Inspirasi

Catatan Dari Sudut TPA ‘Plus-plus’ Gerem

April 07, 2018

Ada orang-orang yang tergerak untuk melakukan perubahan besar.. atau katakanlah tindakan revolusioner (kita merujuk definisi revolusioner ala KBBI, ya), karena buah dari kegelisahannya. Kegelisahan yang berkecambah lagi menjadi ide-ide yang mesti diwujudkan sebagai bentuk dari tanggung jawab sosial.  Kegelisahan yang tentu bukan datang tiba-tiba seperti ilham, melainkan akumulasi atas hasil ‘pembacaan’ terhadap realitas sosial, yang juga dipengaruhi oleh buku-buku bacaan, hasil pertukaran pikiran dengan banyak kepala, maupun hasil perenungan-perenungan atas kenyataan-kenyataan yang dialaminya sendiri di lingkup keluarga. 

Orang-orang seperti apa yang disebut Gie sebagai, “the angry young man”. Sedikit banyak saya bisa ‘membaca’ dan paham dengan isi kepala anak-anak muda model begini (tenang aja, saya juga masih muda kok, hahahah), karena (dalam tingkatan tertentu) saya pun merasakan kegelisahan dan kekompleksan pikiran yang sama. Saya pasti bertanya ke “the angry young man” yang telah melakukan sesuatu yang (setidaknya menurut saya) revolusioner, “Kenapa kepikiran melakukan ini/itu? Triggernya apa?” dan memang jawabannya adalah angka-angka statistik tentang kemiskinan, angka putus sekolah, tingkat pendidikan, seks bebas, angka pernikahan (yang amat) dini, tingkat kriminalitas, dan ketimpangan lainnya. Atau kalau bukan jawaban berupa angka-angka detail paling tidak jawabannya adalah keprihatinan tentang kondisi di lingkungan sekitar, tentang kekecewaan terhadap negara, yang tentu membuat sulit tidur dan sulit menelan makanan.

Sehingga menjadi wajar ketika kegelisahan akibat pikiran-pikiran kompleks -memperhalus sebutan ‘rumit’- tersebut melahirkan dobrakan gagasan-gagasan revolusioner di kepala mereka, yang tentu meminta untuk segera diwujudkan. Begitulah kesimpulan awal saya, bahwa tindakan-tindakan revolusioner selalu lahir dari pikiran-pikiran revolusioner yang juga kompleks. Setidaknya sebelum saya bertemu dengan seorang ibu yang merangkap sebagai penggagas dan pengajar (tunggal) sebuah TPA ‘Plus-Plus’ di salah satu sudut Gerem, Cilegon. Nasib memang selalu mempertemukan saya kepada orang-orang yang membuat saya malu sendiri, hiks. Seminggu lalu, bisa dikatakan ‘kecelakaan’ juga alias pertemuan yang sebelumnya sama sekali tidak saya rencanakan, pertemuan dengan ibu pengajar itu cukup membuat saya mengubah kesimpulan saya, bahwa… tindakan revolusioner tidak melulu lahir dari pikiran-pikiran kompleks, bisa juga lahir dari pikiran-pikiran sederhana.

TPA (Taman Pendidikan Al Quran) tersebut sebenarnya punya nama resmi, tapi saya lupa namanya apa, dan gak catat juga, jadi mari kita sebut saja “TPA Plus-plus”. Kunjungan kesana sebenarnya memang direncanakan Kak Anaz atas informasi dari Teh Sumi, mereka itu satu almamater tingkat Aliyah. Jadi aktor intelektuanya ya memang mereka berdua. Saya dan Kak Jeni hanya ‘terjebak’, dengan modal modus liburan (dadakan).

Teh Nur, perempuan penggagas TPA Plus-plus itu memulai mengajar pada tahun 2013 lalu di ruang tamu rumahnya. Meski saya sudah tau bahwa Teh Nur bukan bagian dari “the angry young man” yang rumit-rumit itu, apa yang digagas Teh Nur cukup membuat saya tak dapat menahan diri untuk bertanya, “Kenapa kepikiran bikin ini? Awalnya idenya dari mana?”

Dan, kurang lebih Teh Nur menjawab, “Awalnya ya saya cuma suka ngajarin anak tetangga aja, semakin lama semakin banyak. Senang aja, terus dibuatkan ‘gubuk’ sama suami saya untuk TPA. Padahal saya tidak pernah meminta dibuatkan bangunan seperti itu. Saya senang aja ketika anak-anak bisa belajar hal lain selain ngaji. Sederhana saja. Karena belum ada TPA yang kayak gitu kan, kebanyakan belajar ngaji aja.”

Tak ada jawaban mengenai angka-angka statistik tingkat putus sekolah, tingkat pendidikan, kualitas pendidikan, maupun keprihatinan lainnya. TPA Plus-plus yang revolusioner ini lahir dari isi kepala yang sederhana. Sebuah kenyataan yang membuat saya lebih dari sekedar malu.

Bagi saya gagasan mengenai TPA Plus-plus bisa dibilang revolusioner. Bagaimana tidak? Persepsi umum tentang TPA yang khusus belajar ngaji,dipatahkan oleh Teh Nur di kampungnya sendiri dengan membuka TPA yang tidak hanya untuk belajar ngaji. Teh Nur sebagai penggagas sekaligus pengajar tunggal, menjadikan TPA tersebut selain untuk belajar baca tulis Al Quran, baca-tulis alfabet dan berhitung, juga sebagai ruang untuk belajar keterampilan, bahkan untuk belajar public speaking, pidato, baca puisi, dan drama.

“Saya pingin anak-anak punya keberanian. Berani tampil, berani bicara."

Kemudian kenapa saya jadi ingat KH. Ahmad Dahlan, ya? Konsep belajar di surau yang tidak membatasi belajar ngaji berpuluh-puluh tahun lalu digagas oleh KH. Ahmad Dahlan lewat lembaga pendidikan Muhammadiyah. Obrolan kami yang singkat dengan teh Nur, bagaimana ia menceritakan proses belajar dan metode mengajar di TPA nya itu, membuat saya menyimpulkan bahwa Teh Nur ini orangnya kreatif banget. Saya juga nebak pake metode sotoylogi, bahwa Teh Nur pernah belajar tentang di bidang kependidikan. Ternyata pas saya konfirmasi memang benar, Teh Nur lulusan PGSD di salah satu kampus di Serang, setingkat D2. Namun apalah arti gelar.. sejatinya gelar itu kan cuma alas duduk, hahahah.
Catatan Dari Sudut TPA ‘Plus-plus’ Gerem
Teh Nur gambar sendiri sebagai buku penunjang belajar

Pelajaran kedua yang saya dapat di pertemuan dengan guru itu, adalah.. tentang "hak pilih" kita untuk memilih pasangan hidup. Hak pilih tersebut sungguh penting untuk dipergunakan sebaik-baiknya. Kita tidak pernah bisa memilih dari orang tua dan latar belakang keluarga yang seperti apa kita dilahirkan. Itu murni hak preogatif Allah. Seorang anak se-idealis dan se-progresif apapun pikirannya, saya rasa jika dia dilahirkan bukan dari orang tua yang mendukung ide-idenya (yang mungkin terkesan ‘gila’), kemungkinannya cuma dua hal, pertama anak tersebut harus sangat sabar dalam mengubah mindset orang tuanya dan ini bisa jadi memakan waktu yang tidak sebentar. Baru setelah berhasil mengubah mindset orang tuanya dan mendapat dukungan dari orang tuanya, ia bisa mulai merintis ide-ide gilanya itu. Kemungkinan kedua, anak tersebut jadi pemberontak di keluarga, dan memilih mewujudkan ide-ide gilanya tanpa dukungan orang tua. Kedua kemungkinan tersebut akan sama-sama membutuhkan proses yang makan waktu, sehingga anak yang lahir dari orang tua yang mendukung(ide-ide gila)nya pasti lebih cepat berkembang ketimbang anak yang tidak lahir dari orang tua yang mendukungnya.

Tapi soal pasangan hidup, saya pikir itu adalah murni hak pilih kita. Laki-laki memiliki hak untuk memilih perempuan mana, dan perempuan memiliki hak untuk menerima atau menolak pinangan laki-laki yang mana. Peluang untuk mendapat calon pasangan hidup dengan karakter tertentu, saya pikir juga tergantung dari lingkaran pergaulan kita. Arah hidup kita setelah menikah sebagian besar akan ditentukan oleh karakter pasangan hidup kita dan bagaimana pola hubungan kita dengan pasangan. Apakah bisa saling menyeimbangkan? Atau sebaliknya, saling jomplang. Agus Salim saya rasa tidak akan seperti seperti sosok yang sejarah catat jika bukan Zainatun yang dinikahinnya. Sebaliknya, Zainatun juga tidak akan menjadi istri dengan karakter sekeren yang kita tahu jika bukan Agus Salim yang ia pilih pinangannya. Ini salah satu contoh yang saya bilang sebagai hubungan yang saling menyeimbangkan. Termasuk Teh Nur. Berkali-berkali Teh Nur bilang, bahwa ia bersyukur memiliki suami yang sangat proaktif mendukung TPA Plus-plus. Mungkin gak akan ada TPA Plus-plus di Gerem, kalau Teh Nur menikah bukan dengan laki-laki yang punya karakter seperti suaminya sekarang. Saya pikir, Teh Nur telah mempergunakan ‘hak pilih’nya dengan sebaik-baiknya. 

“Jujur, disini belajarnya gak gratis, saya pungut biaya. Tapi misalkan ada yang gak bayar sampai berbulan-bulan, bahkan sampai 8 bulan, yasudah. Tidak apa-apa. Tidak saya tagih. Yang penting anaknya semangat belajar, mau belajar. Saya senang.”

Dan tau berapa biaya belajar di tempat Teh Nur? 20.000 per bulan untuk setiap anak. Silahkan kalkulasi sendiri berapa yang ia dapat setiap bulan dengan jumlah murid 37 anak, dengan asumsi semuanya rutin tertib membayar (meski kenyataannya banyak yang nunggak berbulan-bulan, tanpa ditagih). 

Teh Nur membagi 2 jadwal belajar sesuai kategori umur, lepas ashar dan lepas magrib. Tapi anak-anak terlalu semangat, biasanya jam 2 siang sudah datang ke TPA. Teh Nur tidak pernah melarang anak-anak untuk datang lebih cepat, diizinkannya anak-anak bermain dulu di TPA. Jadwal belajar setiap hari (Senin-Minggu), saking anak-anaknya semangat belajar. Minggu biasanya kelas digabung dan merupakan pelajaran ekstra. Di beberapa tanggal merah nasional pun tetap diadakan kegiatan belajar, lagi-lagi mungkin karena anak-anak disana merasa sedang tidak belajar, Teh Nur memang pandai mengemas suasana belajar seperti suasana bermain. Anak-anak kampung tetangga juga beberapa belajar di tempat Teh Nur, padahal disana sudah ada TPA juga.

Selain mengajar di TPA nya sendiri, pagi hari sampai menjelang siang, ibu tiga anak itu juga mengajar di PAUD dengan bayaran 300 ribu per bulan dan dibayarkan setiap 3 bulan sekali (ada potongan sekitar 50 ribu). Selain upah bulanan itu, Teh Nur juga mendapat upah harian dari PAUD sebesar 3000 per hari. Tapi kalau gak masuk sehari maka dipotong 15.000 per hari. Ini gak sampai sih di logika saya, gimana mungkin bayarannya cuma 3000 ribu sehari tapi sekalinya gak masuk potongannya sampai 5x lipat gitu?

Teh Nur hanya memiliki sekotak dus buku-buku penunjang belajar anak-anak. Dan kondisinya bagi saya sudah tidak layak guna, banyak coretan, robekan, lusuh, banyak lipatan. Kalau saya dapat donasi buku yang seperti itu biasanya langsung saya buang. Agak kaget, ternyata di belahan Gerem, karena tak ada pilihan lain, Teh Nur masih menggunakan buku-buku yang saya pikir tak layak itu. Termasuk buku-buku yang sering dijual di bis-bis kota, yang harganya 5 ribu tiga, atau 10 ribu tiga, yang saya pikir buku-buku seperti itu gak akan banyak gunanya. Tetapi di tempat Teh Nur, buku-buku tersebut jadi ‘emas’ dan digunakan terus menerus, meski kondisinya semakin seada-adanya.

Catatan Dari Sudut TPA ‘Plus-plus’ Gerem
Buku-buku yang sudah banyak tambalannya
“Saya mah begini saja, sederhana saja. Tidak pernah meminta, pakai yang ada saja. Jika ada rejeki lebih saya alihkan keperluan TPA, jika sedang tidak ada, yasudah, tidak meminta ke orang tua murid.” Begitu kata Teh Nur mungkin setelah melihat bagaimana ekspresi kaget kami ketika ia menunjukkan sekotak dus koleksi buku-buku penunjang itu.


Kedatangan Kak Anaz kesana juga sekaligus untuk mengantar buku-buku titipan donatur. Andai donaturnya ikut dalam kunjungan itu saya pikir ia akan merinding juga sampai ke sumsum tulang. Karena Teh Nur ini berterima kasih dengan sangat atas buku-buku tersebut. Senangnya bukan main. Sampai ia bilang, “Buku-buku ini ada dalam doa saya. Ini kayak mimpi.”

Barakallahu buat donatur, Teh Nur, Kak Anaz dan Teh Sumi sebagai penghubung. Lagi-lagi saya dan Kak Jeni yang cuma ‘kecelakaan’ bisa berada di tengah-tengah mereka, juga bersyukur bukan main bisa bertemu Teh Nur.

Kalau perjalanan ke Desa Literasi Cinde di minggu sebelumnya saya sebut sebagai “Wisata Rohani”, maka pertemuan dengan Teh Nur di Sabtu lalu saya sebut saja sebagai “Pencerahan Batin”. Karena memang sukses mencerahkan batin saya yang gelap ini, hahahaha.

Hari ini dalam ingatan saya, saya masih merekam suasana sudut TPA Plus-plus itu. Bangunan yang luasnya mungkin 3x3 m yang disebut Teh Nur sebagai ‘gubuk’. Sebenarnya itu bukan gubuk, karena dibangun secara permanen, tembok semen tanpa cat. Hanya ada papan tulis kecil disana. Menyadarkan saya bahwa sesuatu yang kecil bukan berarti berimbas kecil juga.
Catatan Dari Sudut TPA ‘Plus-plus’ Gerem
Sudut TPA 'Plus-plus' dengan papan kecilnya

Di kota, kita mungkin sering menemukan lembaga pendidikan yang menawarkan model belajar ngaji plus-plus seperti apa yang digagas Teh Nur. Di kota, dengan konsep belajar seperti itu,  kamu tinggal pilih aja mau yang bayarannya berapa ratus ribu atau berapa juta per bulan? Yap, kapitalisasi pendidikan. Tapi apa yang dilakukan Teh Nur, telah mematahkan konsep kapitalisasi pendidikan.

Kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas adalah hak semua anak, baik di kampung maupun di kota, dan hal itu tidak ada hubungannya dengan harga. Tinggal bagaimana kita mampu untuk membebaskan diri selapang-lapangnya dari keserakahan.

(Tambahan : Kak Anaz konon akan menggagas penggalangan donasi untuk jalan-jalan anak-anak didiknya Teh Nur. Kita tunggu aja pengumuman resminya, ya)




***

Depok, 7 April 2018

Di dalam kamar yang sesak oleh perenungan

Artikel Lainnya

0 komentar