Ulasan

[Book Review] Maut & Cinta: Antara Revolusi, Cinta, dan Reruntuhan Optimisme

November 11, 2018

Sumber gambar : twitter.com. (HP gak mumpuni untuk mengambil foto)
Membaca bab-bab awal novel “Maut & Cinta” membuat saya hampir jenuh. Kira-kira hampir seperempat bagian saya masih tidak mengerti dan gagap menebak apa yang sebenarnya ingin disampaikan Mochtar Lubis? Beberapa kali membaca karya-karya Mochtar, membuat saya menyimpulkan bahwa tulisan-tulisannya selalu punya tempo yang cepat. Misalnya Jalan Tak Ada Ujung (fyi, novel ini bakal difilmkan tahun depan, saran saya kalau belum baca, buruan kelean baca!), Harimau! Harimau!, dan Senja di Jakarta yang sampai terbit di berbagai bahasa adalah karya-karya sastra yang padat bergizi dalam jumlah halaman yang tidak tebal.

Hingga saya tiba di halaman sekitar 100an, saat Sadeli bertemu dengan David Wayne. Saya mulai menemukan dialog-dialog yang saya ekspektasikan dari awal membaca. Hampir dua halaman penuh berisi dialog kapten David Wayne kepada Sadeli, dan sebaliknya juga. Barulah dari situ saya yang awalnya baca kurang niat (karena belum menemukan arah novel ini), jadi meluruskan niat lagi karena sudah menemukan ruh Mochtar Lubis disana. Satu kalimat yang saya catat benar di antara muntahan kalimat di halaman-halaman tersebut:

“Dalam hidup, sebenarnya batas antara pahlawan dan bajingan hanya sehelai rambut.” 

Ibarat kata kayak quote, “batas antara kekasih dan mantan kekasih hanya sehelai rambut”. Sedalam itulah Mochtar menggambarkan bias ironi antara pahlawan dan bajingan! Sial!

Kalau liat judulnya saja, Maut & Cinta tampak seperti judul novel popular yang menyasar kalangan remaja, padahal ini adalah novel yang cukup lawas. Terbit pertama kali tahun 1977 oleh Pustaka Jaya. Kemudian terbitan pertama Yayasan Obor tahun 1992, dua puluh enam tahun kemudian muncullah terbitan keduanya. Buku (pinjaman) yang saya baca merupakan terbitan kedua Yayasan Obor: kover biru dongker dan ilustrasi yang elehan (baca: elegan). Buku setebal 370 halaman ini mengambil latar revolusi kemerdekaan (1945-1949), alias masa-masa perjuangan dalam merebut kemerdekaan dari agresi militer Belanda pasca proklamasi; perjuangan dalam membuat Indonesia diakui merdeka secara de jure.

Adalah Sadeli, (jomblo) revolusioner yang merupakan agen intelejen RI. Mula-mula novel ini menceritakan perjalanan Sadeli ke Singapura untuk mengkroscek tentang agen lainnya yang dikabarkan melakukan penyelewengan dana. Dan dengan misi lain yaitu mencari pilot handal asal Amerika, yang pernah tergabung dalam Perang Dunia II, bernama David Wayne. Sadeli dan timnya mempersiapkan transportasi (kapal dan pesawat) dan senjata untuk melawan pasukan Belanda yang masih bernafsu merebut kembali Indonesia.

Dalam perjalanan-perjalanan mempersiapkan keperluan revolusi, Sadeli bertemu Maria di Macau dan mereka saling jatuh cinta dalam waktu yang hanya 1 jam sejak pertemuan mereka. Pada bagian tersebut barulah mengingatkan saya pada cerita-cerita novel popular remaja. Bayangkan saja seorang jomblo revolusioner yang merasa kering menahun dan cuma heran ketika kawan-kawannya yang satu per satu jatuh cinta dengan wanita meskipun sedang dalam kondisi perjuangan revolusi, bahkan ia sempat berpikir untuk menjadi pejuang yang hidup sendiri. Namun tau-tau bisa dengan mudahnya yakin dalam mencintai seseorang?

Yang selalu saya suka dari novel-novel Mochtar Lubis adalah… cara dia mentransfer kegelisahan dan pemikiran-pemikirannya ke dalam tokoh-tokoh yang dia buat. Maka dialog-dialog yang tercipta di bagian-bagian tertentu adalah dialog yang sangat bernas. Kita diajak masuk ke dalam kegelisahan Mochtar dan menyelaminya lewat tokoh-tokohnya, terutama Sadeli dan David Wayne.

Ide-ide yang sebenarnya bisa saja disusun dalam tulisan serius berbentuk esai, tapi penulisnya memilih menyusupkan ke dalam novel. Itulah yang membuat novel-novel Mochtar Lubis selalu punya inti ‘protein’ tanpa membuat kita merasa terlalu serius. Atau bayangkan saja kita seperti  sedang hadir di tengah-tengah forum diskusi –apalagi kalau bukan- soal idealisme bentuk negara, moral dan karakter bangsa, keadilan, kesejahteraan dll, dan menyimak cakrawala pikiran para pengisi diskusinya. Dan saya rasa gak banyak novel-novel yang bisa memunculkan sensasi seperti itu saat kita larut dalam ceritanya.

Kalau dalam Senja di Jakarta, Mochtar menyusupkan beberapa ideologi dan arah pemikiran yang berbeda-beda di tiap tokohnya sehingga sering muncul dialog-dialog perdebatan, lain di Maut & Cinta. Di novel ini Mochtar semua tokoh ciptaan Mochtar disusupi pemikiran dan arah pemikiran yang sama secara merata, sehingga tidak lagi saya temukan dialog-dialog berisi pertentangan dan perdebatan yang berarti.

Novel ini juga masih bicara soal harapan-harapan dan optimisme. Apalagi dalam konteks latar Indonesia yang baru merdeka, seakan-akan semua kebusukan-kebusukan yang kita temukan hari ini adalah hal yang mustahil, saking tokoh-tokohnya itu sangat optimis. Tapi bisa jadi muatan optimisme dalam novel ini hanyalah bentuk satir belaka, mengingat novel ini dicetak pertama kali tahun 1977 (dan jika diasumsikan proses penulisannya tidak jauh dari tahun tersebut). Tahun 1949 dan 1977 tentu menjadi saksi waktu untuk sebuah transformasi optimisme Mochtar Lubis di awal kemerdekaan menjadi sisa reruntuhannya saja. Sebab kondisi di tahun 1977 tentu sudah mulai bermunculan kroni-kroni penyakit kapbir (kapitalis birokrat) di sistem pemerintahan kita.

Meskipun Mochtar Lubis pernah menjadi wartawan perang, tapi muatan bagian-bagian peperangan dalam novel kurang digambarkan secara detail dan deskriptif. Seperti misalnya penceritaan tentang manuver pesawat perang yang bagi saya kurang greget. Novel Maut & Cinta ini memang dedikasikan untuk penerbang-penerbang luar negeri yang pernah membantu revolusi dalam merebut kembali kemerdekaan Indonesia. Jadi, ya, ada bagian-bagian yang mungkin sungguhan terjadi dan tokoh-tokohnya yang juga nyata. Percampuran fakta dan fiksi yang mengasyikan. Saya jadi mikir, kalau waktu saja waktu SD waktu pelajaran IPS bab Agresi Militer Belanda, saya disuruh guru untuk baca novel ini sebagai, mungkin saya gak akan ngantuk-ngantuk di kelas pas jam pelajaran. Eh, tapi gak bisa gitu deh, soalnya novel ini banyak bagian-bagian yang 18+nya, belum cocok buat anak SD.

Ada bagian yang mengandung keresahan Mochtar Lubis dan pembacaannya tentang Revolusi Industri 4.0, yang ia susupkan pada dialog milik David Wayne, bunyinya :

“Engkau tahu, yang merupakan bahaya bagi manusia Amerika, ialah kepercayaan kami yang terlalu besar pada teknologi dan industri. Seakan semua keperluan manusia dapat diatasi dengan menekan tombol. Sesudah mekanisasi datang otomatisasi, dan sekarang pun aku dengar sedang dibuat mesin-mesin berpikir, guna mengganti otak manusia. Akan membawa kebahagiaankah ini? Aku tak tahu!”

Keresahan yang sama juga belum reda menganggu saya… soal RPA (Robotic Process Automation), suatu program perwujudan dari AI (Artificial Intelegence). Dan Mochtar Lubis sudah mengkhawatirkannya sejak tahun 77! Kan gembel! PFFTTTTT. Dan ada dialog juga yang memaparkan konsep Indonesia sebagai negara seniman. Pertanyaan mengambang dalam dialog tersebut mengenai manakah nanti yang akan menang antara Indonesia sebagai negara seniman atau Indonesia sebagai negara Industri? Dan kita sudah sama-sama tau jawabannya ya, kamerad!

Akhirnya saya punya kesimpulan soal pertanyaan iseng saya sendiri:“kenapa judulnya Maut & Cinta?” Sebab novel ini bukan hanya menceritakan tentang manusia-manusia dengan kerevolusionerannya yang mendahulukan perjuangan di atas kepentingan pribadinya, lalu  bisa mati kapan saja.

Akan tetapi di balik jubah kerevolusionerannya, mereka jugalah manusia-manusia yang punya kebutuhan cinta dan menyadarinya. Dan kemudian tidak ingin terlambat untuk merangkul kedua-duanya secara bersamaan: antara cinta pada negara juga cinta yang personal. Meskipun dengan resiko emosional yang amat tinggi: kekasih-kekasih yang cemas menunggu kepulangan mereka, atau kekasih-kekasih ikut perang juga bersama mereka.

Tentang  manusia-manusia dalam perjuangan revolusinya yang bisa dijemput maut kapan saja. Tentang kekasih-kekasih yang telah siap ditinggalkan atau pun meninggalkan seseorang yang dicintainya untuk selama-lamanya. Bukan cinta yang picisan.

Harapan-harapan Sadeli (dan kawan-kawannya) mengenai Indonesia dengan pemerintahan dan rakyatnya yang menjunjung moralitas dalam praktek bernegara yang ideal mungkin sudah terbukti pupus dan luluh lantak jika kita melihat kompleksivitas kenyataan hari ini. Tapi harapan tentang sebuah dunia yang manusianya bersama-sama mewujudkan keadilan dan kesejahteraan tanpa mengenal batas teritorial negara alias menjadi keadilan dan kesejahteraan dalam bentuk yang universal karena persaudaraan, entah mengapa biar setipis apapun kemungkinannya, saya pun mengaminkannya. Biar setipis apapun.. dalam reruntuhan optimisme.

Artikel Lainnya

0 komentar