Refleksi

Antara Nyai Dasima dan Nyai Ontosoroh: Sebuah Refleksi

Agustus 08, 2018

Nyai Dasima dan Nyai Ontosoroh: Sebuah Refleksi

Dari Sebuah Esai Milik Katrin Bandel

Gak banyak buku yang walau belum beres saya baca tapi udah gatel pengen ngulas. Dari yang sedikit itu, salah satunya adalah kumpulan esai karya seorang Indonesianis, Katrin Bandel, judulnya "Sastra, Perempuan, Seks (Jalasutra, 2001). Karena  memang belum selesai sampai akhir halaman, saya mau cerita dulu tentang salah satu esai yang membuat saya sangat terkesan... "Nyai Dasima dan Nyai Ontosoroh", dengan keterangan judul "Sebuah Intertekstual Pascakolonial".

Ini keren banget, si penulis secara cermat menelanjangi perbedaan dua tokoh "Nyai" dalam dua cerita sastra yang berbeda. Nyai Dasima, tokoh ciptaan G. Francis dalam buku "Tempoe Doeloe: Antalogi Sastra Pra-Indonesia (1982). Dan Nyai Ontosoroh, yang lebih familiar di telinga kita, ciptaan Pram dalam Bumi Manusia (1980).

Nyai Dasima dan Nyai Ontosoroh meskipun sama-sama gundik, tapi beda rasa. Nyai Dasima, menghayati nasib sebagai gundik sebatas menjadi "boneka". Ia membatasi diri untuk belajar keterampilan-keterampilan yang  hanya dibutuhkan oleh tuannya (tentu saja seputar pekerjaan domestik). Ia pun menilai bahwa uang atau harta apapun yang ia terima dari tuannya itu adalah sebagai “pemberian” seorang tuan kepada gundiknya.

Sampai suatu hari, ia dijebak oleh seseorang yang menyusupkan kesadaran bahwa menjadi gundik bukannya jalan hidup yang benar. Hasutan tersebut memiliki maksud agar Nyai Dasima pensiun menjadi gundik, lalu menikah dengan seorang yang hanya ingin menipunya. Sebagai "bekas" gundik tentu saja Nyai Dasima memiliki harta simpanan yang tidak sedikit. Akhir tragis menimpa Nyai Dasima, karena kepolosannya sendiri: mudah saja terhasut. Cerita tentang Nyai Dasima hanya saya simak dari paparan Katrin dalam esainya, saya belum pernah baca buku "Tempoe Doeloe: Antologi Sastra Pra-Indonesia".

Lain lagi dengan Nyai Ontosoroh (saya memang sangat ngefans sama Nyai ini), ia menghayati hidup sebagai gundik lebih dari sekadar menjadi boneka yang dengan cuma-cuma menerima harta dari tuannya. Ia menganggap bahwa apa-apa yang ia terima dari tuannya adalah sesuatu yang ia dapatkan karena bekerja, atas upahnya, atas usahanya. Bukan pemberian semata. Perspektif ini sederhana sekali, tapi buat saya penting banget. Ia tidak sebatas belajar keterampilan-keterampilan demi memenuhi kebutuhan tuannya. Ia memperkaya diri dengan banyak keterampilan lain, salah satunya perniagaan.

Nyai Ontosoroh memiliki kesadaran, bahwa menjadi gundik bukanlah jalan hidup yang meski dilakoni seumur hidup. Suatu saat ia harus berlepas diri dari peran itu. Dan karena kesadaran tersebutlah, ia menyiapkan dirinya sendiri untuk bisa mandiri, kelak tidak bergantung pada siapapun. Menjadi gundik adalah kesementaraan saja. Dan  ia sadar, ia harus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan buruk. Dan benar saja, ia mampu hidup mandiri ketika lepas dari tuannya -yang justru menjadi bangkrut-.

Dalam esai tersebut, Katrin ingin menekankan perbedaan yang sangat kontras antara tokoh dari karya sastra terbitan Balai Pustaka dan di luar Balai Pustaka. Nyai Dasima adalah tokoh yang lahir lewat Balai Pustaka, penerbit yang menurut Heinschke (1993), bisa menerbitkan buku atau  mengedit buku sesuai dengan kepentingan kolonial/imperialis. Sedangkan Nyai Ontosoroh, tokoh ciptaan Pram, yang diterbitkan di luar Balai Pustaka, sehingga lebih independen. (Silahkan simpulkan sendiri maksud dari penekanan ini.)


Nyai Dasima dan Nyai Ontosoroh : Refleksi Sumber Kesadaran

Bagi saya, poin penting dalam perbandingan tersebut adalah… sumber kesadaran. Kesadaran Nyai Dasima soal nasib menjadi gundik bukan nasib yang layak dijalani sepanjang hidup, adalah kesadaran yang "ditanamkan" oleh si penghasut. Sementara kesadaran Nyai Ontosoroh dalam konteks yang sama, justru lahir dari dirinya sendiri.

Sejauh mana kesadaran yang "ditanamkan" oleh orang lain kepada diri seseorang akan bertahan? Ini yang membuat saya selama ini lebih suka melihat orang lain yang meraih kesadarannya sendiri dengan bekal-bekal yang ia punya. Apa yang kita lakukan semestinya adalah "merangsang" kesadaran orang lain:  membukakan sedikit lubang-lubang di permukaan untuk kemudian menambah rasa penasaran agar digalinya sendiri. Bukan justru "menanamkan" kesadaran versi kita kepada orang lain.

Biarkan orang lain menghimpun bekal-bekalnya sendiri, untuk kemudian menyimpulkan sendiri.. dan meraih kesadaran yang tumbuh perlahan dalam dirinya sendiri. .. sebuah kesadaran paripurna dan otentik. Karena itulah yang lebih HQQ, Mylov~ Termasuk soal si dia, jika kamu rasa hanya kamu yang bisa mengimbanginya (namun dia belum sadar juga), tak perlu memaksakan untuk menanam kesadaran itu, berilah  dia kebebasan untuk berproses meraih kesadarannya sendiri (ini contoh konteks yang menyimpang, hahahaha.)

Apapun hidup yang kita jalani hari ini, seburuk apapun, sejauh apapun dengan hidup yang ideal versi kita, hari ini adalah hari ini. Hari ini bukanlah selamanya. Hari-hari ke depan adalah hari yang mesti kita tebus dengan kematangan strategi. Ada banyak kemungkinan-kemungkinan, yang tidak berhenti pada kungkungan kenyataan hari ini. Seperti Nyai Ontosoroh, yang bahkan bisa lepas dari “kegundikannya”.

Dan terkhusus untuk perempuan, menjadi Nyai Dasima atau Nyai Ontosoroh adalah pilihan atas kesadaran kita: menjadi perempuan dengan karakter polos yang gampang saja ”diwarnai”...atau menjadi perempuan yang berani melepaskan diri dari kungkungan batas-batas norma sosial?




Artikel Lainnya

0 komentar