maupun pengusaha. Ketiga, kaum miskin kota yang berprofesi sebagai tukang becak, ojek, pedagang kaki lima, anak jalanan, pekerja seks komersial dll. Keempat, para pengungsi yang merupakan imbas konflik daerah maupun bencana alam. Kelima, anak dan perempuan yang menjadi korban dari sistem kapitalisme modal sehingga berada di posisi sebagai kelompok yang diperdagangkan. Dengan meletakkan pusat perhatian pada lima kelompok diatas maka gerakan Islam memerlukan taknyik dan strategi yang berbeda, sehingga mendapatkan dukungan dari masyarakat. Taktik pertama adalah menempatkan gerakan Islam sebagai kekuatan koreksi ats serangkaian kebijakan pemerintah khususnya yang mengabaikan kepentingan rakyat. Kedua, perlu untuk mengembangkan pandangan-pandangan teologis yang memuat gagasan dan keyakinan-keyakinan alternatif sehingga mampu menentang pandangan dominasi dari kelas penguasa dan pemodal. Elaborasi atas prinsip-prinsip Islam pada pembelaan kaum miskin bisa menjadi bekal perlawanan yang efektif sekaligus juga dapat memberikan sumbangan bagi terciptanya ‘identitas Islam Kiri’. Taktik ketiga adalah dengan memperluas jaringan dengan berbagai kelompok pro demokrasi dan mahasiswa.


Dapat disimpulkan bahwa, dalam mewujudkan konsep Islam Kiri, gerakan Islam tidak harus mengacu pada pembentukan partai politik. Karena partai politik yang berbasis Islam sendiri terbukti masih gagal dalam memperjuangkan aspirasi mayoritas rakyat. Bahkan keterlibatan partai politik yang mendidik umat menjadi bodoh, menjadi demagogi, retorika dan basis massa belaka.

Prioritas pada konteks gerakan Islam Kiri adalah adanya kondisi bagi tumbuhnya kesadaran kritis pada kalangan Islam terhadap struktur dan kepentingan para penguasa serta beroperasinya pemodal. Selanjutnya, umat Islam harus melepaskan diri dari kungkungan mazhab untuk digantikan pada loyalitas terhadap masalah-masalah sosial. Sebuah perubahan doktrin dan budaya keagamanaan yang elitis perlu diganti dengan keagamaan yang berproses, berjuang, beroposisi, dan jika perlu melakukan konfrontasi. Gaya keagamaan yang ‘tuli dan buta’ pada penderitaan sosial perlu digantikan dengan model keagamaan yang ‘peduli dan memihak’ kaum miskin serta meraka yang terlantar. Dengan cara begitu kita dapat membuktikan bahwa Islam itu rahmat bagi mereka yang miskin dan tertindas.

Tulisan-tulisan yang berkaitan:
[Book Review] Islam Kiri: Melawan Kapitalisme Modal (Bag. 1)
[Book Review] Islam Kiri: Melawan Kapitalisme Modal (Bag. 2)

Artikel lainnya:

0 komentar

Subscribe