Bukan Curhat

Jomblo Moderat dan Cara-cara Berdamai dengan Pertanyaan (Sentimen) “Kapan Nikah?”

Desember 14, 2017

“Buku di tangan kiri, kopi di tangan kanan, jodoh di tangan Tuhan” – @bukumojok
“Buku di tangan kiri, kopi di tangan kanan, jodoh di tangan Tuhan sendiri “ – @berdikaribook
Dua quote tersebut jika dilebur akan menjadi :
“Baca buku + ngopi , nyambi ngambil jodoh dari tangan Tuhan ke tangan sendiri.”

Jika ada taksonomi mengenai marwah kejombloan, mungkin kira-kira urutannya begini: 1) Jomblo Konservatif ; 2)  Jomblo Moderat; 3) Jomblo Progresif, terakhir 4) Jomblo Radikal. Sungguh saya bosan dengan tajamnya polarisasi agama, (dengan segenap kesotoyan saya) maka mari kita mulai kajian mengenai polarisasi marwah kejombloan.


Marwah pertama, yaitu jomblo konservatif
Istilah kasarnya sih “jomblo ngenes”, tapi kita pakai bahasa yang halus dan tidak menyakiti aja ya. Jomblo jenis ini ya bentar-bentar ngeluh karena kejombloannya, bentar-bentar menyalahkan kesendiriannya, bentar-bentar meratapi nasibnya yang nirpasangan. Over sensitif terhadap pertanyaan kapan dan kapan, mana dan mana. 

Bagi jomblo konservatif, seakan-akan semua masalah di dunia ini selesai dengan memiliki pasangan. Seakan-akan dunia dan seisi akan jauh lebih baik dengan kemana-mana gandengan sama pasangan. Seakan-akan jawaban atas segala kepahitan hidup adalah pernikahan. Pernah seorang teman tag saya di facebook sebuah meme yang isinya : “Pernikahan modern : lemah dan rentan cerai karena orang-orangnya perlakukan pernikahan bagaikan sebuah generator kebahagiaan.


Banyak orang mengira nikah itu generator kebahagiaan, jadi ketika mereka menemukan kenyataan tak sesuai harapan, pernikahan yang semacam ini yang rentan. Padahal nikah bukan jaminan bahagia forever ever after kayak ending cerita kartun Disney. Sederhananya,  kalau nikah itu yang tadinya seneng sendiri, senengnya jadi berdua. Yang tadinya sedih sendiri, sedihnya jadi berdua. Ada temennya, seiya seranjang.  Jadi, kalau kamu cuma pengen bahagia, sebaiknya gak usah nikah, cukup reunian aja sama temen TK, udah bahagia kan? Pun, saya sedikit sentimen sama orang-orang yang menganggap pasangan hidup (hanya sebatas) pelengkap kebahagiaan. Kalau kamu cuma cari pelengkap, kenapa gak nikahin bawang goreng dan daun seledri aja? 

Betapa sedihnya menjadi manusia yang hanya dijadikan sebagai pelengkap. Kalau dalam struktur kalimat S-P-O-K : Subjek – Predikat –Objek – Keterangan. Maka pelengkap ada di strata “keterangan” bahkan setelah objek. Dedek syedih kalo digituin… pfft. Mungkin di media sosial atau dalam chat saya sering seolah-olah menunjukkan ratapan terhadap kejombloan saya, tapi sungguh, semua itu cuma bercanda, biar suasana cair aja (konferensi pers, nih). Saya sadar sih, gak semua orang bisa nerima candaan dalam bentuk ratapan seorang jomblo. Aslinya saya ini jomblo moderat.

Kembali tentang marwah konservatif. Tingkat keinginan untuk memiliki pasangan pada jomblo jenis ini bisa dibilang tinggi. Gerilya, menggebu-gebu, gak santai, sampai pada tahap cemas: demi memenuhi ekspektasi orang lain atau pun keluarga  agar lekas punya pasangan. Orang-orang seperti ini baik laki-laki maupun perempuan kalau lagi ikhtiar deketin gebetan caranya cenderung agresif, gak maen alus. Musuh utama paradigma jomblo konservatif ini adalah : umur. Seakan-akan pernikahan adalah sesuatu yang bisa dibanding-bandingkan dengan standar ukuran pasti. Gak ada yang salah juga dengan usaha maksimal menemukan pasangan, tapi bagi saya jangan sampai tuntutan menikah dari orang-orang akhirnya mereduksi makna pernikahan itu sendiri. 

Punya keinginan menikah itu ya naluriah, tapi ketika pernikahan terjadi hanya untuk memenuhi standar hidup orang lain yang dipaksakan ke diri kita, sehingga abai dalam memilih partner hidup, alias asal ada aja, ya bahaya juga. Kamu toh akan hidup seumur kamu punya nafas dengan orang tersebut? Tukeran air liur dan satu kamar mandi? Jadi biarkan keyakinan menikahi calon pasangan datang dari diri sendiri (tentu dengan hidayah dan petunjuk Tuhan), bukan dari tuntutan orang lain.

Saya menemukan beberapa contoh teman yang masuk ke dalam marwah konservatif ini. Ada teman yang begitu frustasi karena tak kunjung bertemu jodoh dan membuatnya tidak berkembang alias fokus saja soal jodoh yang gak nemu-nemu itu. Fokus pada keterpurukan. Gak lantas membuatnya mengeksplorasi banyak hal. Kalau ingat orang-orang kayak gitu, rasanya saya ingin berbuat sesuatu untuk membuka pikiran mereka, tapi kemudian saya sadar bahwa saya hanyalah gagang pintu. Bahkan ada orang yang sudah cukup berumur (mendekati umur pensiun), cerita ke saya (entah keceplosan atau apa), bahwa dulu iya menikahi istrinya hanya karena merasa sudah berumur dan tak punya pilihan lain. Kepepet. Di nada bahasanya saya menangkap penyesalan, dia curhat lagi sebenernya gak cocok. Sepanjang pernikahannya pun lebih banyak ributnya, dan mempertahankan pernikahan hanya karena sudah terlanjur punya anak-anak. 

Dalam hati saya cuma bilang, “salah sendiri, kenapa juga dulu nikah karena ngerasa kepepet?” Saya gak bisa membahas tentang pernikahan lebih lanjut, nanti ditimpukin massa, hahaha anak kecil kok sotoy? Sejauh ini saya orang yang masih aja keukeuh bahwa tidak akan ada pernikahan hanya karena umur. Sebab bagi saya pernikahan itu immaterial; ruh, spiritual, ghoib, hahah. Bukan material kayak umur, status sosial, jabatan, harta, dll. Meskipun saya gak cocok sama pandangan jomblo konservatif, tapi saya tetap menghargai pilihan mereka.

Marwah kedua, yaitu jomblo moderat. 
Jomblo moderat itu yang gak sebegitu ngenes seperti seperti jomblo konservatif. Dalam paradigma jomblo moderat, kejombloan bukanlah halangan apalagi penyebab terhadap kering dan pahitnya kehidupan. Orang-orang dalam marwah ini gak terlalu sensitif soal pertanyaan kapan-kapan? ‘Gak terlalu’ di sini maksudnya bukan berarti kebal juga ya. Kadang-kadang kzl juga dengan pandangan konservatif yang menganggap bahwa kesendirian menghadapi dunia adalah hal yang menyeramkan. Jomblo jenis ini bukan berarti gak butuh pasangan, tetap ada keinginan berpasangan. Bukan tanpa usaha, hanya saja masih usaha demi mendapatkan orang yang klik kayak kunci ketemu gembok. Kalau pun jomblo moderat sudah menemukan yang klik tapi belum nikah juga, artinya dia masih menyelesaikan urusannya dengan diri sendiri dulu sebelum akhirnya berdikotil. 

Orang-orang jomblo moderat itu jomblo karena kesadaran, bukan jomblo karena keadaan. Sadar bahwa menikah bukan lomba lari, yang siapa cepat dia dapat predikat menang. Sadar bahwa keterburu-buruan menikah hanya karena harapan orang lain itu bukan hal yang bijak. Sadar bahwa memiliki pasangan demi status belaka (sehingga aman dari intimitasi verbal), juga merupakan bentuk penindasan manusia. Hahaha. Makanya jomblo moderat lebih suka ngulik sisi ekstensial pernikahan (filsuf banget, ya?). 

Pertanyaan-pertanyaan yang sering digali di kepala mereka adalah pertanyaan semacam, “Nikah itu apa? Nikah itu gimana? Nikah itu mau jadi apa? Dan, kenapa aku cantik?”. Mungkin mereka tidak akan menikah sebelum menemukan jawaban-jawaban itu dan sebelum tau arah pernikahan seperti apa yang mereka inginkan, dan sebelum ketemu orang yang bener-bener mau tukar isi kepala dengan mereka. Jomblo moderat bukan berarti gak laku, tapi cuma kurang laku aja, wkwkw. Maksud saya, bisa jadi gak sulit bagi jomblo moderat untuk sekadar punya pasangan buat pamer di media sosial atau pajangan di kondangan teman. Catat: sekadar! Tetapi, jomblo moderat tidak memilih jalan itu, ia memilih jalan sunyi penuh intimidasi dari orang-orang konservatif. Santai sendirian, tapi gak naif juga kalau butuh pasangan. Ikut bahagia melihat kebahagian pasangan lain (selama kebahagiaan yang dipamerkan itu tidak merusak mata). Tetap tenang, tetap senang, tetap kenyang. 

Marwah ketiga, yaitu jomblo progresif
Ini levelnya di atas jomblo moderat. Lebih banyak memfokuskan dirinya terhadap kerja-kerja berfaedah yang progresif. Fokus pada pengembangan diri dan berkarya. Sehingga orang-orang mikir dua kali kalau mau mengintimidasi jomblo jenis ini. Karya-karya mereka akhirnya menjadi kompensasi atas kejombloan mereka. 

Banyak tokoh-tokoh besar yang jadi jomblo progresif. Mereka orang-orang yang pada mulanya kalah dalam cinta, namun kekalahan tersebutlah yang membuat mereka berkembang lebih jauh, bukan justru jadi menye-menye ala jomblo konservatif. Misalnya Wage Rudolf Supratman, tokoh pergerakan nasional yang punya peran besar, tapi kisah cintanya ambyarrr. Atau Ahmad Wahid, intelektual muda sang pemikir islam progresif, yang gak berani ngungkapin perasaannya ke perempuan yang dia taksir: cuma bisa nulis curhatan di buku harian. Atau Tan Malaka yang revolusioner banget, nulis Madilog dengan cuma ngandelin ingatan dari buku-buku master yang pernah dibacanya.  Atau Soe Hok Gie, yang cintanya selalu tak direstui oleh orang tua perempuannya. Keperihan jalan cinta Gie juga pernah saya tulis disini.  Soren Kierkegaard (SK), filsuf Denmark, yang sengaja melepas Regina dan memilih untuk tidak jadi menikahinya. SK gak mau Regina yang periang jadi menderita kalau nikah sama dia. Hiks. SK sampai menulis kayak gini buat Regina;
“Jangan terlalu sering mempertimbangankan sesuatu yang harus dilakukan, yang bila dilaksanakan merupakan sumber kekuatan yang perlu dilakukan – maka lakukan hal itu. Di atas segala-galanya, lupakanlah dia yang menulis ini; maafkanlah orang yang meskipun mampu berbuat sesuatu hal, tetapi tidak mampu membahagiakan seorang gadis.” (BAPVER)

Atau Imam Nawawi, yang saking progresifnya, seharian kerjaannya cuma nulis kitab sampe 40 lembar sehari, mana sempet cari pasangan? Kalau contoh jomblo progresif versi perempuan, ya Bunda Teresa. Coba, siapa yang berani ngenye-ngenye kejombloan mereka? 

Jomblo progresif juga masih punya ghirah untuk nikah, namun masa-masa pencariannya lebih banyak diselipkan dengan karya, kerja-kerja nyata, dan pengabdian. Jadi, kalau sekarang kamu baru sampai pada level jomblo moderat, berusahalah naik tingkat ke jomblo progresif. Buatlah orang yang dulu ngenye-ngenye kejombloanmu menjadi orang yang bertekuk lutut kepadamu. Atau bahkan  orang-orang yang punya pasangan jadi iri sama kejombloan kamu yang berfaedah itu.

Marwah keempat, yaitu jomblo radikal
Jomblo radikal barangkali menjadikan kejombloan sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan struktur sosial. Motto mereka: Jomblo adalah melawan! Jomblo radikal sadar sepenuhnya bahwa menjadi lajang adalah bentuk kebebasan terakhir. Orang-orang semacam ini mungkin pernah mencintai dengan tulus, tapi diabaikan sehingga memilih pergi, hahah. 

Saya jarang sih ketemu orang yang jomblo radikal, tapi ada ya ada aja. Jomblo radikal ini ya gak ada ghirah sama sekali untuk menikah, bahkan baginya pernikahan hanyalah menambah permasalahan dunia, pernikahan justru menjadi penghambat mereka. Kalau pun mereka akhirnya memutuskan menikah, mungkin yang mereka akan nikahi adalah benda mati. Saking udah gak percayanya sama manusia. Mari tetap hargai pilihan mereka. Jangan ada pertentangan antar mazhab jomblo.

Nah, setelah mengenali sedikit mengenai taksonomi marwah jomblo, berikut ini saya sharing tentang cara berdamai dengan pertanyaan "kapan nikah?". Berdasarkan pengalaman empiris saya yang mendaku sebagai bagian dari barisan jomblo moderat. Setuju ya silahkan, gak setuju ya gapapa. Selain membuat kamu berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan sentimen itu, mana tau cara-cara ini bisa jadi ‘pancingan’ untuk menyongsong pernikahan kamu. Seengaknya, kalaupun sampai mati kamu gak ketemu jodoh kamu, minimal jadilah jomblo yang bermartabat yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat. 

1.    Just Living the Live

Bahagia pada waktunya bahagia. Sedih pada waktunya sedih. Kecewa pada waktunya kecewa. Bersyukur dan nikmati semua rasa yang cuma bisa dialami sama manusia. Resapi sepi yang datang sesekali. Gak perlu terlihat sok kuat dengan kesendirian kamu. Gak perlu naif dengan terlihat paling bahagia, padahal dalam hati mengakui butuh pasangan juga. Just living the live. Banyakin berdoa, kurangi ekspektasi pada manusia. Kalau berharap ya pastikan harapan kamu cuma ke Tuhan, bukan pada makhluk kebendaan lainnya. Tetap berkembang dengan cara kamu. Kalau bisa sih mumpung masih bermonokotil, sekalian lah abisin kuota nakal kamu. Kan gak lucu kalau udah nikah, udah banyak buntut eh tapi masih suka eksperimen kenakalan. Cukuplah nakal pada waktunya... 

 

2.    Masuk dalam Lingkaran Jomblo untuk Saling Menguatkan

Jomblo-jomblo sedunia, bersatulah! Seorang teman menginisiasi sebuah partai untuk menampung para tuna asmara, fakir cinta, dan jomblo terlantar: Partai Jomblo Revolusioner. Sebuah partai yang bertujuan menaikkan harkat martabat jomblo, agar jomblo yang selama ini dianggap makhluk kelas dua bisa bertransformasi menjadi jomblo yang berdaya dan berdigdaya.  Tagline-nya, “kami butuh kamu yang berhati rapuh, berjiwa militan”.

Militansi dari misi partai (partaian) tersebut membuat saya terpanggil untuk menjadi simpatisan –cum- loyalisnya. Ini semacam kerja untuk kemanusiaan, hhahha. Berada dalam lingkaran teman-teman jomblo moderat dan jomblo progresif sebagai penyeimbang terhadap tekanan dari atmosfer yang konservatif, membuat langkah saya agak ringan dalam menjalani kesendirian saya. Ketika kamu termasuk bagian dari jomblo konservatif dan kamu hanya berada di lingkaran orang-orang konservatif juga dan tidak berusaha membuka pergaulan ke lingkaran baru, maka selamat, kamu akan semakin cemas dan dan miskin karya karena intimidasi mereka. 

 

3.    Nyicil Persiapan Setelah Menikah

Kalau belum keliatan jodohnya, gak ada salahnya juga nyicil mewujudkan cita-cita setelah menikah nanti. Nikahnya lewatin dulu, loncat ke setelah menikah. Misal pengen jago masak buat masakin pasangan dan anak-anak, ya nyicil belajar masak dari sekarang. Misalkan abis nikah mau kerja yang fleksibel bisa dari rumah sambil ngedidik anak. Ya, dari sekarang nyicil siasat biar bisa punya waktu  kerja fleksibel. 

Belum ada jodohnya ya gapapa, siapin aja dari sekarang cita-cita setelah nikah. Anggap aja jodoh mah bonus, wkwkwk. Ada lagi teman yang mulai nyicil beliin buku dongeng buat anak-anaknya kelak, padahal sama kayak saya.. Hilalnya belum keliatan juga. Visioner banget kan. Banyak orang-orang yang memang lebih fokus ke persiapan setelah menikah, kalau laki-laki biasanya mematangkan mempersiapkan materi untuk pasangan dan anak-anaknya. Memastikan setelah menikah mereka hidup cukup, gak sengsara-sengsara banget kayak jaman masih jomblo. Pola produktif seperti ini bisa dicontoh sebagai salah satu cara berdamai dengan pertanyaan kapan dan kapan. 

 

4.    Bantuin Nikahan Teman

Jadilah jomblo bermartabat yang gemar membantu pernikahan teman, mantan, atau mantan teman.  Suatu kali seorang teman mengganggap saya berpengalaman dalam mengorganisir event (padahal kenyataannya engga), saya diminta ngelist kebutuhan yang perlu disiapkan untuk menikah (adat maupun resepsi). Hal-hal seperti ini akhirnya yang membuat saya semakin berdamai dengan pertanyaan kapan dan kapan. Ikut senang melihat kebahagian orang lain dan pasangannya,  bahkan ikut membantu mereka mewujudkan pernikahan mereka. 

Misal dimintain tolong nyebar undangan nikah orang, ya jalanin aja. Itung-itung latihan, atau minimal pernah ngalamin ngerasain sekali nganter undangan misalkan akhirnya kamu tetap gak ketemu jodoh kamu sampai akhir hayat, hahah. Pernah juga saya diminta nulis puisi untuk dicetak di undangan nikah teman. Ya, saya iyain aja, meskipun hasilnya bait-bait ambyar kayak gini. Da, saya mah cuma bisa ikut bahagia ngeliat kebahagian orang lain, meskipun saya bukan bagian dari kebahagiaan mereka (bapver). Tuhan bersama jomblo-jomblo yang memudahkan urusan orang pasangan lain. Tabique.

 

5.    Pencitraan ke Wedding Expo

Sebagai jomblo moderat saya juga punya angan-angan tentang acara pernikahan saya kelak. Jodohnya belum ada ya gapapa, konsepnya dari sekarang, hahah. Konsep pernikahan yang privat, sederhana tapi tetap sakral. Ngomong-ngomong saya juga pernah nulis tentang pengalaman datang ke pernikahan ala desa, silahkan kalo mau baca lagi. Gak ada yang ngelarang jomblo uuntuk sedikit banyak tau tentang persiapan pernikahan (selain persipan mental yang sifatnya wajib tanpa kompromi, ya). 

Sebagai orang yang hilal jodohnya belum keliatan dan lagi  tahap ngambil dari tangan Tuhan (baca: banyakin doa, kurangi berharap pada manusia, hahah), saya sering iseng dateng ke wedding expo. Iseng sendirian cum liputan, atau pun nemenin teman. Dan memang selalu bawa banyak oleh-oleh brosur dan tiket promo. Sebagai jomblo bermartabat, saya tak egois untuk menyimpan brosur-brosur itu di lemari sampai nunggu kepake entah kapan, walhasil saya hibahkan lagi brosur-brosur itu ke teman yang memang merencanakan pernikahan dalam waktu dekat. 

Kali ini saya tidak lagi akan membahas tentang seberapa penting mengunjungi Wedding Exhibition, karena itu udah pernah saya ulas setahun yang lalu. Biasanya sih saya dateng ke acara expo yang gratisan, atau kalau pun berbayar ya saya minta traktir teman yang ngajak kesana lah, kan saya cuma nemenin (gak mau rugi, wkwkk).

http://www.bekasiweddingexhibition.com/


Misalkan kayak event 4th Bekasi Wedding Exhibition (BWE 4) yang akan berlangsung tgl 26-28 Januari 2018 di Grand Galaxy Convention Hall, Grand Galaxy Park Mall Lt. 2, ada early free ticketnya yang akan ditutup tanggal  1 Januari 2018. Silahkan klik di sini untuk mendapatkan early free ticket. Katanya lagi , event yang merupakan the biggest wedding expo in the city, akan memajang sekitar 60 vendor pernikahan dari mulai dekorasi, catering, foto, sampai bulan madu campur susu (???). 

Bintang tamunya Dian Pelangi, tapi masih dalam konfirmasi. Yang gak ada di 4th Bekasi Wedding Exhibition cuma calon jodoh. Sekali lagi, gak ada yang melarang orang yang nir-pasangan datang ke wedding expo. Kan lumayan bisa jadi bahan pencitraan atau sekedar afirmasi untuk konsep pernikahan yang masih dalam bentuk angan-angan belaka. Kalau jomblo aja dateng ke wedding expo macem 4th Bekasi Wedding Exhibition, masa orang yang udah berpasangan dan sedang merencanakan pernikahan gak dateng? Jangan kalah dong ama jomblo, hahah *ngiklan*.


Artikel Lainnya

4 komentar

  1. Jomblo aja ada tipenya ya. Hihihi.

    Semangat membantu teman teman menyelesaikan misi resepsi pernikahannya ya. Semoga tiba tiba jodoh terbaik, datang ke kehidupanmu.

    BalasHapus
  2. Tulisannya panjang tapi enak dibaca, diksinya banyak, jadi gak bosen. Selamat menanti hilal, Mblo!

    BalasHapus
  3. Baru tahu ada tipe-tipe jomblo, hahaha. Saya juga lagi jomblo nih, dan emang pertanyaan kapan nikah itu bisa bikin keki kalau hati lagi gak mood. Kalau lagi mood sih, biasanya saya usilin yang nanya. Hehehe

    BalasHapus
  4. Baca ini jadi ingat dulu gabung di KaMaR (Komunitas Maskulin Radikal) yg punya seruan:
    "Kaum lelaki, bersatulah! Sesungguhnya perempuan hanya menginginkan tubuhmu"

    Kemudian saya sadar bahwa saya butuh perempuan seperti perempuan butuh saya sebagai lelaki. Kini, saya dalam tahap mengumpulkan buku untuk perpustakaan anak-anak kelak, meski belum tahu siapa ibunya
    :D

    BalasHapus